DUKA DARI BELANTARA ILMUNYA

forest“Duka mendalam pada intelektualitas”, saya temukan kalimat itu pada sebuah laman dunia maya. Pasalnya apa? Pasalnya adalah saat kemarin musibah besar asap, ada himbauan untuk bersama-sama melakukan sholat istisqha, meminta hujan. Himbauan meminta hujan itulah yang dianggapnya sebagai sebuah cacat bagi intelektualitas. Ternyata, berdoa dan sholat istisqha dianggap sebagai perbuatan yang tidak masuk akal. Mestinya adalah langkah konkrit.

Saya mengernyitkan dahi, dan tiba-tiba teringat akan sebuah fakta lagi. Yaitu kenyataan dimana banyak sekali kalangan menafikan dimensi batinnya islam.

Dalam sebuah hadits, kita tahu bahwa seorang sahabat menggunakan Al Fatihah sebagai do’a untuk menyembuhkan seseorang yang digigit kalajengking. Dan hal tersebut dibenarkan pula oleh rasulullah SAW.

Logika kebanyakan adalah bahwa do’a adalah berseberangan dengan langkah konkrit. Itu sebab berdo’a, atau mendo’akan dengan ayat Qur’an adalah duka juga bagi intelektualitas.

Sebenarnya, kita tentu paham bahwa dengan mengakui bahwa do’a merupakan salah satu hal yang tertuntunkan juga untuk urusan sembuh-sakit; kita tidak lantas beramai-ramai menyuruh setiap orang meninggalkan rumah sakit lalu menjampi dengan Al Fatihah, tentu konyol.

Tetapi ini satu point pentingnya, pointnya adalah bahwa dengan terus menerus menggerus dimensi batin dalam beragama, lambat laun orang akan merasa bahwa Tuhan hanyalah sebuah entitas yang jauh di dalam buku-buku agama, dan Tuhan hanya sebagai retorika. Tuhan, tidak berkaitan dengan kehidupan kita, yang berkaitan hanyalah hukum-hukum alam yang terbukti secara empiris. Jika do’a yang dianggap sebagai inti peribadatan, dimensi batinnya ritual agama, sudah dianggap sebagai sisi yang berseberangan dengan intelektualitas, bagi saya, malah inilah duka mendalam sebenarnya.

Saat seseorang mengalami kesulitan keuangan, kemudian dalam perkara kesulitan keuangan itu dia tidak menemukan Tuhan. Atau dia tidak percaya bahwa Tuhanlah yang punya andil dalam rizkinya. Orang seperti ini, pandangannya terbentur pada sesuatu yang tampak mata semata. Padahal, sekian ratus variabel kalau mau ditilik, itu berkelindan menjadi satu sebagai jalan untuk mengucurkan kita rizki.

Umpamanya saja, kita gajian setiap awal bulan, dan gajian itu dilakukan secara sistem otomatis perbankan. Maka untuk memastikan kita gajian setiap awal bulan, berarti keseluruhan tata sistem komputer, bahasa programnya, berikut karyawan pada keseluruhan lini perbankan itu harus tidak ada yang error. Satu kesalahan kecil saja, maka kita urung gajian.

Atau kita sudah gajian, tetapi hujan deras dan satu-satunya ATM terdekat sedang habis uangnya maka kita tak bisa mengambil dana tunai sedangkan ada keperluan mendesak.

Hujan, sisa uang di ATM, dan keseluruhan variabel di dunia perbankan, dan bahkan gerak atom di dalam diri kita, adalah variabel yang tak bisa manusia setir. Dan itulah yang disebut grand design oleh para ilmuwan. Bahkan para ilmuwan pun mengakui bahwa kehidupan seperti soap opera. Semua sudah terlalu rapih disusun.

Jadi bukan perkara apakah sholat istisqha manjur atau tidak, atau apakah jampi al fatihah cespleng atau tidak, pun bukan perkara apakah garam yang ditebar dengan pesawat bisa memancing hujan atau penawar racun dari dokter bisa menyembuhkan sengatan kalajengking. Bukan itu…karena semua itu kebendaan.

Silakan sholat minta hujan. Silakan juga pakai pesawat menebar garam pada awan-awan. Tak ada masalah.

Tetapi, duka mendalam itu adalah saat di dalam segala variabel yang kompleks itu, kita tidak menemukan Tuhan.

Jika dalam istisqha kita menemukan kesaktian diri, dan dalam menebar garam melalui pesawat kita terpandang sebatas hukum alam. Itulah duka mendalam.

Tapi mau tak mau, pelatihan untuk memandang melampaui kebendaan itu harus didawamkan lewat do’a yang merupakan intinya ibadah. Perhubungan yang pribadi dengan Tuhan.

Saya kembali teringat dengan pencarian Imam Ghozali. Dalam bukunya Al-Munqidz Min Adh Dhalal beliau menceritakan petualangan pengembaraan intelektualnya dimana beliau menggali kebenaran dan berusaha “menemukan Tuhan” lewat sains, lewat filsafat, dan lewat ilmu kalam, tetapi akhirnya menyerah.

Yang ditentang beliau bukanlah ilmunya, tetapi sebuah kenyataan dimana saat beliau berupaya “menemukan Tuhan” lewat sains, filsafat, kalam, tetapi semua itu gagal membuat beliau menyaksikan Tuhan, dalam tanda kutip.

Hingga pada akhirnya beliau menempuh jalan Uzlah, dan memperbanyak ibadah dan mendekati Tuhan, lalu barulah terbuka insight dan beliau mengerti tentang begitu banyak hal.

Inilah yang akhirnya menjawab kebingungan saya, kenapa orang-orang yang belajar banyak ilmu, malah pendapatnya semakin banyak aneh-anehnya? Ternyata karena mereka memulai pencarian dari yang jauh dulu. Ilmu.

Apapun ilmunya, sejatinya adalah sesuatu yang begitu jauh dari kita. Memulai pencarian dengan bergantung kepada ilmu, maka akan mengalami keputusasaan seperti yang ditemukan Imam Ghozali. Barulah setelah beliau switch metoda dengan mendekati Allah terlebih dahulu, insight terbuka buat beliau.

Hal ini tidak berarti mengesampingkan ilmu. Karena, ilmu apapun bentuknya, saya rasa adalah hasil dari IQRA-nya manusia terhadap fenomena-fenomena alam. Tetapi untuk IQRA, sudah ada pakemnya.

Iqra, bismirabbikalladzi kholaq. Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Maka bacalah apa saja, asalkan bismirabbika.

Jika kita membaca dengan semangat bismirabbika, berarti kita memulai dari sesuatu yang dekat terlebih dahulu. Mendekati Tuhan, untuk kemudian membaca kehidupan ini, atau kembara keilmuan ini, dengan namaNya. Maka Allah yang akan menuntun kemana ilmu semestinya kita jelajahi.

Maka kita temukan ada orang desa yang tak perlu sekolah tinggi-tinggi tetapi “menemukan” pengaturan Tuhan dalam liuk-liuk batang padi di sawahnya yang menguning. Dan ada pula seperti Al Ghazali, yang “menemukan Tuhan” justru setelah kembara keilmuannya mentok.

Ilmu, itu kebendaan. Menelusuri belantara ilmu berarti menelusuri alam kebendaan. Pengertian-pengertian akan keTuhanan, ternyata, menurut orang-orang arif, ialah melampaui kebendaan.

Hanya jika kita menemukan diri kita sebagai yang tidak berdaya, maka barulah pandangan kita akan melampaui kebendaan dan menemukan fakta bahwa DIA-lah yang maha berdaya.

Ibnu Athoillah menyederhanakan ungkapan ini dengan mengatakan “jangan bersandar pada amal,” karena bahkan amalpun kebendaan. Atau singkat kata, persandaran kepada Allah mesti dimulai sejak awal. Bismirabbika. Latihan meloncati kebendaan.

Jebakannya adalah, orang yang menelusurui belantara keilmuan, tanpa sikap bismirabbika maka tak akan dia temukan apapun pada belantara keilmuan itu selain dari dirinya semata.

Semakin dia mengembara keilmuan, semakin tidak dia temukan Tuhan dalam kehidupannya. Karena yang dia temukan hanyalah keteraturan pada hukum-hukum alam.

Yang tak memulai kembara keilmuannya dengan bismirabbika, dijamin tak bisa IQRA dengan benar. Pintar boleh jadi, tetapi semakin pintar dirinya, semakin hanya dirinya saja yang dia temui dalam pengarungan ilmunya.

Beda kasus dengan Imam Ghazali yang berangkat dari keilmuan saintifik dan filsafat, lalu putar haluan dan memulai dengan bismirabbika, pada akhirnya kembali dia menemukan hikmah dari lautan ilmu yang sudah dia arungi sebelumnya.

Maka harus dimulai dari mendekati Yang Punya Ilmunya dulu. Jangan mencari dengan skema terbalik. Pembuktian dengan skema terbalik akan menyusahkan diri sendiri. Kalaupun berhasil menyaksikan pengaturan Tuhan lewat skema terbalik seperti itu, dijamin perjalanan akan sangat lama.

Ini contoh saja tentang skema terbalik. Skema terbalik pertama, adalah orang yang mencari ilmu, observasi ke luar dirinya, tetapi tidak dalam sikap bismirabbika. Maka hasil IQRA-nya hanyalah menemukan kehebatan dirinya saja, menemukan keruwetan sekaligus keteraturan hukum-hukum alam semata. Semakin menemukan kebesaran diri sendiri, semakin tak bisa melewati kebendaan.

Contoh kedua, juga sama, ini skema terbalik juga. Yaitu orang-orang yang mencari, observasi ke dalam dirinya, tetapi menggunakan skema terbalik.

Jika berkenan, kita bermain sejenak. Coba rekan-rekan berhenti berfikir. Sekarang! Sekarang juga!

Bisa tidak?

Satu menit? Dua menit? Lima menit bisa?

Semakin kita ingin mencoba berhenti berfikir, maka fikiran itu akan mendatang dengan sendirinya. Pada jenak itu, kita akan mengerti bahwa ada “yang mengamati” dan ada “yang diamati” atau fikiran-fikiran yang mendatang itu.

Orang-orang yang mencari “ke dalam dirinya”, berangkat juga dengan observasi logis itu, yaitu mengamati fenomena pikiran dan perasaannya sendiri. Yang datang dan pergi.

Maka menyibukkan diri dengan mengamati fenomena fikiran dan perasaan yang datang dan pergi, tanpa ada bismirabbika juga sama saja dengan mengarungi belantara kebendaan tadi.

Ada memang, sebagian orang yang mengamati fikiran dan perasaannya sendiri berpuluh tahun sampai pada level yang menakjubkan. Dan pada akhirnya “anggaplah” tercerahkan, dan  sampai pada sebuah kesimpulan bahwa Pemilik Semesta ini adalah sesuatu yang bukan ini, bukan itu, bukan segala sesuatu.

Tetapi bukankah kesimpulan itu sudah sejak lama ada di dalam surat Al Ikhlas?

Pada intinya, apakah kita menelusuri belantara kebendaan lewat observasi pada sesuatu yang ada di luar diri kita, dan dengan itu manusia memperoleh ilmu yang macam-macam. Atau apakah kita menelusuri belantara fikiran dan perasaan di dalam diri kita sendiri, yang kita observasi berpuluh-puluh tahun dan dengan itu manusia memperoleh kemampuan untuk lebih aware dan mindfulness. Semuanya sama-sama ilmu.

Dan kalau flow-nya keliru, ilmu-ilmu malah tidak membuat kita yakin bahwa ada Tuhan didalam kehidupan manusia ini. Karena dalam pengembaraan kita, yang kita temukan hanyalah diri kita sendiri saja.

Misalnya kita belajar, lalu semakin belajar kita semakin menyangsikan Tuhan, mungkin kita sudah belajar dengan skema terbalik selama ini. Tak ada bismirabbika di awalnya.

Atau sisi lainnya. Kita beribadat, tapi semakin beribadat semakin tak kita temukan kekecilan diri, melainkan kita temukan kehebatan dan kemampuan bargaining antara diri kita dan pahala dari Allah. Maka ini pun keliru. Tak ada bismirabbika juga pada perjalanan kita.

Ternyata kata guru-guru, mulailah dari mendekat kepada yang paling dekat dan lebih dekat ketimbang urat leher kita sendiri. Baru setelah itu kita boleh IQRA apapun saja. Asalkan bismirabbika.

Karena nanti DIA sendiri yang menuntun kita, kemana belantara ilmuNya harus dikembarai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s