YANG TAK ADA LAGI SESUDAHNYA SIFAT KEJAHILAN

bookworld_small1“Andaikata kamu mengenali Allah Ta’ala dengan sebenar-benar pengenalan, niscaya kamu akan diajarkan-Nya suatu ilmu yang tiada lagi sesudahnya sifat kejahilan”[1].

“Suatu ilmu yang tak ada lagi sesudahnya sifat kejahilan” ini, baru saya mengerti ternyata semakna dengan apa yang dicari-cari oleh Imam Ghozali.

Ceritanya, Imam Ghozali sempat mengalami keguncangan intelektual dan spiritual dalam satu fase hidupnya. Guncang disini maksudnya adalah beliau ragu apakah kepahaman dan keilmuan yang beliau miliki adalah sesuatu yang benar. Kita bisa temukan penjelasan ini pada autobiografi Ghazali dan pada beberapa pengantar para ahli dalam buku Tahafut al falasifah.

Kembali ke hal klasik ini. Darimana manusia memperoleh ilmu? Para filosof menyimpulkan bahwa dua hal inilah cara manusia memperoleh ilmu, hakikat mengenai sesuatu. Yang pertama dari inderanya, yang kedua dari penalaran akal atau rasionya.

Nah kembali ke cerita, sejak kecil, ternyata Imam Ghozali adalah seorang yang beliau katakan sendiri sebagai “pemberani,” pemberani dalam artian beliau memang betul-betul menyelami kajian orang-orang dengan berbagai latar belakang, sehingga beliau menjadi paham apa yang diperdebatkan dan seperti apa bahasa yang digunakan orang-orang tersebut. Beliau tidak menilai dengan tidak adil. Karena benar-benar beliau menguasi.

Menarik bahwa ada salah seorang ahli agama mengatakan kepada Imam Ghazali bahwa Tahafut al falasifah itu sendiri bahkan lebih rapih ketimbang buku para filosof. Jangan-jangan nanti malah menjadi pengantar filsafat alih-alih buku mendebat filsafat?

Tapi kita abaikan saja dulu hal itu, yang jelas Sang Imam berpendapat saat kerusakan sudah begitu menyebar, maka keraguan bahwa buku Tahafut akan malah menjadi pemantik filsafat tidak relevan. Justru beliau mengatakan tidak keseluruhan produk filsafat itu keliru, namun sebagiannya jelas perlu dibantah.

Jadi kembali lagi mengenai ilmu diperoleh melalui indera itu tadi. Imam Ghozali merenungi, bagaimana mungkin bisa manusia mempercayai indera, sedangkan indera seringkali tertipu. Bayangan kayu seolah bengkok di dalam air, padahal rasio (akal) membantahnya dengan mengatakan bahwa hal tersebut adalah karena pembiasan optik. Kayunya sendiri tak pernah bengkok.

Jadi, tesisnya adalah ilmu yang diperoleh indera bisa jadi keliru dan dikoreksi oleh akal manusia (rasio).

Sekarang bisakah mendekati Tuhan lewat rasio dan penalaran akal seperti yang dilakukan para filosof? Filosof, murni mengandalkan penalaran akal.

Disinilah beliau menjadi gamang. Dan berfikir jangan-jangan, ada hal yang lebih tinggi dari akal atau rasio. Jika indera dikoreksi oleh rasio atau penalaran akal, jangan-jangan nanti akan ada yang bisa mengoreksi akal. Sebagaimana saat kita mimpi, akal mengira itu realita, saat kita terjaga maka kita baru sadar mimpi adalah ilusi.

Jangan-jangan, ada higher reality, kata sang Imam.

Jadi apa yang bisa dipercaya kalau begitu? Kalau indera tak bisa dipercaya, lalu penalaran rasio pun tak bisa, jadi apa yang valid?

Disitulah beliau menjadi bingung. Bahwa indera seringkali tertipu, dan rasio boleh jadi akan dikoreksi oleh “kesadaran yang lebih tinggi”.

Tapi beruntunglah, fase uzlah dan pendekatan diri kepada Sang Pencipta, yang beliau lakukan ternyata membuahkan hasil.

Beliau menjadi kukuh dan tak gamang lagi. Sebagaimana paragraf pertama di atas tadi, barangkali itulah yang disebut dengan ilmu yang yakin, sebuah ilmu yang tak ada lagi sesudah itu sifat kejahilan.

Dari sanalah beliau akhirnya mengerti bahwa memang ilmu bisa diperoleh melalui indera, misalnya penelitian deduktif, observasi alam, lalu membuat kesimpulan. Bisa juga ilmu diperoleh melalui penalaran rasio, lalu kemudian mencarinya pada bukti-bukti di alam raya. Tapi bisa juga ilmu diturunkan secara langsung ke dalam jiwa manusia, tanpa melalui proses kajian.

Yang terakhir itu, itulah yang membedakan antara approach filosof dan approach islam, bahwa islam mengakui ada realita yang lebih tinggi. Bahwa pada diri manusia ada substansi ruhani yang mencerap ilmu itu, yang mengetahui hakikat sesuatu itu. Prosesnya bisa melalui pembacaan alam, observasi, membaca teks, segala hal yang inderawi, atau perenungan lewat penalaran rasio. Tetapi juga bisa secara langsung ilmu dihunjamkan ke dalam jiwa manusia.

Yang dihunjamkan langsung ke dalam jiwa ini; pada approach barat tak ada, atau tak diakui.

Karena mereka memang menilai manusia sebagai makhluq biologis semata. Tak ada substansi ruhaninya. Sedangkan pembeda paling dasar adalah islam mengakui substansi ruhani manusia, dan mengakui bahwa substansi ruhani itulah faculty of knowledge yang mencerap ilmu. Yang mengerti hakikat sesuatu. Dan sejatinya yang mengajar adalah Allah SWT, mengajar manusia akan apa yang tak diketahuinya.

Hal ini tidak berarti kita meninggalkan kajian ilmiah dan berhenti observasi, tentu tidak. Hanya saja, kita harus menggeser paradigma dan mulai memahami bagaimana flow ilmu turun pada manusia. Gunanya apa, agar mengerti adab. Dengan beradab, tata krama batin, maka insight sudi mampir ke kita.

Jagad raya ini, menurut Naquib Al Attas dalam tulisannya “The Concept Of Education In Islam,” adalah seumpama buku terkembang. Dan yang membacanya adalah manusia. Pengarang buku -umpamanya- adalah Allah. Konsekuensinya manusia tidak boleh dong, untuk menganggap alam sebagai alam semata tanpa konteks bahwa Allah ingin bercerita lewat alam.

Karena menganggap alam sebagai semata alam doang, itu seumpama menganggap kata-kata dalam sebuah buku sebagai kumpulan huruf saja, tanpa memahami bahwa kata-kata adalah simbol yang mewakili keseluruhan cerita yang disampaikan pengarang.

Kebijakan orang tua dulu mengatakan bahwa alam raya terkembang ini adalah kitab basah. Ayat Kauniyah.

Dalam konteks seperti itulah, saya baru mengerti maksudnya Ghozali dan maksudnya Naquib Al Attas, dan banyak pesan disampaikan para arifin bahwa yang mengajar itu Allah, dan yang mencerap ilmu adalah substansi ruhani manusia, sedangkan metodanya boleh jadi via teks, via observasi, via penalaran, ataupun ujug-ujug langsung paham, alias insight.

Yang manapun metodanya, ternyata kuncinya adalah adab. itu bedanya kita dan approach barat.

Bahwa adab yang baik mestilah timbul jika kita menempatkan konteks diri kita sebagai pencari ilmu, karena pencari ilmu berarti adalah kita menunggu makna-makna untuk Allah turunkan pada kita. Dan seringkali makna-makna yang dalam itu, kata Al Ghozali tidak dibangun diatas rangkaian pernyataan (tekstual atau observasi) melainkan atas cahaya pengenalan (ma’rifah).

Tapi flownya yang dialami beliau kurang lebih begini:

  • Pertama dianugerahi kemampuan memperoleh dalil yang menunjang
  • Kedua diantarkan menuju kelompok yang benar dibawah petunjukNya

Jadi jika kita “merendah” dan sudah mulai mengakui bahwa keseluruhan proses pembacaan dan pembelajaran kita di dalam hidup ini adalah sebenarnya seperti membaca kitab besar dari Allah SWT, sangat boleh jadi kita akan dihantarkan menuju pengenalan yang lebih dalam.

Barangkali tak langsung insight-insight hikmah, melainkan kok ya kebetulan ketemu terus dengan dalil dan bahasan-bahasan yang serupa berulang-ulang. Kok ya kebetulan bertemu dengan sekian banyak orang-orang arif yang menjelaskan kebingungan-kebingungan kita.

Jika hal itu terjadi, maka yakinlah kita bahwa rupanya tak ada yang kebetulan. Saat kita semakin yakin bahwa semuanya dalam pengaturanNya itulah, kita menjadi sadar “kerendahan,” saat sadar itulah saat dimana insight bisa datang dengan cepat dan menjawab pertanyaan kita tentang hidup.

Sebagaimana penalaran rasio bisa mengoreksi kelemahan inderawi dalam menangkap realita, sebegitu juga insight yang jernih bisa membimbing akal supaya tahu kemana penalaran harus dibawa.

references:

[1] Sayid Ahmad Rifai, Benteng Ahli Hakikat, 33 (1994).

Naquib Al Attas, The Concept Of Education In Islam

Al Ghazali, Tahafut Al Falasifah

Al Ghazali, Al Munqidz Min Adh Dhalal

gambar ilustrasi dipinjam dari sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s