TOPI HARRY POTTER DAN DUA GERBANG ILMU

Hazel-EyesPernah menonton film Harry Potter? Tentu ingat dengan momen dimana setiap orang pada kali pertama mereka masuk sekolah sihir Hogwarts mereka harus mengikuti seleksi terlebih dahulu, untuk menentukan pada kelas mana mereka akan dikelompokkan. Apakah Gryffindor, Slytherin, Hufflepuff, ataukah Ravenclaw.

Namanya film fiksi bo’ongan tentang penyihir, maka cara penentuan kelompok itupun rada unik, yaitu dengan cara mengenakan topi, dan topi yang bisa bicara itu kemudian akan membaca isi kepala sang murid sekolah sihir lantas kemudian meneriakkan kelas apa yang cocok untuk si murid.

Pembagian kelompok pada film fiksi Harry Potter tersebut, sebenarnya disandarkan atau terinspirasi pada klasifikasi klasik persona manusia menurut para psikolog, yaitu Plegmatis, Sanguin, Koleris, dan Melankolis.

Satu hal menarik yang saya temukan adalah bahwa di masa sekarang ini, ternyata approach pembagian kelompok atau kategorisasi berdasarkan personaliti seperti itu sudah banyak diterapkan dalam kehidupan nyata, meskipun dengan lebih simpel.

Ambillah contoh pada industri Migas. Pada beberapa anjungan pengeboran laut, dan juga pada beberapa perusahaan minyak kita akan temukan beberapa perusahaan yang mewajibkan para pekerja mengenakan helm dengan sticker dua warna menempel pada sisinya. Umpama merah-kuning, kuning-biru, hijau-biru, dan seterusnya.

Setiap warna melambangkan personaliti, kepribadian seseorang. Dan kombinasi dua warna melambangkan kepribadian yang dominan dan kepribadian satu lagi yang melengkapinya. Karna tak mungkin satu tipe persona saja yang ada pada manusia, mestilah kombinasi.

Secara ringkas pengelompokan itu adalah mengidentifikasi mana orang-orang dengan personaliti tegas, mana orang analis,  mana orang sosial, dan mana yang tipikal kolaborasi, penyambung atau relater.

Kenapa mereka menerapkan itu? Idenya adalah bahwa setiap pekerja akan dapat dengan segera mengetahui bagaimana seharusnya bersikap, berhubungan, dengan rekan kerjanya atau bosnya, seketika itu juga saat mereka melihat badge atau sticker warna yang menunjukkan personaliti orang yang mereka hadapi

Pada orang dengan dominan merah atau tipe yang tegas kita harus ringkas padat jelas, pada orang analis hijau kita harus banyak info dan detail…..kurang lebih begitulah.

Saat saya mengikuti salah satu pelatihan ini, saya menemukan bahwa begitu banyak orang sangat tertarik dengan tema ini, karena mereka akhirnya menemukan personaliti mereka dan menjadi kenal dengan diri mereka sendiri lebih dalam. Tahu potensi, tahu apa yang menjadi penghambat kemajuan pada personaliti mereka.

Pengetahuan dan sikap awas dengan diri sendiri ini, adalah awareness.

Hal ini menjadi menarik, karna tes psikologi ini membawa ranah yang pelik yaitu “awareness” atau eling lan waspodo pada diri sendiri, yang  sebenarnya sudah sejak sangat lama diakrabi para spiritualis. Hal ini dibawa ke dalam ranah yang praktikal untuk orang awam.

Dengan mengikuti serangkaian tes maka seorang awam pun akan tahu dia tipe orang macam apa, apa kecenderungan dirinya, apa penghambatnya secara psikologis.

Sesuatu yang para spiritualis dapatkan lewat tirakat dan kontemplasi.

Memang tak semua kepelikan di dalam metoda kontemplasi bisa ditemukan lewat tes psikologi, tapi kita coba perhatikan hal ini, lihatlah perbedaan approach para spiritualis dan ahli psikologi.

Ahli psikologi atau katakanlah ahli ilmu lahiriah, mengamati gejala yang tampak mata, lewat serangkaian observasi pada gejala yang bisa diulang dan diukur. Dan dari itulah mereka mengelompokkan manusia.

Kalau spiritualis, mereka masuk dalam kondisi awareness lewat tirakat ruhani, kontemplasi, dan akhirnya merasakan kondisi mindfullnes (keterjagaan batin) itu. Hingga mereka kenal sekali dengan dirinya.

Dua-duanya bermanfaat. Yang pertama membawa kajian awareness ke ranah praktikal untuk semua orang, yang kedua yaitu para spiritualis mengajak manusia untuk masuk dalam kondisi experience, betul-betul merasakan kondisi awareness sehingga kenal dengan diri sendiri.

Sekarang kalau kita tengok kajian para arifin, kita sebut saja spiritualis dengan approach islam, dan kita bandingkan dengan analisa ilmu lahir para psikolog dari barat, segera kita mengetahui bahwa segala observasi para ilmuwan barat ternyata bagaimanapun juga masih menganggap bahwa manusia adalah makhluk biologis semata. Bukan makhluk ruhani yang terendam dalam tubuh biologis seperti approach para arifin.

Contohnya saja, kembali ke pembagian personaliti dan lambang warna tadi. Ide awal pembagian personaliti itu adalah pembagian bagian-bagian otak manusia.

Misalnya bagian kanan depan yang lebih aktif berarti orang itu begini, bagian kiri belakang yang lebih aktif berarti orang itu begitu, dan seterusnya. Maka kesimpulan sederhananya adalah seperti apa personaliti manusia, tergantung seperti apa atau bagian mana otaknya yang lebih dominan.

Manusia menjadi seperti robot biologis.

Dimana letak bedanya dengan penjelasan para arifin? Barulah saya mengerti bahwa para arifin mengawali segalanya dengan memahami bahwa manusia adalah sejatinya makhluk ruhani, yang terendam dalam tubuh biologis. Ada sesuatu yang sadar dan selalu mengamati, di dalam diri manusia ini.

Sesuatu yang sadar, dan selalu mengamati itu, menurut Imam Ghozali adalah sejatinya manusia. Kadangkala disebut Aql[1] atau lathifah Rabbaniyah (Sesuatu yang halus, immateri, ada di dalam diri manusia), kadangkala disebut dalam lain kata.

Tetapi kita abaikan dulu terminologi katanya, supaya tidak bias. Kita kembali pada kesimpelan bahwa ada makhluq ruhani di dalam diri manusia, dialah yang memahami, yang mengerti, yang menjadi gudang segala pengetahuan, yang mencerna ilmu.

Karena sejatinya pengetahuan, dan persona manusia itu lengketnya pada yang ruhaninya, maka organ secara biologis itu adalah yang terkena imbasnya.

Jadi kalau menurut ilmuwan barat adalah jika orang diteliti dan otak kanan depannya yang lebih dominan, maka orang itu berpersona begini begitu.

Sebaliknya menurut para arifin adalah, jika bashirah manusia itu, ruhani manusia itu, mencerap sekumpulan data dan pengetahuan dengan kecenderungan tertentu maka kecenderungan tertentu dari ilmu-ilmu itu pada gilirannya membentuk persona atau konsep dirinya. Dan konsep dirinya, sesuatu yang dipahami Al Aql itulah yang pada gilirannya berimbas pada organ fisiknya, misalnya bagian otak tertentu menjadi lebih aktif dan dominan. Tapi yang ada di biologis itu efek samping saja.

Maka itu jika manusia mati, diyakini bahwa jiwanya akan kembali kepada Tuhan, membawa seperangkat keilmuan dan rekam jejaknya, berarti personanya juga. Dan berarti segala macam ilmu orang itu, dan apa yang direkam akalnya, akan mengikut kepada sisi ruhaninya. Bukan di otak biologisnya.

Disitulah beda approach ilmuwan barat dan spiritualis islam, para arifin.

Tapi memang, kelemahannya adalah, metoda para arifin bukan sesuatu yang gampang dikaji secara empiris. Yang Ruhani itu, tidak bisa diteliti, tidak bisa diukur, tidak bisa disentuh.

Tak ada cara lain, selain dari masuk ke dalam approach mereka (para arifin), melaburkan diri dalam kontemplasi, tafakur, banyak-banyak mengingat Allah, sampai merasakan sendiri bahwa di dalam diri ini ada yang sadar, yang selalu mengamati, yang oleh islam disebut dengan Al Aql itu, bashirah, pandangan batin.

Memang ilmu lahir bermanfaat untuk kepentingan muamalah dan praktikal bahkan untuk orang awam sekalipun.

Tetapi untuk pengenalan lebih dalam kepada diri sendiri, dan dalam rangka pembacaan lebih tajam kepada kehidupan kita, maka ilmu batin para arifin adalah seperti mutiara yang bahkan belum bisa disentuh oleh kajian sains.

Teringat saya dengan ungkapan seorang guru. Jangan kita berhenti pada kajian ilmiah psikologis semata, tetapi masuklah ke dalam kedalaman spiritualitasnya. Sesuatu yang tak bisa diteliti secara sains kecuali dialami sendiri.

Masuklah ke dalam kedua gerbang ilmu itu, dan semoga Allah menganugerahi kita ilmu yang bermanfaat, kepahaman yang benar, dan amal yang makbul dalam kaitannya dengan mengakrabi dua keilmuan itu, Lahir, dan batinnya sekaligus.

references:

[1] Aql, dalam terminologi Pertama, pengetahuan mengenai hakikat segala sesuatu, yang diibartkan sebagai sifat ilmu yang terletak dalam hati (maksudnya adalah aql berarti fikirannya itu sendiri). Kedua, akal dalam makna rohani yaitu yang memperoleh ilmu pengetahuan tersebut (Al Ghazali, Raudhah: Taman Jiwa Kaum Sufi, (Surabaya: Risalah Gusti, 1997), h. 47)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s