SASTRA SEMESTA; NYENI BY DEFAULT

mountain viewJika kita sedang kesal…sedang kesal yang yang begitu dalam, maka kalimat-kalimat akan kesulitan merangkum perasaan kesal kita itu. Maka orang kadang-kadang berteriak. Kalaulah kita anggap teriakan itu sebagai sebuah katamaka “kata teriakan” itu sebenarnya merangkum begitu banyak makna. Satu kata, padat makna.

Begitupun saat kita sedang sedih, maka sedih yang dalam akan sulit dibahasakan dalam bentuk kalimat-kalimat. Kalimat-kalimat akan kurang kaya makna dibanding makna sebenarnya dari sedih yang kita rasa. Maka kadang-kadang orang menangis. Tangisan itu, kalaulah kita anggap sebagai sebuah kata,  maka “kata tangisan” merangkum definisi yang begitu kaya. Satu kata, padat makna.

Mengingat hal tersebut, barulah belakangan saya tersadar, bahwa sebenarnya manusia itu sudah “nyeniby default.

Aktivitas merangkum banyak sekali makna-makna perasaan, dalam kalimat-kalimat yang pendek, lirik-lirik, itu sebenarnya domainnya puisi.

Jadi dalam konteks itu, manusia itu sudah puitis dari sananya, by default.

Siapapun saja, punya bakat untuk merangkum pengalaman hidup yang panjang dalam lirik dan baris-baris yang pendek tapi padat makna. Keseluruhan ide dalam bahasa, saya rasa adalah itu, mewakilkan makna pada sebuah kata.

Kalaulah boleh kita mengumpamakan, dengan analogi di atas itu tadi, kita bisa umpamakan jagadita semesta tergelar ini “seolah-olah” puisinya Tuhan.

Meskipun disana-sini perumpamaan itu kurang relevan, tetapi saya pikir benarlah bahwa alam semesta ini merupakan kreasinya Allah SWT, dan cara Allah mengajarkan pada kita makna-makna.

Para ilmuwan mengatakan alam semesta ini sebagai grand design. Jika kita tarik kembali dalam perumpamaan sastra, maka grand design alam semesta ini ibarat larik-larik yang begitu berima. Teratur, indah dan apik.

Jika kalimat-kalimat dalam bahasa manusia saja sering kesulitan mewakili kekayaan dimensi perasaan yang manusia miliki, maka apatah lagi perbandingan alam ini dengan keluasan ilmu Allah.

Dalam sebuah perumpamaan sangat masyhur dari Al Qur’an kita mengetahui bahwa jika seluruh pohon menjadi pena, dan lautan menjadi tinta, ilmu Allah belum habis ditulis.

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Luqman : 27)

Perumpamaannya saja sudah nyeni, “pohon menjelma pena, laut menjelma tinta.” Dan kenyataan bahwa dunia ini tidak cukup hebat untuk mewakili makna-makna dari ilmunya Allah, apa masih kurang puisi? Media yang kalah kaya dibanding makna sejatinya…Kan puisi sekali?!

Belakangan saya baru mengerti, itulah kenapa setiap orang arif yang saya temui, orang-orang yang mengakrabi Tuhan dalam setiap jenak kehidupan mereka, seringkali kita dapati sebagai seorang yang nyeni.

Allah itu indah dan menyukai keindahan.[1]

Maka orang-orang yang dekat pada Allah, kita bisa tengok “bekas persapaannya” dengan Allah lewat keindahan yang entah malu-malu atau nyata pasti tergelar dari kehidupan orang itu.

Umar bin Khattab menghafal banyak syair-syair arab. Imam syafii pun menghafal syair-syair. Buya Hamka tulisannya nyeni. Sunan kalijaga anggitannya ialah tembang ilir-ilir yang melegenda. Ibnu Athaillah pesan-pesannya awet dalam aforisma Al-Hikam-nya yang nyastra. Dan entah berapa deret nama lagi.

Tidak mungkin, orang yang dekat pada Allah yang memiliki sifat Jamaliyah (keindahan) lantas tidak terpercik hal keindahan itu dalam lakunya.

Semakin dia melihat keindahan dalam sastra alam semesta, dan keindahan dalam tekstual kitab suci dan karya para ulama, maka tak mungkin keindahan itu tidak luber juga dari pribadinya.

Maka keberagamaan yang kering adalah keberagamaan yang sama sekali tidak menampilkan sisi Jamal seperti itu. Saat kita beragama dalam sebuah atmosfir yang semakin kering dan kaku tanpa sisi-sisi yang indah dan membuat kita haru, maka jangan-jangan kita ada yang keliru.

Atau kalaulah tidak keliru, itu setidaknya menjadi alarm bahwa kita terlalu mengakrabi Allah pada sisi JALAL (KeagunganNya) melulu, padahal Allah pun memiliki sisi JAMAL (Keindahan), dan dalam suatu hadits dikatakan rahmatNya mengalahkan kemurkaanNya.

Melihat alam semesta, dan mengakrabi literatur agama tanpa terpercik JAMAL-Nya, adalah mungkin seumpama kita mengakrabi teks sebagai teks semata. Padahal kita lupa, bahwa teks hanya media, sebagaimana alam pun hanya media, untuk DIA mengenalkan diriNya.

Maka orang yang terus-terusan mengingat DIA, pada akhirnya akan pelan-pelan terpahamkan maksud dari Yang Bercerita.

Mungkin itulah maksud dari ungkapan bahwa siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka dipahamkanlah akan agamaNya.

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah akan menjadikannya faqih/faham tentang agama”. (HR Al-Bukhari)

Dan para ulama yang faqih akan agama, kita saluti juga pribadinya ternyata menjelma indah terpapar JamalNya.

Mencari orang-orang yang memancarkan keindahan dan perbawa yang menawan seperti itulah; sebagai panduan yang menuntun kita bertemu dengan orang yang benar-benar dipahamkan dan memahamkan.

Dia tak perlu sombong dengan banyak mengecam dan umbar ancaman. Tetapi salah satu kriterianya adalah akhlaq mereka mesti nyeni.

“Innama bu’itstu li utammima makarimal akhlaq (Sesungguhnya aku ini diutus hanya untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia).” Al Hadits.

catatan kaki :

[1] “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar debu.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim).

Gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s