BERTANYA KEPADA HATI

image

Dalam bahasa apa rekan-rekan berbicara? Sebagian mungkin berbicara dalam bahasa Indonesia, sebagian mungkin bicara lebih banyak dalam bahasa daerah, tidak masalah, tetapi pertanyaan kita lanjutkan.

Dalam bahasa apa rekan-rekan berfikir? Nah ini menarik, sebagian mungkin berfikir dalam bahasa yang sama dengan apa yang dia gunakan sehari-hari, tetapi sebagian mungkin tidak.

Seumpama seorang Indonesia tinggal di luar negeri . Pada waktu awal-awal, dia akan berbicara sehari-hari dalam bahasa Inggris umpamanya, di tempat kerjanya, tetapi di dalam benaknya dia masih akan berfikir dan berceloteh dalam Bahasa asalnya, bahasa Indonesia.

Barulah kemudian seiring waktu, dia akan berubah tanpa dia sadari, dan bahkan di dalam benaknya sendiri sudah berganti celoteh menggunakan bahasa Inggris, bahasanya sehari-hari.

Tetapi pertanyaan belum selesai. Kalau tadi kita bertanya mengenai bahasa dalam ucapan, dan celoteh fikiran, bagaimana dengan sesuatu yang lebih dalam lagi? Dalam bahasa apa rekan-rekan memahami?

Yang ini mungkin agak pelik sedikit. Tapi sekedar ilustrasi untuk mempermudah, pernahkah rekan-rekan sedang menulis atau mengetik tetapi rasanya sulit untuk menuliskannya karena banyak sekali yang rekan-rekan pahami dan susah dibahasakan dalam ucapan atau tulisan. Atau sebaliknya, ketika memahami (paham) sesuatu, kita mengucapkan, “Oooohh…” pada lisan, tetapi sebenarnya sebuah gumaman di mulut kita itu, pada levelan yang lebih dalam, di dalamnya batin, dia berupa “kepahaman” yang begitu banyak.

Jadi dalam bahasa apa rekan-rekan memahami?

“Kepahaman” yang kita miliki, sejatinya tiada bentuk, dia bukan berupa bahasa lisan, bukan berupa bahasa tulisan.

Sebuah kepahaman, baru akan menjadi memiliki bentuk ketika dia mewujud ke dalam kreasi.

Katakanlah saat kita berbicara di dalam hati, atau melakukan sebuah proses kreatif menganalisa, maka “kepahaman” itu akan terlihat dalam bentuk bahasa-bahasa di dalam hati, dan lebih jelas lagi saat kita tuliskan atau saat kita ucapkan kepahaman itu akan menjelma sebuah wujud tulisan atau ucapan.

Jadi pada levelan “kepahaman,” kepahaman ini tak ada wujud konkritnya.

Sebuah contoh lagi yang universal. Saat Archimedes menemukan ide untuk menghitung volume benda tak beraturan ketika dia sedang berendam di dalam bak mandi, seketika itu Archimedes “paham,” kita sebut mendapat “kepahaman” atau “insight,” seketika itu juga dia terucap “Eureka,” yang artinya “Aku menemukannya!”

Pada level terluar wujud kata, yang terdengar adalah ucapan “Eureka,” tapi kalau kita masuk lagi jauuuuuuhhhh ke dalam, pada tataran “kepahaman” di kedalaman batinnya Archimedes? Apa wujudnya? Belum lagi ada bentuknya! Tapi Archimedes sendiri yang mengerti, sampai nanti kemudian Archimedes membawa “turun” kepahaman itu pada ruang kreasi dalam fikirannya dan menjelma wujud-wujud rumus dan analisa yang dia celotehkan dalam bahasa manusia yang dia familiar, dan turun lagi pada tataran kata-kata berupa tulisan dan ucapan Archimedes.

Kepahaman yang begitu dalam, di dalam ruang batin kita yang benar-benar dalam itu, bukan berupa suara, bukan berupa huruf.

Semakin ke “dalam” semakin akan “hilang” keanekaragaman bentuk.

Kita ambil contoh saja dari yang terjadi di alam raya. Lewat sains, kita mengerti bahwa ada benda cair, padat, dan gas. Jika kita mampu memecah komponen-komponen benda-benda itu ke dalam partikel-partikel kecil, maka partikel-partikel kecil sampai pada level molekul, masih memiliki sifat benda tersebut. Katakanlah Molekul H2O masih memiliki sifat air, tetapi kalau lebih dalam lagi menembusi partikel molekul, maka atom-atom, apalagi proton neutron elektron, itu sudah tidak lagi memiliki sifat benda, apakah cair padat dan gas itu sudah tidak relevan untuk level sedalam itu.

Memang analogi tersebut tak terlalu relevan untuk menjelaskan logika fikiran manusia, tapi setidaknya ide besar itu sudah ada dan terbaca di alam semesta ini. Bahwa semakin ke “dalam” dia akan semakin lenyap dari keragaman. Semakin satu.

Yang menarik adalah, saat kita mencermati approach barat dan timur dalam menerangkan proses berfikir manusia.

Approach barat, selalu menjelaskan bahwa berfikir adalah proses biologis kelistrikan di dalam otak manusia. Sedangkan, approach timur, lebih khusus lagi approach tasawwuf di dalam islam selalu menekankan bahwa proses kepahaman itu terjadi pada badan yang ruhani, bukan yang biologis, tetapi karena badan ruhani itu bertempat pada tubuh biologis, maka dia akan menimbulkan efek pada tubuh yang biologis, efek yang kemudian bisa dibaca secara empiris.

Untuk tak terlalu abstrak, sebenarnya apa yang penting dari obrolan ini? Satu hal yang penting adalah ternyata jika kita mencermati pesan-pesan para arifin, kita mengetahui bahwa begitu banyak pesan yang menyuruh manusia untuk bertanya pada hatinya sendiri.

Hadits Rasulullah SAW menyuruh seorang sahabat untuk bertanya atau meminta fatwa pada hatinya sendiri[1]

Atau mengutip yang Rumi katakan, bahwa dia adalah seorang “pejalan” dan selamanya akan menjadi “pejalan”, hanya saja dia telah berhenti bertanya pada buku-buku dan bintang-bintang. Dan mulai mendengarkan kata hatinya.

Permasalahannya, hati yang mana yang didengarkan? Dan disinilah peliknya, bahwa pada levelan yang inilah kajian ini sulit dibuktikan secara empirik. Karena, kajian empirik barat kalau kita kembalikan pada contoh di paragraf awal kita bincang tadi, hanyalah meneliti bagian yang bisa diteliti, yaitu pada level ucapan dan tekstual manusia. Beberapa kajian mungkin masuk lebih dalam ke ranah bagaimana otak berfikir, yaitu celotehan yang di dalam benak kita tadi. Tetapi semuanya berangkat dari ide bahwa manusia adalah makhluk biologis, bukan makhluk ruhani yang bersemayam dalam tubuh biologis.

Semua bagus tentu saja, hanya saja, belakangan ini baru saya mengerti, bahwa dalam konteks “bertanya pada hati kita sendiri” ini, tidak ada jalan lain kecuali mengalaminya sendiri. Approach para arifin dalam mengajarkan manusia untuk kenal dengan kejiwaannya sendiri.

Jika pada level ucapan atau tekstual, masih bisa beragam-ragam. Pada level celotehan di dalam benak manusia pun ternyata masih ada distorsi. Pada level celotehan di dalam benak inilah –saya rasa- sebuah khasanah dimana bisikan keburukan dari syaitan masih sering ikut campur.

Makanya para guru kearifan sering wanti-wanti, kalau ada yang mendengar bisikan bisikan di dalam benaknya, harus hati-hati, kalau celoteh di dalam fikiran, hampir PASTI itu setan. Mengutip Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah, hanya Musa a.s lah yang memiliki levelan untuk mampu bercakap secara kata-kata dan pendengaran dengan Tuhan.

Dan pada ruang yang jauh lebih dalam lagi dari sekedar celotehan di benak kita, disitulah –setidaknya yang saya simpulkan dari kajian para arifin- khasanah tersembunyi dimana ilmu dan kepahaman kita dapatkan dalam bentuk yang tanpa bentuk. Kita paham begitu saja, tapi kepahaman  itubukan bukanlah bunyi-bunyi, bukan suara-suara, bukan celotehan-celotehan di benak kita.

Contoh paling-paling sederhana, adalah Newton. Seketika dia melihat apel jatuh, seketika itu juga dia paham tentang ilmu gravitasi.

Dan kepahaman yang Newton dapatkan adalah tanpa bentuk, tapi Newton mengerti.

Dan kita tidak pernah mendengar bahwa Newton dapet bisikan, “hai Newton, ketahuilah bahwa apel ini jatuh karena ada semacam gaya yang bla…bla….bla….bla….” Newton tak ada begitu-begitu, tetapi sreeetttt seketika dan paham. Itulah insight.

Pada ruang itulah, hemat saya, maksud Sang Nabi, dan para arifin, tentang bertanya kepada hati.

Bukan berarti bahwa proses kreatif berfikir itu tak penting, dan bukan berarti bahwa proses membaca tekstual atau verbal itu tak penting.

Penting…hanya saja lebih lengkap jika kita mengerti kedua-dua approach itu. Ilmuwan barat, dan para arifin islam dari timur.

Jika membaca tekstual sudah kita pelajari sejak kecil, maka tak ada salahnya kita mengenal lebih dalam bagian-bagian kejiwaan kita sendiri agar –seperti yang sering disebutkan orang arif- mawas diri. Dan barulah pernyataan “bertanya kepada hati” menjadi bisa kita praktekkan.

Ini berarti, penguasaan terhadap Ilmu lahir, dan ilmu batinnya sekaligus. Khasanah islam yang begitu luas.

 

references:

[1] Dari Wabishah bin ma’bad rahiyallahu ‘anhu beliau berkata: Aku datang kepada Rasulullah SAW, kemudian beliau berkata: “Kamu datang untuk bertanya tentang kebaikan?” Aku menjawab: benar. Kemudian beliau bersabda: “Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan adalah apa saja yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan.” (HR. Ahmad (4/227-228)

TOPI HARRY POTTER DAN DUA GERBANG ILMU

Hazel-EyesPernah menonton film Harry Potter? Tentu ingat dengan momen dimana setiap orang pada kali pertama mereka masuk sekolah sihir Hogwarts mereka harus mengikuti seleksi terlebih dahulu, untuk menentukan pada kelas mana mereka akan dikelompokkan. Apakah Gryffindor, Slytherin, Hufflepuff, ataukah Ravenclaw.

Namanya film fiksi bo’ongan tentang penyihir, maka cara penentuan kelompok itupun rada unik, yaitu dengan cara mengenakan topi, dan topi yang bisa bicara itu kemudian akan membaca isi kepala sang murid sekolah sihir lantas kemudian meneriakkan kelas apa yang cocok untuk si murid.

Pembagian kelompok pada film fiksi Harry Potter tersebut, sebenarnya disandarkan atau terinspirasi pada klasifikasi klasik persona manusia menurut para psikolog, yaitu Plegmatis, Sanguin, Koleris, dan Melankolis.

Satu hal menarik yang saya temukan adalah bahwa di masa sekarang ini, ternyata approach pembagian kelompok atau kategorisasi berdasarkan personaliti seperti itu sudah banyak diterapkan dalam kehidupan nyata, meskipun dengan lebih simpel.

Ambillah contoh pada industri Migas. Pada beberapa anjungan pengeboran laut, dan juga pada beberapa perusahaan minyak kita akan temukan beberapa perusahaan yang mewajibkan para pekerja mengenakan helm dengan sticker dua warna menempel pada sisinya. Umpama merah-kuning, kuning-biru, hijau-biru, dan seterusnya.

Setiap warna melambangkan personaliti, kepribadian seseorang. Dan kombinasi dua warna melambangkan kepribadian yang dominan dan kepribadian satu lagi yang melengkapinya. Karna tak mungkin satu tipe persona saja yang ada pada manusia, mestilah kombinasi.

Secara ringkas pengelompokan itu adalah mengidentifikasi mana orang-orang dengan personaliti tegas, mana orang analis,  mana orang sosial, dan mana yang tipikal kolaborasi, penyambung atau relater.

Kenapa mereka menerapkan itu? Idenya adalah bahwa setiap pekerja akan dapat dengan segera mengetahui bagaimana seharusnya bersikap, berhubungan, dengan rekan kerjanya atau bosnya, seketika itu juga saat mereka melihat badge atau sticker warna yang menunjukkan personaliti orang yang mereka hadapi

Pada orang dengan dominan merah atau tipe yang tegas kita harus ringkas padat jelas, pada orang analis hijau kita harus banyak info dan detail…..kurang lebih begitulah.

Saat saya mengikuti salah satu pelatihan ini, saya menemukan bahwa begitu banyak orang sangat tertarik dengan tema ini, karena mereka akhirnya menemukan personaliti mereka dan menjadi kenal dengan diri mereka sendiri lebih dalam. Tahu potensi, tahu apa yang menjadi penghambat kemajuan pada personaliti mereka.

Pengetahuan dan sikap awas dengan diri sendiri ini, adalah awareness.

Hal ini menjadi menarik, karna tes psikologi ini membawa ranah yang pelik yaitu “awareness” atau eling lan waspodo pada diri sendiri, yang  sebenarnya sudah sejak sangat lama diakrabi para spiritualis. Hal ini dibawa ke dalam ranah yang praktikal untuk orang awam.

Dengan mengikuti serangkaian tes maka seorang awam pun akan tahu dia tipe orang macam apa, apa kecenderungan dirinya, apa penghambatnya secara psikologis.

Sesuatu yang para spiritualis dapatkan lewat tirakat dan kontemplasi.

Memang tak semua kepelikan di dalam metoda kontemplasi bisa ditemukan lewat tes psikologi, tapi kita coba perhatikan hal ini, lihatlah perbedaan approach para spiritualis dan ahli psikologi.

Ahli psikologi atau katakanlah ahli ilmu lahiriah, mengamati gejala yang tampak mata, lewat serangkaian observasi pada gejala yang bisa diulang dan diukur. Dan dari itulah mereka mengelompokkan manusia.

Kalau spiritualis, mereka masuk dalam kondisi awareness lewat tirakat ruhani, kontemplasi, dan akhirnya merasakan kondisi mindfullnes (keterjagaan batin) itu. Hingga mereka kenal sekali dengan dirinya.

Dua-duanya bermanfaat. Yang pertama membawa kajian awareness ke ranah praktikal untuk semua orang, yang kedua yaitu para spiritualis mengajak manusia untuk masuk dalam kondisi experience, betul-betul merasakan kondisi awareness sehingga kenal dengan diri sendiri.

Sekarang kalau kita tengok kajian para arifin, kita sebut saja spiritualis dengan approach islam, dan kita bandingkan dengan analisa ilmu lahir para psikolog dari barat, segera kita mengetahui bahwa segala observasi para ilmuwan barat ternyata bagaimanapun juga masih menganggap bahwa manusia adalah makhluk biologis semata. Bukan makhluk ruhani yang terendam dalam tubuh biologis seperti approach para arifin.

Contohnya saja, kembali ke pembagian personaliti dan lambang warna tadi. Ide awal pembagian personaliti itu adalah pembagian bagian-bagian otak manusia.

Misalnya bagian kanan depan yang lebih aktif berarti orang itu begini, bagian kiri belakang yang lebih aktif berarti orang itu begitu, dan seterusnya. Maka kesimpulan sederhananya adalah seperti apa personaliti manusia, tergantung seperti apa atau bagian mana otaknya yang lebih dominan.

Manusia menjadi seperti robot biologis.

Dimana letak bedanya dengan penjelasan para arifin? Barulah saya mengerti bahwa para arifin mengawali segalanya dengan memahami bahwa manusia adalah sejatinya makhluk ruhani, yang terendam dalam tubuh biologis. Ada sesuatu yang sadar dan selalu mengamati, di dalam diri manusia ini.

Sesuatu yang sadar, dan selalu mengamati itu, menurut Imam Ghozali adalah sejatinya manusia. Kadangkala disebut Aql[1] atau lathifah Rabbaniyah (Sesuatu yang halus, immateri, ada di dalam diri manusia), kadangkala disebut dalam lain kata.

Tetapi kita abaikan dulu terminologi katanya, supaya tidak bias. Kita kembali pada kesimpelan bahwa ada makhluq ruhani di dalam diri manusia, dialah yang memahami, yang mengerti, yang menjadi gudang segala pengetahuan, yang mencerna ilmu.

Karena sejatinya pengetahuan, dan persona manusia itu lengketnya pada yang ruhaninya, maka organ secara biologis itu adalah yang terkena imbasnya.

Jadi kalau menurut ilmuwan barat adalah jika orang diteliti dan otak kanan depannya yang lebih dominan, maka orang itu berpersona begini begitu.

Sebaliknya menurut para arifin adalah, jika bashirah manusia itu, ruhani manusia itu, mencerap sekumpulan data dan pengetahuan dengan kecenderungan tertentu maka kecenderungan tertentu dari ilmu-ilmu itu pada gilirannya membentuk persona atau konsep dirinya. Dan konsep dirinya, sesuatu yang dipahami Al Aql itulah yang pada gilirannya berimbas pada organ fisiknya, misalnya bagian otak tertentu menjadi lebih aktif dan dominan. Tapi yang ada di biologis itu efek samping saja.

Maka itu jika manusia mati, diyakini bahwa jiwanya akan kembali kepada Tuhan, membawa seperangkat keilmuan dan rekam jejaknya, berarti personanya juga. Dan berarti segala macam ilmu orang itu, dan apa yang direkam akalnya, akan mengikut kepada sisi ruhaninya. Bukan di otak biologisnya.

Disitulah beda approach ilmuwan barat dan spiritualis islam, para arifin.

Tapi memang, kelemahannya adalah, metoda para arifin bukan sesuatu yang gampang dikaji secara empiris. Yang Ruhani itu, tidak bisa diteliti, tidak bisa diukur, tidak bisa disentuh.

Tak ada cara lain, selain dari masuk ke dalam approach mereka (para arifin), melaburkan diri dalam kontemplasi, tafakur, banyak-banyak mengingat Allah, sampai merasakan sendiri bahwa di dalam diri ini ada yang sadar, yang selalu mengamati, yang oleh islam disebut dengan Al Aql itu, bashirah, pandangan batin.

Memang ilmu lahir bermanfaat untuk kepentingan muamalah dan praktikal bahkan untuk orang awam sekalipun.

Tetapi untuk pengenalan lebih dalam kepada diri sendiri, dan dalam rangka pembacaan lebih tajam kepada kehidupan kita, maka ilmu batin para arifin adalah seperti mutiara yang bahkan belum bisa disentuh oleh kajian sains.

Teringat saya dengan ungkapan seorang guru. Jangan kita berhenti pada kajian ilmiah psikologis semata, tetapi masuklah ke dalam kedalaman spiritualitasnya. Sesuatu yang tak bisa diteliti secara sains kecuali dialami sendiri.

Masuklah ke dalam kedua gerbang ilmu itu, dan semoga Allah menganugerahi kita ilmu yang bermanfaat, kepahaman yang benar, dan amal yang makbul dalam kaitannya dengan mengakrabi dua keilmuan itu, Lahir, dan batinnya sekaligus.

references:

[1] Aql, dalam terminologi Pertama, pengetahuan mengenai hakikat segala sesuatu, yang diibartkan sebagai sifat ilmu yang terletak dalam hati (maksudnya adalah aql berarti fikirannya itu sendiri). Kedua, akal dalam makna rohani yaitu yang memperoleh ilmu pengetahuan tersebut (Al Ghazali, Raudhah: Taman Jiwa Kaum Sufi, (Surabaya: Risalah Gusti, 1997), h. 47)

SOCRATES SAJA SUDAH KETEMU

Socrates berkeliling menemui orang-orang, mencari siapa saja yang dianggap khalayak adalah orang bijak. Lalu kepada mereka, Socrates bertanya mengenai  hal-hal mendasar: Apakah itu keberanian? Apakah itu kesehatan? Apa itu kekayaan? Semua hal-hal yang mendasar dalam hidup manusia. Tujuannya barangkali dipicu dari keinginan  awal membuktikan  bahwa Oracle –seorang peramal di kuil Delphi- kala itu, salah!

Pasalnya, Oracle ketika ditanya oleh seseorang, mengatakan bahwa yang paling bijak di kota itu adalah Socrates.

Socrates kemudian tidak percaya dengan prediksi Oracle, lalu Socrates berkeliling dan bertanya banyak hal pada orang-orang. Seolah-olah, dia ingin menemukan orang yang lebih bijak pandai darinya, dan mengatakan bahwa tidak benar socrates adalah yang paling bijak.

Akan tetapi, dari diskusi hal-hal mendasar tersebut  –yang dikemudian hari menjadi awalan bagi metoda penelitian induktif, dan penemuan definisi-definisi–  Socrates malah menemukan bahwa banyak orang-orang bijak yang dia sambangi tak mengerti dengan apa yang dia tanyakan.

Dan pada akhirnya Socrates pun mengatakan kepada orang tersebut bahwa dia juga tak mengerti (tak banyak mengerti).

Pada kala itulah, Socrates kemudian baru menyadari bahwa ramalan Oracle benar, dalam konteks bahwa Socrates adalah bijak pada artian menyadari bahwa dirinya bukanlah orang yang tahu banyak hal. Sejatinya terlampau banyak yang tak dimengerti.

Kemampuan mawas diri dan mengakui diri sendiri penuh kekerdilan itulah yang dianggap kebijakan oleh Socrates.

Menarik mendengar cerita ini, karena Socrates telah menemukan pengertian kekerdilan diri itu pada masa yang begitu lampau, sementara sekarang ini kita sendiri seringkali terjebak pada kebanggaan akan dalam dan luasnya wawasan.

Socrates adalah seorang filosof. Pendekatan Socrates dalam menemukan kebenaran adalah dengan mengobservasi sesuatu menggunakan akalnya, merenungi dengan mendalam tentang sesuatu hal.

Kita tengok bagaimana Hujjatul Islam Imam Ghozali  –yang merupakan sisi sebrangnya atau antitesisnya filosof dlm metoda beliau menemukan kebenaran-  mengklasifikasikan para  filosof.

Menurut beliau, ada tiga klasifikasi besar para filosof. 

– Yang pertama adalah generasi awal-awal yang  tak percaya Tuhan (atheis), dan para pemikir generasi awal ini kemudian dikoreksi oleh para filosof sendiri pada generasi sesudahnya.

– Naturalis, adalah para pemikir yang kerap melakukan observasi alam, dan pada gilirannya mengakui bahwa alam ini ada penciptanya

– Dan para filosof Theis, yang memang mengakui adanya Tuhan. Filosof theis inilah generasi paling akhir, dan disinilah letaknya nama-nama besar seperti Plato, dan Aristoteles, dan tentu juga Socrates sang pendobrak kemapanan seperti yang kita ceritakan di awal tadi.

Dan bagaimana menyikapi buah pikir para filosof menurut beliau?

Menurut Imam Ghozali, sebagian pendapat para filosof mengenai Tuhan, itu debatable. Beliau kritik dengan tajam, tetapi bukan lewat debat mengutip tekstual keagamaan, melainkan dikritiknya pula lewat logika-logika berfikir seperti para filosof.

Nah, sebagian lainnya dari buah fikiran mereka, menurut sang Imam, adalah netral, dan bisa bermanfaat untuk kepentingan khalayak.

Umpamanya pengamatan terhadap alam yang pada gilirannya menyebabkan  pertumbuhan dan perkembangan sains.

Kita paham, bahwa para arifin dan filosof seringkali berbeda metoda dalam menemukan kebenaran. Yang satu mengandalkan akal fikirnya, yang satu mengandalkan intuisi batinnya. Tetapi kalau kita kutip satu konteks saja, yaitu konteks cerita socrates tadi, kita mengetahui bahwa ternyata yang Socrates lakukan adalah “membaca” kehidupan.

Dalam falsafahnya islam, pembacaan itu adalah perintah IQRO’. Membaca kehidupan.

Dan seperti Socrates yang menemukan kekerdilan dirinya setelah melakukan banyak pembacaan, seperti itulah juga yang seharusnya dilakukan setiap Muslim dengan IQRO-nya.

Hanya saja sejak dari awal pembacaan, approach islam sudah meletakkan bahwa keseluruhan aktivitas pembacaan dilakukan dalam rangka menyaksikan pengaturan Tuhan (BI ISMI RABBIKA).

Filosof, berangkat dari observasi alam dan kehidupan untuk menemukan Tuhan. Sedangkan skema para arifin adalah melakukan pembacaan kepada alam dan kehidupan ini sejak mula sudah diawali dengan persandaran kepada Tuhan. Para arifin berangkat dari keyakinan pada Tuhan sudah bersemadi di dalam hatinya. Itu bedanya.

Dan pembacaan dengan nama Tuhan, sejak awal, mestinya berujung pada kesimpulan seperti Ali Bin Abi Thalib. Yang “menjadi  semakin kenal Tuhan” saat mendapati dirinya sebagai seorang fakir dan tak berdaya.

Filosof menemukan kerdilnya diri dan kenyataan bahwa manusia tak banyak tahu; setelah observasi mereka.

Para arifin menemukan kerdilnya diri, tetapi  sekaligusmenyadari  besarnya Tuhan. Lalu menyadari keterbatasan ilmu dan wawasan sebagai pengenalan bahwa DIA lah sang pemilik ilmu.

Tapi yang manapun saja jalan kita lalui sekarang, jika observasi kita berujung pada kebesaran diri sendiri, pasti ada yang salah.

Sebab jalan filosof saja, seperti Socrates, sudah menyadari kekerdilan diri sejak dari ratusan tahun sebelum masehi.

Jadi seandainya ada orang yang hobi mikir dan mikir selalu, luas wacana tetapi merasa besar, maka dia sebenarnya berjalan mundur. Ke era sangat jauh sebelum socrates.

Referensi:

Ali bin Abi Thalib berkata: “Allah membuatku mengenal diriku sendiri melalui kelemahan dan kefakiran, sehingga aku berkeyakinan aku memiliki Tuhan yang mengadakan kelemahan dan kefakiran. [Jadi maksudnya adalah Ali mengenal dirinya melalui kelemahan dan kefakiran, dan mengenali Tuhannya melalui sifat kuasa dan kekayaan]” (Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an, Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, Tafsir Al Qur’an Tematik Spiritualitas dan Akhlak, (452), 2010)

SISI UANG RAHIB DAN SINGA

Golden-LionSeseorang tidak menjadi arif dengan -semata- tirakat. Ini yang saya perlu tuliskan dan bagikan, karena ini kekeliruan saya dahulu.

Kepahaman yang dulu saya mengerti, adalah bahwa untuk menjadi arif maka kita harus menggenjot sedemikian rupa tirakat dan peribadatan kita. Dan nilai-nilai kearifan itu akan ujug-ujug turun melulu dalam peribadatan atau tirakat kita.

Belakangan baru saya sadari lebih lanjut, bahwa tirakat dan peribadatan semata-mata tanpa ada proses pembacaan terhadap kehidupan, tanpa ada “bertebaran di atas muka bumi,[1] tidak akan mendatangkan kearifan.

Barangkali, sebagian khalayak yang mengira bahwa semata-mata tirakat dan peribadatanlah kunci kearifan dan keilmuan, karena mengerti fakta bahwa Allah-lah yang mengajari manusia. Maka peribadatan yang menjalin kedekatan dan persandaran pada Tuhan, berarti juga membuka gerbang ilmu.

Memang benar, bahwa Allahlah yang sejatinya mengajar manusia. Kita tahu lewat FirmanNya bahwa DIA mengajar manusia dengan perantaraan kalam.

Ada yang menafsirkan kalam sebagai pena, secara literal. Ada juga yang menafsirkan kalam sebagai media apapun saja yang menjadi jembatan kepahaman untuk turun pada kita. Ada juga yang menafsirkan dengan lebih “batin” yaitu kalam adalah metafor dari fungsinya pena, jika pena adalah media yang menjadi saluran bagi tinta dari wadahnya untuk mengalir dan membasahi lembar kertas, maka begitu pula Allah mengajari manusia dengan mengalirkan kepahaman dari wadah ilmu lalu turun ke manusia.

Yang manapun saja penafsirannya, yang jelas perintah yang dianjurkan sebelum proses kepahaman menurun pada kita, adalah proses membaca (IQRO)[2].

Jadi ada aktivitas yang manusia lakukan, yang menjadi dalam tanda kutip sebab turunnya keilmuan atau kepahaman. Ada geraknya manusia sebagai asbabun Nuzul dari kepahaman mengalir.

Ketekunan tirakat, ketekunan peribadatan, adalah salah satu sisi mata uang yang akan menghasilkan ketajaman pandangan dan kondisi yang orang sebut dengan “mindfullness,”kondisi batin yang selalu “awas.” Sebab bersihnya hati.

Seseorang yang mindfullness, “awas,” pandangan batinnya menjadi lebih peka dan tajam menangkap hikmah. Tetapi hikmahnya itu sendiri adanya di dalam keseharian kehidupan kita, bukan -semata- pada jenak tirakatnya.

Sekarang saya mengerti kenapa islam melarang kerahiban. Karena kerahiban sendiri, barulah salah satu sisi mata uangnya.

Dalam banyak ungkapan, kita sering mendengar bahwa para sahabat adalah rahib-rahib di malam hari, tetapi mereka pula adalah singa di siang hari.

Kerahiban adalah satu sisi mata uang, yang melahirkan orang-orang yang tajam, mindfullnes, dan ‘awas’, tapi sisi mata uang satunya lagi adalah menjadi singa yang berkecimpung dalam kehidupan.

Kalau tak berkecimpung dalam kehidupan, tak ada sebab untuk nilai-nilai dan hikmah turun. Kalau tak membangun peribadatan yang menajamkan, tak ada kemampuan mendulang hikmah yang ada. Jadi sisinya selalu dua.

Dan ternyata kita sering sekali menemukan pesan-pesan senada itu. Untuk menyebut beberapa diantaranya:

  • Allah yang mengajari manusia dengan perantaraan kalam, tetapi sebelum itu perintahnya adalah manusia disuruh membaca.
  • Manusia diperintahkan membangun kedekatan dan persandaran pada Tuhan lewat sholat, tetapi selepas itu perintahnya adalah bertebaran di muka bumi untuk menjemput rizki.
  • Al Qur’an –yang sejatinya adalah kumpulan ilmu- diturunkan secara bertahap dalam rangka ngepasin konteks kebutuhan manusia yang berkaitan dengan situasi dan kejadian hidup saat itu (asbabun nuzul).
  • Saat Rasulullah bingung dalam menghadapi masalah di hidupnya, untuk menemukan solusi beliau sholat dua rakaat.

Jadi selalu saja ada poin-poin itu tadi. Ilmu, nilai-nilai, hikmah, solusi, adalah sesuatu yang “turun” mengiringi konteks kehidupan kita, dan bisa ditangkap hanya oleh yang “awas.”

Jadi tirakat kita, peribadatan kita sungguh penting. Tetapi jika tirakat dan peribadatan kita kok seperti jarang menimbulkan kearifan dan jarang memberikan kita ilmu, maka berarti kita kekurangan keping sisi satunya lagi, yaitu bertebaran dalam kehidupan yang penuh pembacaan.

Dan sebaliknya, kita sudah bertebaran setiap hari, dan larut dalam kehidupan yang hiruk pikuk tapi belum mendapat hikmah, barangkali kita kurang tirakat, peribadatan yang kurang dalam sehingga tidak menimbulkan mindfullness dan batin yang tajam untuk mencatat hikmah.

Tak boleh menjadi rahib saja, tanpa menjadi singa pada sisi sebelahnya.

Jadi gerak ini penting memang. Terrnyata benar sekali pesan Rasulullah SAW untuk JUST DO IT, sewaktu ada seorang sahabat yang bingung dengan kenyataan bahwa segala sesuatu pastilah sudah masuk dalam takdir Allah.

Kalau begitu, kita berpangku tangan saja, kata sahabat tersebut. Rasulullah SAW kemudian menegur, yang intinya adalah jangan berpangku tangan, berbuat saja, just do, dan seseorang akan dimudahkan untuk melakukan apa saja yang telah tertakdir baginya.[3]

Pengertian-pengertian mengenai kesempurnaan takdir, approach penjelasan kaitan antara takdir dan ejawantah Asma dan SifatNya dalam kehidupan, dan rahasia besar bahwa segala hal pastilah masuk dalam takdir Allah; itu mesti dituntaskan dalam pengertian dan kepahaman kita, sampai kita menjadi orang yang selesai dengan dialektika itu. Lalu selepas itu kita JUST DO saja. Gerak!

Yang TELAH terjadi; terima. Di dalam masa sekarang dan saat ini; kita Bergerak di muka bumi. Atas kekhilafan yang terlanjur; kita taubati. Jika berkesempatan berbuat baik; jangan diaku; dan kembalikan segalanya sebagai anugerah Allah. Dan hal yang berkaitan dengan masa depan dan rahasia takdirnya itu jangan dipikir-pikir lagi.

Jadi kita hidup dalam mentalitas gerak. Kita tidak berprasangka begini, “kalau Allah mau saya dapat hikmah, pasti saya dapat hikmah, jadi saya diam saja.”  Bukan begitu yang dituntunkan.

Melainkan sikap para Nabi dan Aulia adalah seperti yang difatwakan Rasulullah. Kita bergerak saja, dan hikmah serta kepahaman itu nanti akan turun sendiri, selama dua keping sisi uangnya komplit. Sisi rahib dan sisi singanya.

references:

[1] “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Jumu’ah : 10)

[2] QS AL ALAQ

[3] “Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pernah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalllam pada sebuah jenazah, lalu beliau berdiam sejenak, kemudian beliau menusuk-nusuk tanah, lalu bersabda:“Tidak ada seorangpun dari kalian melainkan telah dituliskan tempatnya dari neraka dan tempatnya dari surga”. Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa kita tidak bersandar atas takdir kita dan meninggalkan amal?”, beliau menajwab: “Beramallah kalian, karena setiap sesuatu dimudahkan atas apa yang telah diciptakan untuknya, siapa yang termasuk orang yang ditakdirkan bahagia, maka akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni surga, adapun siapa yang ditakdirkan termasuk dari dari orang yang ditkadirkan sengsara, maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni neraka”. Kemudian beliau membaca ayat:

{فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (7)} [الليل: 5 – 7]

Artinya: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa”. “Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)”. “Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”. QS. Al Lail: 5-7.

Imam Nawawi rahimahullah berkata:

Artinya: “Di dalam hadits-hadits ini terdapat larangan untuk meninggalkan amal dan bersandar dengan apa yang telah ditakdirkan, akan tetapi wajib beramal dan mengerjakan beban yang disebutkan oleh syariat, dan setiap sesuatu dimudahkan untuk apa yang telah diciptakan untuknya, yang tidak ditakdirkan atas selainnya”.  (Al Minhaj, Syarah Shahih Muslim., 16/196.)

BAHASA KAUMNYA

a1bb4842-4da9-44eb-b2f3-fa0f64093914

Seorang fakih dari iskandaria itu terperanjat, saat seorang ulama yang dia hadiri majelisnya menjelaskan tentang tingkatan-tingkatan nafs dalam berpuluh-puluh padanan istilah.

Mulanya beliau menjelaskan tentang islam, iman dan ihsan sebagai tingkatan kejiwaan manusia secara spiritualnya. Lalu beliau menambahkan bahwa istilah itu juga semakna dengan bahasa lain para arifin yaitu pertama adalah ibadah, lalu meningkat kepada pengabdian (ubudiyah), lalu dipuncaki dengan penghambaan (ubudah). Dengan lain istilah bahwa pelaksanaan syariat pada mulanya akan membuat seseorang lambat laun makin tajam memahami esensi dibalik itu, lalu dipuncaki dengan kesan kesadaran bahwa kita bersamaNya selalu.

Berulang kali sang ulama tersebut menjelaskan tentang padanan istilah dalam berbagai-bagai “bahasa” penjelasan, sehingga Sang Fakih Iskandaria itu –yang tak lain adalah Ibnu Athoillah- menjadi terang dan mengerti akan maksud sang guru.

Belakangan, Ibnu Athoillah menjadi seorang ulama yang mahir berbicara dalam dua jenis keilmuan. Syariat atau fiqih, dan juga spiritualitas islam lewat approach tasawufnya. Setelah sebelumnya Ibnu Athoillah mewarisi keilmuan kakeknya yang seorang alim mazhab Maliki, tetapi waktu itu masih “bermusuhan” dengan para arifin.

Jauh sebelum masanya Ibnu Athoillah, adalah Imam Ghozali yang memiliki kapabilitas berbicara terang mengenai dua jenis keilmuan itu, dan menjadi jembatan yang menghubungkan orang-orang alim fikih dan orang-orang arif.

Apa poinnya disini? Satu hal yang baru menjadi jelas bagi saya adalah bahwa seringkali perselisihan bukan disebabkan benar-salah, tetapi seringkali pula perselisihan disebabkan dua belah pihak memahami suatu hal dengan bahasa yang berbeda.

Berapa bulan lalu, saya berkesempatan berangkat ke Cairo dalam rangka training yang diberikan kantor. Setibanya di Dubai, saya baru sadar bahwa saya belum mendownload database offline bahasa arab di google translate handphone saya. Saya khawatir, seandainya pada Bandara tujuan di Cairo nanti saya tak bertemu dengan penjemput, bagaimana saya sampai di penginapan seandainya orang-orang semua berbahasa arab dan saya hanya menguasai bahasa inggris saja sebagai bahasa kedua.

Singkat kata, database arabic language offline gagal saya download karena terlampau besar ukurannya, tetapi untungnya semua berjalan aman dan saya tiba di tujuan dengan lancar, penjemput pun sudah ada di tempat.

Tapi sepanjang perjalanan saya menjadi menyadari kembali mengenai “bahasa” ini. Ide sederhana dari “bahasa” adalah sebenarnya menyampaikan sekumpulan makna yang kita pahami kepada orang lain lewat perantara suara dan huruf-huruf.

Sebuah kata “YA” dalam bahasa indonesia bisa diterjemahkan menjadi “YES” dalam bahasa inggris. Tetapi bukankah dalam spektrum yang lebih luas kita mengerti bahwa misalnya raut muka seseorang yang merah padam dan melotot bisa diterjemahkan sebagai “NO” sebagai “tidak”, artinya gesture atau bahasa tubuh pun “bahasa” juga.

Dan lebih jauh lagi, sebuah tindakan juga bisa menjadi bahasa juga. Misalnya saya beri contoh anak saya. Bagi anak saya, tindakan saya membelikan dia snack “nyam-nyam” adalah sebuah bahasa juga untuk mengatakan saya menyayangi dia. Maka anak saya memahami apabila saya tidak membelikan dia “nyam-nyam” sebagai sebuah makna “tidak sayang.”

Jika saya tidak berbicara dalam bahasanya anak saya, maka makna sayang yang saya miliki tidak bisa diinterpretasikan oleh anak saya. Tentu ‘sayang’ memiliki khasanah yang sangat luas, tetapi sebagai yang lebih mengerti, tentu orang tua adalah pihak yang mesti berbicara dalam bahasa yang dimengerti sang anak. Sampai pada gilirannya nanti sang anak akan memahami khasanah “bahasa” yang lebih luas lagi.

Begitulah… ternyata memang benar jika Para Nabi pun diutus untuk berbicara sesuai dengan bahasa kaumnya.[1]

Dalam konteks seperti inilah, ternyata saya baru menyadari pentingnya pendidikan. Dulu, logika saya sederhana sekali. Saya sempat berfikir kenapa orang belajar tinggi, jika untuk bisa makan saya bisa selesai dengan bertani dan dagang? Kenapa harus letih belajar jika belajar nantinya hanya untuk bisa makan?

Ternyata, dengan pendidikan dan terbukanya wacana, seseorang mestinya menjadi semakin bisa berbicara dengan “bahasa” yang luas. Orang-orang alim yang menguasai syariat dan fikih, dengan semakin luasnya wacana pendidikan mereka, dan persentuhan mereka dengan banyak kajian, mestinya membuat mereka bisa mengerti bahasa para arifin.

Dan para arifin pun dengan terbukanya wawasan dan kemampuan “bahasa” pendidikan mereka, mereka akan bisa menyampaikan sesuatu dalam berbagai-bagai padanan penjelasan yang dimengerti oleh terminologi orang lain.

Satu hal yang sangat penting adalah bahwa di dunia ini, manusia pastilah memahami sesuatu lewat kacamata pengalaman hidupnya yang terbatas. Dan setiap orang akan memiliki secuplik-secuplik kepahaman lewat rentang waktu hidupnya itu. Dan secuplik kepahaman itu tidak akan pernah mewakili kebenaran yang paling benar.

Tetapi, manusia “dibebankan” untuk bertindak, bersikap, merespon hidup, sebatas wacana keilmuan, kepahaman dan tingkat spiritualitas yang dia miliki. Karena gerak kehidupan ini sebagai sebuah plot takdir Maha Besar, tidak akan pernah kita mengerti dengan pandangan makhluq yang terbatas.

Maka Musa a.s sudah benar dalam konteks ketersingkapan ilmunya Musa a.s, dan khidir sudah benar dalam ketersingkapan Khidir a.s. Dan seninya takdir adalah bahwa dua orang dengan derajat ketersingkapan yang beda, kadang harus berbenturan di panggung sejarah. Dan perbenturan itupun “benar” karena kita mengerti bahwa tak cukup waktu dan kemampuan bagi manusia untuk semua mencurahkan makna dan pengertian yang mereka miliki dalam “bahasa” yang dimengerti orang lain.

Itulah saya rasa makna yang sangat luas yang dirangkum dalam Wahyu pertama pada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira. Yaitu IQRO, agar semua orang membaca kehidupan ini. Dan makna-makna yang benar baru akan diberikan oleh Tuhan jika pembacaan yang kita miliki adalah dilambari dengan BI ISMI RABBIKA. Dengan nama Tuhan yang menciptakan.

Maka kita akan menjadi orang yang dianugerahi ilmu. Tetapi ilmu semata, akan mati dan menjadi sia-sia jika tidak menjadi amal yang makbul.

Jika ilmu adalah khasanah pribadi, dan amalan makbulan adalah khasanah sosial atau kemanfaatan yang kita tebar untuk orang lain, saya rasa itu semakna dengan maksudnya Surat Al-Ashr[2].

Bahwa demi waktu yang sempit ini, kita semua dalam kerugian jika tidak ada iman, dan orang beriman pun rugi jika tidak ada amal sholeh yang mengkonversi kepahaman spiritual pribadinya menjadi punya jejak di masyarakat, dan orang yang beramal sholeh pun bisa rugi jika tidak ada semacam sikap penjagaan untuk saling menguatkan menetapi kebenaran dan kesabaran.

Dalam konteks saling menguatkan inilah, semoga Allah memberikan kita ketrampilan berbicara dengan “bahasa” kaum yang kita hadapi. Agar makna-makna yang kita dapatkan bisa saling dimengerti.

 

 

references:

[1] “Kami tidak mengutus seorang Rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana” (QS 14:4)

[2]“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).

KEGELISAHAN YANG MEMBEBASKAN

Bahkan setaraf Nabi-pun pernah merasakan gelisah dalam hidupnya. Seperti kisah Musa a.s yang dituturkan ulang zaman ke zaman.

Setelah pelarian Musa ke negeri Madyan, dan beliau menikah dengan putri Nabi Syu’aib, Musa a.s diangkat menjadi Nabi lewat Firman-Nya. Dan tugas yang diberikan pada beliau sangatlah berat sehingga menimbulkan tekanan tersendiri secara psikologis.

Berdakwah pada tiran paling berkuasa di masanya, yang adalah ayah angkatnya sendiri yang sudah membesarkannya, yang tempatnya ialah negeri dimana sebelumnya Musa telah membunuh seseorang, dan dari sanalah dia melarikan diri. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Musa adalah orang yang tak fasih bicara.

Maka “gelisah” pastilah muncul pada diri Musa yang manusiawi.

Dan kegelisahan yang tersirat itu bisa kita baca pada kutipan do’a Musa a.s: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami.”[1]

Jadi bahkan sekualitas Nabi-pun bisa gelisah.

Kegelisahan disini, atau katakanlah sebuah ‘hasrat akan keamanan psikologis’ adalah sebuah faktor, diantara sekian faktor yang menurut Maslow merupakan human needs. Kebutuhan manusia, yang menjadi latar belakang manusia bergerak.

Saya terpaksa mengutip kembali perbincangan klasik Maslow ini, karena saya baru saja tersadar satu poin lagi dimana letaknya perbedaan pandang antara arifin dan para ahli barat.

Menurut Abraham Maslow, kebutuhan dasar manusia, yang menjadi pemicu manusia bergerak, bisa dikelompokkan menjadi lima besar: Kebutuhan Fisik, Kebutuhan akan rasa aman, Kebutuhan akan kasih sayang, Kebutuhan akan penghargaan dari lingkungan, dan Kebutuhan akan aktualisasi diri.maslow

Jadi kebutuhan-kebutuhan tersebutlah yang menurut Maslow merupakan pendorong manusia melakukan sesuatu. Apapun itu yang manusia lakukan mestilah kalau ditilik jeli, berawal dari kelima dorongan itu.

Manusia makan karena dorongan kebutuhan fisik. Manusia hidup berpasangan karena dorongan kebutuhan akan rasa aman dan kasih sayang. Manusia bekerja karena kebutuhan sandang pangan (fisik), atau dalam sebagian konteks ada juga manusia yang bekerja karena menginginkan sebuah penghargaan dari lingkungan, sesuatu yang membuatnya merasa “ada”.

Satu hal yang baru saya mengerti, kekeliruan pandangan saya yang prematur dahulu adalah saya mengira, bahwa seorang arif yang lillahita’ala, ikhlas untuk Tuhan itu adalah orang yang sama sekali lepas dari 5 kebutuhan dasar itu. Artinya kebutuhan itu TIDAK BOLEH menjadi pendorong kita bergerak.

Pendorong kita bergerak, haruslah Allah. Haruslah kecintaan pada Allah. Itulah yang dulu saya mengerti.

Tetapi semakin kesini, saya baru menyadari bahwa hal semacam itu mungkin utopia. Dan baru saya paham bahwa seringkali justru karena proses manusia bergerak dengan dipicu kebutuhan-kebutuhan dalam hidupnya itulah; yang membuat manusia menemukan Tuhan, jika dipandang lewat kacamata yang tepat.

Kita kembali lagi pada cerita nabiyullah Musa a.s tadi. Saat beliau gelisah (berarti kebutuhan akan rasa aman) maka beliau berdo’a kepada Allah meminta hal-hal berikut:

– Kelapangan dada

– Kemudahan urusan

– Kefasihan lisan

– Rekan yang menguatkan

Saat “kebutuhan” datang, dan mengadu pada Tuhan sudah menjadi respon spontan kita, maka saat “pengabulan” atau pemenuhan kebutuhan terjadi, yang kita “temukan” adalah kebesaran Tuhan.

Harun diangkat menjadi Nabi yang mendampingi Musa a.s, maka Musa semakin mengenal Tuhannya sebagai yang Maha Mengabulkan do’a.

Saya rasa inilah psikologi pembebasan. Saat setiap kebutuhan apapun saja yang menghampiri kita, tidak lantas menjadikan kita belingsatan dan memfokuskan kejiwaan kita pada “kebendaan,” melainkan menjadi pintu “pulang” kepada Tuhan.

Semua orang lapar. Tapi ada yang dengan lapar lantas menemukan nasi semata, ada yang karena lapar justru menemukan bahwa Tuhannya adalah yang Maha Mencukupkan Rizki.

Semua orang membutuhkan rasa aman dan kasih sayang. Tetapi ada yang menemukan pasangan semata, ada yang menemukan bahwa Tuhannya adalah yang Maha Cinta.

Sepanjang respon spontan kita sudah dilatih untuk selalu kembali kepada Allah dalam setiap gores kebutuhan kita, maka insyaAllah ternyata kita akan “menemukan” Tuhan. Kejiwaan kita kemudian akan dipahamkan pada lebih dari sekedar hal-hal kebendaan.

Yang menarik adalah dua point terakhir dari hierarchy of needs. Tentang penghargaan dan aktualisasi diri. Bahwa para arifin selalu mewanti-wanti pada ujub dan riya. Riya adalah haus penghargaan orang lain, dan ujub adalah bangga atas pencapaian diri sendiri. Dan menarik sekali bahwa ahli barat mengakui dua hal itulah yang menempati puncak kebutuhan manusia setelah hal-hal fisik terpenuhi.

Barulah saya mengerti bahwa approach islam bukanlah mencari penghargaan orang seperti teori Maslow, melainkan menggesernya menjadi “menebar kebaikan dan manfaat buat sesama.”[2]

Dan approach islam bukanlah bangga terhadap pencapaian diri, melainkan meleburnya dengan sikap pengembalian bahwa segalanya dari-Nya semata-mata. Milik DIA. Hak DIA.

Jika Musa a.s pun gelisah, dan bahkan Nabi pun “didatangi” oleh kebutuhan-kebutuhan, apatah lagi kita?

Akan tetapi, yang membedakan skala kearifan ternyata bahwa para Nabi, Aulia dan orang-orang shalih adalah mereka-mereka yang setiap “kebutuhan” datang menyambanginya; kebutuhan-kebutuhan itu malah menjadikan mereka semakin kenal dan akrab pada Tuhannya. Lewat pengaduan-pengaduan, do’a-do’a, dan respon spontan mereka yang menjadikan keseluruhan jenak hidup sebagai pintu pulang ke Allah.

Keseluruhan cerita hidup adalah tentang DIA. Dan semua kebutuhan hidup yang fisik maupun yang abstrak adalah juga pintu menuju DIA. Selama kita tidak berfokus pada “kebendaan”nya. Selama kita fokus pada DIA-nya.

Hanya dengan begitulah “kegelisahan” bisa membebaskan. Jika tidak, maka keseluruhan hidup kita barangkali hanya akan dipuncaki oleh hal yang terlalu kebendaan.

 

references:

[1]  QS. Thaha [20]: 25 – 35.

[2] “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.” Shahih al-Jami’ no 3289 (Hasan).

MENCARI YANG BENAR-BENAR “BENAR”

truthPerdebatan terjadi di kalangan para sahabat. Dalam menafsirkan pesan Rasulullah selepas perang Ahzab. Waktu itu mereka diutus untuk pergi ke perkampungan Bani Quraizhah. Dan dipesani oleh Sang Nabi untuk jangan sholat Ashar sebelum sampai di perkampungan Bani Quraizhah[1].

Dan ternyata, meski sudah bergegas mereka berangkat, ternyata mereka sedikit terlambat dan waktu ashar sudah masuk, sedangkan mereka belum lagi sampai pada perkampungan yang dituju. Disanalah perbedaan pendapat terjadi.

Satu golongan ingin melanjutkan perjalanan dan sholat asharnya nanti saat sudah sampai pada perkampungan yang dituju. Dan satu golongan lagi tetap ingin berhenti dan sholat ashar dulu di tengah perjalanan, tidak menunggu waktu tiba di tujuan.

Golongan pertama, menafsirkan secara literal apa yang dimaksud oleh Sang Nabi. Golongan kedua menafsirkan secara maknawi, bahwa maksud Rasulullah adalah agar mereka bergegas, bukan benar-benar bermaksud menyuruh sholat ashar di perkampungan tujuan.

Mana yang benar?

Sebagian mungkin memihak yang literal, sebagian mungkin mendukung takwil. Dan menariknya ternyata para sahabat kemudian mengkonfirmasi masalah itu pada Rasulullah SAW.

Dan rasulullah mendiamkan saja. Tidak membenarkan salah satu pihak. Tidak menyalahkan salah satu pihak.

Hal ini menarik, dan sejarah memang berulang bahwa ummat belakangan memiliki beragam pendekatan dalam menafsirkan petunjuk Sang Nabi. Dan memang dahulunya Rasulullah sudah mengerti bahwa perbedaan approach akan ada, tetapi beliau mendiamkan.

Sebagian ulama mengatakan kisah tersebut menjadi dasar untuk justifikasi toleransi dalam hal yang cabang, bukan yang pokok.

Tetapi, saya tertarik untuk meninjau ini lebih dalam dari sudut pandang tasawuf. Teringat dengan ungkapan syaikh Abdul Qadir Jailani, bahwa sejatinya tak ada penggerak, penghenti, tak ada kebaikan, tak ada kejahatan, kecuali karena Allah[2].

Kita amati sepanjang hidup kita, manusia selalu bergerak mencari sesuatu yang dia anggap benar. Orang-orang mencari kebenaran.

Satu ilustrasi menarik saya kira, dulu, saat Indonesia baru lagi diproklamirkan. Saat indonesia masih lagi mencari bentuk. Terjadi pemberontakan Kartosuwiryo dengan DI / TII nya. berupaya menegakkan negara dengan landasan syariat islam.

Katakanlah, -ini umpamanya ya- seandainya Kartosuwiryo dulu itu punya niatan baik, dan memang luhur untuk menegakkan keislaman, okelah. Tetapi sejarah kemudian menuliskan bahwa Kartosuwiryo kalah pada waktu itu.

Sekarang indonesia sudah besar, merdeka, dan harmoni meski punya banyak cacat sana-sini. Akan tetapi, kalau ada orang-orang yang ingin mengusung kembali semangat Kartosuwiryo, lalu kemudian memberontak untuk mendirikan negara islam pada tatanan Indonesia sekarang yang sudah harmoni, bukankah justru mencederai banyak hal yang sudah ada? Terlalu banyak darah yang akan tumpah. Jadi mana yang benar?

Atau kita balik contohnya. Negara islam iran misalnya. kita abaikan dulu fakta sejarah bahwa iran mayoritas syiah. Yang jelas dia negara islam. Nah….seandainya ada segolongan kecil melakukan pemberontakan demi menegakkan negara plural seperti indonesia di Iran, tidakkah itu malah menciderai tatanan yang sudah ada disana? akan terlalu banyak darah yang tumpah?

Jadi mana yang benar?

Dalam sejarah, terlihat bergonta-ganti paham yang dijadikan mayoritas. Dan kemudian paham mayoritas ini digantikan pula dengan pandangan mayoritas yang lain. Dan sebuah pandangan, menjadi benar dalam konteks zamannya sendiri. Tetapi mana yang benar-benar “benar?”

Ada masanya dimana filsafat aristoteles diadopsi oleh pemikir islam, digawangi Ibnu Sina. Lalu kemudian bergulir masa dimana mereka dibabat habis oleh Imam Ghazali.

Dan manusia sepanjang sejarah mencari kebenaran itu.

Baru sekarang saya mengerti maksud para arifin itu tadi, bahwa jika manusia mencari kebenaran sebagai sebuah wujud “kebendaan” maka manusia akan kecewa. Mengingat bahwa kebenaran, atau setidaknya kebenaran yang diakui mayoritas akan dipergilirikan diantara manusia.

Dan pandangan tasawuf ternyata sudah sejak lama menjelaskan itu, bahwa kebenaran sejati, tidak berada pada tataran sifat-sifat atau keragaman yang tampak mata.

Bagi musa ada kebenaran. Ternyata, dibaliknya ada kebenaran lagi versi khidir. Dan mungkin inilah maksud dari sang Syaikh Abdul Qadir Al Jilani bahwa tak ada benar tak ada salah kecuali karena Allah membuatnya begitu.

Sekarang misalnya saja, ini misalnya lagi lho. Seandainya jaman Nabi Musa dulu sudah ada polisi, lalu sang polisi melihat khidir membunuh anak kecil, lalu polisi itu mengejar dan hendak menembak khidir. Mana yang benar?

Ini yang mesti pelan-pelan kita mengerti, bahwa bagi yang sudah paham, ternyata kebenaran sejati, hanya ditemukan setelah meleburkan pandangan terhadap sifat-sifat dan keanekaragaman yang tampak mata. Saat orang sudah tertancap dalam pandangan hatinya bahwa semuanya ini pagelaran dunia ini memang diciptakan olehNya untuk menceritakan diriNya. Dan seringkali dibalik sesuatu, ada sesuatu lagi yang lain yang kita tak mengerti.

Karena pada sifat-sifat, pada keanekaragaman yang kita lihat dengan mata zahir ini, tak akan pernah ada kebenaran yang sejati. Yang namanya sifat, dia akan memiliki corak. Dan sebuah corak pasti akan berbenturan dengan corak lainnya.

Akan tetapi, inilah indahnya syariat. Bahwa ternyata, sebagai manusia, kita harus BERANI berada di salah satu corak. Bersifat-sifat, adalah fithrahnya makhluq.

Dan tugasnya makhluq dalam konteks memiliki corak, keragaman dan sifat-sifat ialah :

– Berlomba-lomba dalam kebaikan
– Dan menyadari bahwa kita berbeda untuk saling kenal mengenali

Pengenalan pada keragaman corak inilah, yang mungkin pada gilirannya akan membuat makhluq akhirnya sadar, bahwa kebenaran sejati bukan berwujud benda, dan tidak akan pernah berada di salah satu corak.

Kebenaran sejati hanyalah saat siapapun yang memandang bersedia melepaskan diri dari corak, dan menghilangkan sifat-sifat dari pandangannya. Masuk dalam ketajaman pandangan hakikat dan mengerti bahwa semua pagelaran yang dia lihat itu sebenarnya DIA tuliskan, untuk menceritakan diriNya.

Tapi seni yang sangat indah adalah, meski memahami bahwa kebenaran sejati adalah pada hakikat, dan pada sirnanya sifat-sifat dari pandangan hati kita. Nyatanya kita tetap disuruh mengatakan baik pada kebaikan, mengatakan buruk pada keburukan yang kita mengerti lewat kacamata kita.

Ibnu Qayyim mengatakan: Setinggi-tingginya musyahadah, tidak membuat seseorang enggan mengatakan baik pada kebaikan, mengatakan buruk pada keburukan[3].

Baik dan buruk disini, adalah baik buruk yang kita nilai dengan pandangan sifat-sifat, pandangan kehambaan (makhluq) yang kita miliki.

Jadi kita tetap berkarya, berkebaikan, dan nasehat-menasehati dalam kebenaran, meskipun kita paham kebenaran sejati tak mungkin ada di dalam corak, dan jangan menjudge seolah kebenaran adalah sebuah wujud kebendaan yang kita pegang.

Kita mesti mencontoh Rasulullah yang terus mendakwahkan kebenaran yang beliau disuruh untuk mendakwahkannya, tetapi dalam begitu banyak kesempatan beliau diwanti-wanti bahwa Allah-lah yang memahamkan orang, Allah-lah yang membuat mereka berbeda, Kalau Allah mau semua punya satu corak mestilah gampang, Dan Rasulullah dilarang untuk terlalu berduka atas keingkaran kaumnya.

Inilah barangkali maksud Rumi dengan ungkapannya:

“Kebenaran sejati selalulah
ada di dalam hakikat, tetapi orang dungu mencarinya di dalam kenampakan.”

 

References:

[1] Janganlah ada satupun yang shalat ‘Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah [HR. Bukhâri, al-Fath, 15/293, no. 4119]

[2] Pada peringkat ini, tiada terlihat olehnya, selain kehendak Allah Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa, dan sampailah dia tentang Keesaan Allah, pada peringkat haqqul yaqin (* tingkat keyakinan tertinggi yang diperoleh setelah menyaksikan dengan mata kepala dan mata hati). Bahwa pada hakikatnya, tiada yang melakukan segala sesuatu kecuali Allah; tak ada penggerak tak pula penghenti, selain Dia; tak ada kebaikan, kejahatan, tak pula kerugian dan keuntungan, tiada faedah, tiada memberi tiada pula menahan, tiada awal, tiada akhir, tak ada kehidupan dan kematian, tiada kemuliaandan kehinaan, tak ada kelimpahan dan kemiskinan, kecuali karena ALLAH. (Syaikh Abdul Qadir Jailani, Futuhul Ghaib, Risalah ketiga)

[3] “Sesungguhnya musyahadah seorang hamba terhadap hukum tidak menjadikannya meninggalkan upaya menyebut baik pada kebaikan atau menyebut buruk pada keburukan, karena keberhasilan yang telah diperolehnya dalam memahami makna hukum.” (Ibnu Qayyim Al Jauziyah, dalam bukunya “Qada dan Qadar”, mengutip pengarang buku Manazilus Sa’irin.)