IMAM GHAZALI, MENCARI HINGGA TAK BISA DICARI

booksPernah mendengar kisah yang sangat masyhur ini? Dimana adik dari Imam Al Ghazali enggan sholat berjamaah kala diimami Imam Ghazali, sebab sang adik ternyata memiliki pandangan mata yang “jernih”, dimana dia bisa melihat perut Imam Ghazali berlumuran darah.

Selepas sholat, ketika sang Imam mengkonfirmasi kepada sang adik tentang apa yang menyebabkan sang adik enggan berjamaah dengannya, kagetlah Imam Ghazali mendapati bahwa padangan hati sang adik adalah benar. Imam Ghazali melaksanakan sholat sambil memikirkan tentang hukum-hukum fikih perkara haidh. Terjebak dalam belantara keilmuan teoritis.

Saya tuliskan ulang dari terjemah buku “Al Munqidz min adh-Dhalal”, sebuah autobiografi tentang kegelisahan intelektual Imam Ghazali. Dimana Al Ghazali, pada puncak kegemilangan keilmuan tekstualnya beliau menjadi guru besar universitas Nizhamiyyah pada tahun 484 H. Tetapi pada puncak pencapaian keilmuan itulah justru beliau menjadi gamang, kegamangan itu adalah tentang ilmu dan amal.

Saya mengamati gejolak batin sendiri, dan mencermati yang terjadi pada kalangan para pejalan spiritual, dimana mereka yang meniti jalan “pulang” kepada Allah seringkali mengalami kegelisahan seperti Imam Ghazali itu.

Apakah ilmu yang mereka miliki akan berguna? Atau dalam kata lain, apakah ilmu bisa menyampaikan seseorang kepada Allah? Atau malah ilmunya akan membimbing seseorang itu memasuki rimba belantara premis-premis logika yang menyita waktu, tenaga, emosi, dan tak jelas ujung-pangkalnya?

Coba kita mengulik sebuah perumpamaan sederhana. Sering kita temui dalam kisah tutur mulut ke mulut orang-orang desa. Dimana seorang petani, tidak berpendidikan tinggi, cuma tahu pergi ke sawah, mengarit, bertanam, memanggul kayu-kayu bakar, lalu sore hari pulang ke rumah dengan senyum dan sapa kiri-kanan. Hatinya nrimo, lapang, dan mengakrabi Tuhan dalam pemaknaan yang begitu dalam, “bekas persapaan” dengan Tuhannya bisa dilihat dari jernih wajahnya yang damai dan bersyukur untuk segala lapang sempitnya hidup.

Dan orang-orang yang  seperti begini sering diriwayatkan berpulang dengan senyum, begitu damai. Simpulan kita sederhana saja: tak berilmu tinggi saja mereka sudah bisa dekat dengan Tuhan.

Dan inilah kegamangan para pejalan menuju Tuhan itu: Jika tanpa ilmu banyak saja sudah bisa hidup dalam sikap nrimo ing pandum, dan dekat dengan Tuhan seperti ilustrasi pada paragraf di atas, maka apakah berguna mencari ilmu demikian tinggi untuk mengakrabi Tuhan yang sejatinya tidak akan masuk perumpamaan logika seperti apapun juga?

Dan kegamangan seperti itu jugalah yang dialami Imam Al Ghazali, sehingga diriwayatkan kegamangan itu menyebabkan kesehatan beliau secara fisik terganggu. Sehingga sang dokter yang memeriksa pun menyerah dan mengatakan ini bukan sakitnya penyakit, melainkan dari faktor internal.

Lepas dari situlah Sang Imam menghabiskan waktu untuk Uzlah dan menghabiskan sisa umurnya dalam perenungan-perenungan dan peribadatan yang dalam. Karena dia sudah kecewa untuk menemui Tuhan lewat pendekatan-pendekatan premis-premis logika.

Diriwayatkan beliau memulai uzlahnya di Damaskus, lalu ke Yerussalem ke Baitul Maqdis, ke Mesir, Makkah dan Madinah dan sesekali ke Baghdad.

Hingga kita mengetahui bahwa akhirnya sang Imam beroleh pencerahan, englightenment, dan menemukan jawaban dari pencariannya seperti yang beliau tulis berikut:

“Alhamdulillah, Allah berkenan menyembuhkan hatiku dengan “pancaran cahayaNya”. Pikiranku kembali jernih dan seimbang, mampu menerima pengertian-pengertian logis. Cahaya itulah yang akhirnya menjadi kunci pembukanya, termasuk untuk mencapai makrifat, bukan susunan argumentasi logis.”[1]

Kembali dalam perenungan pertama tadi, jika kita bandingkan antara dua ilustrasi di atas tadi, manakah jalan yang lebih baik? Apakah pengembaraan ilmu seperti Al-Ghazali? Yang bertahun-tahun melaburkan diri dalam belantara ilmu dan logika, tetapi pada akhirnya terjun juga dalam dunia perenungan, uzlah dan spiritualitas hingga tercerahkan. Ataukah skema seperti sang petani yang awam dari keilmuan tapi sejak awal sudah hidup dalam mentalitas nrimo ing pandum dan mengakrabi Tuhan dalam keluguan yang mendekatkan?

Harmoni dan tarik-menarik antara dua hal ilmu dan amal itulah yang acap kali terjadi pada semua para pencari. Ada yang berada pada sisi ekstrim menafikan keilmuannya, sehingga melulu menganggap bahwa ilmu sejati itu adalah hasil tirakat dan pencerahan ilham Rabbani. Ada yang terjebak pada penaran logis premis-premis sampai akhirnya bingung sendiri kebanyakan teori.

Baru belakanganlah saya akhirnya mengerti bahwa jawaban dari pertanyaan itu sudah ada pada maksud dari do’a masyhur yang diajarkan untuk kita bacakan dan resapi saat hendak belajar.   

“Robbi zidni ‘ilman nafi’an wawafiq li ‘amalan maqbulan (Tuhan, tambahkan aku ilmu yang bermanfaat dan terimalah amal yang maqbul bagiku).”

Do’a itulah yang menjadi guidance.

Pertama. Bahwa tak semua ilmu bermanfaat. Ada ilmu-ilmu yang hanya memenuhi otak kita saja, tak pernah berguna. Ada ilmu-ilmu yang jika diketahui malah mendorong kita pada keburukan.

Dan kedua, pungkasan dari do’a itu adalah mengaitkan antara kebermanfaat ilmu dengan amal yang maqbul. Artinya, ilmu yang bermanfaat itu adalah ilmu yang ada korelasinya dengan amal nyata yang kita perbuat. Amal nyata kita, akan berhubungan erat dengan “tugas”, kita masing-masing di dunia ini.

Berkaitan dengan siklus ilmu-amal-dan “tugasan” inilah saya baru mengerti jawaban dari pertanyaan, “kenapa Musa diberikan keistimewaan berkata-kata langsung dengan Allah? Kenapa Musa tak diberi ilmu batin seperti khidir? Atau misalnya kenapa pula Musa a.s tak diberikan ajaran welas asih seperti Isa a.s yang jika ditampar pipi kiri, berikan pipi kanan?”

Ternyata jawabannya adalah tugasan yang berbeda.

Setiap orang memiliki tugas yang berbeda dalam kehidupan. Dan ini sudah diseting sama Allah seperti itu, supaya dunia bisa harmoni dan bergerak.

Seorang Musa a.s memimpin kaum paling degil dan ngelunjak sejagad raya. Setelah Allah tampakkan Mukjizat tongkat jadi ular, tangan Musa bercahaya, Laut terbelah… masih juga Umat Musa a.s enggan masuk negri yang dijanjikan, dan menyuruh Musa masuk duluan. Belum lagi mereka minta makanan diturunkan dari langit, sudah diturunkan minta pula variasi makanan. Tengil, bukan? Dan itulah tugasan Musa a.s, memimpin kaum paling membangkang, dan untuk memimpin kaum paling membangkang seperti itu maka Perangkat ilmu yang diturunkan kepada Musa a.s akan  sesuai konteksnya. Mukjizatnya seperti super hero, dan petunjuk diturunkan bukan dalam bahasa kepahaman, tetapi dalam wujud nyata dan langsung bercakap dengan Tuhan.

Lain lagi Rasulullah SAW yang memimpin masyarakat ahli susastra, maka diturunkan keilmuannya berupa Qur’an yang indah dengan sastranya.

Musa a.s bertugas melawan diktator paling berkuasa sejagad, raja lengkap dengan pasukannya. Maka risalah yang diusung Musa a.s tak mungkin risalah yang melulu mengenai welas asih, dalam satu riwayat malah Musa a.s meninju seorang dan yang ditinju langsung mati.

Dan tak mungkin juga Musa a.s “tenggelam” dalam ilmu batin seperti Khidir a.s, kenapa? Karena tugas yang berbeda-beda. Musa urusannya melawan fir’aun, khidir tugasannya mengembara kemana-mana dan membimbing siapapun yang tertakdir untuk belajar ilmu batin dalam dimensi pengelihatan dan sudut pandang yang sama sekali lain dengan yang diusung Musa.

Pada akhirnya ilmu dari Allah, diturunkan seiring tugasan yang juga dari Allah.

Dan begitulah. Ilmu yang bermanfaat, diiringi amal nyata. Amal nyata, yang dinamakan amalan maqbulan, secara subjektif saya rasakan adalah amal yang mengiringi kita punya tugasan.

Seorang dokter, akan mubazirlah waktunya jika dia menghabiskan katakanlah 90% waktunya untuk belajar detail tentang sepakbola sampai menjadi seperti ensiklopedi bola. Mubazir. Kenapa? Karena Tidak jadi amal nyata. Kecuali dia mau jadi komentator bola. Tugasan dia adalah dokter.

Begitu juga, seorang ulama, mempelajari tentang komputer sampai meninggalkan madrasahnya. Ya pasti lucu. Kecuali ilmu yang dia pelajari nantinya didayagunakan seiring untuk mengembangkan kapasitas keulamaannya, maka itu baru ilman naafian, ilmu yang meaningfull.

Dalam cerita Imam Ghazali, dari sisi lahiriah ilmunya menjelma amal nyata karena berkahnya bisa kita rasakan sampai sekarang.

Jadi, hemat saya, ilmu itu penting. Dengan ilmu, perjalanan jadi lebih terarah. Perjalanan jadi lebih singkat dengan keilmuan yang baik dan benar.

Tetapi seperti do’a belajar yang kita kutip itu tadi. Sebuah ilmu hanya akan bermanfaat jika ilmu itu relevan dengan amal nyata kita. Amalan maqbulan.

Kita pungkasi tulisan ini dengan mengutip kembali Imam Al Ghazali: “Seluruh uraian ini aku maksudkan agar kita terus berusaha sekuat tenaga dalam mencari sesuatu sampai tidak ada lagi yang bisa dicari. Namun, apa yang telah ada (jelas) tidak perlu dicari lagi; bila dicari, justru akan menjadi samar. Siapa yang mencari sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dicari, ia akan terkecoh dalam mencari sesuatu yang harus dicari.”[2]

catatan kaki:

[1] Al-Munqidz Min Adh Dhalal, Kegelisahan Al Ghazali, 1998 (hal. 20)

[2] Ibid, (hal. 21)

Gambar ilustrasi dipinjam dari sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s