IBARAT SUATU PESANGGRAHAN

gubukRumi mengatakan manusia ibarat suatu pesanggrahan, dan Imam Ghazali mengatakan bahwa hati manusia ibarat sumur yang dialiri terus menerus oleh sungai-sungai kecil, apa maksudnya?

Maksud mereka baru saya mengerti belakangan ini. Bahwa sudah begitu banyak arifin yang menjelaskan bahwa apapun yang bergejolak pada “dunia empiris terluar,” yaitu keadaan yang terjadi pada alam yang kita saksikan secara zahir ini, adalah imbas dari keadaan yang terjadi pada “dunia yang batin.”

Saya ambil contoh, kembali dari kutipan Al-Hikam, kurang lebih Ibnu Athaillah mengatakan lewat aforisma Al-Hikam beliau, bahwa “Adanya berbagai-bagai amaliah (bentuk luaran lelaku) adalah imbas dari adanya berbagai-bagai ahwal (suasana ruhani).

Lalu Imam Ghazali dalam bukunya “Kimia Kebahagiaan” juga mengatakan -yang saya bahasakan ulang secara bebas- bahwa manusia dapat mengambil pelajaran dari dirinya sendiri, dimana sebuah kehendak dalam ruang batin-nya sendiri bisa menjelma menjadi sebuah gerakan fisik pada dunia yang luar.

Jadi sebab-akibat sesungguhnya adalah bukan pada dunia gejala empiris terluar, tetapi pada dunia yang batin yang tidak empiris itu.

Jadi ada kesimpulan yang begitu jelas, yang disintesakan para arifin. “dunia empiris yang kita saksikan ini, bergerak karena imbas dari sebuah dunia batin di sebaliknya. Sesuatu yang tidak bisa disentuh secara empiris, tetapi begitu dekat dan nyata dan bisa dirasakan lewat pengalaman ruhani.”

Kenyataan inilah yang belakangan baru menyadarkan saya, tentang mengapa para arifin memandang terbalik pada fenomena hidup.

Saya ambilkan contoh cerita klasik ketika seseorang datang kepada Rabi’ah Al Adawiyah, orang ini bertanya yang kurang lebih begini, “Saya ini pendosa, apakah kalau saya bertaubat maka Allah akan mengampuni saya?”

Jawaban Rabi’ah Al Adawiyah sangat dalam. Biasanya orang akan menjawab normatif semisal : Allah maha pengampun. Allah maha penerima taubat, dst….yang tentu jawaban tersebut benar. Akan tetapi Rabi’ah memilih memberikan jawaban dari sudut pandang yang secara subjektif saya katakan sebangun dengan tema obrolan kita di atas. Tentang dunia yang batin menggerakkan dunia terluar yang empiris.

Apa kata Rabi’ah, “jika Allah ingin mengampuni engkau, pastilah engkau bertaubat.”

Rabi’ah paham, bahwa dunia gejala apapun saja yang nampak pada empiris “di luar” ini, adalah imbas dari apa yang terjadi pada dunia batinnya.

Tidak sebatas pada contoh klise semisal seseorang sedih (dunia batin) maka secara empiris dari matanya akan mengeluarkan air, menangis (pada dunia terluar). Akan tetapi jauh melampaui itu.

Jika kehendak bertaubat muncul dan begitu kuat pada sang pemuda (dunia batin), maka pemuda tersebut pasti akan tergerak melakukan ibadah dan pertaubatan (pada dunia yang luar).

Sejatinya pertaubatan sang pemuda adalah imbas dari pengampunan Allah yang sudah terjadi pada dunia yang dalam (batin).

Itu sebab, orang awam dalam beribadah mereka menghitung-hitung amal ibadahnya, dan sibuk memuhasabah diri apakah amalan barusan itu riya atau ikhlas, apakah khusyuk seratus persen atau separuhnya, dan seterusnya. Tetapi, orang-orang yang arif mereka memahami secara kebalikannya, bahwa peribadatan yang kita lakukan, adalah sebentuk anugerah dari Allah. Bukan karena kuasa kita sendiri.

Karena mereka mengerti hal itu tadi: peribadatan (dunia luar) mestilah disetir oleh dunia yang batin, dunia yang dalam.

Dan kehendak beribadah; apatah itu didorong cinta, ataukah rasa fakir dan butuh atas pertolongan Tuhan; sama saja, dua-duanya adalah sesuatu yang bergolak pada dunia yang batin dan pada akhirnya luber ke dalam kenyataan di dunia terluar yang empiris.

Sama juga, dengan contoh satu lagi ini. Dalam urusan berdo’a, orang-orang awam dalam berdo’a dan misalnya do’anya terkabul mereka akan begitu bahagia dan merasakan bahwa do’anya makbul. Hasil dari peribadatannya. Tetapi orang-orang yang arif, mereka melihat kebalikannya. Saat hati mereka dipenuhi dengan keinginan yang bersih dan dalam, dan dengan keinginan itu mereka jadi “menemukan” Tuhan sebagai tempat bergantung dan memohon, maka mereka menjadi paham bahwa Tuhan sedang ingin memberi.

Kalau tidak salah, kalimat berikut ini dinisbatkan pada Umar Bin Khattab, kata beliau, “Aku tidak membawa hasrat pengabulan, tetapi yang aku bawa adalah hasrat berdo’a. Jika aku tergerak berdo’a, aku tahu pengabulan bersamanya.”

Lagi-lagi mereka memandang kebalikan dari orang awam. Bahkan hasrat terdalam pada diri manusiapun, sebenarnya adalah anugerah.

Jadi bukan perkara kita adalah seorang yang makbul do’anya. Tetapi, jika kita sudah benar-benar aware, atau mindfulness, alias waspodo, maka kita akan mengetahui bahwa pengabulan do’a itu adalah memang karena Allah ingin memberi. Tersebab, dunia batinnya, atau sebuah rasa keinginan butuh dan harap pada Allah itu sudah mengetuk-ngetuk terlebih dahulu, permisi ingin masuk ke dalam hati kita.

Dan saya baru menyadari khasanah yang begitu luas dan dalam dari islam, yaitu ilmu luar dan dalam, zahir dan batinnya sekaligus. Karena, ilmu yang luaran bisa dibaca lewat tekstual buku-buku, tetapi ilmu yang batinnya ini tidak akan bisa dimengerti kecuali mengalami sendiri realitanya.

Dan caranya adalah seperti kata Imam Ghazali, jika hati kita ibarat sebuah sumur, maka sumur itu adalah sebuah sumur yang dialiri oleh berbagai-bagai aliran sungai-sungai kecil. Sungai-sungai kecil itu ibarat panca indera kita. Yang membawa apapun dari luar masuk ke dalam hati dan mengotori hati itu.

Satu-satunya cara untuk benar-benar “masuk ke dalam” dan mengerti apa yang ada di kedalaman sumur itu, ialah kita harus menghentikan sementara input dari anak sungai yang mengaliri sumur. Agar kita bisa melihat kejernihan sumur dan mengamati apa yang ada di kedalaman dasar sumur itu.

Tentu itu semua adalah ibarat. Maksud beliau, selama ini kita sudah terlalu bergantung dan hidup dalam persepsi yang dibangun oleh indera yang mencecap segala yang empiris di luar. Maka dengan meninggalkan perhatian sejenak terhadap inputan panca indera, sebenarnya manusia akan bisa mengamati kedalaman relung batinnya sendiri. Sederhananya adalah dengan dzikrullah senantiasa. Terus menerus ingat Allah sampai tercapai kondisi mindfulness alias waspodo.

Dalam kondisi mindfulness alias waspodo inilah rupanya baru mengerti kita maksud Rasulullah SAW agar kita selalu berdo’a supaya diilhamkan kebaikan dan dijaga dari keburukan nafs alias jiwa kita sendiri.[1]

Karena dalam kondisi yang mindfulness alias waspodo-lah kita akan benar-benar bisa mengamati gejolak pada dunia batin kita yang dalam. Yang ternyata begitu berbagai-bagai. Dan gejolak pada dunia yang di dalam inilah yang pada akhirnya akan mengejawantah ke dunia empiris diluar.

Itulah kata Rumi: “Manusia ibarat suatu pesanggrahan. Setiap pagi selalu saja ada tamu baru yang datang: kegembiraan, kesedihan, ataupun keburukan.”

Do’a “Agar kita dijaga dari keburukan nafs kita sendiri” itu, saya rasa dalam Bahasanya Al-Ghazali diumpamakan bahwa Hati harusnya menjadi “raja” di dalam kerajaan kecil kita sendiri. Kerajaan kecil itu ialah diri kita sendiri. Dunia mikro, alias jagad alit. Yang menampung berbagai-bagai potensi dan anasir yang harus ditundukkan untuk mengikuti titah sang raja, bukan sebaliknya.

Jika sang Hati tidak lagi menjadi tuan dalam jagad alitnya sendiri, maka itulah barangkali kita sudah disetir oleh keburukan internal kita sendiri. Dan memang sungguh tidak mudah sama sekali. Peperangan yang tak pernah berhenti, dalam keheningan diri kita sendiri.

~~~

References:

[1] Imran bin Al Hushain RA berkata, “Nabi SAW mengajarkan bapaknya Al Hushain dua kalimat untuk berdoa dengannya, ‘Allahumma alhimni rusydi wa aidzni min syarri nafsi’”. (Ya Allah, ilhamkan kepadaku hidayahku dan lindungilah dari kejahatan diriku). (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan”).
Ya Allah, jauhkan kejahatan pada diriku dan tetapkan bagiku segala kebenaran untuk urusanku”. (HR. Imam Ahmad)

“Ya Allah, ampunilah aku akan dosaku, kesalahanku, dan perbuatanku yang disengaja. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon petunjuk-Mu, agar segala kebenaran ada pada urusanku, dan aku mohon perlindungan-Mu dari segala kejahatan yang ada pada diriku”. (HR. Imam Ahmad).

Gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

2 thoughts on “IBARAT SUATU PESANGGRAHAN

  1. Semoga kedepan ada pos pembahasan tentang kenapa ada surga dan neraka, yang dilihat dr perspektif pada level ketiadaan…terima kasih debu terbang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s