MENGHAMBA PADA YANG MAHA KAYA

qanaah4

Dalam persepsi saya yang prematur, dahulu, saya mengira bahwa sikap zuhud dan kekayaan alias harta benda pastilah berseberangan.

Padahal, tak mungkin bisa zuhud, kalau tidak “belajar melompati kebendaan”

Hal ini satu permisalan dengan orang yang tidak pernah berjibaku dengan kerja nyata dalam levelan apapun, akan sulit memahami makna “lillah” (untuk Allah). Makna Lillah, kerja “untuk Allah” hanya bisa direnungi oleh orang-orang yang memang bekerja atau melakukan sesuatu. Dalam tataran apapun harus ada kerjanya dulu, barulah pemaknaan terhadap suatu pekerjaan bisa dibicarakan. Maka bekerja tidaklah berada pada level yang berseberangan dengan keikhlasan. Tetapi, keikhlasan adalah dimensi yang melampaui pekerjaan, perbuatan.

Sebegitu juga dengan sikap zuhud. Zuhud adalah dimensi yang melampaui benda. Untuk menjadi zuhud, harus ada yang dilampaui dulu, artinya harus ada yang sesuatu yang ditinggalkan. Maka zuhud adalah orang yang meninggalkan dunia, bukan ditinggalkan dunia.

Orang miskin bisa zuhud, orang berada pun bisa zuhud, karena zuhud bukan pada bendanya, tetapi pada persepsi yang melampaui kebendaan.

Saya tergerak menuliskan hal ini, karena saya teringat dengan sebuah anggapan keliru saya dulu. Persepsi keliru itu adalah meletakkan kekayaan atau benda-benda pada sisi yang menegasikan sikap zuhud. Sehingga jika saya meminta benda, meminta harta, maka sikap zuhud saya seolah telah lacur. Padahal, benda dan harta adalah sebuah makhluq yang netral saja, persepsi manusialah yang membuat mereka menjadi punya nilai.

Belakangan saya baru mengerti dalam pengelompokan persepsi ini.

Persepsi pertama adalah orang-orang yang mengidolakan harta, lantas menjadi tamak dengannya. Ini jelas-jelas keliru.

Tetapi ada persepsi yang kedua, yaitu orang-orang kikuk terhadap harta. Orang yang terlalu memandang harta sebagai sesuatu yang wah, sehingga dengan pandangannya yang keliru itu, mereka mengira Tuhan akan keberatan jika dimintai tolong mengenai harta. Karena harta adalah sesuatu yang wah.

Disinilah, pada kutub orang-orang yang kikuk dengan benda-benda inilah, dimana dulu saya sempat berada, dan ini luar biasa kelirunya. Karena saya tanpa sengaja telah menciderai kepercayaan bahwa Allah SWT adalah Al Ghaniy, Yang Maha Kaya.

Dulu, seandainya di dalam kehidupan ini saya menghadapi masalah keuangan, maka saya enggan berdo’a. Enggan berdo’anya saya dulu adalah bukan karena sebentuk keyakinan bahwa rezeki saya sudah dijamin Allah. Enggan berdo’a nya itu adalah karena saya menganggap bahwa meminta urusan dunia adalah meminta sesuatu yang wah.

Imbasnya tanpa saya sadari saya berprasangka buruk kepada Allah. Kesulitan di dalam urusan kebendaan membuat saya mengira bahwa Allah SWT sedang tak suka dengan saya. Karena, Allah sedang tidak memberikan sesuatu yang “wah” pada saya.

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: “Tuhanku menghinakanku“. (QS. Al Fajr: 15-16)

Persepsi kita yang berlebihan terhadap harta, lalu secara gegabah mengatakan bahwa Allah sedang benci atau marah pada kita sehingga kita kesulitan dalam urusan kebendaan; adalah keliru. Karena apa? Karena Allah adalah Yang Maha Kaya, sehingga bagi DIA, tak ada kesulitan dan tak ada harga sama sekali apakah memberikan banyak atau memberikan sedikit itu sama saja. Bukan ukuran anugerah.

“Wahai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta semua jin dan manusia berdiri di atas bukit untuk memohon kepada-Ku, kemudian masing-masing Aku penuh permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi kekuasaan yang ada di sisi-Ku, melainkan hanya seperti benang yang menyerap air ketika dimasukkan ke dalam lautan.” (HR. Muslim no. 2577, dari Abu Dzar Al Ghifari.

Jika benda-benda sejatinya bukan ukuran anugerah, jadi yang mana ukuran anugerahnya itu? Barulah belakangan saya mengerti, anugerah sejati adalah pergeseran paradigma, atau persepsi terhadap kebendaan itu sendiri.

Orang yang dengan kesulitan hidupnya lalu dia bergerak meminta pertolongan Allah, dan dengan itu dia menyadari kefakirannya, lalu menemukan fakta bahwa Allah sejatinya adalah Yang Maha Kaya, dan dengan itu dia merasa aman dalam jaminan Allah. Itulah anugerahnya. Anugerah pengenalan.

Dan bisa saja, anugerah pengenalan itu diterbitkan dari situasi kesulitan kebendaan yang pada akhirnya memaksa kita untuk memohon pertolongan dari Sang Pemilik Sejati Kekayaan. Yang Maha Kaya.

Orang yang kita anggap miskin, boleh jadi memiliki hajat kepada Allah untuk urusan makan sehari-hari. Dengan hajat itulah, dia meminta tolong pada Allah, dan menemukan makna Al Ghaniy. Maka orang ini menjadi zuhud, jika dalam benaknya yang berputar-putar adalah jaminan dan pertolongan Allah, bukan mengenai nasi.

Orang yang kita anggap kaya, boleh jadi memiliki hajat kepada Allah untuk urusan perusahaannya yang terancam collapse. Dengan hajat itulah, dia meminta tolong pada Allah, dan menemukan makna Al Ghaniy. Maka orang ini menjadi zuhud, jika dia melampaui kecemasan kebendaan dengan selalu kembali pada jaminan Al Ghaniy.

Dan ini satu point menariknya, adakah orang yang kaya dibandingkan dengan Al Ghaniy-nya Allah? sejatinya semua kita ini miskin papa.

Hingga pada akhirnya yang penting bukan hartanya. Yang penting adalah keyakinan bahwa saat kita terbentur pada urusan apa jua, kita punya tempat kembali. Yaitu Allah SWT.

Saya mencatat, kenapa saya dulu memiliki persepsi keliru terhadap benda. Antara lain karena kurangnya journey outward.

Jika journey inward, perenungan ke dalam, membuat kita menjadi peka dan awas terhadap perubahan dan gejolak emosional serta gerak-gerik fikiran kita sendiri. Maka Journey inward semata tanpa journey outward akan timpang.

Karena memiliki sebuah kesadaran yang “awas” semata, tanpa pelajaran dan hikmah yang bisa dicecap, adalah sia-sia.

Akan tetapi, jika kita membaca kehidupan ini lewat journey outward yang dilakukan dalam kondisi menjaga ingatan pada Allah (hasil dari journey inward), hal itulah yang akan memberikan kita begitu banyak pelajaran, antara lain mengenalkan kembali pada kenyataan bahwa Allah adalah Yang Maha Kaya.

Bahwa perenungan “ke dalam” memiliki porsinya sendiri di dalam islam; YA. Tetapi perenungan “ke dalam” semata tanpa melakukan “safar” atau perjalanan ke luar dirinya tidaklah komplit. Seseorang tidak akan mendapatkan makna-makna kehidupan secara utuh jika tidak mencecap perhubungan dengan dunia di luar dirinya.

“Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Jumu’ah: 10)

Setelah sholat, dan membangun kekuatan internal, maka step berikutnya adalah bertebaran di muka bumi dalam rangka IQRA’, membaca kehidupan, mencari karunia Allah, sembari mengingati Allah. Maka kita akan beruntung.

Ayo sejenak journey outward. Tengoklah ada berapa planet di dalam galaksi kita saja. Menurut ilmuwan, ada sekira 100 billion planet di dalam galaksi kita saja.[1] itu baru galaksi kita. Dan jika kita kalikan secara kasar saja dengan seribu, entah sudah berapa planet. Itu baru kali seribu, padahal entah ada berapa galaksi.

Pointnya sederhana saja. Hanya dengan membaca kehidupan ini sajalah kita akan mendapatkan pengertian dan realita dari Asma-Nya Al Ghaniy. DIA Maha Kaya. Jika dalam ber billion planet itu ada ber-billion kehidupan yang setiap kehidupan itu dijamin olehNya.

Itu sebab memandang wah pada harta dan benda-benda adalah serupa dengan mengerdilkan Allah. Tetapi sebaliknya, sikap menggilai harta dan kekayaan adalah sikap menghamba pada kebendaan yang memang kerdil.

Anugerah terbesar ternyata adalah dengan selalunya kita kembali kepada Allah dalam apapun saja permasalah hidup –termasuk kesulitan kebendaan- yang pada gilirannya membuat kita menyadari makna kefakiran, dan akhirnya menemukan fakta bahwa Dia-lah pemilik kekayaan.

Pada akhirnya, kebutuhan dunia, membuat kita belajar meninggalkan dunia, karena menemukan Pemilik Dunia.

Saya kutipkan tulisan indah dari foto seorang penjual buah-buahan di atas, “Bagaimana aku takut dengan kefakiran, sementara aku adalah hamba Allah Yang Maha Kaya”

catatan kaki:

[1] “There’s at least 100 billion planets in the galaxy—just our galaxy,” says John Johnson, assistant professor of planetary astronomy at Caltech and coauthor of the study, which was recently accepted for publication in the Astrophysical Journal. “That’s mind-boggling.” http://www.voanews.com/content/galaxy-100-billion-planets-caltech/1577962.html

Gambar ilustrasi saya pinjam dari sini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s