MENGAJI KITAB TELES (2)

8112542204_4851276c35Sebagaimana malaikat menguasai pelbagai kekuatan alam, jiwa manusiapun berkuasa mengatur semua anggota badan.[1] Begitu Imam Ghazali memberikan analogi dalam upaya beliau memberi penjelasan kepada kita mengenai substansi ruhani manusia dan kaitannya dengan gerak pada wujud fisiknya manusia.

Sebagaimana masyhur kita tahu ada malaikat yang mengatur hujan, dalam literatur islam. Begitu juga sebenarnya pergerakan wujud fisik manusia (analog dengan wujud fisik benda, dalam hal ini hujan) sebenarnya disetir oleh gerak substansi yang ruhani di dalam tubuh manusia. Yang ruhani yang menyetir gerak pada eksistensi yang fisikal di luar.

Saat manusia bergerak, sebenarnya kehendak di “dalam” lah yang menggerakkan tubuh fisik manusia. Jadi, Substansi Ruhani manusia yang di dalam-lah yang dalam tanda kutip menggerakkan eksistensi manusia yang di luar.

Hal ini sangat sangat sangat sangat penting sekali untuk menjadi pembeda antara approach barat dalam memaknai hidup, dan approach islam dalam memaknai hidup.

Sudah jauh-jauh hari Imam Ghazali menerangkan kepada kita, bahwa substansi ruhani manusialah yang menggerakkan wujud fisik manusia, sementara barat tidak memperhitungkan mengenai substansi ruhani manusia itu tadi. Bagi barat, semua di alam ini murni wujud kebendaan fisikal semata.

Sekarang saya mengerti betapa jelas dan gamblang implikasi hal itu di dalam hidup. Berikut satu contohnya.

Seumpama ada seseorang marah kepada kita, lalu orang tersebut karena saking marahnya lalu dia melempar sebuah gelas kaca kepada kita. Gelas tersebut mengenai kepala kita dan kita berdarah.

Lalu sekarang cobalah kita menganalisa kejadian itu semata dari analisa empirik:

Kepala kita berdarah, kita teliti apa penyebabnya….ternyata disebabkan ada gelas kaca menghantam kita.

Kita teliti lagi secara empirik apa yang menyebabkan gelas kaca itu menghantam kepala kita? Ternyata gelas kaca itu berpindah dari posisinya di meja sebrang lalu melayang ke kepala kita.

Apa sebab gelas melayang? Ternyata ada tangan seseorang yang mengangkatnya dan melempar gelas itu.

Mulai dari gelasnya, hingga tangannya yang kita teliti, semua buktinya empiris, terindera. Jadi apa kesimpulan empirisnya? Kita berdarah tersebab seseorang melempar kita dengan gelas kaca.

Betulkah itu? Betul….tapi kurang dalam dan kurang tajam. Dan ini gagal menangkap makna sebenarnya.

Karena bukti empiris semata akan gagal mengetahui bahwa sebenarnya ini bukan perkara seseorang melempar gelas, tetapi ini perkara ada sebentuk abstraksi kemarahan di dalam jiwa orang yang di seberang, yang menyebabkan seseorang tersebut melempar gelas kaca kepada kita.

Bukti empiris semata, bahkan gagal menemukan abstraksi kemarahan di dalam jiwa seseorang.

Bisakah kita lihat bentuk “kemarahan” itu? Tak bisa, bukan?

Adakah bentuknya suasana jiwa berupa “marah” itu? Tak ada bukan?

Adakah empiris, kemarahan itu? Tidak, bukan?

Semua kajian empiris hanya akan berhenti sebatas eksistensi fisikal dan gagal menangkap hikmah.

Jika kita mengatakan bahwa “kemarahan” itu kan bisa “dilihat”, kalau orang melempar gelas, berarti itu tandanya dia marah. Berarti marah bisa dilihat dalam tanda kutip.

Maka kita katakan, “yak…..persis,” Memang begitulah seharusnya, dan itulah approach islam memandang kehidupan. Bahwa tidak mungkin yang fisikal ini hanya sebatas eksistensi fisikal saja tanpa makna.

Eksistensi bukan semata eksistensi, tapi menyimpan makna yang batin. Bahwa wujud yang tampak fisik, adalah imbas dari gerak yang ruhani.

Itu baru perkara manusia saja.

Sekarang kita sudah mengerti betapa tidak tepat konteks orang-orang yang hanya menilai perkara ‘orang kepalanya berdarah’ sebatas perkara sesuatu yang empirik, yaitu perkara ada ‘orang lain melempar gelas padanya’; dan lalu melupakan substansi ruhaninya bahwa ada sebuah “kemarahan” di dalam jiwa orang tersebut.

Tak bisa kita lepaskan sebuah wujud eksistensi, dari makna ruhani yang hendak disampaikan. Maka melempar gelas, hanyalah sebuah imbas dari jiwa yang merangkum makna marah. Ruhani, menggerakkan wujud fisik.

Sebagaimana “kata-kata di dalam sebuah buku”, pastilah menyampaikan makna dari sang pengarang, sebagaimana juga ruhani manusia menggerakkan eksistensi di alam physical, seperti itulah juga kita memandang alam ini, tak bisa seperti approach barat semata yang mengatakan bahwa alam sekedar alam, tetapi kita mengerti seyakinnya bahwa alam menyampaikan makna.

Dan makna ini, pengertian tentang substansi yang ruhani ini, memang selama-lamanya tak akan empiris, ianya hanya terlihat pada sesiapa yang merendahkan hatinya, dan mengakui kelemahan diri, karena segala wujud fisikal di alam ini merangkum makna cerita dari Allah SWT. Hanya orang-orang yang menemukan kerendahan hatinya dan ada sikap bismirabbika dalam setiap iqro-nya yang diajarkan olehNYA hikmah.

Sekarang kita baru menyentuh satu sisi saja, yaitu anasir bernama “kemarahan.” Dan “kemarahan” itu sendiri, sudah abstrak. Sedangkan menurut islam, terutama jika kita baca kajian Imam Ghazali, kita akan mengerti bahwa baik itu “kemarahan,” dan atau rasa “sedih,” rasa “senang,” dan segala macam makna-makna batin lainnya yang dimengerti secara ilmu psikologi, itu belum lagi bagian terdalamnya ruhani. Itu masih pada lapis luarnya.

Lapis paling dalamnya, adalah apa yang Imam Ghazali sebut sebagai Lathifah Ruhiyah Rabbaniyah, Substansi Ruhani, yang halus, yang mengamati, yang mengerti segala hakikat, yang mencerap makna-makna, yang dalam konteksnya yang ruhani semakna dengan arti qalb dan aql.

Seperti apa aplikasi praktisnya?

Aplikasi praktisnya adalah jika kita mengerti hal ini, akan membuat kita menjadi awas dan tidak gebyah uyah menyatakan bahwa kecenderungan dan sebuah karakter yang kita miliki adalah by nature.

Karena, selain dari substansi ruhani yang terdalam itu, semua lapis luarnya (bahkan sampai sesuatu yang kita kenal dengan istilah “aku,” “ego,” dst) adalah kumpulan makna yang dicerap oleh sang substansi ruhani dan makna-makna itu dibawa sepanjang perjalanan hidupnya.

Lapis terluar yang dilihat orang banyak, adalah personaliti. Dibaliknya personaliti yang tampak, ada gunung es karakter. Gunung es karakter ini sebenarnya adalah kumpulan pengalaman hidup, makna-makna yang dicerap oleh substansi ruhani yang menjadi observer, sang pengamat, dan faculty of knowledge sepanjang hidupnya.

Maka saya sedih juga menyadari bahwa banyak yang keliru dengan mengira bahwa lapisan gunung es karakter mereka itulah sejatinya diri mereka. Misalnya saja seorang dengan kecenderungan maling, seorang dengan kecenderungan disorientasi seksual seperti yang sekarang sedang marak-maraknya itu; mereka mengira ini by nature…. ini sudah saya dari sononya, By nature lho….begitu anggapan mereka.

Padahal bukan by nature. Itu karena mereka belum berkesempatan untuk sampai pada relung terdalamnya. Itu adalah kekeliruan yang jamak pada kita karena mengira gunung es karakter dan ego kita, sebagai sejatinya diri kita.

Padahal, jika sampai pada relung terdalamnya lagi, dan mengalami realita bahwa sejatinya manusia itu adalah substansi ruhani yang paling dalam yang mengamati, maka mereka akan mengerti bahwa gunung es karakter di lapis luar itu, -sesuatu kekeliruan yang mereka kira  by nature itu-, rupanya hanya sekumpulan persepsi saja. Bukan sejatinya diri. Melainkan kumpulan persepsi yang sangat kuat, yang selama ini dicerap oleh jiwa mereka.

Dan disinilah saya baru paham maksud sabda sang Nabi untuk, “tanya hatimu,”[2] karena relung terdalam itu pastilah tidak mungkin bohong, karena substansi ruhaninya manusia selalu ikut amr (perintah)nya Allah SWT. Tidak seperti lapis luarnya yaitu ego yang penuh dengan kumpulan catatan hidup yang bisa benar bisa salah.

Wallahualam bishawab

references:

[1] Imam Al Ghazali, Kimia Kebahagiaan, Penerbit Zaman, hal 18 (dengan merujuk pada edisi bahasa Arab, Kîmiyâ’ al-Sa‘âdah, terbitan Dar al-Fikr, t,t.)

[2] Dari Wabishah bin ma’bad rahiyallahu ‘anhu beliau berkata: Aku datang kepada Rasulullah SAW, kemudian beliau berkata: “Kamu datang untuk bertanya tentang kebaikan?” Aku menjawab: benar. Kemudian beliau bersabda: “Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan adalah apa saja yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan.” (HR. Ahmad (4/227-228)

Referensi Kajian arifin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s