YANG TAK BISA DISENTUH

IMG_20160131_193844Sejak tahun 2012, para ilmuwan telah berusaha begitu keras untuk menemukan apa yang mereka sebut “Partikel tuhan” atau “god particle.” Istilah ini sebenarnya tidak ada kaitannya dengan “Tuhan” dalam istilah agama-agama.

Pada awalnya seorang fisikawan bernama Leon lederman ingin memberi partikel ini sebuah nama yaitu “Goddamn partikel,” tetapi editor bukunya kemudian menolak istilah tersebut yang barangkali rada kasar, lalu kemudian dirubahlah istilahnya menjadi “God particle.”[1]

Jadi sebenarnya apakah god particle ini? Atau yang disebut juga dengan kata lain “higgs bosson” ini? Secara singkatnya saya kutip –dan tentu saya bukan fisikawan– higgs bosson ini ternyata partikel sub atomic. Barangkali secara ringkasnya adalah kalau jaman dulu kita hanya kenal atom tersusun dari inti atom dikelilingi elektron, maka sekarang ternyata penemuan berhasil memecah inti atom tersebut dan mendefinisikan lagi bagian kecil di dalamnya. Adalah istilahnya ‘quark’, dan ada juga yang istilahnya ‘higgs bosson’ yang dipercaya oleh para ilmuwan sebagai  sesuatu yang menyebabkan atom-atom memiliki massa. Ingin tahu lebih lanjut, sila tanya ilmuwan fisika saja ya.[2]

Apa yang menarik disini? Sebenarnya ada satu fakta menarik yang memang mungkin kebetulan (atau barangkali tak ada yang kebetulan?), fakta itu adalah bahwa peletak dasar teori higgs bosson ini adalah ateis, maka itu awalnya dia menolak nama ‘god particle’ itu. Fakta kedua adalah bahwa disadari atau tidak sebenarnya banyak para ilmuwan barat yang menjadi ateis karena keinginannya untuk membuktikan Tuhan secara empirik (terindra).

Karena saya sendiri bukan ilmuwan, saya menulis ini dalam sudut pandang yang begitu subjektif yaitu dari pandangan spiritualitas islam.

Perbedaan pendekatan antara approach islam dan barat dalam hal ilmu, adalah bahwa barat mengakui hanya dua saja sumber ilmu. Yang pertama adalah indera manusia, segala sesuatu yang terindera oleh manusia berarti sesuatu yang dapat dibuktikan secara empirik. Yang kedua, adalah akal manusia, maka segala sesuatu yang mempunyai premis yang bisa diterima oleh akal berarti logis, rasio.

Perbedaan ini menjadi sangat mendasar, karena approach islam mengakui bahwa ilmu bisa diperoleh tak –semata– melalui inderawi (empiris), dan tak semata melalui akal (rasio), tetapi juga melalui intuisi (insight) dan juga melalui wahyu.

Baik intuisi, maupun wahyu, keduanya sebenarnya adalah domain yang begitu halus. Dia berada pada ruang yang lebih dalam ketimbang ruang fikir atau rasio dan pengamatan inderawi.

Apa efeknya dari perbedaan itu? Efeknya adalah begitu jelas, bahwa bahkan seseorang yang kapasitas intelektualnya, pendakian ilmiahnya sudah sangat tinggi, seperti misal pencetus tentang higgs bosson itu tadi, ternyata masih juga menjadi seorang ateis. Dia tidak ‘menemukan’ tuhan sebagai sesuatu yang empiris dan terindera.

Disinilah letak bedanya. Seseorang yang berangkat dari penelitian semata, mengkaji bukti-bukti empiris, dia tidak akan menemukan Tuhan sampai kapanpun saja. Dan dia akan memuncaki perjalanan ilmiahnya sebagai seorang yang skeptis terhadap tuhan, jika dia menilai bahwa tuhan mestilah sesuatu yang empiris.

Inilah yang dimaksud Imam Ghozali dalam Al Munqidz Min Adh Dhalal, bahwa upaya meyakini sesuatu –terlebih tentang Tuhan- dengan hanya mengandalkan indera semata, akan missleading.

Contoh sederhana adalah seseorang melihat batang kayu yang menancap ke dalam sungai seolah-olah bengkok, dengan indera matanya, tetapi sebenarnya dengan akal kita mengetahui bahwa pembengkokan itu karena bias cahaya. Indera manusia terbatas.

Begitupun rasio manusia. Ghozali memberi contoh seseorang yang begitu meyakini realita yang dia alami saat mimpi, tetapi kemudian barulah dia sadar bahwa yang dia alami itu hanya imajinasi, saat dia terbangun dari tidur.

Dalam realitas yang lebih tinggi lagi, boleh jadi apa yang kita persepsi sekarang ini akan sama sekali tidak relevan.

Dan itulah kenapa islam meletakkan intuisi / ilham, dan wahyu (untuk para Nabi) sebagai salah satu sumber ilmu. Yang barangkali sebagiannya kelak akan terbuktikan dengan pengetahuan empiris seiring masa berjalan.

Keseluruhan panjang pencarian manusia, dan pergulatan manusia dengan ilmu, dalam konteksnya menurut islam, adalah untuk semakin ma’rifah. Pengenalan yang lebih dalam tentang Tuhan.

Akan tetapi, dalam kajian para arifin, dan juga kita mengetahui dari Qur’an bahwa Tuhan tiadalah serupa dan tiadalah seumpama dengan apapun saja. Yang berarti juga tuhan tak mungkin terindera. Saya kembali kutipkan dari Al-hikam:

“Sampaimu kepada Allah (wushul) adalah sampaimu kepada pengetahuan tentang-Nya. Karena mustahil Allah disentuh atau menyentuh sesuatu.”

Sebuah aforisma yang cantik dari Ibnu Athoillah, seorang ulama fikih mazhab maliki sekaligus seorang Arif. Yang maknanya dari ungkapan ini barulah saya mengerti belakangan ini setelah mengikuti kajian dari seorang arif lainnya.[3] Bahwa secara empiris, inderawi, Tuhan tiada akan bisa disentuh. Baik oleh kajian terhebat manusia secara saintifik, dan juga oleh pendakian spiritual tertinggi manusia sekalipun secara batin.

Jadi misalnya seribu tahun lagi, manusia bisa menemukan teknologi untuk membelah lagi higgs bosson dan juga quark, manusia tetap tak akan menemukan Tuhan secara inderawi, empirik. Sebab DIA bukanlah ‘sesuatu’.

Dan juga, manusia tak bisa “menyentuh” Tuhan secara indera batin. Misalnya manusia melihat DzatNya secara batin, tak akan bisa. Sedangkan Rasulullah SAW pada Mi’raj-Nya pun tak melihat Tuhan[4]. Tirakat terhebat seorang arif pun, tak akan melihat Tuhan dalam makna yang harfiah ya! Makna sebenarnya. Tak akan bisa.

Yang manusia bisa capai, adalah keyakinan yang semakin teguh. Maka penyaksian, musyahadah, yang dimaksud oleh para arifin itu bukanlah melihat tuhan dalam makna yang sesungguhnya, tetapi adalah makna kiasan yang maksudnya dijelaskan oleh Ibnu Athoillah dengan “sampaimu kepadaNya adalah sampaimu kepada ‘pengetahuan’ tentangNya. Karena mustahil DIA disentuh atau menyentuh sesuatu.”

Tuhan, dalam persepsi islam tak bisa kita sentuh secara makna denotatif. Maka semua orang yang mengkaji ilmu sebatas ingin mengindera sesuatu secara empiris, akan berakhir dengan sia-sia dalam melihat Tuhan dan most probably akan jadi ateis.

Disinilah bedanya, dimana islam juga mengakui insight dan wahyu sebagai salah satu sumber ilmu.

Karena insight –untuk orang beriman secara umum- adalah sebuah “hikmah” yang dengan itu manusia akan sampai pada keyakinan maknawi. Sebab yang terpandang oleh mereka bukanlah hal-hal yang empiris semata, tetapi semakin jelas melihat pengaturan Tuhan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka akan dipahamkan dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Paham akan agama, disebut juga mengerti hikmah. Dan hikmah, adalah cahaya yang diturunkan lewat insight.

Secara lahiriah, prosesnya boleh jadi diperoleh lewat sebab seseorang mengkaji tekstual buku-buku, atau mengkaji sesuatu secara objektif empiris seperti para ilmuwan, tetapi turunnya hikmah itu sendiri adalah domainnya insight.

Dan ‘hikmah’ tak akan turun pada orang yang tidak membaca kehidupan ini dalam konteks ingin memahami tentangNya. Orang yang semakin membaca, semakin menemukan kekerdilan dirinya sendiri, akan sangat boleh jadi terguyur hikmah itu.

Ilmuwan barat, hanya IQRO’ saja. sedangkan approach islam mengajarkan IQRO’ BISMIRABBIKA.

Keseluruhan perjalanan kehidupan dan pencarian ilmu, dalam konteks islam adalah berujung pada ma’rifah, pengenalan pada Tuhan.

Tetapi memang, flow semacam itu bisa dimengerti oleh orang-orang yang islam. Dan untuk orang di luar islam, memang muslimin sendiri mau tak mau harus mengerti bahasanya para ilmuwan agar bisa berbahasa sesuai dengan bahasa kaumnya. Barangkali itu sebabnya kita lihat di masa lampau kejayaan islam, dikotomi antara agama dan sains tak nampak. Karena sains sendiri dipakai sebagai alat untuk semakin ma’rifah.

Dan inilah PR besar kita sebagai muslim, menguasai dua keilmuan, lahir dan batinnya sekaligus. Mengobservasi ilmu lahir lewat kajian empiris dan rasio, dan juga masuk ke dalam kedalaman ilmu batin lewat kajiannya para arifin agar hikmah itu tadi bisa merasuk ke dalam jiwa kita.

References:

[1] http://tekno.tempo.co/read/news/2012/07/06/095415223/apa-dan-kenapa-partikel-tuhan

[2] http://edition.cnn.com/2011/12/13/world/europe/higgs-boson-q-and-a/

[3] H. Hussien Bin Abdul Latiff

[4] Aisyah r.a mengatakan “Siapa yang meyakini bahwa Muhammad pernah melihat Tuhannya, berarti dia telah membuat kedustaan yang besar atas nama Allah.” (HR. Bukhari 4855, Muslim no. 428, Turmudzi 3068, dan yang lainnya).

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan. (QS Al-An’am :103)

8 thoughts on “YANG TAK BISA DISENTUH

  1. Ada tiga pendapat mengenai masalah melihat Tuhan ini yaitu:

    1. Allah tidak dapat dilihat baik di dunia maupun di akhirat
    Pendapat yang demikian ini terutama diwakili oleh satu golongan yang ada dalam golongan teologi (ilmu kalam) yaitu golongan mu’tazilah. Golongan ini menandaskan bahwa Tuhan tak akan pernah mungkin bisa dilihat. Ketidakbisaan Tuhan dilihat oleh manusia baik kelak di akhirat, apalagi di dunia. Golongan inimemberikan satu alasan bahwa selagi manusia itu masih dalam lingkaran keihsanan tidak akan pernah mungkin untuk melihat satu Dzat yang “Laisa kamislihi sya’un”. Golongan ini selalu beralasan pada firman Allah sendiri yang menyatakan sebagai berikut:
    “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu. Dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 103).
    Selalu, ayat tersebut dijadikan sebagai argumentasi untuk memperkuat pendapat bagi kaum mu’tazilah dan tanpa melihat lagi atau mengkaji dan membanding-bandingkan dengan ayat lain yang menerangkan kebalikannya. Mungkin masalah melihat Tuhan ini terlalu irasional bagi mereka yang sejak semula memang selalu mengandalkan akal, sehingga mereka pun selalu meyakini bahwa mustahil Allah itu dapat di lihat oleh manusia di akhirat kelak, apalagi di dunia. Ada satu sindiran yang disampaikan oleh Syekh Allamah Al-Qori menanggapi pendapat kaum mu’tazilah tersebut yaitu:
    “Orang mukmin melihat Tuhannya, tanpa bentuk tanpa umpama. Nikmat lain tiada arti, dibanding melihat Ilahi Rabbi, kaum mu’tazilah yang rugi seribu rugi.”

    2. Allah dapat dilihat di akhirat
    Satu pendapat yang menyatakan bahwa Allah bisa dilihat kelak di akhirat adalah berdasarkan ayat dan hadits-hadits sebagai berikut:
    “Wajah-wajah orang mukmin pada hari itu, mereka pada melihat Tuhannya.”
    Dalam sebuah hadits diterangkan:
    “Dari Abu Hurairah ra. Seungguhnya orang-orang (para sahabat) bertanya, “ya, Rasulullah, apakah kita bisa melihat Tuhan kita pada hari kiamat?” maka Rasulullah menjawab, “Sulitkah kamu melihat bulan di malam bulan purnama?”
    Para sahabat berkata, “Tidak, ya Rasulullah.” Rasul berkata lagi, “Apakah kamu sulit melihat matahari di waktu tanpa awan? Sesungguhnya kamu akan Melihat Tuhan seperti itu.”
    Dalam sebuah riwayat yang lain, yaitu dari Imam Turmudzi, dari Umar ra., bahwa Rasulullah bersabda:
    “Sesungguhnya kedudukan surga yang paling rendah adalah penghuni surga yang melihat surganya, istrinya, pembantunya dan pelaminannya dari jarak perjalanan seribu tahun. Dan penghuni surga yang paling tinggi di antara mereka adalah yang melihat Allah setiap pagi dan petang. Kemudian Rasulullah membaca, “Wajah-wajah di hari itu penuh keceriaan memandang Tuhannya.”

    3. Allah dapat dilihat di dunia dan di akhirat
    Pendapat yang mengatakan bahwa Allah dapat dilihat di dunia maupun di akhirat, pertama-tama menandaskan pada landasan ajaran Nabi tentang “ihsan”, yaitu:
    “Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya.”
    Sabda Nabi tentang teori ihsan ini bila dilacak dari segi ilmu bahasa akan mempunyai pengertian sebagai berikut: perkataan “KAANNA” sesungguhnya terdiri dari dua unsur kata, yaitu “KA” dan “ANNA”. Dalam teori bahasa “KA” disebut harfut tamtsil (huruf yang berfungsi untuk kata perumpamaan). Sedangkan kata “ANNA” adalah huruf yang berfungsi untuk menguatkan (lit ta’kid) yang dalam arti bahasa Indonesia diartikan dengan “sungguh/sesungguhnya”. Dengan demikian jika kata tersebut “KAANNA” digabung menjadi satu, maka akan berarti “ seperti sungguh-sungguh”. Perkataan Nabi “seperti sungguh-sungguh engkau melihat-Nya” bukan menunjukkan arti hanya “seakan-akan” yang tidak punya kemungkinan untuk melihat, tetapi sebaliknya perkataan itu malah menunjukkan kemungkinan bahwa Allah bisa dilihat. Hal yang senada pun ditegaskan sendiri oleh Allah dalam firman-Nya:
    “Sesungguhnya sembahyang itu memang berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, yaitu mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepa

  2. kepada Tuhannya.”
    Selain ajaran tentang ihsan tersebut, argumentasi lain yang dijadikan sebagai landasan pendapat bahwa Allah itu dapat dilihat baik di dunia maupun di akhirat adalah pada masalah kisah Nabi Musa yang menginginkan melihat Tuhannya, dimana kisah tersebut telah diabadikan dalam Al-Qur’an, yaitu pada surat Al-A’raf, ayat 143 sebagai berikut:
    “Dan ketika Musa datang untuk munajat pada waktu yang telah kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, maka berkatalah Musa, “Ya, Tuhanku, nampaklah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.” Tuhan berfirman, “kamu tidak akan dapat melihat-Ku tetapi lihatlah bukit itu, maka bila bukit itu tetap di tempatnya (seperti sedia kala) niscaya kamu dapat melihat-Ku. “tatkala Tuhan tajalli/nampak pada bukit itu, kejadian itu menjadikan bukit hancur dan Musa pun pingsan. Setelah Musa sadar kembali dia berkata, “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada-Mu dan aku orang yang pertama kali beriman (percaya).” (QS. al-A’raf: 143).
    Kisah tentang permintaan Nabi Musa untuk bisa melihat Tuhannya sebagaimana diabadikan dalam ayat tersebut, bila diteliti lebih mendalam sesungguhnya mempunyai kesamaan dengan kasus cerita yang dialami Nabi Ibrahim ketika memohon kepada Tuhannya untuk berkenan diperlihatkan bagaimana Allah menghidupkan seseorang yang sudah mati. Menanggapi permintaan Ibrahim tersebut Allah menjawab dengan satu perkataan, “Afalam tu’min (apakah kamu tidak percaya) ?” Seakan-akan Allah ragu dengan keimanan dan kepercayaan Ibrahim bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha segala-galanya, yang sanggup untuk menghidupkan kembali sesuatu yang telah mati. Apa jawaban Ibrahim pada waktu itu adalah “ Liyathma’inna qalbi”, yang seakan-akan Ibrahim berkata, “tidak Tuhanku. Bukannya aku tidak iman dan mempercayai-Mu. Tetapi permintaan ini aku lakukan supaya lebih mantap keimanan dan kepercayaanku kepada-Mu”, maka Allah pun mengabulkan permohonan Ibrahim.
    Permintaan Ibrahim sesungguhnya mempunyai kesamaan dengan permintaan Musa. Jika Ibrahim meminta kepada Allah agar Dia berkenan menunjukkan bagaimana cara menghidupkan orang mati, maka Musa meminta kepada Allah agar Dia sudi menampakkan diri supaya Musa dapat melihat-Nya. Memang, Allah tidak mengatakan “Afalam tu’min” kepada Musa sebagaimana yang pernah Dia firmankan kepada Nabi Ibrahim. Tetapi Allah malah menyuruh Musa untuk melihat sebuah bukit. Jika bukit tersebut masih tetap sedia kala, maka Musa akan dapat melihat kepada-Nya.
    Sama halnya dengan permintaan Ibrahim yang langsung dikabulkan oleh Allah, maka demikian pula pada permintaan Musa untuk bisa melihat Tuhannya. Dalam kisah Nabi Musa, memang dia tidak mengatakan “Liyathma’inna qalbi” yang artinya Musa memohon kepada Allah untuk dapat melihat Tuhannya itu supaya Musa lebih mantap keimanan dan kepercayaannya kepada Allah. Tetapi setelah kejadian itu, dimana Allah telah tajalli/menampakkan diri kepada Musa yang menjadikan bukit hancur dan Musa sendiri pingsan, maka setelah dia sadar dari pingsannya, baru dia mengatakan “Ana awwalulmu’minin”, saya orang pertama beriman. Beriman disini mempunyai arti percaya. Percaya kepada apa ? Yaitu percaya bahwa Allah itu benar-benar maujud dan Allah itu telah menampakkan diri-Nya dan mempercayai bahwa Allah bisa dilihat.
    Sehubungan dengan masalah kisah Nabi Musa sebagaimana di atas, ada beberapa pendapat yang mencoba untuk memberikan penafsiran tentang hal itu yang di antaranya adalah dari Qurthubi yang mengatakan :
    “Melihat Allah SWT. Di dunia adalah dapat diterima oleh akal, kalau sekiranya tidak bisa, maka tentulah permintaan Musa. as. Untuk bisa melihat Tuhan adalah hal yang mustahil. Tidak mungkin seorang Nabi tidak mengerti tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh bagi Allah. Bahkan (seandainya) Nabi musa tidak meminta hal ini , ini pun bisa terjadi dan bukan suatu hal yang mustahil.” (Al-Jami’ul Ahkamul Qur’an).
    Selanjutnya, Ibnu Qoyyim pun berkata:
    “Bahwa sesungguhnya permintaan Nabi Musa akan melihat Allah adalah menunjukkan

  3. menunjukkan atas kemungkinan. Karena sesungguhnya seorang yang berakal, apalagi seorang Nabi tidak akan meminta hal-hal yang mustahil.”
    Selain kedua pendapat tersebut, dalam kitab Kawasyiful Jilliyah disebutkan sebagai berikut:
    “Adapun firman Allah SWT.: ‘Tatkala Tuhan tajalli/tampak nyata pada gunung itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur.’ Maka apabila Allah bisa tajalli pada gunung, padahal gunung itu adalah benda padat, maka kenapa tak mungkin Allah tajalli pada Rasul-rasul-Nya dan Wali-wali-Nya?”
    Satu hal yang perlu ditandaskan di sini, sebelum satu argumentasi lagi disebutkan untuk mendukung pendapat yang menyatakan bahwa Allah dapat dilihat di dunia maupun di akhirat, adalah yang dimaksud dengan Allah dapat dilihat di sini adalah bukan dengan pandangan mata telanjang tetapi dengan pandangan mata batin. Sebagaimana keterangan pada bab-bab yang terdahulu, sesungguhnya pandangan mata indera sangatlah terbatas sehingga dengan demikian sudah tentu tak akan sanggup untuk bermusyahadah kepada Allah. Hanya mata batinlah yang mempunyai kesanggupan untuk bermusyahadah kepada-Nya. Dan hal ini adalah merupakan kesepakatan kebanyakan ulama tasawwuf. Umumnya mereka berpendapat tentang mata batin ini sebagaimana berikut:
    “Apabila ruhaniyah telah menguasai bashirah, maka mata indera akan berlawanan dengan mata batin, mata indera tidak akan dapat melihat, kecuali pengertian-pengertian yang hanya terlihat oleh mata batin.”
    Dari keterangan di atas, ketika mata indera tidak mempunyai kesanggupan untuk menjangkau pandangannya, maka mata batinlah yang nanti mempunyai kesanggupan untuk menembusnya. Berhubungan dengan masalah mata batin ini pula sebagian ulama tasawwuf pun ada yang mempunyai pendapat bahwa dalam mimpi pun ternyata seseorang bisa bermusyahadah dengan Allah. Mengenai hal ini terdapat satu keterangan dalam kitab Shirajut Thalibin sebagai berikut:
    “Adapun di dalam tidur, sepakat sebagian ulama sufi kemungkinan terjadi melihat Tuhan.”
    Terlepas dari permasalahan dalam mimpi melihat Tuhan atau tidak, yang jelas satu argumentasi lagi yang perlu dikemukakan untuk memperkuat pendapat bahwa Allah dapat dilihat baik di dunia maupun di akhirat adalah pada kisah Isra’ Mi’rajnya Nabi Muhammad SAW. Di mana pada saat Nabi Isra’ Mi’raj Nabi benar-benar melihat Allah, sehingga seorang sahabat, yaitu Hasan bin Ali berani bersumpah sewaktu menerangkan hal itu. Demikian pula dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Ibnu Abbas yang oleh Imam Nawawi diterangkan sebagai berikut:
    “Kesimpulannya, sesungguhnya rajih (alasan yang paling kuat) menurut sebagian besar ulama bahwa Rasulullah melihat Tuhannya dengan nyata/mata pada malam Isra’ Mi’raj berdasarkan hadits dari Ibnu Abbas dan lain-lain.”
    Dari beberapa argumentasi dan bukti-bukti baik dari Al-Qur’an maupun Hadits dan pendapat ulama yang dijadikan sebagai landasan atas pendapat yang terakhir ini, Ibnu Taimiyah, seorang yang dikenal sebagai pembaharu islam yang mengikuti aliran rasionalis yang juga banyak memberikan kritikan terhadap dunia tasawwuf memberikan satu kesimpulan dalam bentuk satu Qa’idah sebagai berikut:
    “Dan dari persoalan tentang melihat, sesungguhnya tiap-tiap yang maujud itu sah dilihat.”
    Berdasarkan satu Qa’idah tersebut dapat dijelaskan bahwa semua apa yang bersifat maujud (ada) sesungguhnya masih dapat dan sah untuk dilihat, sedangkan Allah sendiri adalah Wajibul Maujud (wajib ada), maka sudah barang tentu masih membuka kemungkinan untuk bisa dilihat. Wallahu a’lam!

  4. Pendapat mayoritas ulama ahlus, mereka sunah meyakini bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah ketika isra mi’raj. Syaikhul Islam mengatakan,

    كان النزاع بين الصحابة في أن محمدا صلى الله عليه وسلم هل رأى ربه ليلة المعراج؟ فكان ابن عباس رضي الله عنهما وأكثر علماء السنة يقولون: إن محمدا صلى الله عليه وسلم رأى ربه ليلة المعراج وكانت عائشة رضي الله عنها وطائفة معها تنكر ذلك

    Perselisihan yang terjadi di kalangan para sahabat adalah apakah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Tuhannya pada malam isra mi’raj? Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dan mayoritas ulama ahlus sunah berpendapat bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Tuhannya ketika isra mi’raj. Sementara Aisyah dan beberapa tokoh yang bersamanya, mengingkari aqidah ini. (Majmu’ Fatawa, 3/386).

    Beberapa riwayat yang mendukung pendapat ini,

    a. Keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, tentang firman Allah di surat An-Najm, yang artinya, ‘Sesungguhnya Muhammad telah melihat-nya pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha.’ Ibnu Abbas menjelaskan tentang ayat ini,

    رأى ربه فتدلى فكان قاب قوسين أو أدنى

    Beliau melihat Tuhannya dan mendekat. Sehingga jaraknya seperti dua busur atau lebih dekat. (HR. Turmudzi 3280 dan Al-Albani menilai, shahih sampai kepada Ibnu Abbas)

    b. Dari Qatadah, bahwa Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,

    رأى محمدٌ ربَّه

    “Nabi Muhammad melihat Tuhannya” (HR. Ibn Abi Ashim dalam As-Sunah no. 432 dan Ibnu Khuzaimah dalam Bab Tauhid no. 280. Namun riwayat ini dinilai lemah oleh sebagian ulama)

    c. Keterangan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau ditanya oleh Marwan bin Hakam, apakah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Tuhannya. Jawab beliau, ‘Ya, beliau telah melihatnya.’ (HR. Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunah no. 218, Al-Lalikai dalam Syarh Ushul I’tiqad, no. 908).

      • Kalimat aslinya :

        وُصُوْ لُكَ إِلَى اللهِ وُصُوْلُكَ إِلَى الْعِلْمِ بِهِ , وَ إِلَّا فَجَلَّ رَ بُّنَا أَنْ يَتَّصِلَ بِهِ شَيْءٌ أَوْ يَتَّصِلَ هُوَ بِشّيْءٍ .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s