TERNYATA JANGAN IQRO’ TOK

Read across the universe slidePernah terpikir kenapa orang tua jaman dulu tahu bahwa sejenis dedaunan tertentu bisa mengobati sakit demam?

Tapi sebelum menjawab, kita tengok kembali pendekatan para filosof dalam mendapatkan ilmu. Pendekatan mereka adalah dengan memikirkan secara mendalam tentang kehidupan,  mereka bertanya kok ini begini ya? kenapa bisa begini? gimana cara kerjanya? Dan seterusnya.

Pada gilirannya, dari pertanyaan dan penelitian itu dirumuskan menjadi bidang-bidang ilmu, baik ilmu sains maupun humaniora, dari pertanyaan dan ketertarikan tentang sesuatu.

Ilmu, diperoleh melalui penelitian, yaitu metoda deduktif, atau induktif. Dalam konteks macam begini, saya baru mengerti bahwa hampir semua cabang ilmu yang kita pelajari di sekolah dan bangku kuliah adalah pendekatan keilmuan dengan cara observasinya para filosof.

Tetapi, sungguhpun approach seperti itu bagus, ternyata para ulama arifin berbeda pendapat dalam hal bahwa “ilmu tak selalunya diperoleh melalui kajian  penalaran logika  atau rasio.”

Imam Al Ghozali, menjelaskan bahwa tuntunan Allah berupa ilham/ insight bisa datang mendahului nalar dan logika.

Umpamanya, kata Al Ghozali, ilmu astronomi, yang didasarkan pada penelitian kejadian perbintangan. Banyak hal dalam kajian astronomi yang mungkin sekian ratus tahun sekali baru ada. Pastilah akan sulit kalau tidak ada insight terlebih dahulu yang mendahului nalar. kalau mengandalkan metoda nalar semata, bagaimana mungkin kita bisa mengobservasi keseluruhan kejadian astronomi? habis waktu kita. Pastilah ada insight dulu, yang mendahului penalaran rasional. Begitu kurang lebih kata Al Ghozali.

Ternyata, penjelasan beliau itu sebenarnya juga menjawab kebingungan saya tempo dulu. Yaitu pertanyaan di atas tadi.

Misalnya  saja ada  orang di kedalaman belantara, orang  tersebut tahu  kalau memakan daun A maka bisa menyembuhkan orang sakit demam.

Darimana dia tahu itu?

Apakah, mereka melakukan semacam uji coba rasional?

“Wah… teman saya demam ini, bagaimana menyembuhkan rekan saya ini? Coba saya tes suruh makan daun, siapa tahu sembuh.”

Okelah… sudah diputuskan suruh makan daun, siapa tahu sembuh, tapi masalah belum selesai, daun apa??

Kemudian orang tersebut melakukan uji coba daun, daun apa dulu enaknya ni? misalnya ilalang…. dicobalah daun ilalang

Alamaaakkkk tidak sembuh, malah luka semua kerongkongan temen saya ini…. coba lagi daun beringin, wah agak pahit. Coba lagi daun kayu jati, sembuh enggak tapi mulut jadi wangi, dan seterusnya.

Ini memang hiperbola sih, tapi thats not the point….

Poinnya adalah bayangkan berapa banyak daun harus dicoba kalau semata menggunakan nalar?

Dan inilah kemudian saya baru paham penjelasan Al Ghozali, bahwa ilmu itu bisa didapatkan melalui insight.

Sebagaimana newton yang mendapat insight  saat melihat apel jatuh dari pohon dan seketika dia paham gravitasi, baru  belakangan dirumuskan dengan pendekatan nalar atau rasio sesudahnya.

Sebagaimana Archimedes yang mendapatkan insight  tentang massa jenis, saat dia mandi berendam dalam bak, baru kemudian dirapihkan dalam bahasa saintis sesudahnya.

Jadi…. itulah pendekatan yang dimaksud para arifin ternyata. Bahwa penalaran itu OK, tetapi kepahaman itu adalah sesuatu yang given. Dan hal detail bahwa kepahaman akan sebuah ilmu adalah sesuatu yang given dan diturunkan pada manusia; ini yang sering orang lupa.

Dalam kepahaman macam begitulah maka para arifin mengingatkan kita untuk jangan kita mengandalkan kekuatan rasio kita semata, bisa mati… tak akan habis ilmu Allah dikembarai.

Itu sebab, pendekatan para arifin agak berbeda dengan pendekatan filsafat.

Kalau filsafat mendekati kejadian alam dengan penalaran dan rasio, kalau arifin mereka “mengakrabi” Allah sang pemilik alam, dan baru kemudian membaca alam dengan kepahaman atau konteks bahwa alam ini cerita tentang DIA.

Dekati Allah, nanti sekali dibuka oleh Allah, kita akan paham, bahkan sebelum penelitian dilakukan, dan bahkan sebelum teks kita baca.

Atau kalaupun kita memahami sesuatu lewat kajian keilmuan, tetap saja, hikmah atau kepahaman itu diturunkan ternyata, karena banyak orang yang sama-sama baca teks, tapi kepahaman yang didapat beda-beda.

Dan sekarang saya baru mengerti justru dengan bingkai cara pandang seperti para arifin itulah kita mendapatkan sebuah pondasi yang luhur mengenai jawaban dari pertanyaan kenapa manusia harus belajar?

Dulu, pendekatan saya sederhana saja. Buat apa belajar, kalau toh dengan berdagang saja manusia sudah bisa hidup. Mending dagang, hidup tenang dengan anak istri, menikmati sunset, jalan-jalan ke pantai, dst….dst…..

Buat apa belajar Geologi, buat apa belajar perminyakan, tak berguna semua ini.

Ternyata disini kuncinya. Kalau kita sudah mengerti bahwa semua ini tak lain adalah cerita mengenai DIA, maka sebenarnya kita ini belajar ilmu apapun saja adalah dalam rangka pengenalan terhadap DIA.

Sehingga seseorang yang sudah memiliki penghidupan cukup, apakah warisan, tani, dagang, kantor, apa saja….masih perlu belajar.

Sebab semakin tinggi paradigma seseorang lewat pembacaannya terhadap kehidupan, kalau dia jujur, dan tak menggunakan pendekatan yang semata falsafi. Tidak IQROOOOO doang, melainkan ada BI ISMI RABBIKA-nya, maka akan semakin dalam pengenalannya pada Tuhan.

Karena memahami alam, memahami ciptaanNya, harusnya membawa pada keyakinan kepada DIA.

Ilmu geologi misalnya, adalah mengkaji bagaimana DIA mentadbir mengatur gerak partikel batuan, ilmu yang tak habis-habis, bagaimana sebongkah batu menceritakan pengaturannya yang kita tengok dari jutaan tahun lampau.

Sebuah batu bisa tak bernilai di mata awam, tapi dengan pandangan ilmu yang yakin, seorang geologist melihat pengaturan dan ilmu Allah.

Dan seorang pedagang, dengan memahami ilmu psikologi, komunikasi, bisa melihat pengaturan Allah dalam keseluruhan gerak interaksi manusia.

Maka benarlah Rasulullah, cari ilmu sampai liang lahat. Bukan ilmunya tujuan akhirnya, tapi lewat kendaraan ilmu dan paradigma itulah kita numpang untuk melihat kebesaran dan pengaturan Allah pada jagadita semesta ini.

Dan kepahaman-kepahaman, tidak kita sandarkan pada penalaran rasio semata. Melainkan sejak awal pembacaan kita sudah meminta padaNya, agar dipahamkan.

Bahasa Qur’annya Iqro…tapi Bismi Rabbika. Jangan Iqro tok.

Dan tunggulah sejenak, nanti ilmu berdatangan dengan sendirinya, yang tak paham jadi paham. Yang selama ini abstrak jadi terang.

Karena memang DIA ingin dikenali

Sebagaimana insight atau kepahaman itu datang mengalahkan kecepatan penalaran. Maka barulah kita mengerti apa maksud para arifin agar kita selalu membenarkan persandaran.

“keberhasilan pada ujung perjalanan, adalah kembali pada Allah sejak dari permulaan,” kata Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s