MEMUNCAKI PEMBACAAN

steep_climbing_lgAl-Ghazali, Ibnu Sina, Al-Farabi, adalah satu dari sekian orang-orang besar yang muncul pada zaman kegemilangan Islam. Banyak nama-nama lainnya tentu, tetapi nama yang tadi kita sebut adalah beberapa orang yang berada pada puncak polarisasi perdebatan teologi keislaman. Dari golongan ulama dan approach tasawuf diwakili oleh Sang Imam yaitu Al Ghazali, dan pada kutub satunya lagi adalah approach filsafat yang digawangi oleh Ibnu Sina.

Sang Imam, Al Ghazali, menulis sebuah buku, “Tahafut Al-Falasifah” untuk menuliskan kekeliruan approach filosof dalam memahami Tuhan dan kaitannya dengan alam. Saat dimana dunia islam begitu takjub pada pencapaian falsafinya Aristoteles dan kawan-kawan, buku Tahafut Al-Falasifah mengkritik cara pandang Ibnu Sina yang mengadopsi dari kodifikasi filsafatnya Aristoteles.

Ibnu Sina sendiri, lahir pada masa yang lebih dulu ketimbang Ghozali. Jadi, Al Ghozali mengritik pandangan Ibnu Sina, yang tak hidup semasa dengannya. Belakangan, Al-Farabi mengritik Al Ghozali dalam buku “Tahafut-Tahafut.” Dan tentu, Al-Farabi pun tak hidup semasa dengan Al Ghozali.

Siapakah yang benar?

Agak naif, jika orang sekapasitas kita (saya) menisbatkan benar dan salah untuk nama-nama besar segaung mereka itu. Tetapi namanya manusia, kita harus berani untuk berada di salah satu corak, polarisasi adalah keniscayaan pada makhluq, karena yang tiada memiliki corak (yang tak serupa apapun, tak diketahui coraknya) hanyalah Allah SWT. Maka dari itu, saya katakan saya lebih menyetujui approach Al-Ghozali dalam hal ini. Meskipun, sebagian penjelasan para filosof itu juga masuk akal dan bisa dimengerti.

Tetapi bukan itu intinya. Yang hendak saya bicarakan adalah bahwa nama-nama besar itulah yang kemudian memicu ummat islam untuk sepenuh daya upaya menghayati lebih dalam tentang alam dan Tuhan. Lewat pendekatannya masing-masing

Para filosof mendekati Tuhan dengan kepahaman mereka akan Al Faidh Al Muqaddas, atau pancaran, bahwa alam semesta ini sejatinya adalah imbas dari keberadaan Tuhan. Sedang golongan islam atau approach tasawufnya menjabarkan tentang penciptaan, KUN, dan kepahaman tinggi bahwa sejatinya apa yang ada ini tiadalah wujud.

Mengapa mereka sampai pada tahap itu?

Setelah saya renungkan, barulah saya mengerti bahwa para ulama dahulu adalah “why-type of person,” orang-orang yang selalu merenungkan dan bertanya tentang kehidupan. IQRA. Belajar.

Jika rekan-rekan adalah orang yang selalu “menginterogasi” diri sendiri dengan pertanyaan kenapa dan mengapa, untuk setiap kegiatan apapun saja yang kita lakukan, maka rekan-rekan berarti termasuk dalam golongan “Why-type” of person. Tipe persona yang selalu membutuhkan sebuah kenapa, sebuah mengapa untuk melandasi sebuah pekerjaan. Kontemplatif.

Dengan perenungan yang mendalam akan segala sesuatu itulah, maka mereka bergerak untuk mengakrabi Tuhan dengan lebih jauh.

Kalau boleh secara asal-asalan saya menyimpulkan, flow kerja para filosof adalah dengan meneliti segala sesuatu di alam ini secara detail, hingga sampai pada Tuhan di ujung muaranya. Sedangkan approach sufistik adalah dengan mendekati Sang Pencipta, barulah kemudian memikirkan alam dan segalanya ini dengan nama DIA. Bi Ismi Rabbika.

“Tidak adalah usaha seseorang seperti keutamaan akal, yang memberi petunjuk kepada yang empunya akal itu kepada petunjuk dan menarikkannya dari jalan yang hina. Tidak sempurnalah iman seseorang dan tidak berdiri tegak agamanya sebelum akalnya itu sempurna”.[1]

“Tiap-tiap sesuatu itu mempunyai tiang. Tiang orang mu’min ialah akalnya. Menurut tingkat akalnya, beradalah ibadahnya. Apakah kamu tidak mendengar perkataan orang-orang dhalim dalam neraka: “Jikalau adalah dahulu kami mendengar atau kami berakal, maka tidaklah kami ini menjadi isi neraka””[2]

Paradigma, ternyata menentukan atau berpengaruh terhadap cara dan tingkat “kedalaman” seseorang dalam mengakrabi Tuhan. Dan IQRA’, senantiasa belajar dan bertanya dan mencari tahu dalam bingkai pembacaan yang Bi Ismi Rabbika, akan menghantarkan kita pada pengertian-pengertian yang -dalam bahasa hadits di atas- “tegak agamanya jika tegak akalnya.”

Menarik jika merenungi kajian Al Ghazali seperti yang beliau tulis sendiri dalam autobiografi perjalanan beliau, dimana pada puncak pembahasan dan pembacaan beliau itulah akhirnya beliau Uzlah dan mendekati Tuhan dalam “peribadatan” yang getol dan menyendiri.

Fase yang beliau lewati itu, kalau kita bahasa modernkan, adalah apa yang orang-orang sebut dengan “JUST DO IT.” Ga pake mikir, ga pake lama, yang penting dzikir.

Menariknya adalah, kenapa banyak orang yang berzikir selalu, tetapi tidak se-mencerahkan Al-Ghazali?

Baru saya mengerti, bahwa Dzikirnya Al Ghazali adalah sebuah pendekatan peribadatan yang dia lakukan setelah IQRA, setelah WHY, setelah pembacaan yang tekun terhadap kehidupan.

Paradigma yang dalam itulah, yang saat beliau melakukan JUST DO IT, maka menghasilkan lompatan yang gila-gilaan.

Sekedar Just Do tanpa Paradigma yang benar, will lead us nowhere. 

Tahafut Al Falasifah, itu ditulis oleh Sang Imam sebelum beliau Uzlah… jadi pendekatan beliau dalam menulis Tahafut Al Falasifah yang membantah teori Ibnu Sina dkk, itu adalah pendekatan debat yang juga filosofis. Lalu selepas itu beliau Uzlah. Dan apa yang terjadi setelah Uzlah? Berjilid-jilid buku yang gila-gilaan tebalnya, buku menyejarah yang sampai kini didaras berjuta-juta orang sepanjang masa, “Ihya Ulumuddin.”

Ternyata akan selalu ada dua fase itu. Why-type of person, dan Just do it-type of person. Tipe perenung, tipe pekerja.

Dan harmoninya adalah disitu. Jika peribadatan kita yang sudah gila-gilaan kok rasanya tidak juga mencerahkan, mungkin karena tidak pernah ada IQRA dalam hidup kita. Kita hanya melulu just do it tanpa pernah membaca kehidupan, dan tanpa ada perenungan yang mendalam pada bingkai niatan memahami alam ini sebagai upaya lebih dekat dengan Tuhan.

Atau sebaliknya, kenapa kok kita selalu mentok pada ujung pembacaan kita, pada IQRA kita, pada WHY yang tak terjawab, itu adalah pengingat bahwa kita harus masuk pintu satunya lagi. Diam dalam uzlah dan just do it saja.

Dengan itu maka akan harmoni. Peribadatan yang ditopang dengan kedewasaan akalnya.

Tapi ngomong-ngomong, bicara mengenai polemik Ghozali dan Ibnu Sina, saya jadi teringat pesan seorang guru Biologi pada waktu saya SMA dulu.

Ceritanya kami sibuk mendebat beliau yang memberitahu mengenai teori evolusi Darwin. Kami membantah dengan suara lantang lewat buku keruntuhan teori evolusi.

Lalu dengan bijak beliau katakan, “jika kalian besar nanti, dan ada sebuah wacana yang kalian tidak setujui, maka jangan mencaci wacana itu, jangan pula mencaci yang mengajarkan wacana itu, tetaplah belajar, dan pahami saja bahwa ‘oooh…. Ternyata ada orang yang beranggapan begini’ dengan begitu kalian akan berkembang dan menjadi bijak.”

Seperti sebuah cerita klasik. Ikan-ikan yang ditangkap oleh para nelayan akan segera mati ketika tiba di pantai, meskipun sudah dimasukkan pada sebuah kolam kecil di dalam kapal. Tetapi jika diletakkan ikan hiu kecil di dalam kolam tersebut, maka ikan-ikan akan berlari-lari kesana kemari hingga tetap hidup saat kapal sudah tiba di pelabuhan.

Begitulah perdebatan dan polemik dalam dunia ini. Dianya akan ada, dan akan selalu ada. Agar setiap orang mendewasa akalnya. Mungkin master-plannya Allah begitu. Happens for a reason. Ada hikmah.

Yang keliru adalah yang tak pernah mau membaca.

Tetapi orang yang selalu membaca pun tersasar, bila membacanya tak Bi Ismi Rabbika.

Dan yang Bi Ismi Rabbika dalam pembacaannya juga akan mentok dan tak akan merasakan realitanya, jika tidak pernah masuk ke dalam kesimpelan “JUST DO IT.”

Harmoni di puncak pembacaan.

references:

[1] Dirawikan Ibnul Mahbar dari Abi Qatadah

[2] 2.Dirawikan Ibnul Mahbar dari Albarra bin ‘Alib.

Gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

3 thoughts on “MEMUNCAKI PEMBACAAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s