SEPATU BALLY DAN HIKMAH YANG DILAMPAUI

ikannunRasanya banyak orang sudah sering mendengar tutur kisah Bung Hatta dan sepatu Bally. Sebuah sepatu yang diidam-idamkan Bung Hatta sang proklamator. Sejak dari sepatu itu beliau lihat di sebuah pertokoan luar negeri, beliau sudah kesengsem. Tetapi sepatu tersebut tak pernah berhasil terbeli oleh Bung Hatta, karena uang beliau selalu habis untuk kepentingan keluarga, dan diberikan kepada yang membutuhkan. Selepas pensiun pun beliau sangat kekurangan uang hingga sampai beliau wafat sepatu itu hanya jadi impian, dan baru ketahuan saat sang putrinya menemukan lipatan gambar sepatu bally pada diary Bung Hatta.

Cerita seperti yang dialami Bung Hatta itu tadi, mungkin juga pernah dialami banyak orang dengan segala varian ceritanya. Ada hikmahnya, tentu.

Dalam kasus Bung Hatta, cerita bahwa beliau bahkan tak pernah berhasil membeli sepatu yang diidam-idamkan karena pola hidup beliau yang sangat sederhana dan memang tak pernah memakan uang rakyat, akhirnya menjadi pinutur dimana-mana. Sebuah lambang keteladanan yang diputar ulang di mana-mana teks.

Proklamator, yang bahkan hingga akhir hayatnya kesulitan membeli sepatu. Atau proklamator, yang menyimpan potongan gambar sepatu pada lipatan diary-nya, dan tak pernah berhasil membeli sepatu itu karena hidupnya yang bersahaja.

Ada kejadian, ada hikmah….Itu sebuah rumusan yang diterima oleh siapapun saja, oleh hampir semua orang dengan falsafah pemikiran yang bagaimanapun saja.

Tetapi, ada satu hal yang saya sekarang baru memahami, bahwa cara orang arif memandang kehidupan adalah dengan mempercayai kebaikan kehidupan bahkan pada saat hikmah belum lagi tersingkapkan.

Ini berbeda dengan saya dulu, dimana saya selalu berusaha mencari hikmah atas segala sesuatu yang terjadi. Proses saya mencari-cari hikmah atas sesuatu yang terjadi itu, baru belakangan saya mengerti, adalah timbul dari niatan untuk berdamai dengan kesulitan hidup.

Sebuah kesulitan hidup yang membadai, tentunya akan menjadi lebih enak dijalani jika saya bisa mencari-cari kira-kira apa hikmah dari kesulitan hidup itu?

Hal itu tentu saja baik sekali. Akan tetapi, barulah setelah mendengar wejangan seorang Arif[1] saya mengerti sebuah kebijakan lainnya, bahwa seringkali hikmah sesungguhnya dari sebuah kejadian itu baru akan terungkap setelah berbilang-bilang masa.

Umpamanya saja, contoh cerita Bung Hatta dan sepatu Bally tadi, saat ini kita bisa menikmati cerita itu sebagai sebuah sajian yang utuh. Ada kesulitan hidup yaitu “drama” dimana sang proklamator besar kita menyimpan gambar potongan koran sepatu idaman pada lipatan diary-nya, tetapi tak terbeli hingga akhir hidupnya.

Dan ada pula “hikmah”, yaitu epik keteladanan, dimana kisah Bung Hatta tersebut menjadi viral dan ikon kehidupan yang murni, jernih, tidak ada kepentingan. Dan tempat orang-orang mengaca diri.

Tetapi itu sekarang. Berpuluh tahun, bahkan beratus tahun kemudian baru hikmahnya terungkap.

Sedangkan pada saat Bung Hatta mengalaminya, ianya hanya menjadi sebuah kejadian saja, kejadian yang menggantung.

Ok, saya pengen sepatu, saya simpan gambarnya pada diary saya, saya sibuk memikirkan bangsa, saya kesulitan keuangan, dan sampai akhir hayat saya urusan sepatu pun menjadi terlupakan dan terlalu remeh dibanding urusan yang lain. Dianya menjadi ceritra yang menggantung, bukan?

Karena memang begitulah rupanya seni takdir. Ternyata, masih mengutip dari wejangan guru yang arif, tidak semua hikmah bisa kita bongkar seketika.

Maka ketiadaan (keghaiban) hikmah dari pandangan kita yang pendek, saat ini, tidak menjadikan sebuah kejadian hidup itu menggantung. Ianya tetap tidak lepas dari sketsa takdir Sang Alimul Hakiim. Maha berilmu, lagi Maha Bijaksana.

Dan keseluruhan kisah orang-orang arif, aulia, para Nabi, adalah kisah panjang menjalani kehidupan dalam ending yang masih belum lagi dimengerti hikmahnya.

Yunus Bin Matta, selamat dari perut ikan dan dikembalikan pada kaumnya yang telah bertaubat, tetapi pada saat Yunus berada di dalam perut ikan, kisah itu masih ghaib hikmahnya, bukan?

Yunu kesal pada kaumnya yang degil dan tak mau-mau juga mendengar pesan-pesan kebaikan, lalu meninggalkan kaumnya yang seperti sudah tak ada lagi kemungkinan untuk berubah menjadi baik, eh tahu-tahu dicemplungkan ke dalam lautan dan dimakan ikan.

Saat meringkuk di dalam perut ikan itulah, gelap, bersalah, tak bisa kemana-mana, dan segala hal yang kalau kita membayangkan suasananya maka konteks waktu itu menjadi konteks yang menggantung. Opoooo maksude? Hikmahnya belum lagi terungkap.

Dan inilah tips saat kita sedang berada dalam fase seperti Yunus a.s, kata sang guru, duduk “diam” dalam ingatan kepada Allah SWT, Jangan sibuk mencari hikmah!

Dulu saya tak paham, kok ndak boleh cari hikmah sih? Belakangan saya baru mengerti, pesanan itu dalam artian bukan kita tak percaya bahwa kehidupan itu berhikmah. Melainkan, orang-orang arif ingin mengajak kita naik level, dengan menjadi orang yang mempercayai kebaikan Tuhan pada saat kebaikan itu, hikmah itu, bahkan masih ghaib dari pandangan manusia yang terbatas.

Setelah masa pubertas spiritual dilakoni, yaitu mencari-cari hikmah untuk meyakini kebijaksanaan Allah SWT, kita harus memasuki masa dewasa yaitu diam didalam kebaikan sangka pada Allah SWT.

Dan inilah yang saya baru mengerti. Dan memang butuh waktu untuk men-switch kebiasaan. Dari yang sebelumnya agak sulit menerima kenyataan, dan sibuk cari hikmah, cari hikmah, cari hikmah, cari lagi sampai puyeng…. Kira-kira kenapa begini, kenapa begitu? Apa hikmahnya? Semakin belum ketemu semakin bingung sendiri.

Karena ketiadaan hikmah, atau ghaibnya hikmah dari pandangan saya, membuat jiwa saya gundah gulana. Dan kegundahan itu, dulu, hanya bisa saya lipur dengan kebendaan lagi, yaitu hikmah hidup. Hikmah pun kebendaan.

Ternyata, level berikutnya menurut orang-orang arif, adalah menerima kejadian hidup karena keyakinan bahwa kejadian apapun tak akan lari dari dinding takdirnya. Yang digores oleh Yang Maha Berilmu, lagi Maha Bijaksana.

Maka saat situasi memburuk, seperti ditelan ikan NUN, jangan mencari kebendaan (hikmah) untuk menenangkan diri kita. Tetapi bina kembali kedekatan pada Tuhan, karena hikmahnya boleh jadi kelihatan sekarang, boleh jadi besok lusa, boleh jadi setelah kita tiada. Tetapi dengan berlari menuju Tuhan, kita sudah meloncati kebendaan, dan menjadi tenang karena sangka yang baik terhadap Tuhan. Tenang yang tidak bersandar pada kebendaan.

Inilah level yang lebih tinggi, dan memang easier said than done, kata orang. Tetapi setidaknya kita tahu apa yang harus dicoba.

Dan ternyata, dengan sikap yang meloncati kebendaan seperti inilah, maka hikmah itu acapkali turun dengan sendirinya, seperti insight yang datang tanpa sibuk dicari-cari.

Mungkin inilah yang semakna dengan IQRA BI ISMI RABBI, duduk diam dalam ingatan pada Allah, Bi ismi Rabbi dulu, dan kemudian membaca hidup dalam kondisi yang terpaut dengan Tuhan, maka hikmah akan diajarkan. Tapi hati sudah lebih dulu meloncati kebendaan.

 

 

catatan kaki:

[1] H. Hussien Abdul Latiff

Gambar ilustrasi saya pinjam dari link ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s