LUBER KE DALAM KENYATAAN

to-overflowAnak saya begitu lekat dengan istri saya. Padahal, yang lebih sering marah pada anak saya ya istri saya, hehehe, kalau saya jarang-jarang marah… Tetapi tetap saja anak saya sangat dekat pada istri saya.

Kalau dengan saya, hanya sekitar beberapa menit bermain, setelah itu biasanya bosan dan kembali mencari Ibunya.

Saya tertarik dan mencoba mengamati fenomena ini. Lalu saya baru menyadari bahwa saya bukanlah orang yang ekspresif. Dalam artian, bahasa seorang lelaki cenderung terlalu logis dan tidak melibatkan perasaan.

Rasa sayang, bagi seorang yang tidak ekspresif seperti saya, mungkin adalah bahwa saya memikirkan bagaimana nanti biaya ini dan itu untuk anak saya, tetapi fikiran dan perhatian itu tidak pernah mewujud dalam bentuk yang bisa dimengerti oleh sang anak. Dan ini belakangan baru saya sadari sebagai sebuah kekeliruan.

Rasulullah SAW bersabda, bahwa jika kita mencintai seseorang, maka katakan kepada seseorang tersebut bahwa kita mencintainya.[1]

Beberapa hadits yang saya kutip memang berbicara mengenai cinta pada sahabat, cinta karena Allah. Mungkin tak terlalu relevan untuk dijadikan ilustrasi dalam hal yang general. Tetapi idenya saya rasa sangat penting. Yaitu, bahwa “sesuatu yang berada dalam dimensi batin, mau tak mau harus diwujudkan di alam syahadah, alam kenyataan, barulah makna yang berada dalam dimensi batin itu menjadi utuh.”

Sholat misalnya, dimensi batinnya sholat saya rasa adalah perhubungan dan curhat pada Allah SWT. Akan tetapi, makna batin di dalam sholat itu dipungkasi dengan “salam,” yang menebar bukti pada alam kenyataan.

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al Jumu’ah: 10).

Setelah menguatkan dimensi batin dalam shalat, maka “sholat yang ekspresif” ternyata adalah sholat membuat kita bertebaran di muka bumi selepas itu.

Dan inilah PR besar bagi saya, yaitu menjadi orang yang ekspresif.

Dalam pemahaman yang lebih spiritual, menjadi ekspresif adalah juga berarti bahwa apapun yang bergolak di dalam dimensi wacana batin saya, haruslah digenapi dengan terzahirnya amalan pada sisi lahiriahnya.

Tak mungkin kita mengatakan kita merasa dekat pada Allah, tetapi kita tidak sholat. Atau dalam lain bahasa, tak mungkin kita dekat pada Allah, jika kedekatan dalam dimensi batin itu tidak sampai memaksa kita untuk tersujud dan bersholat.

Ibnu Athoillah mengatakan bahwa Beraneka warna jenis amal perbuatan, karena beragam pula ahwal.

Ahwal, adalah situasi ruhani. Kondisi hati. Dimensi batinnya. Tetapi ahwal yang benar-benar dalam, pastilah membuat seseorang itu tak kuat untuk menahan laju ahwal itu menjelma menjadi kenyataan di alam syahadah.

Orang yang benar-benar takut kepada Allah, seperti yang sering kita dengar dari cerita para guru, mereka sampai mengigil dan bergetar kulit mereka. Atau seperti yang Rasulullah SAW alami yaitu sholat dengan dada bergemuruh.

Dada yang bergemuruh, kulit yang mengigil dan gemetar adalah ejawantah dari dimensi batin rasa takut. Rasa takut yang dalam yang tidak mungkin untuk tidak terekspresikan di alam kenyataan. tak bisa dibuat-buat, tetapi begitu dia ada, maka pasti berimbas pada alam nyata.

Dan lebih jauh saya barulah mengerti, bahwa sebagai manusia, mengekspresikan dimensi batin kita dalam lahiriah amal yang nyata itulah keseluruhan tema hidup kita.

Jika mengenali Allah adalah pondasinya, maka pelaksanaan syariat adalah puncak dari pengenalan itu. Semua bisa mengatakan cinta, tetapi sebenar cinta adalah yang ada buktinya.

Allah mengetahui isi hati kita, sehingga sebenarnya ini bukan urusan Allah perlu pembuktian, tetapi ini lebih mengenai kita-nya. Karena cinta yang kuat dan dalam, mau tak mau akan luber dengan sendirinya ke alam kenyataan.

Mengenali Allah dan mengakrabi Allah adalah dimensi batin kita, tetapi sebuah dimensi batin baru akan menjadi utuh jika kita bahasakan di dalam ekspresi yang nyata. Mencintai Allah, maka pasti mencintai sesama manusia. Dan seterusnya, dan seterusnya. Itu imbas yang tak bisa ditolak-tolak.

Mencintai Rasulullah semata, tak akan cukup jika tidak termanifestasikan di alam kenyataan. Entah rasa cinta yang dalam itu memaksa kita melantunkan sholawat, atau membuat kita menangis, atau membuat kita semakin dalam ingin mengkaji sirah dan perjalanan sejarah beliau. Itu imbas yang mau tak mau pasti mewujud.

Pendek kata, jika kita mencintai, maka “nyatakan.”

Atau jika kita lihat dari sisi sebelahnya lagi, sebuah amal nyata yang kita zahirkan barulah akan menjadi utuh jika amal itu merupakan imbas dari sebuah “ahwal” atau situasi ruhani yang begitu kuat.

Jika kecintaan kita kepada sesuatu belum sanggup memaksa kita untuk meluberkan bukti-bukti cinta itu ke dalam alam kenyataan, mungkin cinta kita belum sebesar itu.

catatan kaki:

[1] Rasulullah saw. bersabda, “Apabila seseorang mencintai saudaranya, hendaklah dia mengatakan cinta kepadanya.” (Abu Dawud dan Tirmidzi, hadits shahih)

Anas r.a. mengatakan bahwa seseorang berada di sisi Rasulullah saw., lalu salah seorang sahabat melewatinya. Orang yang berada di sisi Rasulullah tersebut mengatakan, “Aku mencintai dia, ya Rasulullah.” Lalu Nabi bersabda, “Apakah kamu sudah memberitahukan dia?” Orang itu menjawab, “Belum.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Beritahukan kepadanya.” Lalu orang tersebut memberitahukannya dan berkata, “Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.” Kemudian orang yang dicintai itu menjawab, “Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.” (Abu Dawud, dengan sanad shahih)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s