MENGHIDUPKAN YANG SEJATI

openyourmind1Pada lapisan terluar, sifat-sifat yang nampak pada manusia adalah apa yang kita kenal dengan istilah personaliti-nya. Kepribadian. Kepribadian adalah lapisan terluar dari sifat yang terbaca pada manusia. Tetapi kepribadian sendiri belum lagi yang “sejati.” Karena, kepribadian yang muncul pada luarannya itu, bisa dirubah seiring norma dan keilmuan yang manusia mengerti.

Seumpama orang sumatera, yang tinggal pada daerah dengan mayoritas orang jawa, lambat laun maka orang sumatera akan menjadi sedikit jawa, pada personaliti yang tampak di luarnya. Misalnya pola komunikasinya yang biasanya lebih blak-blakan menjadi sedikit lebih banyak menggunakan isyarat, bahasa simbol.

Ini contoh yang sederhana sekali memang. Idenya adalah bahwa personaliti, atau kepribadian yang tampak luar, itu bisa dibentuk seiring dengan norma-norma dan pengetahuan atau ilmu yang dimiliki seseorang.

Misalnya seorang pendiam, karena tahu dirinya pendiam –sedangkan dia berada pada sebuah posisi di kantor yang mengharuskan dirinya berbicara banyak- maka dia bisa menyesuaikan diri dengan menampilkan persona yang banyak berbicara, sehingga orang akan mengenal dirinya sebagai seseorang yang aktif bicara. Padahal, aslinya dia pendiam.

Nah…. Kenyataan bahwa dia adalah seorang “pendiam” ini, adalah sebuah kenyataan yang lebih “dalam.” Kalau personaliti atau kepribadian adalah sesuatu yang tampak luar, maka pada sisi sifat yang lebih “dalam” itu kita mengenal istilah “karakter.”

Seperti teori gunung es. Yang tampak luar seringkali sedikit saja, tapi yang tersembunyi biasanya lebih besar.

Jadi, kembali lagi sebuah analogi.

Seorang kidal, karena norma yang dia terima terus menerus mengajarkan dia untuk menulis dengan tangan kanan maka dia akan bisa melatih dirinya untuk menulis dengan tangan kanan. Yang orang kebanyakan lihat di permukaan adalah sebuah kenyataan bahwa dia menulis dengan tangan kanan, ini namanya personaliti. Tetapi yang aslinya, dia itu seorang kidal, dan dia sebenarnya bagaimanapun lebih nyaman menulis dengan tangan kirinya, itulah karakter.

Manusia bisa memilih, untuk menampilkan (atau membiasakan) personaliti tertentu untuk tampil pada luarannya.

Pertanyaannya kemudian adalah, benarkah karakter seseorang adalah palung “kedalaman” dirinya yang sejati?

Kalau kita berbicara mengenai karakter, kita akan mengerti bahwa karakter seseorang adalah sebenarnya kumpulan memori sepanjang pengalaman hidupnya.

Bersamaan dengan kumpulan memori tersebutlah, diserap juga oleh manusia tersebut apa yang kita kenal dengan nilai-nilai, ma’na, perasaan, dan macam-macam yang terkait dengan pengalaman hidupnya. Kumpulan keseluruhan pengalaman hidup itulah, yang kemudian menjadi solid dan memunculkan persepsi yang selama ini kita kenal dengan diri kita. “aku”.

“aku” disini maksudnya adalah kumpulan karakter.

Kita sebagaimana yang kita kenal selama ini. Dengan seperangkat sifat-sifat, dengan sejumlah kecenderungan untuk suka sesuatu hal dan membenci sesuatu hal. Seandainya kita bernama budi, maka mulai dari konsep kita tentang kita adalah Budi, sukanya begini, tidak sukanya pada hal yang begitu, kita bersifat begini-begitu, semua itu adalah kumpulan karakter, pengetahuan yang lebih dalam dan acapkali tak semuanya muncul ke permukaan. Sesuatu yang kita kenal dengan “aku”.

Tetapi Sedikit-sedikit mengakrabi kajian para arifin barulah membuat saya mengerti bahwa tradisi islam ternyata menganggap bahwa hal tersebut (personalitikah, kumpulan karakterkah, egokah) sebenarnya belum lagi sisi terdalam manusia.

Bahwa pada lapis yang lebih dalam lagi ada substansi ruhani yang istilahnya Imam Ghozali menjadi faculty of knowledge. Fakultas pengetahuan. Yang mencerap segala pengalaman hidup, berikut segala ma’na-ma’na dan rasa yang dia temukan sepanjang perjalanan. Yang mana keseluruhan hal yang dicerap itulah yang kemudian memunculkan sesuatu yang bernama “aku” atau barangkali sebangun dengan makna “ego.”

Jadi konsep aku atau ego itu masih ada di lapis luar, di dalamnya lagi adalah substansi ruhani yang dimaksud Al Ghazali, dianya immateri, dan mengikut bahasa Imam Ghozali semakna dengan aql dan qalb pada konteks ruhaninya. Simpelnya kita katakan saja ruhani manusia.

Hal yang menarik ternyata, baru saya mengerti bahwa konsepsi yang diusung orang-orang arif saat mereka mengatakan bahwa harusnya manusia itu “lebur” dan melepas “keakuan” dirinya, menjadi bisa lebih mudah kita mengerti jika kita mengerti urut-urutan bagaimana persepsi “aku” atau ego itu terbentuk.

Kita adalah kumpulan persepsi, kata orang bijak.

Dan sejatinya, yang manusia lakukan saat mereka banyak mengingati Allah dan rajin bertafakur, adalah sebenarnya melepaskan satu persatu keterkaitan antara substansi ruhaninya dengan memori dan pengalaman hidupnya yang sudah terlanjut mengakar dan membentuk konsep dirinya, membentuk aku-nya itu.

Jika manusia hanya melakukan hal, amaliyah misalnya, yang lahiriah semata, berarti dia masih bermain pada lapis yang sangat eksternal. Luaran. Seperti lapis personaliti itu tadi. Sesuatu yang dipermukaan.

Tentu itupun sudah mantap juga, tetapi kita harus belajar untuk masuk lebih dalam lagi, tidak berhenti sebatas yang diluar, tetapi melampaui apa yang selama ini kita kenal dengan konsep diri kita sendiri. Lalu belajar berani untuk meniada.

Meniada disini berarti kita secara jujur melepaskan keterikatan antara substansi ruhani kita itu, yang tugasnya menjadi faculty of knowledge kata Imam Ghozali, yang menjadi pengamat, observer, dengan segala hal sepanjang perjalanan hidup kita.

Disinilah saya baru mengerti, setelah telat paham cukup lama, apa yang orang-orang arif maksudkan dengan menjadi penyaksi.

Bahwa kita melihat pengaturan Tuhan berlangsung dalam kehidupan ini, secara lebih detail dan jelas. Karena kita bahkan mengamati konsep mental kita sendiri. Barangkali inilah maksudnya mawas diri. diri yang sejati di dalam diri kita itu, substansi ruhani itu, bahkan mengamati konsep diri yang sudah terbentuk di lapis yang lebih luar itu. Dan secara jujur menilai mana yang benar mana yang keliru.

Barangkali contoh paling relevan adalah ketika salah seorang sahabat disanjung oleh Rasulullah sebagai penghuni syurga. Seorang sahabat lain yaitu Abdullah Ibnu Umar penasaran dan ingin melihat seperti apa kehebatan ibadah sahabat yang disanjung tersebut. Lalu disambangilah rumahnya dan minta izin menginap.

Setelah berapa hari mengingap, Abdullah Ibnu Umar pamit pulang dengan sedikit bingung, kenapa kok ibadahnya biasa saja. Sang sahabat kemudian mengatakan bahwa sama sekali tak ada yang istimewa pada ibadah beliau selain dari apa yang tampak. Tetapi ada satu hal yang secara dawam beliau lakukan, yaitu setiap kali sebelum tidur beliau selalu memaafkan semua orang, beliau tafakur dan lalu tidur tanpa kebencian. Dan hal tersebutlah rupanya yang mengangkat derajat beliau hingga disanjung Sang Nabi.

Hemat saya, itulah ibadah yang “dalam.”

Memperbanyak kuantaitas ibadah pada luarannya, itu satu hal yang harus ditiru. Akan tetapi menyadari sejatinya diri pada level yang lebih dalam, itu hal lain yang juga sangat penting. Agar ibadah yang sedikit bisa jadi punya arti yang lebih tajam.

Guru-guru kearifan pun banyak mengajarkan hal yang serupa. Masuk ke dalam kedalaman batin dan lalu melepaskan segala keterikatan kita dengan memori hidup, dengan perasaan, dengan hal-hal yang mengotori jiwa.

Saya rasa itulah makna tazkiyatun nafs. Bersih-bersih jiwa.

Sehingga substansi ruhani di dalam diri kita itu menjadi terbebas, dan memaknai hidup sebagai pagelaran cerita dari Nya semata. Penyaksi.

Easier said than done, memang. Tapi setidaknya kalau tahu flow-nya kita tinggal dawamkan saja sebisa-bisanya. Jangan berhenti di tataran luarnya semata, tetapi yang substansi ruhani di dalam diri kita ini yang harus hidup, kata para arifin.

yang sejati.

One thought on “MENGHIDUPKAN YANG SEJATI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s