THE HARMONY WE ARE LIVING IN

Pernah membaca Roman “Three kingdoms?” Three kingdoms sendiri sebenarnya adalah terjemah yang kurang tepat dari cerita aslinya yang secara literal lebih tepat dikatakan Roman “Tiga Negara.” Cerita tentang negri Wei (dipimpin oleh Cao-Cao), Liu Bei (negeri Shu), dan Sun Quan (negeri Wu). Masing-masing telah memaklumatkan diri sebagai kaisar dan mengklaim legitimasi kekaisaran yang telah runtuh.

Saya sendiri tak mengikuti Roman ini dengan detail hingga selesai, tetapi satu falsafah yang saya ingat dari komik Three Kingdoms ini adalah falsafahnya bahwa ketiga negara yang bertikai itu sendiri, harus “ada,” karena dengan adanya tiga negara yang bertikai itulah maka stabilitas bisa terjaga. Harmoni bisa terjadi.

China_in_262Peta tiga negara (Credit by Wikipedia).

Seorang rekan, menjelaskan pada saya mengenai stabilitas ini. Coba bayangkan, kata rekan saya itu, ada tiga orang bertengkar. Yang satu (sebutlah misalnya A) punya kekuatan mengguli yang lainnya. Tetapi A tidak akan bisa mengalahkan B dan C sekaligus. Karena jika digabung B dan C akan memiliki kekuatan mengalahkan A.

Jadi apa yang akan terjadi? Yang akan terjadi adalah ketiga negara itu, dalam konfliknya, akan menimbulkan kesetimbangan dengan tidak mengalahkan satu sama lain. Karena seandainya saja A (yang paling kuat diantara semua) hendak mengalahkan B, maka si C akan tahu, bahwa segera saja setelah B kalah, maka C juga akan tumbang. Dia tak mau itu, maka dia akan berkomplot dengan B untuk menghalangi A mengalahkan B dan pada akhirnya mengalahkan dia sendiri, C.

Sedangkan C sendiri, tak mungkin menyerang A, karena A sudah jelas paling kuat, maka yang paling logis adalah C menyerang B, tapi A  mengetahui  segera saja jika B kalah, maka B+C akan menjadi paling kuat dan bisa setanding dengan dia maka A tak mau itu terjadi.

Singkat kata, dengan tetapnya keberadaan ketiga negara itu, malah begitulah kesetimbangan akan terjadi, tidak saling hendak mengalahkan. Atau jika ada yang saling hendak mengalahkan maka pihak yang lain akan mencegah kesetimbangan itu untuk rusak.

Kalau kita padatkan, kesimpulan sederhananya begini: Bahkan dalam chaos-pun sebenarnya ada harmoni.

Perumpamaan berikut mungkin kurang relevan, tetapi sebagai ilustrasi mudah-mudahan cukup membantu.

Dalam suatu hadits, Rasulullah SAW saat selesai perang Ahzab menitahkan pada para sahabat untuk berangkat menuju perkampungan Bani Quraizhah. Saat itulah Rasulullah SAW menitahkan seperti berikut:

Janganlah seseorang shalat Ashar kecuali di (perkampungan) Bani Quraizhah.” [1]

Para sahabat berbeda pendapat mengenai hal ini, sebagian menafsirkan dengan literal bahwa tak boleh sholat ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah. Karena itu setelah waktu ashar tiba, dan mereka belum sampai di perkampungan Bani Quraizhah, mereka tidak sholat ashar. Karena bagi mereka titah Rasulullah SAW berarti sholat ashar hanya boleh pas sampai disana.

Sedangkan, yang satu lagi berpandangan bahwa yang dimaksud Rasulullah secara tersirat adalah bahwa mereka harus berjalan ke perkampungan itu secepat mungkin, dengan begitu mereka akan bisa sampai pada waktu ashar. Tetapi, tak berarti kalau tak berhasil tiba saat ashar maka boleh menunda sholat. Maka golongan ini tetap melaksanakan sholat ashar meski belum sampai perkampungan Bani Quraizhah.

Perbedaan ini terjadi di zaman Rasulullah SAW, dan Rasulullah membiarkan saja. Tidak membenarkan atau menyalahkan salah satu pihak. Meskipun secara logis kita tahu bahwa yang benar menurut subjektif saya adalah yang tetap sholat meskipun belum sampai tujuan. Tetapi toh Rasulullah membiarkan perbedaan itu terjadi.

Sepanjang sejarah, akan selalu ada perbedaan sikap, karena perbedaan paradigma. Dan memperdebatkan perbedaan sikap, tanpa meneliti kenapa paradigma berbeda, adalah kurang tepat.

Saya ingat, ada seorang rekan saya dulu yang begitu semangat mengikuti Rasulullah sampai beliau membeli kayu siwak untuk sikat gigi. Benar-benar kayu siwak. Baginya, sikat gigi plastik modern itu tidak nyunnah, yang sunnah adalah siwak kayu.

Saya menghargai pilihannya, sambil teringat kembali bahwa paradigma orang bermacam-macam. Rekan saya tadi meniru harfiah luarannya. Maka beliau makan pun dengan tiga jari, dalam niatan meniru Rasulullah yang makan dengan tiga jari. Sedangkan saya berfikir bahwa itu adalah unsur budaya, makan tiga jari itu adalah budaya karna makanan pokok berupa roti, akan sulit diterapkan pada yang makanannya mie ramen atau nasi misalnya?

Tetapi perbedaan pada hal-hal yang begitu, itu memang sudah ditolelir oleh Rasulullah SAW. Kalau kita bahasakan, inilah harmony within chaos.

Bahwa perbedaan itu memang harus ada, barangkali karena Allah ingin orang-orang mendekatiNya lewat berbagai-bagai cara pandang.

Maka di dunia ini kita lihat ada orang dengan pendekatan literal tekstual, ada yang lebih penafsiran secara maknawi. Di Indonesia sendiri ada yang pendekatan akademis dan modern seperti Muhammadiyah, ada yang kultural dan sufistik seperti NU. Harmoni yang mesti ada.

Perbedaan ini memang selalu ada. Hadits ini sering dijadikan dasar sebagai pijakan untuk memaknai perbedaan pendapat dalam hal yang cabang, dan bukan hal yang pokok.

Dalam hal yang pokok, memang harus menegaskan pembatas bahwa kita benar, dan selain kita tidak benar. Tetapi yang menariknya lagi, ternyata Allah SWT juga mengatakan kepada Rasulullah SAW bahwa tak ada susahnya bagi Allah jika Allah ingin semua orang beriman. Tetapi Allah tidak lakukan hal tersebut. Yang berarti bahwa kondisi dimana ada hal yang tak benar; adalah “benar” juga karena masuk dalam plan Allah. Dan kita go with the flow saja.

Dan dalam satu ayat dikatakan bahwa dijadikan kita bersuku-suku berbangsa-bangsa agar kita saling kenal mengenali.

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (al-Hujuraat: 13)

Pada akhirnya, yang namanya manusia kita harus berani untuk konsisten di salah satu corak. Bertindak sesuai dengan paradigma kita. Sekaligus menghargai pendapat rekan kita yang berbeda dengan kita pada urusan-urusan cabang. Dan menegaskan perbedaan kita pada orang-orang yang berselisih dalam urusan pokok. Tetapi jangan menghakimi, karena semua urusan Allah.

Karena bahkan Rasulullah SAW ditegur oleh Allah SWT karena beliau begitu berduka dengan ingkarnya kaumnya:

 “Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil” QS Al-An’am : 36

Karena seperti cerita three kingdoms di atas tadi, bahwa segala sesuatu yang kita kira chaos sekarang ini, sebenarnya harmoni. Dalam ceritaNya sendiri.

Apakah syurga atau neraka untuk orang lain, mana kita tahu. Tugas kita adalah menyampaikan paradigma kita, dan memaklumi segalanya sebagai bagian dari plotNya, Maha Plot, The harmony we are living in.

catatan kaki:

[1] HR. al-Bukhari no. 946 dan Muslim no. 1770.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s