KEGELISAHAN YANG MEMBEBASKAN

Bahkan setaraf Nabi-pun pernah merasakan gelisah dalam hidupnya. Seperti kisah Musa a.s yang dituturkan ulang zaman ke zaman.

Setelah pelarian Musa ke negeri Madyan, dan beliau menikah dengan putri Nabi Syu’aib, Musa a.s diangkat menjadi Nabi lewat Firman-Nya. Dan tugas yang diberikan pada beliau sangatlah berat sehingga menimbulkan tekanan tersendiri secara psikologis.

Berdakwah pada tiran paling berkuasa di masanya, yang adalah ayah angkatnya sendiri yang sudah membesarkannya, yang tempatnya ialah negeri dimana sebelumnya Musa telah membunuh seseorang, dan dari sanalah dia melarikan diri. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Musa adalah orang yang tak fasih bicara.

Maka “gelisah” pastilah muncul pada diri Musa yang manusiawi.

Dan kegelisahan yang tersirat itu bisa kita baca pada kutipan do’a Musa a.s: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami.”[1]

Jadi bahkan sekualitas Nabi-pun bisa gelisah.

Kegelisahan disini, atau katakanlah sebuah ‘hasrat akan keamanan psikologis’ adalah sebuah faktor, diantara sekian faktor yang menurut Maslow merupakan human needs. Kebutuhan manusia, yang menjadi latar belakang manusia bergerak.

Saya terpaksa mengutip kembali perbincangan klasik Maslow ini, karena saya baru saja tersadar satu poin lagi dimana letaknya perbedaan pandang antara arifin dan para ahli barat.

Menurut Abraham Maslow, kebutuhan dasar manusia, yang menjadi pemicu manusia bergerak, bisa dikelompokkan menjadi lima besar: Kebutuhan Fisik, Kebutuhan akan rasa aman, Kebutuhan akan kasih sayang, Kebutuhan akan penghargaan dari lingkungan, dan Kebutuhan akan aktualisasi diri.maslow

Jadi kebutuhan-kebutuhan tersebutlah yang menurut Maslow merupakan pendorong manusia melakukan sesuatu. Apapun itu yang manusia lakukan mestilah kalau ditilik jeli, berawal dari kelima dorongan itu.

Manusia makan karena dorongan kebutuhan fisik. Manusia hidup berpasangan karena dorongan kebutuhan akan rasa aman dan kasih sayang. Manusia bekerja karena kebutuhan sandang pangan (fisik), atau dalam sebagian konteks ada juga manusia yang bekerja karena menginginkan sebuah penghargaan dari lingkungan, sesuatu yang membuatnya merasa “ada”.

Satu hal yang baru saya mengerti, kekeliruan pandangan saya yang prematur dahulu adalah saya mengira, bahwa seorang arif yang lillahita’ala, ikhlas untuk Tuhan itu adalah orang yang sama sekali lepas dari 5 kebutuhan dasar itu. Artinya kebutuhan itu TIDAK BOLEH menjadi pendorong kita bergerak.

Pendorong kita bergerak, haruslah Allah. Haruslah kecintaan pada Allah. Itulah yang dulu saya mengerti.

Tetapi semakin kesini, saya baru menyadari bahwa hal semacam itu mungkin utopia. Dan baru saya paham bahwa seringkali justru karena proses manusia bergerak dengan dipicu kebutuhan-kebutuhan dalam hidupnya itulah; yang membuat manusia menemukan Tuhan, jika dipandang lewat kacamata yang tepat.

Kita kembali lagi pada cerita nabiyullah Musa a.s tadi. Saat beliau gelisah (berarti kebutuhan akan rasa aman) maka beliau berdo’a kepada Allah meminta hal-hal berikut:

– Kelapangan dada

– Kemudahan urusan

– Kefasihan lisan

– Rekan yang menguatkan

Saat “kebutuhan” datang, dan mengadu pada Tuhan sudah menjadi respon spontan kita, maka saat “pengabulan” atau pemenuhan kebutuhan terjadi, yang kita “temukan” adalah kebesaran Tuhan.

Harun diangkat menjadi Nabi yang mendampingi Musa a.s, maka Musa semakin mengenal Tuhannya sebagai yang Maha Mengabulkan do’a.

Saya rasa inilah psikologi pembebasan. Saat setiap kebutuhan apapun saja yang menghampiri kita, tidak lantas menjadikan kita belingsatan dan memfokuskan kejiwaan kita pada “kebendaan,” melainkan menjadi pintu “pulang” kepada Tuhan.

Semua orang lapar. Tapi ada yang dengan lapar lantas menemukan nasi semata, ada yang karena lapar justru menemukan bahwa Tuhannya adalah yang Maha Mencukupkan Rizki.

Semua orang membutuhkan rasa aman dan kasih sayang. Tetapi ada yang menemukan pasangan semata, ada yang menemukan bahwa Tuhannya adalah yang Maha Cinta.

Sepanjang respon spontan kita sudah dilatih untuk selalu kembali kepada Allah dalam setiap gores kebutuhan kita, maka insyaAllah ternyata kita akan “menemukan” Tuhan. Kejiwaan kita kemudian akan dipahamkan pada lebih dari sekedar hal-hal kebendaan.

Yang menarik adalah dua point terakhir dari hierarchy of needs. Tentang penghargaan dan aktualisasi diri. Bahwa para arifin selalu mewanti-wanti pada ujub dan riya. Riya adalah haus penghargaan orang lain, dan ujub adalah bangga atas pencapaian diri sendiri. Dan menarik sekali bahwa ahli barat mengakui dua hal itulah yang menempati puncak kebutuhan manusia setelah hal-hal fisik terpenuhi.

Barulah saya mengerti bahwa approach islam bukanlah mencari penghargaan orang seperti teori Maslow, melainkan menggesernya menjadi “menebar kebaikan dan manfaat buat sesama.”[2]

Dan approach islam bukanlah bangga terhadap pencapaian diri, melainkan meleburnya dengan sikap pengembalian bahwa segalanya dari-Nya semata-mata. Milik DIA. Hak DIA.

Jika Musa a.s pun gelisah, dan bahkan Nabi pun “didatangi” oleh kebutuhan-kebutuhan, apatah lagi kita?

Akan tetapi, yang membedakan skala kearifan ternyata bahwa para Nabi, Aulia dan orang-orang shalih adalah mereka-mereka yang setiap “kebutuhan” datang menyambanginya; kebutuhan-kebutuhan itu malah menjadikan mereka semakin kenal dan akrab pada Tuhannya. Lewat pengaduan-pengaduan, do’a-do’a, dan respon spontan mereka yang menjadikan keseluruhan jenak hidup sebagai pintu pulang ke Allah.

Keseluruhan cerita hidup adalah tentang DIA. Dan semua kebutuhan hidup yang fisik maupun yang abstrak adalah juga pintu menuju DIA. Selama kita tidak berfokus pada “kebendaan”nya. Selama kita fokus pada DIA-nya.

Hanya dengan begitulah “kegelisahan” bisa membebaskan. Jika tidak, maka keseluruhan hidup kita barangkali hanya akan dipuncaki oleh hal yang terlalu kebendaan.

 

references:

[1]  QS. Thaha [20]: 25 – 35.

[2] “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.” Shahih al-Jami’ no 3289 (Hasan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s