MENANGISI TANGISAN, MENERTAWAI TAWAAN

tantrumPada pojokan musholla, seorang wanita menangis tersedu-sedu, dan ditenangkan oleh rekan-rekan wanitanya yang lain yang juga sama-sama terisak.

Kejadian itu adalah sewaktu saya SMA dulu. Ceritanya, saya dan rekan-rekan remaja masjid mengusung satu orang rekan yang terpercaya untuk menjadi calon dalam bursa pemilihan ketua OSIS sekolah saya. Dan calon yang kami usung tersebut ternyata gagal menjabat ketua, kalah suara.

Kegagalan itulah, yang membuat saya dan rekan-rekan saya yang lain terutama para wanitanya begitu terpukul. Hingga beberapa orang rekan wanita terlihat menangis sesenggukan di pojok musholla.

Pandangan saya yang belia kala itu, menilai kesedihan kami adalah sesuatu yang murni dan mulia. Dalam pandangan kami, rekan yang diusung adalah dia yang kami anggap bisa mewujudkan kebaikan keislaman di sekolah. Sehingga kesedihan atas gagalnya seorang calon menjabat ketua OSIS kami anggap sebagai duka keislaman.

Sekarang kalau mengingat hal tersebut saya geli sendiri. Betapa pandangan keislaman saya waktu itu begitu kanak-kanak. Ya namanya juga anak SMA.

Boleh jadi, tindakan mengusung salah seorang calon untuk memajukan kepentingan keislaman di sekolah adalah tindakan yang elok. Dan rekan yang kami usung memang orang yang begitu terpercaya dan memiliki kepandaian. Tetapi setidaknya ada fakta yang saya pribadi luput waktu itu, yaitu fakta bahwa segala sesuatu sudah ada dalam plot ceritanya Tuhan, dan kita sama sekali bukan faktor penentu. Dan yang lebih nyata adalah bahwa yang kami sedihkan kala itu adalah kekalahannya. Tangisan adalah ekspresi dari keinginan menang yang tak kesampaian.

Saya tidak hendak membahas debat klasik tentang usaha dan takdir, tetapi satu hal yang sangat nyata adalah kita seringkali keliru dalam memandang. Kekeliruan itu terjadi apabila sebuah kejadian sudah membuat kita luput dari memandang ketetapannya Tuhan. Bahasa para arifin, kita terhijab oleh kejadian-kejadian hidup. Terhijab oleh kebendaan.

Duka mendalam kami waktu itu, duka pada sebuah kenyataan bahwa kami kalah, adalah duka yang “kebendaan.”  Dan duka yang kebendaan adalah bukan duka yang arif. Setidak-tidaknya itu duka yang kanak-kanak.

Sebuah duka, subjektif saya, akan menjadi arif apabila duka itu telah melintasi kebendaan. Jika tangisan yang keluar adalah tangisan haru sebab memandang pada pengaturan Allah. Manusia punya makar, dan Allah punya makar (rencana) pula. Dan Allah-lah sebaik-baik perencana.

Maka satu hal yang saya catat tebal sekarang adalah hati-hati menangis, (dan hati-hati tertawa juga tentunya). Sebisa-bisa mungkin tangis dan atau tawa adalah ekspresi yang “dewasa”, yang “arif”.

Teringat ulama-ulama silam, mengatakan bahkan istighfar kita, masih perlu diistighfari. Mengistighfari istighfar itu, secara subjektif saya pahami sebagai kontemplasi mereka dalam memahami ekspresi penyesalan dan tangis yang barangkali kanak-kanak, seperti yang saya dan rekan-rekan alami di atas tadi.

Ada satu hal yang kembali mengingatkan saya pada bahasan diatas. Saat saya bekerja sekarang, dan sedikit-sedikit kembali mengakrabi bahasan kimia science, saya teringat lagi dengan sebuah fakta sederhana bahwa pada tingkat mikro kita tahu bahwa segala hal pada tataran mikro itu tidak kita atur sama sekali.

Satu atom terdiri dari elektron yang mengelilingi inti atom yaitu gabungan proton dan neutron. Jumlah elektron yang berputar pada lintasannya mengelilingi inti; tak pernah kita atur. Geraknya tak kita atur.

Dan kalau kita membawa silogisme ini pada skala makro, apabila keseluruhan pranata kehidupan kita, pada level jaringan, organ, susunan molekul, kesemuanya itu adalah terdiri atas atom-atom yang tak pernah kita atur; maka sebenarnya kesimpulan premisnya ialah keseluruhan lakon hidup ini memang tidak pernah kita atur sama sekali.

WRITTEN. Tertulis, semua sudah tertulis.

Tapi memang harus hati-hati sekali membahas hal ini, karena banyak yang keliru memahami apa yang disampaikan para arifin mengenai hal ini.

Seorang sahabat, bertanya pada Rasulullah SAW, jika semua sudah diatur, lantas apa pentingnya usaha? Kalau begitu kita santai-santai sajalah.

Rasulullah mengatakan pada sahabat tersebut, jangan begitu. Simplenya “just do it” karena segala sesuatunya akan bergulir sesuai dengan apa yang sudah tertulis. Dan pasti berhikmah. Lakonono kata orang jawa.[1]

Tetapi ada adab-adab yang telah dituliskan ulama arifin dulu dan sekarang yang perlu kita catat dalam kaitannya dengan harmoni takdir ini.

Adab itu adalah hindarkan diri dari “tadbir”. Tadbir adalah memikirkan dan menetapkan hasil usaha. Seperti ungkapan hikmah dari Ibnu Athoillah berikut:

“Istirahatkan dirimu dari melakukan “tadbir” (mengatur urusan duniamu) dengan susah payah. Sebab, sesuatu yang sudah dijamin/diselesaikan oleh selain dirimu (sudah diurus oleh Allah), tidak usah kau sibuk memikirkannya.”

Sikap menghindarkan diri dari tadbir ini adalah sebuah adab batin kita dalam melaksanakan titah Rasul untuk go with the flow Dalam kehidupan. Berkebaikanlah, berlombalah, tetapi jangan menetapkan dan memikirkan kalau kita begini pasti begini. Jangan tadbir.

Jadi kurang lebih kalau kita susunkan, inilah sintesa itu:

Yang pertama adalah kepahaman bahwa sejak dari skala mikro atom, dan lebih kecil dari atom, sejatinya diluar kuasa manusia. Maka sesungguhnya segala yang makro (susunan dari jutaan trilliun dunia mikro) pastilah juga diluar kuasa manusia. Kesemuanya itu telah tertulis dalam rangka mengenalkan diriNya.

Yang kedua. Bahwa Rasulullah sudah berpesan. Go with the flow saja. Bukan santai-santai dan ongkang kaki. Just do apapun yang kita bisa lakukan dalam kerangka yang sudah tertuntunkan. Karena toh segala sesuatu akan bergulir sesuai dengan apa yang telah ditakarkan dan dituliskan. Tanpa ada yang terlupakan.

Yang ketiga. Dalam kaitannya dengan usaha kita untuk go with the flow seperti hadits Rasulullah tadi, kita tak elok untuk memikir-mikir, dan menetapkan bahwa kalau kita begini, maka pasti hasilnya begini. Itulah yang disampaikan Ibnu Athoillah dalam bahasannya tentang tadbir di atas. Dalam bahasa H. Hussien Abdul Latiff, beliau berpesan agar dalam kaitannya dengan usaha manusia kita jangan sibuk memikirkan, jangan sibuk menetapkan. Agar tak terjebak dalam duka mendalam yang kanak-kanak, seperti ilustrasi dimana saya dan rekan-rekan saya menangisi hal sederhana semisal kekalahan calon yang kami usung dalam bursa pemilihan ketua OSIS sekolah.

Dan yang terakhir barangkali tentang tangis dan tawa itu. Bahwa dalam segala susunan keseharian kita ini, akan banyak cerita tangis dan cerita tawa. Maka hati-hatilah dengan jebakan ekspresi emosional tersebut.

Sebuah tangis dan tawa yang kekanakan adalah tangis dan tawa karena terjebak pada hal yang kebendaan. Jika tangis dan tawa kita belum disebabkan karena rasa haru dan bahagia atas pengertian-pengertian tentang takdir dan “karya” Allah dalam geraknya alam ini; maka tangis dan tawa kita itu pun masih perlu diistighfari, kata para ulama.

Akhir kalam, saya rasa perlu kita kembali kutipkan pesanan Ibnu Qayyim Rahimahullah, bahwa siapapun saja yang benar-benar sudah terpandang pada kesempurnaan takdir dan mengerti tentang ejawantah asma dan sifat Allah SWT, justru akan semakin memohon ampun atas kekhilafan, dan mensyukuri kemudahan beribadah yang telah dikaruniakan padanya. Tidak akan membuat seseorang itu berkelit atas nama takdir.[2]

 

 

catatan kaki:

[1] Artinya: “Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pernah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalllam pada sebuah jenazah, lalu beliau berdiam sejenak, kemudian beliau menusuk-nusuk tanah, lalu bersabda:“Tidak ada seorangpun dari kalian melainkan telah dituliskan tempatnya dari neraka dan tempatnya dari surga”. Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa kita tidak bersandar atas takdir kita dan meninggalkan amal?”, beliau menajwab: “Beramallah kalian, karena setiap sesuatu dimudahkan atas apa yang telah diciptakan untuknya, siapa yang termasuk orang yang ditakdirkan bahagia, maka akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni surga, adapun siapa yang ditakdirkan termasuk dari dari orang yang ditkadirkan sengsara, maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni neraka”. Kemudian beliau membaca ayat:

Artinya: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa”. “Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)”. “Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”. QS. Al Lail: 5-7.

Imam Nawawi rahimahullah berkata:

Artinya: “Di dalam hadits-hadits ini terdapat larangan untuk meninggalkan amal dan bersandar dengan apa yang telah ditakdirkan, akan tetapi wajib beramal dan mengerjakan beban yang disebutkan oleh syariat, dan setiap sesuatu dimudahkan untuk apa yang telah diciptakan untuknya, yang tidak ditakdirkan atas selainnya”. Al Minhaj, Syarah Shahih Muslim., 16/196.

[2] “Sesungguhnya musyahadah seorang hamba terhadap hukum tidak menjadikannya meninggalkan upaya menyebut baik pada kebaikan atau menyebut buruk pada keburukan, karena keberhasilan yang telah diperolehnya dalam memahami makna hukum.” (Ibnu Qayyim Al Jauziyah, dalam bukunya “Qada dan Qadar”, mengutip pengarang buku Manazilus Sa’irin.)

Gambar ilustrasi dipinjam dari sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s