BERTANYA KEPADA HATI

image

Dalam bahasa apa rekan-rekan berbicara? Sebagian mungkin berbicara dalam bahasa Indonesia, sebagian mungkin bicara lebih banyak dalam bahasa daerah, tidak masalah, tetapi pertanyaan kita lanjutkan.

Dalam bahasa apa rekan-rekan berfikir? Nah ini menarik, sebagian mungkin berfikir dalam bahasa yang sama dengan apa yang dia gunakan sehari-hari, tetapi sebagian mungkin tidak.

Seumpama seorang Indonesia tinggal di luar negeri . Pada waktu awal-awal, dia akan berbicara sehari-hari dalam bahasa Inggris umpamanya, di tempat kerjanya, tetapi di dalam benaknya dia masih akan berfikir dan berceloteh dalam Bahasa asalnya, bahasa Indonesia.

Barulah kemudian seiring waktu, dia akan berubah tanpa dia sadari, dan bahkan di dalam benaknya sendiri sudah berganti celoteh menggunakan bahasa Inggris, bahasanya sehari-hari.

Tetapi pertanyaan belum selesai. Kalau tadi kita bertanya mengenai bahasa dalam ucapan, dan celoteh fikiran, bagaimana dengan sesuatu yang lebih dalam lagi? Dalam bahasa apa rekan-rekan memahami?

Yang ini mungkin agak pelik sedikit. Tapi sekedar ilustrasi untuk mempermudah, pernahkah rekan-rekan sedang menulis atau mengetik tetapi rasanya sulit untuk menuliskannya karena banyak sekali yang rekan-rekan pahami dan susah dibahasakan dalam ucapan atau tulisan. Atau sebaliknya, ketika memahami (paham) sesuatu, kita mengucapkan, “Oooohh…” pada lisan, tetapi sebenarnya sebuah gumaman di mulut kita itu, pada levelan yang lebih dalam, di dalamnya batin, dia berupa “kepahaman” yang begitu banyak.

Jadi dalam bahasa apa rekan-rekan memahami?

“Kepahaman” yang kita miliki, sejatinya tiada bentuk, dia bukan berupa bahasa lisan, bukan berupa bahasa tulisan.

Sebuah kepahaman, baru akan menjadi memiliki bentuk ketika dia mewujud ke dalam kreasi.

Katakanlah saat kita berbicara di dalam hati, atau melakukan sebuah proses kreatif menganalisa, maka “kepahaman” itu akan terlihat dalam bentuk bahasa-bahasa di dalam hati, dan lebih jelas lagi saat kita tuliskan atau saat kita ucapkan kepahaman itu akan menjelma sebuah wujud tulisan atau ucapan.

Jadi pada levelan “kepahaman,” kepahaman ini tak ada wujud konkritnya.

Sebuah contoh lagi yang universal. Saat Archimedes menemukan ide untuk menghitung volume benda tak beraturan ketika dia sedang berendam di dalam bak mandi, seketika itu Archimedes “paham,” kita sebut mendapat “kepahaman” atau “insight,” seketika itu juga dia terucap “Eureka,” yang artinya “Aku menemukannya!”

Pada level terluar wujud kata, yang terdengar adalah ucapan “Eureka,” tapi kalau kita masuk lagi jauuuuuuhhhh ke dalam, pada tataran “kepahaman” di kedalaman batinnya Archimedes? Apa wujudnya? Belum lagi ada bentuknya! Tapi Archimedes sendiri yang mengerti, sampai nanti kemudian Archimedes membawa “turun” kepahaman itu pada ruang kreasi dalam fikirannya dan menjelma wujud-wujud rumus dan analisa yang dia celotehkan dalam bahasa manusia yang dia familiar, dan turun lagi pada tataran kata-kata berupa tulisan dan ucapan Archimedes.

Kepahaman yang begitu dalam, di dalam ruang batin kita yang benar-benar dalam itu, bukan berupa suara, bukan berupa huruf.

Semakin ke “dalam” semakin akan “hilang” keanekaragaman bentuk.

Kita ambil contoh saja dari yang terjadi di alam raya. Lewat sains, kita mengerti bahwa ada benda cair, padat, dan gas. Jika kita mampu memecah komponen-komponen benda-benda itu ke dalam partikel-partikel kecil, maka partikel-partikel kecil sampai pada level molekul, masih memiliki sifat benda tersebut. Katakanlah Molekul H2O masih memiliki sifat air, tetapi kalau lebih dalam lagi menembusi partikel molekul, maka atom-atom, apalagi proton neutron elektron, itu sudah tidak lagi memiliki sifat benda, apakah cair padat dan gas itu sudah tidak relevan untuk level sedalam itu.

Memang analogi tersebut tak terlalu relevan untuk menjelaskan logika fikiran manusia, tapi setidaknya ide besar itu sudah ada dan terbaca di alam semesta ini. Bahwa semakin ke “dalam” dia akan semakin lenyap dari keragaman. Semakin satu.

Yang menarik adalah, saat kita mencermati approach barat dan timur dalam menerangkan proses berfikir manusia.

Approach barat, selalu menjelaskan bahwa berfikir adalah proses biologis kelistrikan di dalam otak manusia. Sedangkan, approach timur, lebih khusus lagi approach tasawwuf di dalam islam selalu menekankan bahwa proses kepahaman itu terjadi pada badan yang ruhani, bukan yang biologis, tetapi karena badan ruhani itu bertempat pada tubuh biologis, maka dia akan menimbulkan efek pada tubuh yang biologis, efek yang kemudian bisa dibaca secara empiris.

Untuk tak terlalu abstrak, sebenarnya apa yang penting dari obrolan ini? Satu hal yang penting adalah ternyata jika kita mencermati pesan-pesan para arifin, kita mengetahui bahwa begitu banyak pesan yang menyuruh manusia untuk bertanya pada hatinya sendiri.

Hadits Rasulullah SAW menyuruh seorang sahabat untuk bertanya atau meminta fatwa pada hatinya sendiri[1]

Atau mengutip yang Rumi katakan, bahwa dia adalah seorang “pejalan” dan selamanya akan menjadi “pejalan”, hanya saja dia telah berhenti bertanya pada buku-buku dan bintang-bintang. Dan mulai mendengarkan kata hatinya.

Permasalahannya, hati yang mana yang didengarkan? Dan disinilah peliknya, bahwa pada levelan yang inilah kajian ini sulit dibuktikan secara empirik. Karena, kajian empirik barat kalau kita kembalikan pada contoh di paragraf awal kita bincang tadi, hanyalah meneliti bagian yang bisa diteliti, yaitu pada level ucapan dan tekstual manusia. Beberapa kajian mungkin masuk lebih dalam ke ranah bagaimana otak berfikir, yaitu celotehan yang di dalam benak kita tadi. Tetapi semuanya berangkat dari ide bahwa manusia adalah makhluk biologis, bukan makhluk ruhani yang bersemayam dalam tubuh biologis.

Semua bagus tentu saja, hanya saja, belakangan ini baru saya mengerti, bahwa dalam konteks “bertanya pada hati kita sendiri” ini, tidak ada jalan lain kecuali mengalaminya sendiri. Approach para arifin dalam mengajarkan manusia untuk kenal dengan kejiwaannya sendiri.

Jika pada level ucapan atau tekstual, masih bisa beragam-ragam. Pada level celotehan di dalam benak manusia pun ternyata masih ada distorsi. Pada level celotehan di dalam benak inilah –saya rasa- sebuah khasanah dimana bisikan keburukan dari syaitan masih sering ikut campur.

Makanya para guru kearifan sering wanti-wanti, kalau ada yang mendengar bisikan bisikan di dalam benaknya, harus hati-hati, kalau celoteh di dalam fikiran, hampir PASTI itu setan. Mengutip Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah, hanya Musa a.s lah yang memiliki levelan untuk mampu bercakap secara kata-kata dan pendengaran dengan Tuhan.

Dan pada ruang yang jauh lebih dalam lagi dari sekedar celotehan di benak kita, disitulah –setidaknya yang saya simpulkan dari kajian para arifin- khasanah tersembunyi dimana ilmu dan kepahaman kita dapatkan dalam bentuk yang tanpa bentuk. Kita paham begitu saja, tapi kepahaman  itubukan bukanlah bunyi-bunyi, bukan suara-suara, bukan celotehan-celotehan di benak kita.

Contoh paling-paling sederhana, adalah Newton. Seketika dia melihat apel jatuh, seketika itu juga dia paham tentang ilmu gravitasi.

Dan kepahaman yang Newton dapatkan adalah tanpa bentuk, tapi Newton mengerti.

Dan kita tidak pernah mendengar bahwa Newton dapet bisikan, “hai Newton, ketahuilah bahwa apel ini jatuh karena ada semacam gaya yang bla…bla….bla….bla….” Newton tak ada begitu-begitu, tetapi sreeetttt seketika dan paham. Itulah insight.

Pada ruang itulah, hemat saya, maksud Sang Nabi, dan para arifin, tentang bertanya kepada hati.

Bukan berarti bahwa proses kreatif berfikir itu tak penting, dan bukan berarti bahwa proses membaca tekstual atau verbal itu tak penting.

Penting…hanya saja lebih lengkap jika kita mengerti kedua-dua approach itu. Ilmuwan barat, dan para arifin islam dari timur.

Jika membaca tekstual sudah kita pelajari sejak kecil, maka tak ada salahnya kita mengenal lebih dalam bagian-bagian kejiwaan kita sendiri agar –seperti yang sering disebutkan orang arif- mawas diri. Dan barulah pernyataan “bertanya kepada hati” menjadi bisa kita praktekkan.

Ini berarti, penguasaan terhadap Ilmu lahir, dan ilmu batinnya sekaligus. Khasanah islam yang begitu luas.

 

references:

[1] Dari Wabishah bin ma’bad rahiyallahu ‘anhu beliau berkata: Aku datang kepada Rasulullah SAW, kemudian beliau berkata: “Kamu datang untuk bertanya tentang kebaikan?” Aku menjawab: benar. Kemudian beliau bersabda: “Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan adalah apa saja yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan.” (HR. Ahmad (4/227-228)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s