MENGAJI KITAB TELES

8112542204_4851276c35Saya terdiam, saat saya menemukan sebuah penjelasan bahwa satu-satunya yang Rasulullah diperintahkan untuk meminta tambahan atasnya, adalah ilmu. Rasulullah tidak pernah diperintahkan untuk meminta lebih atas sesuatu, selain daripada meminta lebih atas ilmu.[1]

“Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. [Thâhâ/20:114]

Dalam konteks Rasulullah, wahyu bahkan diturunkan terus menerus kepada beliau jelang kewafatannya dan banyak malah yang diturunkan menjelang kewafatan beliau itu.[2]

Pengertian seperti ini, mengoreksi keraguan saya sendiri. Karena saat saya membaca, dan saat mencoba memahami sesuatu, seringkali saya bertanya apakah berguna hal yang saya baca ini, sedangkan kedekatan pada Allah adalah sesuatu yang tidak berada pada laman tekstual buku-buku. Kedekatan pada Allah dan ma’rifah adalah pada domainnya tirakat dan peribadatan. Jadi bergunakah ilmu-ilmu ini?

Ternyata, saya keliru. Karena saya selama ini memisahkan antara ilmu, dan perjalanan menuju Tuhan. Baru saya mengerti bahwa ilmu, atau kepahaman, bahkan observasi kita terhadap apapun saja di belantara alam ini, sebenarnya adalah gerbang ma’rifah.

Saya ingin kembali mengutip kekata orang-orang arif bahwa alam raya ini seperti kitab teles, kitab basah, yang penuh dengan kumpulan kata-kata (semua isi alam).

Sebagaimana logisnya kumpulan kata-kata pada sebuah buku, kita mengerti bahwa kata-kata mestilah merupakan sebuah simbol, mewakili makna-makna yang hendak disampaikan pengarangnya.

Sedangkan kita membaca buku Harry Potter saja kita tahu, bahwa kata-kata dalam buku Harry Potter adalah mesti mewakili makna-makna yang hendak disampaikan oleh JK Rowling, apatah lagi kita dalam kaitannya belajar mengkaji alam?

Mungkinkah alam dan segala hal yang terkandung di dalamnya, dan segala hukum-hukum yang berlaku di dalamnya, hanya merupakan sebuah wujud semata? Alam sebagai alam semata? Alam sekedar sebagai sebuah eksistensi, tanpa ada konteks bahwa alam mewakili cerita yang ingin disampaikan oleh Tuhan?

Tak mungkin, bukan?….alam raya dalam konteksnya sebagai ayat kauniyah, akan terus bisa dibaca sepanjang hidup manusia. Dan alam, dalam metafornya sebagai kata-kata, pastilah membawa makna pengajaran dari Tuhan.

Orang-orang barat, semua mengkaji alam dan menuntut ilmu, tetapi bedanya adalah mereka tidak memiliki konteks itu. Tak ada dalam konsep mereka bahwa alam adalah mewakili cerita yang ingin disampaikan Tuhan. Sedangkan islam sejak awal meletakkan konsep itu.

Maka barulah saya mengerti. Kalau sekedar untuk “hidup” semata, saya bisa bekerja yang memang money oriented saja. Kenapa harus susah-susah belajar? Tetapi akhirnya saya mengerti, belajar bukan semata untuk hidup. Belajar adalah menunaikan fungsi kita sebagai manusia.

Disinilah semuanya kemudian menjadi masuk akal bagi saya. Kenapa ilmuwan dulu menguasai keilmuan agama dan sains? Kenapa bisa ya?

Karena sejak awal mereka tidak mengenal dikotomi itu. Maka ada Ibnu Sina, ada Al khawarizm, ada Ibnu Rusyd, Imam Ghazali. Semua adalah nama-nama besar yang mumpuni pada keilmuan sains, dan tajam pengenalannya pada Tuhan.

Karena jika kita mengerti konsep itu, bahwa persinggungan kita dengan kajian fisika, biologi, kimia, matematika, ternyata adalah persinggungan kita dengan kumpulan “kata-kata” di dalam kitab semestanya Tuhan, lalu dimananya dari keseluruhan sains itu yang bisa kita cerabuti sisi agamanya?

Tak bisa….tak pernah akan bisa.

Maka semakin mengerti matematika, semakin-makin akan ma’rifah.

Semakin paham biologi semakin-makin akan ma’rifah.

Semakin mengerti fisika semakin-makin akan ma’rifah.

Jika keseluruhan perjalanan mengkaji yang dilakukan manusia adalah perjalanan meminta tambahan ilmu dan kepahaman dari Tuhan –seperti yang Rasulullah lakukan-, berarti keseluruhan jenak hidup kita adalah pembelajaran oleh Tuhan untuk manusia. Atau dalam lain kata, setiap detik hidup sebenarnya kita ini menunggu-nunggu makna-makna dan hikmah dari Tuhan untuk disusupkan pada jiwa kita yang sedang membaca kehidupan ini.

Dia yang mengajari kita apa-apa yang tak kita ketahui.

Jika DIA yang mengajari kita, adakah celah bagi kita untuk tidak beradab?

Jika “kata-kataNya” semata yang ada pada setiap lini fisika, biologi, matematika, geografi, ekonomi, dan segala yang bisa dirinci dari sains; adakah celah bagi kita untuk tidak beradab?

Ternyata pencarian ilmu mesti dilambari dengan adab, benarlah para ulama mengajarkan.

Baru saya mengerti, jika semakin belajar semakin tidak kita temukan selain dari kehebatan diri sendiri, maka belajar kita sudah tidak dalam konteks membaca kitab teles itu tadi. Sudah tidak punya adab. Yang tak punya adab, tak akan menemukanNya.

Seseorang boleh saja pintar, tapi tanpa adab…tanpa mengerti konteks bahwa segala yang dia pelajari adalah “kata-kata”nya Tuhan dalam kitab teles di semesta ini; maka dia tak akan “menemukan” Tuhan. Hanya akan ditemukannya bukti-bukti empiris dari keteraturan di alam semesta. Karena ilmu, ma’rifah, pengenalan, adalah hikmah, yang hanya turun pada orang-orang yang mengerti adab.

Pahamlah kita bahwa keseluruhan tatakrama dalam kajian tasawuf adalah soal adab-adab.

Al Hikam adalah kumpulan adab batin kepada Tuhan. Tulisan Syaikh Abdul Qadir Al jailani pun adab. Imam Ghozali dan ihya nya pun adab-adab. Bahkan pesan-pesan para arifin untuk “wong kang sholeh kumpulono” pun adab, hingga terdengar pesan begitu cantik bahwa jikapun tak kita dapat ilmunya, tapi setidaknya dapat adabnya.

Karena adab ternyata sentral sekali.

Ilmu, dalam kaitannya dengan ‘Allah yang mengajar’ adalah sekumpulan makna yang Allah tanamkan pada jiwa manusia.

Maka ciri pertama orang yang akan diberikan hikmah adalah dia menemukan dalam perjalanan pembelajaran dalam hidup, bahwa dirinya tak bisa apa-apa. Saat dia menemukan kekerdilan diri itulah, adab membaik. Saat adab membaik itu berarti Allah hendak menganugerahi hikmah.

Pahamlah kita kenapa wahyu pertama adalah IQRO, diapit BISMIRABBIKA. Bukan tentang yang lain. Karena keseluruhan fungsi hidup manusia adalah mengibadahiNya. Menurut Ibnu Abbas, mengibadahiNya itu maksudnya adalah ma’rifah padaNya.

Jika IQRO itu bicara mengenai observasi, analisa, pembacaan yang dipuncaki ILMU. Maka BISMIRABBIKA itu adalah hal yang membuat manusia mengerti konteks, menjadi punya adab.

references:

[1] Seperti dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya [Fathul-Baariy, 1/141].

[2] Tafsir Ibnu Katsir ketika membahas surat Thaha : 114

Gambar dipinjam dari link ini

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s