DATANG DENGAN NOL

empty-heartSeumpama seseorang mengetuk pintu rumah tetangganya untuk meminjam uang.  Tetangganya ini adalah orang yang begitu kaya. Sedang dia sendiri adalah orang yang secara strata adalah jauh sekali dibawah tetangganya itu. Secara sosial kemasyarakatan juga tetangganya ini orang yang aktif dan banyak membantu masyarakat. Jadi, kalau mau dibandingkan maka dirinya sama sekali bukan bandingan terhadap sang tetangga.

Dalam pada itu, dalam kondisi seperti itu, maka sang peminjam uang tidak ada pilihan sama sekali untuk “meninggi.”

Meninggi disini maksud saya adalah bahwa sang peminjam uang tidak punya kans sama sekali untuk menunjukkan bahwa dirinya pernah punya budi baik pada sang tetangga; maka sang tetangga haruslah meminjaminya uang karena rasa tidak enak hati. Tidak ada… Sama sekali tak ada, karena sang tetangga adalah orang baik, orang kaya, aktif bermasyarakat, tak punya hutang budi padanya, dan dalam segala segi melebihi dirinya.

Satu-satunya “pilihan” yang harus dilakukan sang peminjam uang, adalah dia datang kepada tetangga yang kaya tersebut dengan sebuah sikap dan kesadaran penuh bahwa dia hanya mengharapkan kebaikan sang tetangga. Seratus persen hanya kebaikan sang tetanggalah yang memutuskan apakah dia bakal dapat pinjaman uang atau tidak.

Sikap yang menyadari bahwa kita sama sekali tidak punya sesuatu yang diandalkan, ndak punya bargaining, inilah yang saya baru sadari hampir semakna dengan pesan orang-orang arif untuk menuju Allah; mengandalkan Allah.

Sikap “mengandalkan Allah,” itu adalah sikap di dalam batin. Cara pandang. Mentalitas yang merasakan ketidak mampuan diri, cela diri, dan ketiadaan bargaining.

Kembali pada contoh tadi. Seorang yang sudah merasakan dirinya begitu rendah dan tak punya bargaining; secara lahiriah tetap melakukan usaha. Dia memakai baju yang terbaik yang dia punya, dia mengetuk pintu, dia kulonuwun, dia berjalan sopan, dst. Tetapi, dia menyadari betul bahwa cara dia memakai baju, cara dia mengetuk pintu, cara dia memberi salam, cara dia berjalan; kesemuanya itu tidak ada sangkut pautnya dengan apakah dia nanti akan mendapat pinjaman atau tidak.

Begitu juga analoginya dengan beramal. Barulah saya mengerti, bahwa bukan sholat kita, bukan puasa kita, bukan sedekah dan segala amal luar kita yang dinilai, tetapi apa yang bersemayam di dalam hati.

Yang bersemayam di dalam hati kita itulah, cara pandang. Paradigma kita dalam menghadap kepada Tuhan.

Maka, kita sekarang menjadi jelas. Ada orang yang sibuk beramal, tetapi dia mengandalkan amalnya, dia sibuk terpesona dengan jumlah bilangan ibadahnya. Atau ada seorang pendosa, yang dia enggan menuju Allah karena merasa dosanya menjadi penghalangnya menuju Tuhan.

Kesemua hal itu seumpama seorang peminjam uang, datang ke rumah seorang kaya dan mengagumi cara dia mengetuk pintu, asyik membayangkan bahwa dengan baju terbaik yang dia kenakan maka dia akan dikagumi sang pemilik rumah lalu pemilik rumah memberikan pinjaman uang. Atau sebaliknya, karena dia merasa bahwa cara mengetuk pintu, cara kulonuwun, baju yang dipakai-lah penentu apakah dia bakal dapat uang atau tidak; maka dia patah arang duluan karena merasa dirinya jelek.

Kedua-dua contoh itu, adalah contoh bahwa secara batin orang tersebut sudah salah fokus. Sudah merasa punya bargain. Ciri-ciri merasa punya bargain adalah sibuk menghitung kesempurnaan amal, atau enggan menuju Allah karena merasa tak akan sampai dengan amal yang banyak cela dan dosa.

Berbeda dengan orang yang menyadari betul bahwa dia sangat butuh pinjaman uang, dan hanya kebaikan sang empunya rumah lah yang akan memberikannya pinjaman. Maka dia mengetuk pintu dengan sungguh-sungguh, dia benar-benar meminta, dia datang lagi, datang lagi, datang lagi, benar-benar minta tolong. Secara lahiriah dia juga bergerak, dia juga kulonuwun, dia juga ketuk pintu, dia juga pakai baju rapih, tetapi secara batin dia sama sekali tidak hirau dengan segala bentukan luar pergerakannya, karena dia mengerti bahwa kebaikan sang empunya rumah-lah yang dia ingin sentuh.

Disinilah saya baru mengerti bahwa kita harus “Datang Dengan Nol.” Kepada Allah.

Datang dengan nol berarti kita tidak menyangkutkan persandaran hati kita kepada bentukan luar amal ibadah kita. Datang dengan nol adalah bentuk menyerah karna kepahaman bahwa sebenarnya kita tidak punya bargaining.

Akan tetapi, datang dengan nol tidaklah kita kelirukan dengan “tidak beramal.” Justru, semakin seseorang merasa tidak punya bargaining, maka semakin dia selalu datang dan selalu datang karena terus menerus meminta. Imbasnya adalah, amaliyah luarnya akan meningkat dengan sendirinya.

Inilah yang sedikit pelik, yang diberitahukan orang-orang arif sepanjang zaman, bahwa sejatinya perjalanan menuju Allah itu adalah melampaui bentukan ibadah di luarnya. Melampaui pahala, bahkan melampaui dosa.

Taubat, berarti “kembali.”

“Kembali” disini berarti dia melampaui dosanya. Jika dia masih terpentok kepada bentukan amaliyah luarnya, dan masih sibuk meneliti apakah sempurna atau tidak sempurna secara zahirnya, maka sebenarnya dia masih belum “kembali.” Karena pandangannya masih mentok pada apa yang tampak zahir. Masih merasa punya bargain.

Akan tetapi, jika mentalitas yang merasa kerdil dan tak punya daya tawar itu merasuk dalam. Maka secara zahir akan terkeluar dengan sendirinya, menjadi bentukan-bentukan amal. Kalau dia pendosa, dia akan kembali kepada Allah dan meminta diselamatkan dari dosanya, kalau dia ahli ibadah dia akan kembali pada Allah dengan hilangnya fokus dirinya dari amaliyah luarnya. Gak direken olehnya lagi. Yang terkeluar tidak lagi dia lihat-lihat, karena sibuk dengan apa yang terpandang di dalam.

~~~

gambar ilustrasi saya pinjam dari link ini

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s