MENGAJI KITAB TELES (3)

8112542204_4851276c35

Apakah yang dilihat dan diketahui oleh seekor semut yang berjalan melintasi lembaran kertas pada sebuah buku? Boleh jadi, semut tersebut hanya akan mengetahui bahwa goresan-goresan tinta pada kata-kata yang ada di buku tersebut adalah disebabkan oleh goresan pena. Pena-lah penyebab sejatinya. Begitu Imam Ghazali memberikan ilustrasi dalam Kimiya al-sa’adah (The Alchemy of Happiness).

Namun, pada pandangan yang lebih luas lagi, boleh jadi seekor semut yang lain akan melihat lebih komprehensif dan mengetahui bahwa semua goresan tinta pada lembaran kertas di buku tersebut adalah karena gerakan tangan yang memegang pena. Tangan-lah penggerak sejatinya.

Begitulah Imam Ghazali memberikan gambaran tentang perbedaan tingkat persepsi manusia. Seseorang bisa melihat sesuatu yang terindera, kemudian seseorang itu menyimpulkan bahwa gejala-gejala sebab-akibat yang tampak secara inderawi itulah penyebab utama sebuah kejadian.

Hal ini terjadi karena manusia tidak kenal dengan “dirinya” sendiri, tidak menyadari bahwa dirinya memiliki substansi yang ruhani, selain dari tubuh jasad kasar yang selama ini bisa diindera.

Ketidak-sadaran pada realita bahwa manusia memiliki substansi yang ruhani inilah, yang mengakibatkan seseorang hanya menilai sesuatu sebagai yang tampak mata semata.

Seumpama seseorang menulis pada kertas, orang tersebut mengira bahwa aktivitas menulis itu sebatas aktivitas syaraf-syaraf pada otot menggerakkan tendon-tendon dan akhirnya terwujudlah sebuah tulisan pada kertas. Padahal, sebelum terjadi aktivitas kelistrikan pada otak dan menyebar ke seluruh syaraf tubuh dan menjelma gerakan fisik; telah muncul lebih dahulu sebuah ‘kehendak’ di dalam ruhani manusia.

Jadi bukan karena impuls listrik di syaraf otak yang menyebabkan seseorang menggerakkan tangannya menulis, melainkan karena sebuah “kehendak” pada diri ruhaninyalah yang berimbas pada alam kenyataan sehingga keseluruhan otot tubuh bergerak mewujudkan sebuah tulisan.

Dari tubuh yang ruhani, menjelma ke alam yang tampak mata.

Dari kehendak di dalam ruhani manusia, menjelma menjadi tulisan-tulisan.

Dari yang ruhani dan tak bisa diukur dulu, baru ke alam kenyataan yang inderawi dan terukur.

Logika ini, kata beliau, sering tak dipahami. Sehingga persepsi manusia begitu terbatas pada dunia gejala, pada sebab-akibat yang empiris, yang inderawi. Dan mengira dunia gejala yang inderawi itulah penyebab sejatinya.

Persis seperti seekor semut yang mengira bahwa tinta itu karena pena bergerak. Jika seekor semut itu bisa melihat lebih luas lagi, barulah dia mengerti bahwa gerak pena itu karena gerak tangan. Dan jika logika ini diteruskan, maka sang semut barangkali akan melihat juga bahwa gerak tangan adalah sejatinya gerak dari sang manusia itu. Tetapi, baik pena, tangan, ataupun manusia, sesungguhnya masihlah “dunia-gejala” alias sebab-akibat yang inderawi. Dibalik itu, ada sesuatu yang tak nampak, yaitu sebuah kehendak yang bersifat ruhani yang menjadi penggerak apapun yang muncul di alam eksistensi ini. Di alam empiris.

Tetapi, pengetahuan mengenai ruhani manusia ini, diberikan tidaklah terlalu banyak kepada manusia. Dianya diberikan sebatas pengertian yang menjadi salah satu modal dasar bagi manusia untuk melihat pengaturan Tuhan di alam, lewat kepahaman tentang dirinya sendiri.

Ada sebuah tulisan menarik dari Prof. Naquib Al Attas, dalam The Nature Of Man and The Psychology Of The Human Soul, Dimana beliau menjelaskan bahwa pengertian dari ayat ke 31 surat Al Baqarah dimana Allah mengajarkan nama-nama kepada Adam a.s, maksudnya ialah bahwa nama-nama (asma’) adalah mewakili ilmu tentang segala sesuatu.

Jadi, memang manusialah yang diberi “pengajaran” oleh Allah akan ilmu-ilmu tentang segala sesuatu. Manusia yang dipahamkan asma’. Pengertian yang sebenarnya dari segala sesuatu. Tetapi, ilmu-ilmu tersebut (asma) tidaklah mencakup detail pengetahuan tentang Dzat-Nya.

Dzat-Nya sendiri, akan selalu rahasia di atas rahasia. Yang manusia bisa kenali adalah lapis yang sangat luar, yaitu lapisan-lapisan sifat-sifat. Atau gejala yang empirik, yang inderawi.

Contohnya seperti tadi itu, ada seseorang menulis, maka inderawi manusia hanya akan bisa “menyentuh” dunia gejala terluar saja.

Manusia bisa mengindera tinta-nya, penanya, tangannya, dan orang yang menulis itu, tetapi wujud dari sebuah “kehendak” di dalam ruhani manusianya itu tidak akan pernah bisa “disentuh” secara inderawi oleh manusia.

Maka itulah orang sering menjadi khilaf dengan mengira bahwa tulisan hanya semata urusan pena, atau urusan tangan, atau urusan manusia. Padahal, tulisan adalah urusan sebuah “kehendak yang ruhani” menjelma ke alam kenyataan.

Kata Imam Ghazali, “Manusia kesulitan mempersepsi bentuk-bentuk di luar batasan kualitas atau kuantitas, sebagaimana manusia kesulitan mempersepsi ‘bentuk’ perasaannya sendiri, seperti marah, sakit, senang, cinta.”[1]

Itulah kenapa, manusia tidak akan pernah “menyentuh” secara inderawi, atau mengerti dengan sesungguhnya, tentang hakikat sesuatu selain dari asma-asma (ilmu) tentang gejala yang tampak indera, atau empiris.

Sebagaimana, ruh itu urusan Tuhan, dan kita tak diberi pengetahuan mengenai itu kecuali sedikit sekali. Dan sebagaimana kata Naquib Al Attas tadi, pengetahuan yang diberikan kepada manusia, adalah asma’ (al-Ilm) tentang segala sesuatu kecuali hal yang paling dalam yaitu Dzat-Nya yang tak akan pernah masuk dalam persepsi inderawi manusia.

Sekarang kita mengerti, bahwa kita tidak akan pernah menyentuh secara inderawi realitas sebenarnya mengenai Tuhan. Karena itu islam membatasi dengan jelas bahwa DIA tiada umpama, tidak ada yang menyerupainya, diluar jangkauan inderawi manusia, tidak mirip apa-apa.

Akan tetapi, sedikit pengetahuan mengenai diri kita (diri ruhani kita) akan bisa membantu kita mengenali seperti apa pengaturan Tuhan di alam ini. Begitu kata Al Ghazali.

Sebagaimana sebuah kehendak di dalam ruhani kita menjelma menjadi gerak di alam kenyataan, begitu pula analognya pengaturan Tuhan.

Maka seseorang yang tidak mengenal dirinya sendiri, tidak pernah mengetahui bahwa ada substansi yang ruhani di dalam dirinya, kesimpulan yang dia dapatkan pada keseluruhan jenak hidupnya hanya sebatas gejala empiris terus.

Ada orang yang sakit, maka diteliti ternyata karena dehidrasi misalnya, atau karena faktor cuaca, atau karena stress tertekan pekerjaan, dst….. itukan semua gejala empiris, gejala yang terindera, bukan?

Tetapi gejala yang terindera itu sejatinya bukan sebab utama. Sebagaimana sebuah kehendak dalam diri kita menggerakkan semua perkakas inderawi yang kita punya hingga menjelma tulisan yang kita tulis, begitu juga cara kita memaknai kehidupan dalam kaitannya dengan Tuhan, kata beliau.

Maka dalam cara pandang seperti itu, kita akan bisa “melihat” bahwa Yang Maha Kuasa berkehendak mengurusi kesejahteraan orang itu, dan kemudian Allah memerintah hamba-hambanya yaitu semua elemen semesta agar menimbulkan situasi tertentu dalam diri orang itu, sehingga orang itu sakit. Dan dalam sakitnya, orang itu menjadi berpaling dari dunia kepada Tuhannya.

Pandangan seperti itu, akan mudah dimengerti jika kita memahami-sebatas apa yang Allah izinkan kita mengerti- bahwa dalam diri kita ada substansi yang ruhani. yang berkehendak. Maka tidak sulit bagi kita untuk mengerti analoginya bahwa alam pun bergerak sesuai dengan apa yang telah DIA tuliskan. Kita tidak akan memandang sebatas gejala-gejala yang tampak mata semata.

Pengertian-pengertian itu, adalah berupa kepahaman yang semakin lama semakin dalam. Sehingga kita mengerti bahwa sebab sejati dari segala sesuatu di dunia ini bukanlah gejala-gejala yang inderawi, melainkan pengaturannya Allah lewat Lauh Mahfudznya.

Tetapi, tetap kita tidak akan mampu menyentuh Diri-NYA secara inderawi. Karena bagaimanakah sesuatu yang terukur bisa menyentuh sesuatu yang tidak terukur?

Cukuplah kita pungkasi dengan petuah Ibnu Athoillah ini:

“Sampaimu kepada Allah (wushul) adalah sampaimu kepada pengetahuan tentang-Nya. Karena mustahil Allah disentuh atau menyentuh sesuatu.”

references:

[1] Al-Ghazali, Kimiya Al Sa-adah, Penerbit Zaman, hal.32

Naquib Al Attas, The Nature Of Man And Psychology Of Human Soul.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s