BERPUAS PADA APA YANG TERPANDANG

observingJadi waktu itu saya sedang makan siang di warung pinggir jalan dekat kantor, dan seorang bapak-bapak tua ada di  sebelah saya bernyanyi tembang-tembang lawas dalam bahasa Inggris yang fasih. Waktu itu saya memperhatikan dengan seksama, dan terlintaslah di benak saya pertanyaan kenapa sang Bapak tua ini menyanyi-nyanyi tembang lawas dalam bahasa inggris yang fasih? lalu mukanya begitu gembira?

Lama hingga makanan yang saya pesan habis saya santap, saya tak jua menemukan jawaban pertanyaan paragraf pertama itu.  Malah, kembali terlintas di benak saya kaitan antara kejadian sederhana ini dengan suatu tema yang sudah sejak lama ingin saya tuliskan. Tema itu adalah mengenai “keterpandangan” dan mengenai adab pada setiap “level yang terpandang.”

MENGENAI KETERPANDANGAN

Bagi saya, dan kebanyakan orang yang awam, yang “terpandang” pada mereka adalah semata hal-hal yang tampak pada lahiriah. Pandangan saya mentok sebatas pada fakta bahwa ada seorang Bapak-bapak tua yang datang dan menyanyi dengan gembira lagu-lagu inggris dengan fasih.

Hal itu tentu benar, tetapi kurang “dalam.”

Barulah saya mengerti bahwa pandangan yang terhenti pada aspek empiris inderawi semata; adalah pandangan yang dangkal, setelah saya mengakrabi kajian para arifin, dimana mereka menjabarkan bahwa ada tingkatan di atasnya lagi dimana seseorang selalu “terpandang” bahwa sejatinya segala sesuatu telah dituliskan oleh Allah.

Orang dengan kapasitas seperti itu, akan melihat bahwa seorang bapak-bapak tua menyanyi pada sebuah warung makan adalah cerminan dari pengaturan Allah. Karena bisa saja selisih berapa menit keluar dari kantor belum tentu kita ketemu dengan bapak-bapak itu, boleh jadi ketemu orang lain yang mungkin tidak unik dan biasa-biasa saja. Dan variabel yang “mewujudkan” sebuah kejadian dimana kita bisa berpapasan dengan sang bapak unik itu; buanyaknya bukan main. Jam istirahat, ketepatan waktu kita keluar dari kantor, mobil yang seliweran di zebra cross, sampai keinginan detak hati untuk makan di warung itu atau warung sebelahnya.

Singkat kata, jika orang biasa melihat bapak tua semata, orang yang lebih arif melihat pengaturan Tuhan di sebaliknya.

Yang lebih menarik lagi adalah, barulah saya mengerti bahwa rupanya di atasnya lagi masih ada orang-orang yang terpandang lebih dari sekedar bahwa segala sesuatu adalah mengikut plot yang sudah ditulis, tetapi mereka melihat lebih jauh bahwa segala plot yang sudah tertulis itu tidak mungkin mubazir dan tak berguna, pastilah mengandung hikmah dan makna. Seperti setiap susunan kata di dalam buku, menceritakan sebuah makna dari sang pengarang.

Maka, jika orang biasa melihat bapak tua semata, orang yang lebih arif lagi melihat pengaturan Tuhan di sebaliknya, sedangkan yang lebih arif lagi melihat makna-makna dari sifat JAMAL-Nya (keindahan) pada sang bapak tua.

Boleh jadi, orang yang memiliki pandangan yang lebih dalam tersebut akan menjadi trenyuh dan haru karena melihat cerminan sifat JAMALIYAH (keindahan) Nya pada potongan episode sederhana itu.

Bahwa Allah SWT kalau menanamkan rasa bahagia pada seseorang, itu bisa dengan cara yang sangat sederhana, cukup dengan menyanyi-nyanyi random pada sebuah siang yang terik sudah membuat seseorang sangat happy. Itulah cerminan sifat JAMAL-NYA yang “terpandang” oleh orang yang arif. Potongan fragmen sederhana, tetapi merangkum makna dan realitas dari JAMAL-Nya.

Tapi ternyata, masih ada yang di atasnya lagi. Yaitu orang yang tidak lagi terpandang aspek fisikal inderawi semata, tidak lagi terpandang pengaturan Tuhan semata, tidak lagi terpandang makna-makna sifat-sifat dibalik skenario kejadian semata, melainkan dia terpandang bahwa segalanya ini adalah sejatinya tiada. Dan mereka mengerti bahwa sebenarnya Tuhan bukanlah sebuah entitas yang asing dan berada di nun jauh disana, melainkan kita semua berada di dalam keMaha BesaranNya.

Barangkali inilah yang dimaksud oleh seorang Arif[1] dengan “kita memandang DIA sebagai DIA saja.” Tak lagi terpandang pada hal-hal yang empirik semata, bahkan melintasi keterpandangan tentang pengaturan-pengaturanNya, dan bahkan melintasi makna-makna sifat-sifat.

Tentu konsep itu terlampau tinggi. Tapi, saya rasa yang paling pokok sebenarnya adalah mengerti pada level mana kita berada, dan mengerti bahwa ada adab yang relevan pada setiap levelnya.[2]

Dan setiap level keterpandangan itu tidak bisa “digawe-gawe” kata orang jawa. Tak bisa dipaksakan.

Kalau kita mengambil pelajaran dari fase turunnya Al Qur’an. Bahwa Al Qur’an diturunkan secara bertahap dan menyesuaikan konteks kejadian waktu itu. Qur’an tidak turun sepaket langsung komplit 30 juz melainkan satu demi satu selama 23 tahun turun pada jenaknya sendiri dan memberikan pelajaran hidup pada fragmen asbabun nuzulnya sendiri. Berarti begitu jugalah hikmah diturunkan pada manusia.

Tergopoh-gopoh menginginkan diri kita untuk mencapai tataran kepahaman setingkat para arifin, aulia dan orang-orang shalih lainnya adalah semacam mengundang agar keseluruhan takdir hidup datang menggelontori kita pada satu waktu. Dan tak mungkin kita siap untuk itu.

Maka benarlah kata Syaikh Abdul Qadir Jailani dalam Futuh Al Ghaib, bahwa dalam urusan keterpandangan ini, yang penting adalah “berpuas diri dengan apa yang ada padamu, hingga Allah sendiri meninggikan taraf kamu.”

references:

[1] Ust Hussien dalam Syarahan Rahasia Akbar (3)

[2] Sekedar mengutip Ibnu Athoillah dalam Al-Hikam. Salah satu contoh tatakrama batin yang beliau tuliskan adalah bahwa seseorang pada maqom asbab hendak ber-tajrid adalah nafsu yang halus dan tersembunyi, dan seorang tajrid hendak turun ke maqom asbab adalah degradasi dari kedudukan yang tinggi.

Gambar ilustrasi saya pinjam dari link ini

2 thoughts on “BERPUAS PADA APA YANG TERPANDANG

  1. Saya sepaham dgn ulasan ini,,,sy yakin msh ada level yang lbh tinggi lg dr ini,,bila msh ada insyaallah sy msh diberikan kepahaman dgn level yang lbh tinggi itu nanti,,terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s