SISI UANG RAHIB DAN SINGA

Golden-LionSeseorang tidak menjadi arif dengan -semata- tirakat. Ini yang saya perlu tuliskan dan bagikan, karena ini kekeliruan saya dahulu.

Kepahaman yang dulu saya mengerti, adalah bahwa untuk menjadi arif maka kita harus menggenjot sedemikian rupa tirakat dan peribadatan kita. Dan nilai-nilai kearifan itu akan ujug-ujug turun melulu dalam peribadatan atau tirakat kita.

Belakangan baru saya sadari lebih lanjut, bahwa tirakat dan peribadatan semata-mata tanpa ada proses pembacaan terhadap kehidupan, tanpa ada “bertebaran di atas muka bumi,[1] tidak akan mendatangkan kearifan.

Barangkali, sebagian khalayak yang mengira bahwa semata-mata tirakat dan peribadatanlah kunci kearifan dan keilmuan, karena mengerti fakta bahwa Allah-lah yang mengajari manusia. Maka peribadatan yang menjalin kedekatan dan persandaran pada Tuhan, berarti juga membuka gerbang ilmu.

Memang benar, bahwa Allahlah yang sejatinya mengajar manusia. Kita tahu lewat FirmanNya bahwa DIA mengajar manusia dengan perantaraan kalam.

Ada yang menafsirkan kalam sebagai pena, secara literal. Ada juga yang menafsirkan kalam sebagai media apapun saja yang menjadi jembatan kepahaman untuk turun pada kita. Ada juga yang menafsirkan dengan lebih “batin” yaitu kalam adalah metafor dari fungsinya pena, jika pena adalah media yang menjadi saluran bagi tinta dari wadahnya untuk mengalir dan membasahi lembar kertas, maka begitu pula Allah mengajari manusia dengan mengalirkan kepahaman dari wadah ilmu lalu turun ke manusia.

Yang manapun saja penafsirannya, yang jelas perintah yang dianjurkan sebelum proses kepahaman menurun pada kita, adalah proses membaca (IQRO)[2].

Jadi ada aktivitas yang manusia lakukan, yang menjadi dalam tanda kutip sebab turunnya keilmuan atau kepahaman. Ada geraknya manusia sebagai asbabun Nuzul dari kepahaman mengalir.

Ketekunan tirakat, ketekunan peribadatan, adalah salah satu sisi mata uang yang akan menghasilkan ketajaman pandangan dan kondisi yang orang sebut dengan “mindfullness,”kondisi batin yang selalu “awas.” Sebab bersihnya hati.

Seseorang yang mindfullness, “awas,” pandangan batinnya menjadi lebih peka dan tajam menangkap hikmah. Tetapi hikmahnya itu sendiri adanya di dalam keseharian kehidupan kita, bukan -semata- pada jenak tirakatnya.

Sekarang saya mengerti kenapa islam melarang kerahiban. Karena kerahiban sendiri, barulah salah satu sisi mata uangnya.

Dalam banyak ungkapan, kita sering mendengar bahwa para sahabat adalah rahib-rahib di malam hari, tetapi mereka pula adalah singa di siang hari.

Kerahiban adalah satu sisi mata uang, yang melahirkan orang-orang yang tajam, mindfullnes, dan ‘awas’, tapi sisi mata uang satunya lagi adalah menjadi singa yang berkecimpung dalam kehidupan.

Kalau tak berkecimpung dalam kehidupan, tak ada sebab untuk nilai-nilai dan hikmah turun. Kalau tak membangun peribadatan yang menajamkan, tak ada kemampuan mendulang hikmah yang ada. Jadi sisinya selalu dua.

Dan ternyata kita sering sekali menemukan pesan-pesan senada itu. Untuk menyebut beberapa diantaranya:

  • Allah yang mengajari manusia dengan perantaraan kalam, tetapi sebelum itu perintahnya adalah manusia disuruh membaca.
  • Manusia diperintahkan membangun kedekatan dan persandaran pada Tuhan lewat sholat, tetapi selepas itu perintahnya adalah bertebaran di muka bumi untuk menjemput rizki.
  • Al Qur’an –yang sejatinya adalah kumpulan ilmu- diturunkan secara bertahap dalam rangka ngepasin konteks kebutuhan manusia yang berkaitan dengan situasi dan kejadian hidup saat itu (asbabun nuzul).
  • Saat Rasulullah bingung dalam menghadapi masalah di hidupnya, untuk menemukan solusi beliau sholat dua rakaat.

Jadi selalu saja ada poin-poin itu tadi. Ilmu, nilai-nilai, hikmah, solusi, adalah sesuatu yang “turun” mengiringi konteks kehidupan kita, dan bisa ditangkap hanya oleh yang “awas.”

Jadi tirakat kita, peribadatan kita sungguh penting. Tetapi jika tirakat dan peribadatan kita kok seperti jarang menimbulkan kearifan dan jarang memberikan kita ilmu, maka berarti kita kekurangan keping sisi satunya lagi, yaitu bertebaran dalam kehidupan yang penuh pembacaan.

Dan sebaliknya, kita sudah bertebaran setiap hari, dan larut dalam kehidupan yang hiruk pikuk tapi belum mendapat hikmah, barangkali kita kurang tirakat, peribadatan yang kurang dalam sehingga tidak menimbulkan mindfullness dan batin yang tajam untuk mencatat hikmah.

Tak boleh menjadi rahib saja, tanpa menjadi singa pada sisi sebelahnya.

Jadi gerak ini penting memang. Terrnyata benar sekali pesan Rasulullah SAW untuk JUST DO IT, sewaktu ada seorang sahabat yang bingung dengan kenyataan bahwa segala sesuatu pastilah sudah masuk dalam takdir Allah.

Kalau begitu, kita berpangku tangan saja, kata sahabat tersebut. Rasulullah SAW kemudian menegur, yang intinya adalah jangan berpangku tangan, berbuat saja, just do, dan seseorang akan dimudahkan untuk melakukan apa saja yang telah tertakdir baginya.[3]

Pengertian-pengertian mengenai kesempurnaan takdir, approach penjelasan kaitan antara takdir dan ejawantah Asma dan SifatNya dalam kehidupan, dan rahasia besar bahwa segala hal pastilah masuk dalam takdir Allah; itu mesti dituntaskan dalam pengertian dan kepahaman kita, sampai kita menjadi orang yang selesai dengan dialektika itu. Lalu selepas itu kita JUST DO saja. Gerak!

Yang TELAH terjadi; terima. Di dalam masa sekarang dan saat ini; kita Bergerak di muka bumi. Atas kekhilafan yang terlanjur; kita taubati. Jika berkesempatan berbuat baik; jangan diaku; dan kembalikan segalanya sebagai anugerah Allah. Dan hal yang berkaitan dengan masa depan dan rahasia takdirnya itu jangan dipikir-pikir lagi.

Jadi kita hidup dalam mentalitas gerak. Kita tidak berprasangka begini, “kalau Allah mau saya dapat hikmah, pasti saya dapat hikmah, jadi saya diam saja.”  Bukan begitu yang dituntunkan.

Melainkan sikap para Nabi dan Aulia adalah seperti yang difatwakan Rasulullah. Kita bergerak saja, dan hikmah serta kepahaman itu nanti akan turun sendiri, selama dua keping sisi uangnya komplit. Sisi rahib dan sisi singanya.

references:

[1] “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Jumu’ah : 10)

[2] QS AL ALAQ

[3] “Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pernah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalllam pada sebuah jenazah, lalu beliau berdiam sejenak, kemudian beliau menusuk-nusuk tanah, lalu bersabda:“Tidak ada seorangpun dari kalian melainkan telah dituliskan tempatnya dari neraka dan tempatnya dari surga”. Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa kita tidak bersandar atas takdir kita dan meninggalkan amal?”, beliau menajwab: “Beramallah kalian, karena setiap sesuatu dimudahkan atas apa yang telah diciptakan untuknya, siapa yang termasuk orang yang ditakdirkan bahagia, maka akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni surga, adapun siapa yang ditakdirkan termasuk dari dari orang yang ditkadirkan sengsara, maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni neraka”. Kemudian beliau membaca ayat:

{فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (7)} [الليل: 5 – 7]

Artinya: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa”. “Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)”. “Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”. QS. Al Lail: 5-7.

Imam Nawawi rahimahullah berkata:

Artinya: “Di dalam hadits-hadits ini terdapat larangan untuk meninggalkan amal dan bersandar dengan apa yang telah ditakdirkan, akan tetapi wajib beramal dan mengerjakan beban yang disebutkan oleh syariat, dan setiap sesuatu dimudahkan untuk apa yang telah diciptakan untuknya, yang tidak ditakdirkan atas selainnya”.  (Al Minhaj, Syarah Shahih Muslim., 16/196.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s