BELAJAR ADAB PADA SULAIMAN

book“Siapa yang bisa mendatangkan singgasana Bilqis?” Seru Nabi Sulaiman a.s kepada seluruh bawahannya.

Lalu kala itu majulah Ifrit dari golongan Jin yang terkenal kuat dan gagah. Ifrit konon mampu menjejakkan kaki sejauh mata memandang.

“Kalau menjejakkan kaki sejauh mata memandang aku juga bisa,” timpal Nabi Sulaiman, “aku ingin lebih cepat lagi.”

Saat itulah maju ke depan seseorang yang diberikan ilmu dari Al-Kitab, sebagian pendapat mengatakan nama beliau adalah Ashif. Konon Ashif mengetahui rahasia Asma-asma Allah yang agung.

Ashif kemudian berdoa kepada Allah SWT, lalu memujiNya dengan konteks asmaNya yang agung itu, kemudian singgasana Ratu Bilqis muncul di hadapan Sulaiman as. Sebagai bentuk pengkabulan do’a Ashif.

Kala itulah Nabi Sulaiman berkata, -yang konteks perkataan beliau itu baru saya mengerti sekarang-, “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari.”

Kalimat ‘Apakah aku bersyukur,’ merujuk pada ‘nikmat kerajaan yang diberikan pada Sulaiman a.s’.

‘Atau mengingkari akan nikmatnya’ merujuk pada ‘kenyataan bahwa bawahan beliau yaitu Ashif, ternyata memiliki sebuah perbendaharaan ilmu yang Sulaiman sendiri tidak memilikinya (yaitu pengetahuan akan asma-asma yang dengan itu Ashif mendatangkan singgasana Ratu Bilqis dari kejauhan dengan sekejap mata).’

Saya temukan penjelasan itu saat saya membaca tafsir Al Jailani.

Biasanya seseorang akan mengingkari nikmat yang ada pada dirinya, saat melihat orang lain diberikan sesuatu yang melebihi apa yang dia miliki. Dan gejala itulah yang sangat dimengerti oleh Nabi Sulaiman a.s. dalam kutipan kisah di atas.

Jika kita melihat ilmu yang dimiliki Ashif dalam konteks “pendistribusian pengetahuan pada makhluq, oleh Allah” atau dalam konteks “pembacaan / iqro-nya makhluk atas ilmunya Allah,” maka saya rasa memang sangat wajar bahwa tidak akan ada seorangpun manusia yang memiliki pengetahuan yang komprehensif atas ilmu Allah yang  tak akan habis ditulis dengan tinta sebanyak tujuh lautan dan pena sebanyak seluruh pohon-pohon.

Berarti akan selalu ada seseorang yang tersingkap padanya suatu ilmu atau suatu kebijakan yang tak dimiliki orang lainnya.

Pengetahuan bahwa sejatinya Allah-lah yang mengajar manusia, dan juga bahwa tentulah pengetahuan yang dimiliki manusia sangatlah sedikit; adalah pengetahuan tentang bagaimana mestinya bersikap. Atau adab.

Mungkin itu juga kenapa kemudian Nabi Musa a.s. dipertemukan pada Khidir a.s.

Bukan masalah siapa lebih mulia dari siapa, tetapi sebagai rekam sejarah, bahwa saat ada seseorang yang mengatakan bahwa dialah orang yang paling alim dan mengetahui dibanding orang lain, Allah akan datangkan padanya seorang alim lainnya. Untuk menggoreskan kebijakan bahwa sebagian ilmu ada yang disingkapkan pada Musa, sebagian ilmu disingkapkan pada Khidir.

Selalu ada celah untuk kita belajar dari orang lain, maka tidak akan mungkin ilmu kita komprehensif.

There’s always something to be learned, kata orang-orang.

Dulu, saya mengira bahwa konteks cerita Nabi Musa a.s belajar pada Khidir a.s itu adalah tentang Musa dan Khidir semata, setelah saya mengaitkannya dengan kisah Sulaiman a.s tadi barulah saya memahami bahwa konteks cerita itu sebenarnya adalah juga cerita tentang ilmu Allah yang tak akan bisa dirangkum oleh siapapun juga.

Lebih dari cerita Musa-Khidir semata, kisah itu juga bercerita tentang Allah itu sendiri. Tentang bagaimana Allah mengajar manusia. Tentang ilmu, dan juga adab.

Musa ketemu Khidir saat Musa mendaku dialah yang paling alim, itu saya rasa tema-nya adab juga.

Dan Rasulullah SAW pernah juga ditegur oleh Allah SWT saat beliau begitu berduka atas keingkaran kaumnya. Teguran itu pengajaran adab juga, Allah mengajarkan tata batin tingkat tinggi bahwa porsi manusia adalah berbuat sesuai kepahaman dan peranan, sedangkan pengertian-pengertian, dan makna-makna itu Allah sendiri yang menanamkan pada manusia.

Ilmu diapit adab. Selalunya begitu.

Secara lahiriah ada adab, secara batin ada adab juga. Saya rasa itulah yang dibahas para Arifin sepanjang sejarah. Tentang adab batin kepada Tuhan.

Dengan cara memandang seperti itu, barulah saya bisa menjadi senang, saat mendapati seseorang memiliki “pembacaan” yang lebih tajam dan dalam ketimbang saya.

Kalau dulu saya pasti akan menganggap orang itu sebagai rival, kalau sekarang saya melihatnya sebagai cara Allah SWT bercerita tentang diriNya.

Betapa menakjubkannya mengamati bahwa banyak sekali orang-orang di dunia ini yang Allah singkapkan padanya pengetahuan yang berbeda-beda.

Seolah-olah Allah ingin bercerita bahwa ilmuNya masih belum habis, dan tak akan habis meski disaksikan dan dibaca trilliunan pasang mata di setiap masanya.

Orang yang mendapat ilmu, adalah orang yang selalu “membaca,” atau IQRO.

Tetapi hikmah “pengenalan” pada Tuhan dan keterpandangan pada pengaturanNya di alam ini, hanya didapatkan orang yang mengapit proses pembacaannya dengan Adab (BISMIRABBIKA).

Saat menyaksikan orang-orang yang diberikan kelebihan, atau diberikan sesuatu yang tak diberikan kepada kita itu; kita jangan melihat orangnya; melainkan “lihatlah” pengaturan Allah disebaliknya.

Kita melihat, bahwa Allah SWT bercerita tentang Ke-Maha-Luasan ilmu yang Dia miliki, yang tersingkap kepada orang-orang yang bahkan kadang-kadang kita tidak pernah sangka-sangka.

Dengan begitu, kita memaknai adab.

Saat ilmu ketemu adab, rupanya pengaturan Allah “terlihat.”

Maka benarlah para malaikat yang berkata “Maha suci Engkau Tuhan kami, Rabbana tak ada ilmu pada sisi kami, melainkan apa-apa yang Engkau ajarkan kepada kami” saat para Malaikat menyaksikan kemampuan Adam a.s. Menjabarkan segala asma-asma yang Allah ajarkan padanya.

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat maka Dia berfirman: “Terangkanlah kepada-Ku nama semua ini jika kalian orang-orang yang benar!” Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada pengetahuan bagi kami selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS Al-Baqarah : 31-32)

Malaikat mengakui, keterbatasan ilmu… Itu adab.

Dan cerita di awal tadi, Nabi Sulaiman mensyukuri nikmat, dan tak menjadi kufur atas kenyataan bahwa Ashif menguasai suatu ilmu lainnya, itu adab juga.

Ada satu adab lagi, yang bisa kita contoh pada Nabi Sulaiman a.s.

Saat menyusuri “kerajaan,” Nabi Sulaiman mendengar para semut saling mengingatkan satu sama lain agar tak terinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, beliau tertawa seraya berdo’a.

“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS An-Naml : 19).

Sebuah kenyataan dimana beliau mengakui bahwa untuk bisa mensyukuri nikmat, dan melakukan amalan shalih, juga butuh pertolongan (ilham) Allah SWT. Itu pun adab.

Sikap inilah, yang oleh Ibnu Athaillah dibahasakan dengan “Tanda kesuksesan pada ujung perjalanan, adalah bersandar pada Allah sejak dari permulaan.”

Jika untuk bersyukur dan beramal saja sudah meminta pertolongan Tuhan, maka itulah yang dimaksud para Arifin dengan “tidak mengandalkan amal,” melainkan mengandalkan (berharap pada pertolongan) Allah.

Itulah adab.

 

references:

ilustrasi gambar dipinjam dari link berikut

MENGAJI KITAB TELES (2)

8112542204_4851276c35Sebagaimana malaikat menguasai pelbagai kekuatan alam, jiwa manusiapun berkuasa mengatur semua anggota badan.[1] Begitu Imam Ghazali memberikan analogi dalam upaya beliau memberi penjelasan kepada kita mengenai substansi ruhani manusia dan kaitannya dengan gerak pada wujud fisiknya manusia.

Sebagaimana masyhur kita tahu ada malaikat yang mengatur hujan, dalam literatur islam. Begitu juga sebenarnya pergerakan wujud fisik manusia (analog dengan wujud fisik benda, dalam hal ini hujan) sebenarnya disetir oleh gerak substansi yang ruhani di dalam tubuh manusia. Yang ruhani yang menyetir gerak pada eksistensi yang fisikal di luar.

Saat manusia bergerak, sebenarnya kehendak di “dalam” lah yang menggerakkan tubuh fisik manusia. Jadi, Substansi Ruhani manusia yang di dalam-lah yang dalam tanda kutip menggerakkan eksistensi manusia yang di luar.

Hal ini sangat sangat sangat sangat penting sekali untuk menjadi pembeda antara approach barat dalam memaknai hidup, dan approach islam dalam memaknai hidup.

Sudah jauh-jauh hari Imam Ghazali menerangkan kepada kita, bahwa substansi ruhani manusialah yang menggerakkan wujud fisik manusia, sementara barat tidak memperhitungkan mengenai substansi ruhani manusia itu tadi. Bagi barat, semua di alam ini murni wujud kebendaan fisikal semata.

Sekarang saya mengerti betapa jelas dan gamblang implikasi hal itu di dalam hidup. Berikut satu contohnya.

Seumpama ada seseorang marah kepada kita, lalu orang tersebut karena saking marahnya lalu dia melempar sebuah gelas kaca kepada kita. Gelas tersebut mengenai kepala kita dan kita berdarah.

Lalu sekarang cobalah kita menganalisa kejadian itu semata dari analisa empirik:

Kepala kita berdarah, kita teliti apa penyebabnya….ternyata disebabkan ada gelas kaca menghantam kita.

Kita teliti lagi secara empirik apa yang menyebabkan gelas kaca itu menghantam kepala kita? Ternyata gelas kaca itu berpindah dari posisinya di meja sebrang lalu melayang ke kepala kita.

Apa sebab gelas melayang? Ternyata ada tangan seseorang yang mengangkatnya dan melempar gelas itu.

Mulai dari gelasnya, hingga tangannya yang kita teliti, semua buktinya empiris, terindera. Jadi apa kesimpulan empirisnya? Kita berdarah tersebab seseorang melempar kita dengan gelas kaca.

Betulkah itu? Betul….tapi kurang dalam dan kurang tajam. Dan ini gagal menangkap makna sebenarnya.

Karena bukti empiris semata akan gagal mengetahui bahwa sebenarnya ini bukan perkara seseorang melempar gelas, tetapi ini perkara ada sebentuk abstraksi kemarahan di dalam jiwa orang yang di seberang, yang menyebabkan seseorang tersebut melempar gelas kaca kepada kita.

Bukti empiris semata, bahkan gagal menemukan abstraksi kemarahan di dalam jiwa seseorang.

Bisakah kita lihat bentuk “kemarahan” itu? Tak bisa, bukan?

Adakah bentuknya suasana jiwa berupa “marah” itu? Tak ada bukan?

Adakah empiris, kemarahan itu? Tidak, bukan?

Semua kajian empiris hanya akan berhenti sebatas eksistensi fisikal dan gagal menangkap hikmah.

Jika kita mengatakan bahwa “kemarahan” itu kan bisa “dilihat”, kalau orang melempar gelas, berarti itu tandanya dia marah. Berarti marah bisa dilihat dalam tanda kutip.

Maka kita katakan, “yak…..persis,” Memang begitulah seharusnya, dan itulah approach islam memandang kehidupan. Bahwa tidak mungkin yang fisikal ini hanya sebatas eksistensi fisikal saja tanpa makna.

Eksistensi bukan semata eksistensi, tapi menyimpan makna yang batin. Bahwa wujud yang tampak fisik, adalah imbas dari gerak yang ruhani.

Itu baru perkara manusia saja.

Sekarang kita sudah mengerti betapa tidak tepat konteks orang-orang yang hanya menilai perkara ‘orang kepalanya berdarah’ sebatas perkara sesuatu yang empirik, yaitu perkara ada ‘orang lain melempar gelas padanya’; dan lalu melupakan substansi ruhaninya bahwa ada sebuah “kemarahan” di dalam jiwa orang tersebut.

Tak bisa kita lepaskan sebuah wujud eksistensi, dari makna ruhani yang hendak disampaikan. Maka melempar gelas, hanyalah sebuah imbas dari jiwa yang merangkum makna marah. Ruhani, menggerakkan wujud fisik.

Sebagaimana “kata-kata di dalam sebuah buku”, pastilah menyampaikan makna dari sang pengarang, sebagaimana juga ruhani manusia menggerakkan eksistensi di alam physical, seperti itulah juga kita memandang alam ini, tak bisa seperti approach barat semata yang mengatakan bahwa alam sekedar alam, tetapi kita mengerti seyakinnya bahwa alam menyampaikan makna.

Dan makna ini, pengertian tentang substansi yang ruhani ini, memang selama-lamanya tak akan empiris, ianya hanya terlihat pada sesiapa yang merendahkan hatinya, dan mengakui kelemahan diri, karena segala wujud fisikal di alam ini merangkum makna cerita dari Allah SWT. Hanya orang-orang yang menemukan kerendahan hatinya dan ada sikap bismirabbika dalam setiap iqro-nya yang diajarkan olehNYA hikmah.

Sekarang kita baru menyentuh satu sisi saja, yaitu anasir bernama “kemarahan.” Dan “kemarahan” itu sendiri, sudah abstrak. Sedangkan menurut islam, terutama jika kita baca kajian Imam Ghazali, kita akan mengerti bahwa baik itu “kemarahan,” dan atau rasa “sedih,” rasa “senang,” dan segala macam makna-makna batin lainnya yang dimengerti secara ilmu psikologi, itu belum lagi bagian terdalamnya ruhani. Itu masih pada lapis luarnya.

Lapis paling dalamnya, adalah apa yang Imam Ghazali sebut sebagai Lathifah Ruhiyah Rabbaniyah, Substansi Ruhani, yang halus, yang mengamati, yang mengerti segala hakikat, yang mencerap makna-makna, yang dalam konteksnya yang ruhani semakna dengan arti qalb dan aql.

Seperti apa aplikasi praktisnya?

Aplikasi praktisnya adalah jika kita mengerti hal ini, akan membuat kita menjadi awas dan tidak gebyah uyah menyatakan bahwa kecenderungan dan sebuah karakter yang kita miliki adalah by nature.

Karena, selain dari substansi ruhani yang terdalam itu, semua lapis luarnya (bahkan sampai sesuatu yang kita kenal dengan istilah “aku,” “ego,” dst) adalah kumpulan makna yang dicerap oleh sang substansi ruhani dan makna-makna itu dibawa sepanjang perjalanan hidupnya.

Lapis terluar yang dilihat orang banyak, adalah personaliti. Dibaliknya personaliti yang tampak, ada gunung es karakter. Gunung es karakter ini sebenarnya adalah kumpulan pengalaman hidup, makna-makna yang dicerap oleh substansi ruhani yang menjadi observer, sang pengamat, dan faculty of knowledge sepanjang hidupnya.

Maka saya sedih juga menyadari bahwa banyak yang keliru dengan mengira bahwa lapisan gunung es karakter mereka itulah sejatinya diri mereka. Misalnya saja seorang dengan kecenderungan maling, seorang dengan kecenderungan disorientasi seksual seperti yang sekarang sedang marak-maraknya itu; mereka mengira ini by nature…. ini sudah saya dari sononya, By nature lho….begitu anggapan mereka.

Padahal bukan by nature. Itu karena mereka belum berkesempatan untuk sampai pada relung terdalamnya. Itu adalah kekeliruan yang jamak pada kita karena mengira gunung es karakter dan ego kita, sebagai sejatinya diri kita.

Padahal, jika sampai pada relung terdalamnya lagi, dan mengalami realita bahwa sejatinya manusia itu adalah substansi ruhani yang paling dalam yang mengamati, maka mereka akan mengerti bahwa gunung es karakter di lapis luar itu, -sesuatu kekeliruan yang mereka kira  by nature itu-, rupanya hanya sekumpulan persepsi saja. Bukan sejatinya diri. Melainkan kumpulan persepsi yang sangat kuat, yang selama ini dicerap oleh jiwa mereka.

Dan disinilah saya baru paham maksud sabda sang Nabi untuk, “tanya hatimu,”[2] karena relung terdalam itu pastilah tidak mungkin bohong, karena substansi ruhaninya manusia selalu ikut amr (perintah)nya Allah SWT. Tidak seperti lapis luarnya yaitu ego yang penuh dengan kumpulan catatan hidup yang bisa benar bisa salah.

Wallahualam bishawab

references:

[1] Imam Al Ghazali, Kimia Kebahagiaan, Penerbit Zaman, hal 18 (dengan merujuk pada edisi bahasa Arab, Kîmiyâ’ al-Sa‘âdah, terbitan Dar al-Fikr, t,t.)

[2] Dari Wabishah bin ma’bad rahiyallahu ‘anhu beliau berkata: Aku datang kepada Rasulullah SAW, kemudian beliau berkata: “Kamu datang untuk bertanya tentang kebaikan?” Aku menjawab: benar. Kemudian beliau bersabda: “Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan adalah apa saja yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan.” (HR. Ahmad (4/227-228)

Referensi Kajian arifin

MENGAJI KITAB TELES

8112542204_4851276c35Saya terdiam, saat saya menemukan sebuah penjelasan bahwa satu-satunya yang Rasulullah diperintahkan untuk meminta tambahan atasnya, adalah ilmu. Rasulullah tidak pernah diperintahkan untuk meminta lebih atas sesuatu, selain daripada meminta lebih atas ilmu.[1]

“Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. [Thâhâ/20:114]

Dalam konteks Rasulullah, wahyu bahkan diturunkan terus menerus kepada beliau jelang kewafatannya dan banyak malah yang diturunkan menjelang kewafatan beliau itu.[2]

Pengertian seperti ini, mengoreksi keraguan saya sendiri. Karena saat saya membaca, dan saat mencoba memahami sesuatu, seringkali saya bertanya apakah berguna hal yang saya baca ini, sedangkan kedekatan pada Allah adalah sesuatu yang tidak berada pada laman tekstual buku-buku. Kedekatan pada Allah dan ma’rifah adalah pada domainnya tirakat dan peribadatan. Jadi bergunakah ilmu-ilmu ini?

Ternyata, saya keliru. Karena saya selama ini memisahkan antara ilmu, dan perjalanan menuju Tuhan. Baru saya mengerti bahwa ilmu, atau kepahaman, bahkan observasi kita terhadap apapun saja di belantara alam ini, sebenarnya adalah gerbang ma’rifah.

Saya ingin kembali mengutip kekata orang-orang arif bahwa alam raya ini seperti kitab teles, kitab basah, yang penuh dengan kumpulan kata-kata (semua isi alam).

Sebagaimana logisnya kumpulan kata-kata pada sebuah buku, kita mengerti bahwa kata-kata mestilah merupakan sebuah simbol, mewakili makna-makna yang hendak disampaikan pengarangnya.

Sedangkan kita membaca buku Harry Potter saja kita tahu, bahwa kata-kata dalam buku Harry Potter adalah mesti mewakili makna-makna yang hendak disampaikan oleh JK Rowling, apatah lagi kita dalam kaitannya belajar mengkaji alam?

Mungkinkah alam dan segala hal yang terkandung di dalamnya, dan segala hukum-hukum yang berlaku di dalamnya, hanya merupakan sebuah wujud semata? Alam sebagai alam semata? Alam sekedar sebagai sebuah eksistensi, tanpa ada konteks bahwa alam mewakili cerita yang ingin disampaikan oleh Tuhan?

Tak mungkin, bukan?….alam raya dalam konteksnya sebagai ayat kauniyah, akan terus bisa dibaca sepanjang hidup manusia. Dan alam, dalam metafornya sebagai kata-kata, pastilah membawa makna pengajaran dari Tuhan.

Orang-orang barat, semua mengkaji alam dan menuntut ilmu, tetapi bedanya adalah mereka tidak memiliki konteks itu. Tak ada dalam konsep mereka bahwa alam adalah mewakili cerita yang ingin disampaikan Tuhan. Sedangkan islam sejak awal meletakkan konsep itu.

Maka barulah saya mengerti. Kalau sekedar untuk “hidup” semata, saya bisa bekerja yang memang money oriented saja. Kenapa harus susah-susah belajar? Tetapi akhirnya saya mengerti, belajar bukan semata untuk hidup. Belajar adalah menunaikan fungsi kita sebagai manusia.

Disinilah semuanya kemudian menjadi masuk akal bagi saya. Kenapa ilmuwan dulu menguasai keilmuan agama dan sains? Kenapa bisa ya?

Karena sejak awal mereka tidak mengenal dikotomi itu. Maka ada Ibnu Sina, ada Al khawarizm, ada Ibnu Rusyd, Imam Ghazali. Semua adalah nama-nama besar yang mumpuni pada keilmuan sains, dan tajam pengenalannya pada Tuhan.

Karena jika kita mengerti konsep itu, bahwa persinggungan kita dengan kajian fisika, biologi, kimia, matematika, ternyata adalah persinggungan kita dengan kumpulan “kata-kata” di dalam kitab semestanya Tuhan, lalu dimananya dari keseluruhan sains itu yang bisa kita cerabuti sisi agamanya?

Tak bisa….tak pernah akan bisa.

Maka semakin mengerti matematika, semakin-makin akan ma’rifah.

Semakin paham biologi semakin-makin akan ma’rifah.

Semakin mengerti fisika semakin-makin akan ma’rifah.

Jika keseluruhan perjalanan mengkaji yang dilakukan manusia adalah perjalanan meminta tambahan ilmu dan kepahaman dari Tuhan –seperti yang Rasulullah lakukan-, berarti keseluruhan jenak hidup kita adalah pembelajaran oleh Tuhan untuk manusia. Atau dalam lain kata, setiap detik hidup sebenarnya kita ini menunggu-nunggu makna-makna dan hikmah dari Tuhan untuk disusupkan pada jiwa kita yang sedang membaca kehidupan ini.

Dia yang mengajari kita apa-apa yang tak kita ketahui.

Jika DIA yang mengajari kita, adakah celah bagi kita untuk tidak beradab?

Jika “kata-kataNya” semata yang ada pada setiap lini fisika, biologi, matematika, geografi, ekonomi, dan segala yang bisa dirinci dari sains; adakah celah bagi kita untuk tidak beradab?

Ternyata pencarian ilmu mesti dilambari dengan adab, benarlah para ulama mengajarkan.

Baru saya mengerti, jika semakin belajar semakin tidak kita temukan selain dari kehebatan diri sendiri, maka belajar kita sudah tidak dalam konteks membaca kitab teles itu tadi. Sudah tidak punya adab. Yang tak punya adab, tak akan menemukanNya.

Seseorang boleh saja pintar, tapi tanpa adab…tanpa mengerti konteks bahwa segala yang dia pelajari adalah “kata-kata”nya Tuhan dalam kitab teles di semesta ini; maka dia tak akan “menemukan” Tuhan. Hanya akan ditemukannya bukti-bukti empiris dari keteraturan di alam semesta. Karena ilmu, ma’rifah, pengenalan, adalah hikmah, yang hanya turun pada orang-orang yang mengerti adab.

Pahamlah kita bahwa keseluruhan tatakrama dalam kajian tasawuf adalah soal adab-adab.

Al Hikam adalah kumpulan adab batin kepada Tuhan. Tulisan Syaikh Abdul Qadir Al jailani pun adab. Imam Ghozali dan ihya nya pun adab-adab. Bahkan pesan-pesan para arifin untuk “wong kang sholeh kumpulono” pun adab, hingga terdengar pesan begitu cantik bahwa jikapun tak kita dapat ilmunya, tapi setidaknya dapat adabnya.

Karena adab ternyata sentral sekali.

Ilmu, dalam kaitannya dengan ‘Allah yang mengajar’ adalah sekumpulan makna yang Allah tanamkan pada jiwa manusia.

Maka ciri pertama orang yang akan diberikan hikmah adalah dia menemukan dalam perjalanan pembelajaran dalam hidup, bahwa dirinya tak bisa apa-apa. Saat dia menemukan kekerdilan diri itulah, adab membaik. Saat adab membaik itu berarti Allah hendak menganugerahi hikmah.

Pahamlah kita kenapa wahyu pertama adalah IQRO, diapit BISMIRABBIKA. Bukan tentang yang lain. Karena keseluruhan fungsi hidup manusia adalah mengibadahiNya. Menurut Ibnu Abbas, mengibadahiNya itu maksudnya adalah ma’rifah padaNya.

Jika IQRO itu bicara mengenai observasi, analisa, pembacaan yang dipuncaki ILMU. Maka BISMIRABBIKA itu adalah hal yang membuat manusia mengerti konteks, menjadi punya adab.

references:

[1] Seperti dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya [Fathul-Baariy, 1/141].

[2] Tafsir Ibnu Katsir ketika membahas surat Thaha : 114

Gambar dipinjam dari link ini

 

YANG TAK ADA LAGI SESUDAHNYA SIFAT KEJAHILAN

bookworld_small1“Andaikata kamu mengenali Allah Ta’ala dengan sebenar-benar pengenalan, niscaya kamu akan diajarkan-Nya suatu ilmu yang tiada lagi sesudahnya sifat kejahilan”[1].

“Suatu ilmu yang tak ada lagi sesudahnya sifat kejahilan” ini, baru saya mengerti ternyata semakna dengan apa yang dicari-cari oleh Imam Ghozali.

Ceritanya, Imam Ghozali sempat mengalami keguncangan intelektual dan spiritual dalam satu fase hidupnya. Guncang disini maksudnya adalah beliau ragu apakah kepahaman dan keilmuan yang beliau miliki adalah sesuatu yang benar. Kita bisa temukan penjelasan ini pada autobiografi Ghazali dan pada beberapa pengantar para ahli dalam buku Tahafut al falasifah.

Kembali ke hal klasik ini. Darimana manusia memperoleh ilmu? Para filosof menyimpulkan bahwa dua hal inilah cara manusia memperoleh ilmu, hakikat mengenai sesuatu. Yang pertama dari inderanya, yang kedua dari penalaran akal atau rasionya.

Nah kembali ke cerita, sejak kecil, ternyata Imam Ghozali adalah seorang yang beliau katakan sendiri sebagai “pemberani,” pemberani dalam artian beliau memang betul-betul menyelami kajian orang-orang dengan berbagai latar belakang, sehingga beliau menjadi paham apa yang diperdebatkan dan seperti apa bahasa yang digunakan orang-orang tersebut. Beliau tidak menilai dengan tidak adil. Karena benar-benar beliau menguasi.

Menarik bahwa ada salah seorang ahli agama mengatakan kepada Imam Ghazali bahwa Tahafut al falasifah itu sendiri bahkan lebih rapih ketimbang buku para filosof. Jangan-jangan nanti malah menjadi pengantar filsafat alih-alih buku mendebat filsafat?

Tapi kita abaikan saja dulu hal itu, yang jelas Sang Imam berpendapat saat kerusakan sudah begitu menyebar, maka keraguan bahwa buku Tahafut akan malah menjadi pemantik filsafat tidak relevan. Justru beliau mengatakan tidak keseluruhan produk filsafat itu keliru, namun sebagiannya jelas perlu dibantah.

Jadi kembali lagi mengenai ilmu diperoleh melalui indera itu tadi. Imam Ghozali merenungi, bagaimana mungkin bisa manusia mempercayai indera, sedangkan indera seringkali tertipu. Bayangan kayu seolah bengkok di dalam air, padahal rasio (akal) membantahnya dengan mengatakan bahwa hal tersebut adalah karena pembiasan optik. Kayunya sendiri tak pernah bengkok.

Jadi, tesisnya adalah ilmu yang diperoleh indera bisa jadi keliru dan dikoreksi oleh akal manusia (rasio).

Sekarang bisakah mendekati Tuhan lewat rasio dan penalaran akal seperti yang dilakukan para filosof? Filosof, murni mengandalkan penalaran akal.

Disinilah beliau menjadi gamang. Dan berfikir jangan-jangan, ada hal yang lebih tinggi dari akal atau rasio. Jika indera dikoreksi oleh rasio atau penalaran akal, jangan-jangan nanti akan ada yang bisa mengoreksi akal. Sebagaimana saat kita mimpi, akal mengira itu realita, saat kita terjaga maka kita baru sadar mimpi adalah ilusi.

Jangan-jangan, ada higher reality, kata sang Imam.

Jadi apa yang bisa dipercaya kalau begitu? Kalau indera tak bisa dipercaya, lalu penalaran rasio pun tak bisa, jadi apa yang valid?

Disitulah beliau menjadi bingung. Bahwa indera seringkali tertipu, dan rasio boleh jadi akan dikoreksi oleh “kesadaran yang lebih tinggi”.

Tapi beruntunglah, fase uzlah dan pendekatan diri kepada Sang Pencipta, yang beliau lakukan ternyata membuahkan hasil.

Beliau menjadi kukuh dan tak gamang lagi. Sebagaimana paragraf pertama di atas tadi, barangkali itulah yang disebut dengan ilmu yang yakin, sebuah ilmu yang tak ada lagi sesudah itu sifat kejahilan.

Dari sanalah beliau akhirnya mengerti bahwa memang ilmu bisa diperoleh melalui indera, misalnya penelitian deduktif, observasi alam, lalu membuat kesimpulan. Bisa juga ilmu diperoleh melalui penalaran rasio, lalu kemudian mencarinya pada bukti-bukti di alam raya. Tapi bisa juga ilmu diturunkan secara langsung ke dalam jiwa manusia, tanpa melalui proses kajian.

Yang terakhir itu, itulah yang membedakan antara approach filosof dan approach islam, bahwa islam mengakui ada realita yang lebih tinggi. Bahwa pada diri manusia ada substansi ruhani yang mencerap ilmu itu, yang mengetahui hakikat sesuatu itu. Prosesnya bisa melalui pembacaan alam, observasi, membaca teks, segala hal yang inderawi, atau perenungan lewat penalaran rasio. Tetapi juga bisa secara langsung ilmu dihunjamkan ke dalam jiwa manusia.

Yang dihunjamkan langsung ke dalam jiwa ini; pada approach barat tak ada, atau tak diakui.

Karena mereka memang menilai manusia sebagai makhluq biologis semata. Tak ada substansi ruhaninya. Sedangkan pembeda paling dasar adalah islam mengakui substansi ruhani manusia, dan mengakui bahwa substansi ruhani itulah faculty of knowledge yang mencerap ilmu. Yang mengerti hakikat sesuatu. Dan sejatinya yang mengajar adalah Allah SWT, mengajar manusia akan apa yang tak diketahuinya.

Hal ini tidak berarti kita meninggalkan kajian ilmiah dan berhenti observasi, tentu tidak. Hanya saja, kita harus menggeser paradigma dan mulai memahami bagaimana flow ilmu turun pada manusia. Gunanya apa, agar mengerti adab. Dengan beradab, tata krama batin, maka insight sudi mampir ke kita.

Jagad raya ini, menurut Naquib Al Attas dalam tulisannya “The Concept Of Education In Islam,” adalah seumpama buku terkembang. Dan yang membacanya adalah manusia. Pengarang buku -umpamanya- adalah Allah. Konsekuensinya manusia tidak boleh dong, untuk menganggap alam sebagai alam semata tanpa konteks bahwa Allah ingin bercerita lewat alam.

Karena menganggap alam sebagai semata alam doang, itu seumpama menganggap kata-kata dalam sebuah buku sebagai kumpulan huruf saja, tanpa memahami bahwa kata-kata adalah simbol yang mewakili keseluruhan cerita yang disampaikan pengarang.

Kebijakan orang tua dulu mengatakan bahwa alam raya terkembang ini adalah kitab basah. Ayat Kauniyah.

Dalam konteks seperti itulah, saya baru mengerti maksudnya Ghozali dan maksudnya Naquib Al Attas, dan banyak pesan disampaikan para arifin bahwa yang mengajar itu Allah, dan yang mencerap ilmu adalah substansi ruhani manusia, sedangkan metodanya boleh jadi via teks, via observasi, via penalaran, ataupun ujug-ujug langsung paham, alias insight.

Yang manapun metodanya, ternyata kuncinya adalah adab. itu bedanya kita dan approach barat.

Bahwa adab yang baik mestilah timbul jika kita menempatkan konteks diri kita sebagai pencari ilmu, karena pencari ilmu berarti adalah kita menunggu makna-makna untuk Allah turunkan pada kita. Dan seringkali makna-makna yang dalam itu, kata Al Ghozali tidak dibangun diatas rangkaian pernyataan (tekstual atau observasi) melainkan atas cahaya pengenalan (ma’rifah).

Tapi flownya yang dialami beliau kurang lebih begini:

  • Pertama dianugerahi kemampuan memperoleh dalil yang menunjang
  • Kedua diantarkan menuju kelompok yang benar dibawah petunjukNya

Jadi jika kita “merendah” dan sudah mulai mengakui bahwa keseluruhan proses pembacaan dan pembelajaran kita di dalam hidup ini adalah sebenarnya seperti membaca kitab besar dari Allah SWT, sangat boleh jadi kita akan dihantarkan menuju pengenalan yang lebih dalam.

Barangkali tak langsung insight-insight hikmah, melainkan kok ya kebetulan ketemu terus dengan dalil dan bahasan-bahasan yang serupa berulang-ulang. Kok ya kebetulan bertemu dengan sekian banyak orang-orang arif yang menjelaskan kebingungan-kebingungan kita.

Jika hal itu terjadi, maka yakinlah kita bahwa rupanya tak ada yang kebetulan. Saat kita semakin yakin bahwa semuanya dalam pengaturanNya itulah, kita menjadi sadar “kerendahan,” saat sadar itulah saat dimana insight bisa datang dengan cepat dan menjawab pertanyaan kita tentang hidup.

Sebagaimana penalaran rasio bisa mengoreksi kelemahan inderawi dalam menangkap realita, sebegitu juga insight yang jernih bisa membimbing akal supaya tahu kemana penalaran harus dibawa.

references:

[1] Sayid Ahmad Rifai, Benteng Ahli Hakikat, 33 (1994).

Naquib Al Attas, The Concept Of Education In Islam

Al Ghazali, Tahafut Al Falasifah

Al Ghazali, Al Munqidz Min Adh Dhalal

gambar ilustrasi dipinjam dari sini

MENGHIDUPKAN YANG SEJATI

openyourmind1Pada lapisan terluar, sifat-sifat yang nampak pada manusia adalah apa yang kita kenal dengan istilah personaliti-nya. Kepribadian. Kepribadian adalah lapisan terluar dari sifat yang terbaca pada manusia. Tetapi kepribadian sendiri belum lagi yang “sejati.” Karena, kepribadian yang muncul pada luarannya itu, bisa dirubah seiring norma dan keilmuan yang manusia mengerti.

Seumpama orang sumatera, yang tinggal pada daerah dengan mayoritas orang jawa, lambat laun maka orang sumatera akan menjadi sedikit jawa, pada personaliti yang tampak di luarnya. Misalnya pola komunikasinya yang biasanya lebih blak-blakan menjadi sedikit lebih banyak menggunakan isyarat, bahasa simbol.

Ini contoh yang sederhana sekali memang. Idenya adalah bahwa personaliti, atau kepribadian yang tampak luar, itu bisa dibentuk seiring dengan norma-norma dan pengetahuan atau ilmu yang dimiliki seseorang.

Misalnya seorang pendiam, karena tahu dirinya pendiam –sedangkan dia berada pada sebuah posisi di kantor yang mengharuskan dirinya berbicara banyak- maka dia bisa menyesuaikan diri dengan menampilkan persona yang banyak berbicara, sehingga orang akan mengenal dirinya sebagai seseorang yang aktif bicara. Padahal, aslinya dia pendiam.

Nah…. Kenyataan bahwa dia adalah seorang “pendiam” ini, adalah sebuah kenyataan yang lebih “dalam.” Kalau personaliti atau kepribadian adalah sesuatu yang tampak luar, maka pada sisi sifat yang lebih “dalam” itu kita mengenal istilah “karakter.”

Seperti teori gunung es. Yang tampak luar seringkali sedikit saja, tapi yang tersembunyi biasanya lebih besar.

Jadi, kembali lagi sebuah analogi.

Seorang kidal, karena norma yang dia terima terus menerus mengajarkan dia untuk menulis dengan tangan kanan maka dia akan bisa melatih dirinya untuk menulis dengan tangan kanan. Yang orang kebanyakan lihat di permukaan adalah sebuah kenyataan bahwa dia menulis dengan tangan kanan, ini namanya personaliti. Tetapi yang aslinya, dia itu seorang kidal, dan dia sebenarnya bagaimanapun lebih nyaman menulis dengan tangan kirinya, itulah karakter.

Manusia bisa memilih, untuk menampilkan (atau membiasakan) personaliti tertentu untuk tampil pada luarannya.

Pertanyaannya kemudian adalah, benarkah karakter seseorang adalah palung “kedalaman” dirinya yang sejati?

Kalau kita berbicara mengenai karakter, kita akan mengerti bahwa karakter seseorang adalah sebenarnya kumpulan memori sepanjang pengalaman hidupnya.

Bersamaan dengan kumpulan memori tersebutlah, diserap juga oleh manusia tersebut apa yang kita kenal dengan nilai-nilai, ma’na, perasaan, dan macam-macam yang terkait dengan pengalaman hidupnya. Kumpulan keseluruhan pengalaman hidup itulah, yang kemudian menjadi solid dan memunculkan persepsi yang selama ini kita kenal dengan diri kita. “aku”.

“aku” disini maksudnya adalah kumpulan karakter.

Kita sebagaimana yang kita kenal selama ini. Dengan seperangkat sifat-sifat, dengan sejumlah kecenderungan untuk suka sesuatu hal dan membenci sesuatu hal. Seandainya kita bernama budi, maka mulai dari konsep kita tentang kita adalah Budi, sukanya begini, tidak sukanya pada hal yang begitu, kita bersifat begini-begitu, semua itu adalah kumpulan karakter, pengetahuan yang lebih dalam dan acapkali tak semuanya muncul ke permukaan. Sesuatu yang kita kenal dengan “aku”.

Tetapi Sedikit-sedikit mengakrabi kajian para arifin barulah membuat saya mengerti bahwa tradisi islam ternyata menganggap bahwa hal tersebut (personalitikah, kumpulan karakterkah, egokah) sebenarnya belum lagi sisi terdalam manusia.

Bahwa pada lapis yang lebih dalam lagi ada substansi ruhani yang istilahnya Imam Ghozali menjadi faculty of knowledge. Fakultas pengetahuan. Yang mencerap segala pengalaman hidup, berikut segala ma’na-ma’na dan rasa yang dia temukan sepanjang perjalanan. Yang mana keseluruhan hal yang dicerap itulah yang kemudian memunculkan sesuatu yang bernama “aku” atau barangkali sebangun dengan makna “ego.”

Jadi konsep aku atau ego itu masih ada di lapis luar, di dalamnya lagi adalah substansi ruhani yang dimaksud Al Ghazali, dianya immateri, dan mengikut bahasa Imam Ghozali semakna dengan aql dan qalb pada konteks ruhaninya. Simpelnya kita katakan saja ruhani manusia.

Hal yang menarik ternyata, baru saya mengerti bahwa konsepsi yang diusung orang-orang arif saat mereka mengatakan bahwa harusnya manusia itu “lebur” dan melepas “keakuan” dirinya, menjadi bisa lebih mudah kita mengerti jika kita mengerti urut-urutan bagaimana persepsi “aku” atau ego itu terbentuk.

Kita adalah kumpulan persepsi, kata orang bijak.

Dan sejatinya, yang manusia lakukan saat mereka banyak mengingati Allah dan rajin bertafakur, adalah sebenarnya melepaskan satu persatu keterkaitan antara substansi ruhaninya dengan memori dan pengalaman hidupnya yang sudah terlanjut mengakar dan membentuk konsep dirinya, membentuk aku-nya itu.

Jika manusia hanya melakukan hal, amaliyah misalnya, yang lahiriah semata, berarti dia masih bermain pada lapis yang sangat eksternal. Luaran. Seperti lapis personaliti itu tadi. Sesuatu yang dipermukaan.

Tentu itupun sudah mantap juga, tetapi kita harus belajar untuk masuk lebih dalam lagi, tidak berhenti sebatas yang diluar, tetapi melampaui apa yang selama ini kita kenal dengan konsep diri kita sendiri. Lalu belajar berani untuk meniada.

Meniada disini berarti kita secara jujur melepaskan keterikatan antara substansi ruhani kita itu, yang tugasnya menjadi faculty of knowledge kata Imam Ghozali, yang menjadi pengamat, observer, dengan segala hal sepanjang perjalanan hidup kita.

Disinilah saya baru mengerti, setelah telat paham cukup lama, apa yang orang-orang arif maksudkan dengan menjadi penyaksi.

Bahwa kita melihat pengaturan Tuhan berlangsung dalam kehidupan ini, secara lebih detail dan jelas. Karena kita bahkan mengamati konsep mental kita sendiri. Barangkali inilah maksudnya mawas diri. diri yang sejati di dalam diri kita itu, substansi ruhani itu, bahkan mengamati konsep diri yang sudah terbentuk di lapis yang lebih luar itu. Dan secara jujur menilai mana yang benar mana yang keliru.

Barangkali contoh paling relevan adalah ketika salah seorang sahabat disanjung oleh Rasulullah sebagai penghuni syurga. Seorang sahabat lain yaitu Abdullah Ibnu Umar penasaran dan ingin melihat seperti apa kehebatan ibadah sahabat yang disanjung tersebut. Lalu disambangilah rumahnya dan minta izin menginap.

Setelah berapa hari mengingap, Abdullah Ibnu Umar pamit pulang dengan sedikit bingung, kenapa kok ibadahnya biasa saja. Sang sahabat kemudian mengatakan bahwa sama sekali tak ada yang istimewa pada ibadah beliau selain dari apa yang tampak. Tetapi ada satu hal yang secara dawam beliau lakukan, yaitu setiap kali sebelum tidur beliau selalu memaafkan semua orang, beliau tafakur dan lalu tidur tanpa kebencian. Dan hal tersebutlah rupanya yang mengangkat derajat beliau hingga disanjung Sang Nabi.

Hemat saya, itulah ibadah yang “dalam.”

Memperbanyak kuantaitas ibadah pada luarannya, itu satu hal yang harus ditiru. Akan tetapi menyadari sejatinya diri pada level yang lebih dalam, itu hal lain yang juga sangat penting. Agar ibadah yang sedikit bisa jadi punya arti yang lebih tajam.

Guru-guru kearifan pun banyak mengajarkan hal yang serupa. Masuk ke dalam kedalaman batin dan lalu melepaskan segala keterikatan kita dengan memori hidup, dengan perasaan, dengan hal-hal yang mengotori jiwa.

Saya rasa itulah makna tazkiyatun nafs. Bersih-bersih jiwa.

Sehingga substansi ruhani di dalam diri kita itu menjadi terbebas, dan memaknai hidup sebagai pagelaran cerita dari Nya semata. Penyaksi.

Easier said than done, memang. Tapi setidaknya kalau tahu flow-nya kita tinggal dawamkan saja sebisa-bisanya. Jangan berhenti di tataran luarnya semata, tetapi yang substansi ruhani di dalam diri kita ini yang harus hidup, kata para arifin.

yang sejati.

DIRI SEJATI YANG TAK MISTIS LAGI

AfterlifeYang manakah yang menyimpan ilmu pada manusia? Ruhaninya-kah atau Biologisnya-kah? Approach dalam keilmuan islam jelas sekali menyatakan bahwa yang menyimpan ilmu pada diri manusia itu adalah anasir yang bersifat ruhaninya, bukan tubuh biologisnya.

Secara sederhana kita tahu bahwa dalam keseluruhan literatur islam –saya rasa- menyatakan bahwa saat manusia wafat, maka bagian ruhani manusia tersebut tidak hancur, melainkan pindah alam dan melanjutkan hidup.

Saat pindah alam dan melanjutkan hidup, kita juga tahu dalam banyak sekali literatur disebutkan bahwa substansi yang bersifat ruhani itulah yang membawa sepaket data berupa kumpulan pengetahuan, cara pandang hidup, rekam jejak perjalanan, pengalaman, dan bahkan identitasnya yang merupakan hasil dari pengalaman hidup dia. Tentu kita tidak mengatakan bahwa saat seseorang wafat maka hilanglah sekumpulan identitas, pengalaman,  pengetahuan orang tersebut, melainkan semua ilmu itu terikut pada tubuh yang ruhani untuk melanjutkan perjalanan di alam yang lain.

Saya kutip Naquib Al Attas dalam tulisannya “The Concept Of Education In Islam,” bahwa dalam begitu banyak referensi kita ketahui bahwa substansi ruhani tersebutlah yang merujuk pada makna “Manusia” yang sebenarnya.

Seperti saat kita mengatakan “saya” maka kita sadari atau tidak kita sadari yang kita maksudkan “saya” itu adalah diri kita yang ruhani itu[1].

Karena identitas “saya” itu kan terbangun dari kumpulan pengalaman hidup? Dan kumpulan pengalaman hidup itu sebenarnya dimengerti atau ditampung oleh substansi manusia yang ruhani itu tadi.

Oke….ini sudah mulai menjadi abstrak. Kita kembali pada kesimpelan analogi saja.

Banyak orang-orang arif, yang memberikan sebuah analogi, seolah-olah diri manusia yang ruhani itu adalah joki, dan tubuh biologis itu adalah seekor kuda. Maka saking terikatnya joki dan kuda, sang joki lama-lama mengira bahwa dirinya adalah kuda itu tadi. Padahal dirinya sejatinya adalah pengendali kuda.

Itu analogi memang tak terlalu relevan, tapi sudah cukup saya pikir untuk menjelaskan duduk perkara bahwa manusia banyak yang lupa dengan identitas sebenarnya. Barangkali, secara teori keilmuan kita sering mendengar hal ini, tetapi kita tidak pernah mengalami realitanya. Mungkin itulah kenapa saya perhatikan kok ya penjabaran tentang ini jarang disentuh oleh ilmuwan islam, seolah-olah ada dikotomi antara hal seperti ini (batiniyah) dengan konsep ilmu di dalam islam yang terlalu didominasi hal lahiriah. Saya baru sadar dikotomi semacam ini tak elok, setelah saya baca tulisan Naquib Al Attas itu tadi.

Kembali ke substansi ruhani manusia tadi. Dalam beberapa kali pengalaman dan pembacaan, saya mengamati ternyata kajian “diri sejati” manusia ini lebih banyak lengket pada kajian mistis.

Hampir bertaburan di mana-mana kita lihat kajian mengenai “diri sejati” manusia selalu dikaitkan dengan hal mistis. Kembaran ghaib. Dan berbagai istilah mistis lainnya.

Padahal, kajian tentang substansi ruhani yang ada di dalam diri manusia itu dibahas kok dalam kajian yang lebih “ilmiah” para arifin, atau dalam bahasanya Imam Ghazali disebut “lathifah Ruhiyah Rabbaniyah” (Sesuatu yang halus, ruhani), atau menurut imam Ghazali sepadan dengan isilah aql dan sepadan pula dengan istilah qalb. Jadi kajian ini adalah ilmiah, dan sudah sering dibahas ilmuwan islam lampau terutama yang akrab dengan kajian tasawuf, dan mestinya juga kembali diakrabi kita dimasa sekarang. Agar hal ini tak lagi menjadi domain kajian mistik semata.

Ternyata, barulah saya mengerti bahwa pengertian tentang sejatinya diri manusia itulah yang membedakan antara approach barat dan approach islam dalam hal pemahaman mengenai “ilmu,” dan kaitannya dengan konteks “pembelajaran.”

Sebelumnya, telah pernah kita bahas bahwa letak perbedaan antara approach barat dan islam dalam hal ilmu antara lain kurang lebih bahwa: Barat terlalu memandang manusia sebagai makhluk biologis semata, sedangkan islam memandang manusia sebagai makhluk ruhani yang terendam dalam tubuh biologis.

Implikasinya jelas, barat menganggap bahwa yang menampung ilmu adalah otak manusia, sedangkan islam menganggap yang menampung ilmu adalah substansi ruhani manusia (akan tetapi ruhani itu butuh ‘singgasana’ yaitu tubuh biologis, maka jika rusak sebagian tubuh biologis umpamanya otak, akan terganggulah transmisi kepahaman dari ruhani ke tubuh yang biologisnya).

Implikasi lebih lanjut lagi adalah, bahwa barat menganggap manusia hanyalah tubuh biologis, dan keilmuan adalah semata data yang tersimpan di memori otak manusia; maka barat mengakui hanya dua saja cara manusia memperoleh ilmu, yaitu lewat indera (biologis) dan lewat rasio atau penalaran. Sedangkan islam, karena sejak awal menganggap bahwa sejatinya diri manusia itu adalah substansi ruhaninya, dan menganggap bahwa ilmu itu adalah kepahaman yang “diturunkan” oleh Tuhan pada manusia, maka islam tak menganggap bahwa semata indera dan penalaran saja sebagai cara mendapatkan ilmu, tetapi juga bisa lewat intuisi atau insight, dan wahyu untuk para Nabi alias ilmu itu diturunkan langsung kepada substansi ruhaninya manusia.

Siapa Yang Mengajar?

Dalam pandangan Islam, yang mengajar manusia adalah Allah SWT. Pembelajarnya adalah manusia, dalam konteks manusia itu sebagai sebuah substansi ruhani itu tadi.

Dalam tradisi spiritualitas timur misalnya, ijinkan saya mengutip sekedar memperjelas saja dari khasanah di luar islam, bahwa para ahli meditasi misalnya sangat mengerti bahwa di dalam tubuh manusia ini ada substansi ruhani yang menjadi pengamat, observer. Pengamat ini terpisah dengan tubuh, dan terpisah dengan fikiran-fikiran. Buktinya, coba rekan-rekan mengamati ke dalam fikiran sendiri, apa yang sedang difikirkan sekarang? Bisa, bukan? Berarti ada yang mengamati fikiran. Yang mengamati fikiran itulah yang disebut substansi ruhani itu tadi.

Jadi kembali ke masalah tadi, dan kita tilik dari sudut islam kembali. Yang mengajar adalah Allah SWT. Pembelajarnya adalah substansi ruhani dalam tubuh manusia itu, yang oleh Imam Ghazali disebut Lathifah Rabbaniyah, oleh sebagian kalangan disebut diri yang sejati. Apa Objeknya atau medianya yang dipakai sebagai media pembelajaran?

Medianya adalah alam semesta ini.

Masih saya kutip dari tulisan Naquib Al Attas, alam semesta ini adalah seumpama sebuah kitab yang sangat besar. Dan segala hal yang ada di dalam kitab semesta ini, sejak dari horizon terjauh bahkan sampai diri kita sendiri, adalah seumpama kata-kata dalam sebuah buku.

Yang baca adala kita (substansi ruhani dalam tubuh manusia), yang dibaca, atau kata-katanya adalah apapun saja di semesta ini, dan makna-makna atau pengertian pengertian akan hakikat tentang sesuatu itu (ma’na) dimasukkan pada Allah kedalam Substansi Ruhaninya manusia.

Kalau misalnya dipandang dari konteks Tuhan sebagai sumbernya ilmu, maka makna-makna itu bisa “diturunkan” (husul) ke dalam substansi ruhaninya manusia. Atau dalam lain kata, substansi ruhani itu menangkap makna-makna yang diturunkan padanya.

Allah yang mengajar, Substansi ruhani manusialah yang pembelajar, dan medianya adalah alam raya ini. Inilah bedanya dengan approach barat yang sama sekali tak ada konteks ini.

Kalau konteksnya barat, itu seumpama mereka melihat kumpulan kata dan mereka mempelajari kata sebagai sebuah kata semata. Kata-kata tidak dianggap sebagai sekumpulan media yang mewakili makna tertentu.

Kalau islam, karena pemahaman tentang proses turunnya ilmu adalah dari Allah kepada Substansi Ruhaninya manusia, lewat media alam; maka islam tidak memandang alam semata sebagai sebuah benda. Atau kalau diibaratkan buku, tidak mungkin kan sebuah kumpulan kalimat hanya semata-mata kalimat doang? Pasti mewakili sebuah cerita yang hendak disampaikan sang pengarang.

Sama juga dengan itu, karena pembacaan terhadap alam dianggap adalah sebuah proses menanti turunnya kepahaman dari sang pemilik alam kepada Substansi Ruhaninya manusia, maka alam tidak lagi dikaji sebagai sebatas alam doang. Tetapi alam menjadi gerbang ma’rifah…gerbang pengenalan kepada “Pengarangnya.” Itulah bedanya.

Dan disini barulah saya paham, kenapa guru-guru sering sekali mengaitkan antara ilmu dan adab.

Ternyata, kalau kita mengerti bahwa keseluruhan proses pencarian ilmu itu adalah gerbang ma’rifah, dalam konteks membaca pesan “Pengarangnya,” dan Pengarang itu adalah Allah SWT sendiri, maka bagaimana mungkin sang pembelajar tak punya adab?

Sejatinya, kepada siapa dia meminta ilmu?

Kalau keseluruhan proses belajar kita adalah ejawantah dari perintah “IQRO BISMIRABBIKA” barulah paham kita kenapa para guru dulu selalu mengajarkan adab sebagai satu hal yang sepaket dengan ilmu. Karena, mau kita belajar apapun saja di alam ini, fisika, biologi, matematika, geografi, semuanya adalah seumpama kita membaca kata-kata dari sang Pencipta. Dan dengan membaca kata-kata itu kan kita (substansi ruhani dalam diri kita) menunggu makna-makna untuk diturunkan, bukan?

Tanpa adab, maka kita akan jatuh seperti kekeliruan barat. Melepaskan alam raya dari konteksnya sebagai media Tuhan mengajar kita.

Dan ini juga menjelaskan, kenapa orang semakin pintar semakin tidak menemukan Tuhan dalam kajian ilmiahnya? Karena tidak ada adab. Tak ada adab, maka Allah tak pahamkan dia hikmah. Makin belajar, harusnya makin beradab. Adab, adalah pemancing hikmah untuk mengalir kalaulah boleh kita umpamakan begitu.

Dan dalam konteks ilmu, pengetahuan, pembelajaran, sebagai gerbang ma’rifah inilah, maka ilmu yang diapit adab harus menjelma menjadi amal.

Pengetahuan dan ilmu yang kita miliki, kata Naquib Al Attas, adalah umpamanya “kepahaman.” Tapi kepahaman semata tak lengkap tanpa “ketundukan.”

Kepahaman adalah domainnya ilmu, ketundukan adalah domainnya amal.

Kepahaman semata, tanpa ketundukan, adalah arogansi. Berarti kita hanya menempatkan alam sebagai alam semata, ilmu sebagai ilmu semata, persis approach filosof dan barat.

Sedangkan ketundukan semata, tanpa kepahaman, adalah sikap ignorance. Pengabaian. Karena ketundukan yang penuh makna mestilah melahirkan kepahaman. Gerbang ma’rifah kan pengenalan?

Ternyata disinilah kelirunya kita. Sudahlah kita tidak akrab dengan sejatinya diri manusia, ditambah lagi kita membaca alam sebagai alam semata. Mungkin ini yang dikata orang dengan lupa konteks.

references

[1] Syed Muhammad Naquib Al Attas, The Concept Of Education In Islam, pages 3

YANG TAK BISA DISENTUH

IMG_20160131_193844Sejak tahun 2012, para ilmuwan telah berusaha begitu keras untuk menemukan apa yang mereka sebut “Partikel tuhan” atau “god particle.” Istilah ini sebenarnya tidak ada kaitannya dengan “Tuhan” dalam istilah agama-agama.

Pada awalnya seorang fisikawan bernama Leon lederman ingin memberi partikel ini sebuah nama yaitu “Goddamn partikel,” tetapi editor bukunya kemudian menolak istilah tersebut yang barangkali rada kasar, lalu kemudian dirubahlah istilahnya menjadi “God particle.”[1]

Jadi sebenarnya apakah god particle ini? Atau yang disebut juga dengan kata lain “higgs bosson” ini? Secara singkatnya saya kutip –dan tentu saya bukan fisikawan– higgs bosson ini ternyata partikel sub atomic. Barangkali secara ringkasnya adalah kalau jaman dulu kita hanya kenal atom tersusun dari inti atom dikelilingi elektron, maka sekarang ternyata penemuan berhasil memecah inti atom tersebut dan mendefinisikan lagi bagian kecil di dalamnya. Adalah istilahnya ‘quark’, dan ada juga yang istilahnya ‘higgs bosson’ yang dipercaya oleh para ilmuwan sebagai  sesuatu yang menyebabkan atom-atom memiliki massa. Ingin tahu lebih lanjut, sila tanya ilmuwan fisika saja ya.[2]

Apa yang menarik disini? Sebenarnya ada satu fakta menarik yang memang mungkin kebetulan (atau barangkali tak ada yang kebetulan?), fakta itu adalah bahwa peletak dasar teori higgs bosson ini adalah ateis, maka itu awalnya dia menolak nama ‘god particle’ itu. Fakta kedua adalah bahwa disadari atau tidak sebenarnya banyak para ilmuwan barat yang menjadi ateis karena keinginannya untuk membuktikan Tuhan secara empirik (terindra).

Karena saya sendiri bukan ilmuwan, saya menulis ini dalam sudut pandang yang begitu subjektif yaitu dari pandangan spiritualitas islam.

Perbedaan pendekatan antara approach islam dan barat dalam hal ilmu, adalah bahwa barat mengakui hanya dua saja sumber ilmu. Yang pertama adalah indera manusia, segala sesuatu yang terindera oleh manusia berarti sesuatu yang dapat dibuktikan secara empirik. Yang kedua, adalah akal manusia, maka segala sesuatu yang mempunyai premis yang bisa diterima oleh akal berarti logis, rasio.

Perbedaan ini menjadi sangat mendasar, karena approach islam mengakui bahwa ilmu bisa diperoleh tak –semata– melalui inderawi (empiris), dan tak semata melalui akal (rasio), tetapi juga melalui intuisi (insight) dan juga melalui wahyu.

Baik intuisi, maupun wahyu, keduanya sebenarnya adalah domain yang begitu halus. Dia berada pada ruang yang lebih dalam ketimbang ruang fikir atau rasio dan pengamatan inderawi.

Apa efeknya dari perbedaan itu? Efeknya adalah begitu jelas, bahwa bahkan seseorang yang kapasitas intelektualnya, pendakian ilmiahnya sudah sangat tinggi, seperti misal pencetus tentang higgs bosson itu tadi, ternyata masih juga menjadi seorang ateis. Dia tidak ‘menemukan’ tuhan sebagai sesuatu yang empiris dan terindera.

Disinilah letak bedanya. Seseorang yang berangkat dari penelitian semata, mengkaji bukti-bukti empiris, dia tidak akan menemukan Tuhan sampai kapanpun saja. Dan dia akan memuncaki perjalanan ilmiahnya sebagai seorang yang skeptis terhadap tuhan, jika dia menilai bahwa tuhan mestilah sesuatu yang empiris.

Inilah yang dimaksud Imam Ghozali dalam Al Munqidz Min Adh Dhalal, bahwa upaya meyakini sesuatu –terlebih tentang Tuhan- dengan hanya mengandalkan indera semata, akan missleading.

Contoh sederhana adalah seseorang melihat batang kayu yang menancap ke dalam sungai seolah-olah bengkok, dengan indera matanya, tetapi sebenarnya dengan akal kita mengetahui bahwa pembengkokan itu karena bias cahaya. Indera manusia terbatas.

Begitupun rasio manusia. Ghozali memberi contoh seseorang yang begitu meyakini realita yang dia alami saat mimpi, tetapi kemudian barulah dia sadar bahwa yang dia alami itu hanya imajinasi, saat dia terbangun dari tidur.

Dalam realitas yang lebih tinggi lagi, boleh jadi apa yang kita persepsi sekarang ini akan sama sekali tidak relevan.

Dan itulah kenapa islam meletakkan intuisi / ilham, dan wahyu (untuk para Nabi) sebagai salah satu sumber ilmu. Yang barangkali sebagiannya kelak akan terbuktikan dengan pengetahuan empiris seiring masa berjalan.

Keseluruhan panjang pencarian manusia, dan pergulatan manusia dengan ilmu, dalam konteksnya menurut islam, adalah untuk semakin ma’rifah. Pengenalan yang lebih dalam tentang Tuhan.

Akan tetapi, dalam kajian para arifin, dan juga kita mengetahui dari Qur’an bahwa Tuhan tiadalah serupa dan tiadalah seumpama dengan apapun saja. Yang berarti juga tuhan tak mungkin terindera. Saya kembali kutipkan dari Al-hikam:

“Sampaimu kepada Allah (wushul) adalah sampaimu kepada pengetahuan tentang-Nya. Karena mustahil Allah disentuh atau menyentuh sesuatu.”

Sebuah aforisma yang cantik dari Ibnu Athoillah, seorang ulama fikih mazhab maliki sekaligus seorang Arif. Yang maknanya dari ungkapan ini barulah saya mengerti belakangan ini setelah mengikuti kajian dari seorang arif lainnya.[3] Bahwa secara empiris, inderawi, Tuhan tiada akan bisa disentuh. Baik oleh kajian terhebat manusia secara saintifik, dan juga oleh pendakian spiritual tertinggi manusia sekalipun secara batin.

Jadi misalnya seribu tahun lagi, manusia bisa menemukan teknologi untuk membelah lagi higgs bosson dan juga quark, manusia tetap tak akan menemukan Tuhan secara inderawi, empirik. Sebab DIA bukanlah ‘sesuatu’.

Dan juga, manusia tak bisa “menyentuh” Tuhan secara indera batin. Misalnya manusia melihat DzatNya secara batin, tak akan bisa. Sedangkan Rasulullah SAW pada Mi’raj-Nya pun tak melihat Tuhan[4]. Tirakat terhebat seorang arif pun, tak akan melihat Tuhan dalam makna yang harfiah ya! Makna sebenarnya. Tak akan bisa.

Yang manusia bisa capai, adalah keyakinan yang semakin teguh. Maka penyaksian, musyahadah, yang dimaksud oleh para arifin itu bukanlah melihat tuhan dalam makna yang sesungguhnya, tetapi adalah makna kiasan yang maksudnya dijelaskan oleh Ibnu Athoillah dengan “sampaimu kepadaNya adalah sampaimu kepada ‘pengetahuan’ tentangNya. Karena mustahil DIA disentuh atau menyentuh sesuatu.”

Tuhan, dalam persepsi islam tak bisa kita sentuh secara makna denotatif. Maka semua orang yang mengkaji ilmu sebatas ingin mengindera sesuatu secara empiris, akan berakhir dengan sia-sia dalam melihat Tuhan dan most probably akan jadi ateis.

Disinilah bedanya, dimana islam juga mengakui insight dan wahyu sebagai salah satu sumber ilmu.

Karena insight –untuk orang beriman secara umum- adalah sebuah “hikmah” yang dengan itu manusia akan sampai pada keyakinan maknawi. Sebab yang terpandang oleh mereka bukanlah hal-hal yang empiris semata, tetapi semakin jelas melihat pengaturan Tuhan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka akan dipahamkan dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Paham akan agama, disebut juga mengerti hikmah. Dan hikmah, adalah cahaya yang diturunkan lewat insight.

Secara lahiriah, prosesnya boleh jadi diperoleh lewat sebab seseorang mengkaji tekstual buku-buku, atau mengkaji sesuatu secara objektif empiris seperti para ilmuwan, tetapi turunnya hikmah itu sendiri adalah domainnya insight.

Dan ‘hikmah’ tak akan turun pada orang yang tidak membaca kehidupan ini dalam konteks ingin memahami tentangNya. Orang yang semakin membaca, semakin menemukan kekerdilan dirinya sendiri, akan sangat boleh jadi terguyur hikmah itu.

Ilmuwan barat, hanya IQRO’ saja. sedangkan approach islam mengajarkan IQRO’ BISMIRABBIKA.

Keseluruhan perjalanan kehidupan dan pencarian ilmu, dalam konteks islam adalah berujung pada ma’rifah, pengenalan pada Tuhan.

Tetapi memang, flow semacam itu bisa dimengerti oleh orang-orang yang islam. Dan untuk orang di luar islam, memang muslimin sendiri mau tak mau harus mengerti bahasanya para ilmuwan agar bisa berbahasa sesuai dengan bahasa kaumnya. Barangkali itu sebabnya kita lihat di masa lampau kejayaan islam, dikotomi antara agama dan sains tak nampak. Karena sains sendiri dipakai sebagai alat untuk semakin ma’rifah.

Dan inilah PR besar kita sebagai muslim, menguasai dua keilmuan, lahir dan batinnya sekaligus. Mengobservasi ilmu lahir lewat kajian empiris dan rasio, dan juga masuk ke dalam kedalaman ilmu batin lewat kajiannya para arifin agar hikmah itu tadi bisa merasuk ke dalam jiwa kita.

References:

[1] http://tekno.tempo.co/read/news/2012/07/06/095415223/apa-dan-kenapa-partikel-tuhan

[2] http://edition.cnn.com/2011/12/13/world/europe/higgs-boson-q-and-a/

[3] H. Hussien Bin Abdul Latiff

[4] Aisyah r.a mengatakan “Siapa yang meyakini bahwa Muhammad pernah melihat Tuhannya, berarti dia telah membuat kedustaan yang besar atas nama Allah.” (HR. Bukhari 4855, Muslim no. 428, Turmudzi 3068, dan yang lainnya).

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan. (QS Al-An’am :103)