MENAJAMKAN GERAK (2)

imagesManusia, mengenali lingkungan sekitarnya lewat indera mereka. Sebuah dunia yang kita kenal ini, barangkali dalam mata seeokor kucing akan sama sekali berbeda. Pun begitu juga lewat mata seekor serangga, yang dalam satu mata memiliki beratus pasang mata (mata majemuk). Bagi serangga, dunia yang kita diami ini tidak seperti apa yang manusia bayangkan.

Begitulah, kita tinggal dalam sebuah dunia yang kita persepsikan sesuai dengan apa yang dicerap oleh indera kita yang terbatas.

Pertanyaannya. Apakah benar dunia ini seperti yang kita persepsikan ini? Barangkali sama sekali bukan seperti ini. Hanya saja, persepsi kita yang tidak bisa menampung semua realita sebenarnya.

Itu baru tentang dunia. Kita hidup dalam dunia yang kita bisa mengerti sebatas persepsi kita yang inderawi. Suara yang kita dengar adalah spektrum suara 20 hingga 20,000 hz. Cahaya yang bisa dilihat manusia adalah spektrum cahaya 400 sampai 700 nm.

Itu baru tentang dunia. Apalagi tentang Tuhan?

Islam dengan tegas mengatakan bahwa DIA, tak serupa, tak seumpama.

Dalam Kimiatus Sa’adah Imam Ghazali menjelaskan bahwa manusia tak dapat mengerti tentang sesuatu diluar batasan kuantitas dan kualitas (inderawi). Sedangkan untuk mendeskripsikan bagaimana bentuknya “marah” saja, manusia kesulitan.

Bagaimana bentuknya “marah”?

Misal kita jawab, “Bentuknya adalah mata melotot dan menatap nanar.”

Keliru, itu bukan bentuk “marah”, itu adalah imbas dari suasana “marah” yang di dalam batin, berimbas pada dunia empiris di level jasad. Jadi yang kita baca itu imbas dari marah pada tataran empirik, itu bukan esensi sejatinya “marah”. Itu imbas.

Sedangkan mendeskripsikan tentang esensi sejati dari “marah” saja manusia sudah tak bisa, bagaimana manusia mendeskripsikan Dzat Tuhan, yang diluar batasan-batasan yang dimengerti manusia?

Ruang dan waktu, adalah sesuatu yang manusia mengerti secara persepsi inderawi yang terbatas. Sedang Tuhan tak dibatasi dengan ciptaannya itu.

Maka itu, sebuah hadits yang sering sekali dikutip adalah hadits untuk tidak memikirkan Dzat Tuhan. Karena DIA tak akan serupa dengan apapun persepsi manusia yang terbatas.

“Berfikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-kali engkau berfikir tentang Dzat Allah.” (Hadits Hasan, Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah [1788]).

Kemudian pertanyaannya adalah, kenapa kita disuruh merenungkan Asmaul Husna jika Dzat-Nya jangan difikirkan?

Disinilah kemudian para arifin menjelaskan sebuah perkara yang sangat fundamen, tetapi memang sedikit pelik. Yaitu bahwa Asmaul Husna, adalah nama-nama yang menjelaskan makna-makna yang terkandung pada af’al (perbuatan) Allah di muka bumi ini.

Jadi Asmaul Husna adalah nama, yang sebenarnya menjelaskan tentang sifat. Tetapi sifat itu adalah sebenarnya makna yang terkandung dalam perbuatan.

Semisal, kita katakan si Budi ‘baik hati’. Maka Sudah ada dua ‘nama’. Budi, dan ‘baik hati’.

Nama ‘Budi’ merujuk pada Dzat-Nya. Dalam hal ini dirinya atau jasadnya. Seperti apa orangnya, tinggi, besar, sawo matang, dst.

Tetapi julukan ‘Baik hati’, itu bukan merujuk pada diri atau jasadnya Budi. ‘Baik hati’ itu menjelaskan tentang perbuatan. Istilahnya adalah sifat fi’liyah. Sifat yang menunjukkan perbuatan.

Bagaimana mungkin kita tahu bahwa Budi ‘baik hati’ sebelum nyata perbuatan si Budi? Setelah terlihat nyata bahwa Si Budi menolong kucing yang tercebur di selokan, misalnya, barulah kita katakan Budi ‘baik hati’.

Begitulah Asmaul Husna. Keseluruhan Asmaul Husna, yang berjumlah 99 (sebagian ulama mengatakan lebih dari itu), sebenarnya adalah nama yang mewakili makna-makna yang dikandung pada setiap gerak-Nya (af’al).

Yang Mana itu af’al-Nya?

Af’al-Nya mewujud dalam keseluruhan kejadian apapun saja dalam hidup ini. Semua kejadian hidup pasti berhikmah dan pastilah terangkum dalam Asma-Nya yang Husna.

Jadi, asmaul Husna itu adalah nama-nama, yang setiap nama mewakili makna-makna tertentu, dari perbuatan yang DIA gelar di alam semesta ini.[1]

Kita disuruh membaca, “Iqro bismirabbika…”, yang dibaca adalah ciptaan. sedang Tuhan tidak mungkin bisa dibaca, diindera, dibayangkan, diteliti, atau sebutlah apapun istilahnya.

Dengan melihat dan memaknai segala yang terjadi di alam ini sebagai pagelaran makna-makna olehNya, maka kita akan diajari apa-apa yang tak kita ketahui.

Jadi, betapa menariknya penjelasan para arifin mengenai Asmaul Husna ini. Bahwa Asmaul Husna ini mewakili makna-makna dari kejadian-kejadian hidup yang ada di sekitar kita ini. Sifat fi’liyah. Sifat-sifat atau makna-makna yang berkaitan dengan perbuatan.

Tetapi, kita tak bisa mengatakan Asmaul Husna itulah DIA. (sekedar mempermudah kepahaman. Seperti contoh di atas tadi. Budi baik hati. Kita tidak bisa mengatakan bahwa Budi adalah ‘kebaikan’. Karena sebenarnya Budi itu adalah sebuah jasad yang tinggi, besar, berkulit sawo matang. Dan ‘kebaikan’ itu sebenarnya tidak menjelaskan dirinya Budi, melainkan menjelaskan perbuatan yang dilakukan Budi)

Karena, kita kutip dari Imam Ghazali, setiap nama (Asmaul Husna) itu mewakili satu makna saja. Maka, semisal kita kutip Asmaul Husna as Sabur, Ash Shakuur, Al Jabbar, Al Malik, setiap satu nama mewakili makna-makna tertentu dari perbuatanNya. Tetapi kita tidak bisa mengatakan bahwa Asmaul Husna itulah DIA. Karena setiap satu Asmaul Husna hanya mewakili satu makna saja. Dan itu pun, menjelaskan perbuatan. Bukan menjelaskan tentang Dzat-Nya atau diriNya.[2]

Agar tak terlalu abstrak. Sebenarnya hal ini sangat lekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Barangkali, rekan-rekan pun sering mengalami seperti yang saya alami. Disaat ada masalah, dan kita berdo’a kepada Allah lewat sholat ataupun berdo’a selepas sholat dan mengadukan masalah kita. Bukannya merasa tenang dan lega tapi kok kita tambah gelisah. Apa yang salah?

Yang salah adalah ternyata saat berdo’a saya tidak menghadap / mengingati Allah. Yang saya ingat adalah ‘masalahnya’ itu. Padahal, masalah itu adalah kenyataan hidup. Kejadian hidup. Alias ciptaan. Kalau berdo’a tetapi fokusnya pada ciptaan atau pada masalah, berarti saya belum mengingati Allah. Namanya adalah mengingati ‘masalah’, hanya saja secara zahir terlihat berdo’a, padahal batinnya mengingati masalah.

Naik sedikit dari tingkatan itu, adalah orang-orang yang sudah mengerti dan menemukan makna Asmaul Husna pada kehidupannya. Semisal, dalam kesulitan keuangan, dia malah menemukan kenyataan dari Asma AR-RAZZAQ atau Maha Pemberi Rizki. Orang tersebut jadi menyadari bahwa kesulitan dan kemudahan yang bergonta-ganti dalam hidupnya adalah sebenarnya hanya ejawantah dari makna-makna yang terkandung dalam Nama Tuhan itu. Jadi, dia sudah setingkat naik lagi. Tidak tertambat pada hal yang semata fisikal dan tampak mata.

Tetapi ternyata, para arifin memberitahu pada kita sesuatu yang di atasnya lagi. Yaitu bahwa kesemua Asmaul Husna itu adalah makna-makna yang terkandung dalam takdir di dunia ini. Makna-makna itu bisa beratus-ratus. Kita tahu pemiliknya satu jua. Dan yang disembah adalah Sang Pemilik takdir itu. Pemilik Nama. Pemilik sifat-sifat.

Maka saat mereka beribadah, mereka tidak lagi terpandang pada dualitas : menyempitkan-melapangkan, susah-senang, tinggi-rendah, tetapi mereka fokus pada Sang Empunya. Yaitu Allah.

Seperti apa DIA?

Tidak akan ada persepsi, atau gambaran seperti apapun yang bisa menggapaiNya. Tidak serupa ciptaanNya. Dan bahkan DIA bukanlah sifat-sifatNya.

Laisa Kamitslihi syaiun ‘tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia’.

Tetapi kita tidak usah pusing-pusing dan berharap terlampau tinggi. Cukup kita jadikan segala hal yang kita temui dalam kehidupan kita sebagai sarana pembacaan bahwa pengaturannya berkelindan dalam segala lini kehidupan kita. Dan lewat segala takdir yang naik turun itulah kita kembali padaNya.

“Dan bagi Allah itu nama-nama yang Indah/Baik, berdoalah dengannya (dengan menyebut nama-nama yang baik itu – Asma ul-Husna).”   Surah al-A’raf 7:180

Jika telah terlihat jelas kenyataan pengaturannya dalam hidup kita, maka berdoalah padaNya dengan menyeruNya lewat makna yang tersaksikan oleh kita itu.

Penyaksian penuh akan makna-makna dalam hidup yang merupakan ejawantah dari sifat-sifat dalam Asma-Nya yang husna itulah, saya rasa yang dimaksudkan oleh hadits Nabi bahwa siapa memerhatikan Asmaul Husna, maka baginya syurga.[3]

 

references:

[1] [1] Allah SWT memiliki Asmaa’ul-Husnaa (nama-nama yang indah). Di antaranya adalah al-Ghafuur, ar-Rahiim, al-‘Afuww, al-Haliim, al-Khaafid, ar-Raafi’, al-Mu’izz, al-Mudzill, al-Muhyi, al-Mumiit, al-Waarits, dan ash-Shabuur. Dan, pengaruh dari Asmaa’ul-Husnaa tersebut pasti tampak.Maka dengan kebijaksanaan-Nya, Adam dan keturunannya Dia turunkan ke alam ini, di mana pengaruh Asmaa ‘ul-Husnaa tersebut menjadi nyata.

Di alam inilah Allah SWT mengampuni, mengasihi, mengangkat, memuliakan, menghinakan, menyiksa, memberi, tak memberi, melapangkan dan sebagainya bagi siapa saja yang Dia kehendaki sebagai manifestasi dari asma dan sifat yang Dia miliki. (Ibnu Qayyim dalam buku “kunci kebahagiaan”)

[2] Terjemah bebas dari buku Imam Ghazali, “99 Names of God in islam, Translation of al-Maqshad al-Asna fi Syarhi Asma’ Allah al-Husna. Imam Ghazali. Chapter introduction)

[3] “Sesunguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu, siapa yang menjaganya maka dia masuk surga.” (HR. Bukhari, no.2736, Muslim, no.2677 dan Ahmad, no.7493).

Iklan

MENAJAMKAN GERAK

gerakTeringat dulu sewaktu saya masih menekuni beladiri sewaktu kuliah, seorang guru pernah mewejang bahwasannya tanpa “penjiwaan” yang benar, maka gerakan jurus tak akan ada bedanya dengan menari.

Apa yang membedakan berjurus dan menari? Yang membedakan ternyata adalah penjiwaan. Sepaket kepahaman bahwa serangkaian gerak yang kita lakukan adalah gerak dengan fungsi begini begini dan tujuannya begini begini. Tanpa kepahaman itu, maka berjurus hanya akan memberikan letih, sehingga beladiri hanya menjadi tarian.

Belakangan, saya menyadari bahwa kajian itu ternyata sejalan dengan kajian spiritual, bahwa kepahaman yang kita punyalah yang memberikan makna bagi sebuah gerak yang kita lakukan.

Idiom ini dikenal dengan istilah “ilmu sebelum amal”.

Kita bisa memandang istilah ‘ilmu sebelum amal’ ini dalam konteks sederhana semisal: kita tahu dulu bagaimana cara melakukan sholat, bagaimana gerakannya (ilmu), lalu barulah setelah itu kita bisa beramal. Maka ilmu sebelum amal.

Tetapi, kita bisa memandang hal tersebut dalam konteks yang lebih dalam lagi, yaitu bahwa setelah beramal, maka kepahaman yang lebih dalam akan makna dari sesuatu yang kita kerjakan itulah yang membuat amal akan menjadi makin tajam.

Dalam konteks menajamkan makna amal inilah, maka kita tahu ternyata bentuk luaran ibadah, atau bentuk luaran gerak itu bisa saja sangat sederhana, tetapi dia menjadi bernilai tinggi karena kepahaman yang melambarinya; dalam.

Kita tentu sering mendengar istilah bahwa segala sesuatu tergantung niat. Jika ‘segala sesuatu’ adalah maksudnya gerak ibadah luar kita, dan ‘niat’ adalah maksudnya kepahaman yang batin mengenai kenapa kita lakukan sesuatu itu, maka itu juga sebangun dengan istilah ilmu sebelum amal.

Ada kisah. Saya tak paham benar ini kisah betulankah atau Cuma ceritra,yang jelas pelajarannya menarik.

Suatu ketika, seorang sunan dengan seorang muridnya sedang makan siang dari bekal yang mereka bawa. Mereka berhenti pada sebuah tapak jalan dan memakan bekal makan siang yang sudah mereka siapkan sebelum perjalanan. Selepas makan, sang sunan melihat pada sisi mulut muridnya itu ada sebutir nasi yang tertempel, lalu sang sunan menegur.

Muridnya, karena menyadari ada sebutir nasi di mulutnya, maka lantas membuangnya ke jalan.

Gurunya kemudian menjadi marah.

Muridnya bingung, kenapa marah? Apakah bisa disebut mubazir membuang sebutir nasi ke jalan?

Sang sunan menjelaskan. Bahwa ini bukan perkara mubazir atau tidak. Karena toh sebutir nasi itu kelak bisa menjadi makanan burung, atau makanan semut yang melintas. Tetapi ini perkara kepahaman. Apakah sang murid sudah membuang sebutir nasi itu didasari sepaket kepahaman itu? Bahwa dia membuang sebutir nasi karena kelak nasi bisa menjadi rizki untuk hewan dan binatang kecil?

Sang murid pun terdiam.

Semakna itulah bahasan kita tadi. Tanpa kepahaman batin, maka gerak hanya akan menjadi gerak. Gerak akan gagal memiliki nilai-nilai.

Tetapi dengan kepahaman yang benar, dengan pemaknaan yang benar, gerak sederhanapun akan menjadi tajam. Dan begitulah para arifin membahasakan tasawuf. Bahwa tasawuf adalah berbicara tentang memberi makna pada gerak (syariat) yang sudah ada pakemnya. Tatanan gerak luar, tidak usah dirubah lagi. Tetapi cara kita memaknainyalah yang menentukan akan menjadi tajamkah atau tidak gerak-gerak itu.

Dan ternyata, semesta inipun dibangun dalam kerangka logika itu. Bahwa gerak dalam semesta ini tidak mungkin semata gerak. Gerak dalam semesta, adalah imbas dari makna-makna yang hendak disampaikan.

99 Asma’ Allah adalah nama yang mewakili makna-makna dalam keseluruhan gerak di alam. Topan, Badai, Tsunami, bayi lahir, orang mati, burung menjaga anaknya, dan banyak lagi. Adalah gerak yang kita lihat di alam. Tetapi, gerak di alam tak hanya semata gerak.

Burung terbang di pagi hari dan kembali membawa makanan menghidupi anaknya, adalah kenyataan dari asma’Nya Ar Razzaaq (Yang Maha Pemberi Rezeki). Kematian dan kehidupan adalah gerak yang keluar dari makna Al Hayyu, Al Mumiitu. Dan seterusnya.

DIA ingin dikenali. Itu sebab DIA menciptakan makhluq, agar mengenali-Nya.

Tetapi makhluq, pandangannya acap tertambat pada gerak. Itulah kita sering melupakan makna-makna. Bahwa gerak, tak mungkin hanya gerak. Gerak adalah perwujudan makna.

Dalam suatu hadits, Rasulullah mengatakan:

“Sesunguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu, siapa yang menjaganya maka dia masuk surga.” (HR. Bukhari, no.2736, Muslim, no.2677 dan Ahmad, no.7493).

Pengetahuan akan makna-makna itulah yang pada gilirannya juga menajamkan amal.

Ada orang melihat sesuatu, tertambat pada geraknya. Tetapi ada yang melihat sesuatu, lalu mengerti makna di sebaliknya.

Barangkali inilah penjelasan mengapa kita seringkali berdo’a, tetapi semakin berdo’a dan beribadah kita semakin gelisah. Karena, dalam beribadah dan mengadukan kesulitan yang kita hadapi, kita mungkin bukan “mengingat” Tuhan. Tetapi kita mengingat masalah-masalah kita.

Masalah-masalah yang kita temui dalam hidup ini, jika dianalogikan dengan bahasan di atas tadi, adalah “gerak”. Yang tertambat pada “gerak” akan gagal menangkap makna.

Untuk mengerti makna, maka lintasilah gerak itu. Maka Asmaul Husna (yang sebenarnya adalah nama-nama yang mewakili sifat-sifat fi’liyah (perbuatan)) adalah semacam pintu. Pintu untuk mengingati DIA.

DIA itu, adalah Sang Empunya. Empunya gerak. Bahkan empunya makna-makna itu. DIA-lah yang dituju.

 

~~~

Saya pinjam gambar ilustrasi dari sini

ILMU LAKU (2)

High-Def-Speaking-Big-Picture11Berapa hari yang lalu saya berpapasan dengan seorang buta yang menggendong dagangan kerupuk. Sebenarnya sudah sempat saya lihat beliau sejak dari tiga hari sebelumnya. Dan sejak tiga hari sebelumnya itulah saya sudah terbersit di hati bahwa saya harus membantu beliau dengan cara membeli dagangannya.

Tetapi ya itu, terlalu banyak mikir. Hari pertama saya bukannya langsung membantu melainkan saya malah mikir bagaimana bisa seorang buta berjalan begitu jauh dan memasuki gang-gang kecil? Hari kedua saya sudah ingin membeli saat saya berpapasan dengan beliau waktu pulang kantor, tetapi jalanan sempit dan untuk parkir kendaraan agak sulit, sedangkan beliau terus berjalan dan saya susah memanggilnya. Hari ketiga juga begitu.

Hari keempat saya cari-cari beliau sepanjang jalan dekat perumahan tetapi tak ketemu, hingga kemarin saya cari tetap saya belum menemukan beliau. Walhasil hingga kini niat baik belum terlaksana juga.

Saya pikir-pikir, inilah salah satu kekeliruan saya, yaitu menunda amal. Tetapi, hal lainnya yang saya akhirnya mengerti adalah bahwa sikap menunda amal atau dalam bahasa yang lebih khusus yaitu sikap untuk tidak menjujuri insight kebaikan yang turun kepada kita, lambat laun malah akan menutupi kejernihan insigt itu sendiri. Yang menutupi kejernihan insight itu seringkali ya sikap kita sendiri.

Ada satu cerita yang barangkali tepat mewakili contoh ini. Adik tertua saya sendiri, suatu ketika mengalami kesulitan sebab HP Androidnya rusak. HP Android rusak, berarti komunikasi terhambat, sedangkan dia sedang menyelesaikan skripsi dan hampir setiap saat butuh data internet untuk cari info, komunikasi dengan dosen, dan lain-lain.

Singkat cerita, saya bilang padanya, kenapa tidak berdoa saja kepada Tuhan?

Saya katakan, bahwa justru keengganan untuk berdo’a kepada Tuhan itu boleh jadi karena salah persepsi. Kita mengira, sesuatu yang kita minta itu terlalu tinggi dan mengalahkan ketinggian Tuhan.

Dalam tataran yang halus, sikap tidak berdo’a sama sekali boleh jadi adalah sikap nrimo tingkat wahid, semisal Nabi Ibrahim. Tapi tanpa perlu kewaskitaan tinggi, kita sudah bisa mengukurlah kapasitas diri sendiri, tak mungkin kita ini level para Nabi. Level semacam kita adalah level hamba yang menemukan realita keTuhanan lewat kenyataan-kenyataan hidup yang kita alami. Maka keperluan-keperluan duniawi kita, justru harusnya menjadi pintu pengenalan pada Tuhan.

Maka saya sarankan dia berdo’a kepada Tuhan. Tetapi jangan sekali dua, melainkan terus menerus, setiap habis sholat, minta pada Allah, minta dengan totalitas. Dengan meyakini bahwa Tuhan Semesta Raya adalah yang mengejawantahkan seluruh alam ini, maka sebenarnya permintaan kita sama sekali tidak akan mengurangi kekayaan Tuhan. Sedikit maupun banyak, sama saja bagi Tuhan, tak punya arti. Sebenarnya yang penting justru kita menemukan realita dari sifat-sifat (fi’liyah) Nya dalam Asmaul Husna lewat do’a, itu yang lebih penting.[1]

Singkat cerita, adik saya itu berdo’a. Saya sebenarnya agak tidak yakin juga, apakah benar adik saya ini akan berdo’a dengan totalitas. Saya mengharapkan dia berdo’a terus menerus mengadukan kesulitannya pada Tuhan, sekurangnya satu bulan full. Karena saya teringat salah satu pesan seorang guru, jika benar bahwa keinginan berdo’a itu selalu muncul terus menerus dan begitu kuat, maka itu tandanya Allah ingin memberi. Bukan do’a kita menyetir Tuhan, melainkan jika Tuhan ingin memberi dikirimnyalah selalu pada hati kita sebuah keinginan yang begitu halus, yang mau tak mau meluber dalam bentuk do’a yang menghamba.

Ternyata, syukur pada Allah, hari ketiga do’a adik saya diijabah. Dan tanpa disangka seorang temannya pagi-pagi sekali datang ke kosan dan memberikan sebuah handphone android, tanpa ada angin tanpa ada hujan ujug-ujug datang dan memberikan handphone android. Karena dia punya dua handphone maka satunya diberikan pada adik saya. Kontan saja adik saya terkaget-kaget dan bersyukur.

Saya tanyakan pada adik saya, sebenarnya apa yang terjadi saat dia berdo’a? apakah do’anya yang menyetir Tuhan sehingga Tuhan menjadi manut dan mengabulkan? Tentu bukan begitu.

Dan adik saya mengatakan bahwa saat keinginan untuk memiliki sebuah handphone yang akan menunjang keperluan kuliah itu begitu besar, dan menguat, maka akhirnya dia pahami bahwa dirinya hanya menjadi jalan, menjadi semacam keran saja, untuk mengalirkan apa yang terbersit di dalam hati.

Itulah maksud Umar r.a, “aku tidak membawa hasrat pengabulan, melainkan aku membawa hasrat do’a. Jika aku tergerak berdo’a, maka aku tahu pengabulan bersamanya.”

Kita akan bisa memahami hal ini, jika kita kembali menilik dari awal, kenapa Tuhan menciptakan alam raya, menciptakan makhluq? Tak lain tak bukan karena Allah ingin DIA dikenali.

Maka -dalam tanda kutip ya- pada konteks “Tuhan ingin diriNYA dikenali” inilah maknanya sebenarnya Tuhan melihat diriNYA sendiri lewat mata makhluqNYA.

Kenyataan-kenyataan dalam hidup kita, sebenarnya adalah pintu-pintu untuk kita menemukan realita keTuhanan. Alias jalan pulang itu sudah terhampar dalam kenyataan hidup kita masing-masing.

Maka saat ada kebutuhan, berarti itu pintu pengenalan padaNya lewat do’a. Yang mengirimkan kebutuhan-kebutuhan (insight untuk menghamba) adalah DIA juga, lalu pada ujungnya DIA sendiri juga yang menuliskan pengabulannya.

Maka kalau kita balik, apakah do’a kita menyetir pengabulanNYA? Jauh panggang dari api.

Sesungguhnya yang terjadi adalah karena DIA ingin melihat diriNYA sendiri, maka akan dizahirkanNYA-lah kebutuhan dalam hati manusia, maka diujungnya sudah disiapkan pengabulan.

Apa hubungannya hal ini dengan perbincangan kita di awal tadi? Hubungannya adalah bahwa insight-insight kebaikan dalam diri kita, mestilah dizahirkan menjadi amal yang tidak kita tunda-tunda. Ada kebutuhan yang menghunjamkan insight penghambaan, maka zahirkan menjadi do’a dan peribadatan. Ada insight kebaikan dalam kehendak menolong orang, maka zahirkan menjadi sedekah yang tulus.

Jangan terbiasa menutupi insightmu sendiri.

Jika kita sudah mengerti bahwa segalanya ini sebenarnya adalah tentang DIA semata, maka kalau kita terlalu sering menutupi insight terdalam kita, -seperti yang saya lakukan dengan menunda-nunda insight kebaikan membeli kerupuk seorang buta tadi-; maka kita sebenarnya sudah membuat diri kita sendiri menjadi buram. Dan lama-lama bingung apakah dorongan dari dalam ini insight kah atau kehendak diri. Karena terlalu sering tidak menjujuri dorongan kebaikan yang muncul.

Yang paling benar mimpinya adalah yang paling benar ucapannya, kata sebuah hadits[2]. Kalau kita kaitkan dengan konteks menjujuri insight yang turun, maka yang paling benar mimpinya (yang paling benar petunjuk yang terbaca) adalah orang yang terbiasa jujur antara yang terbersit di hati dan apa yang mengejawantah dalam laku.

Terlalu sering tidak jujur pada apa-apa kebaikan yang terbersit di hati, lama-lama memburamkan insight itu sendiri.

~~~

References:

[1] Janganlah kamu berdoa: “Ya Allah ampunilah aku jika Engkau mau, rahmatilah aku jika Engkau mau,” hendaknya dia mantapkan hati atas doanya itu karena sesungguhnya Allah tidaklah dipaksa oleh doanya itu.” (HR. Bukhari No. 6339, 7477, Muslim No. 2679).

[2] Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin ‘Amru bin As Sarh Al Mishri] telah menceritakan kepada kami [Bisyr bin Bakr] telah menceritakan kepada kami [Al Auza’i] dari [Ibnu Sirin] dari [Abu Hurairah] dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila zaman telah mendekati (hari Kiamat), hampir-hampir mimpinya seorang mukmin tidak bohong, maka orang yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling jujur pembicaraannya. Dan mimpi seorang mukmin merupakan satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian.” (H.R Ibnu Majah. No 3907)

Gambar ilustrasi saya pinjam dari link ini

TENTANG PENA DAN DUNIA KEHENDAK (2)

goresan-pena-tanganSaya ada pertanyaan, kenapa orang-orang mau berbagi? Pertanyaan ini timbul sewaktu saya pergi ke Bandung berapa hari yang lalu, saya menggunakan aplikasi peta online yaitu “waze”. Sebelumnya saya lebih akrab dengan google maps, tetapi ternyata waze memiliki fitur yang cukup menarik juga yaitu berbagi info sesama pengguna peta online, sehingga kesan “realtime” lebih bisa didapatkan pada aplikasi tersebut. Berita mengenai jalanan yang rusak, kecelakaan, bahkan mobil yang sedang berhenti di bahu jalan bisa didapatkan berkat sharing sesama pengguna.

Pertanyaan saya kembali lagi, kenapa orang mau berbagi?

Pada kasus diatas, jelas sang pengguna yang berbagi info mengenai lalu-lintas tak mendapatkan “banyak” keuntungan saat dia berbagi info, selain dari satu dua orang yang mengklik tombol terimakasih, atas info yang diberikan olehnya. Tetapi toh tetap saja, banyak sekali orang berbagi info. Ternyata ada dorongan untuk berbagi pengetahuan.

Saya katakan “berbagi pengetahuan” karena berbagi pengetahuan ini belakangan saya sadari merupakan salah satu kebaikan yang lebih spesifik dan spiritual sekali.

Cobalah tengok sepanjang sejarah, banyak sekali orang-orang yang membagikan ilmunya. Para ilmuwan, cendikiawan, alim ulama, yang menulis buku-buku yang sampai pada kita. Sejatinya mereka semua sebenarnya membagikan sesuatu. Ada sebuah dorongan, agar orang lain juga mengetahui sesuatu yang kita ketahui.

Tentu kita bisa saja mengatakan para ulama berbagi karena menganggap hal itu ibadah. Tetapi bagaimana dengan yang bukan ulama? bagaimana yang awam? bagaimana orang yang berbagi bahkan untuk hal-hal remeh?

Orang yang berbagi, menjadi jalan untuk orang lain mendapatkan suatu ilmu. Jika kita menjadi jalan kepahaman bagi orang lain, dalam istilah para arifin berarti kita menjadi “kalam”. Perantara bagi ilmu mengalir.

Karena ada dorongan untuk mengalirkan kepahaman pada orang lain, maka mau tak mau manusia akan tergerak untuk menjadi jalan kepahaman bagi orang lainnya. Tanpa kita sadari, sebenarnya kita menunaikan tugas menjadi kalam.

“Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS Al-‘Alaq : 4-5)”

Karena ternyata memang DIA hendak mengajar manusia.  

DIA ingin dikenali. Itu sebab DIA menciptakan makhluq. Dan kepada manusialah DIA memerintahkan agar kita “membaca” kehidupan ini. Setelah kita membaca kehidupan ini, maka akan ada dorongan yang begitu besar pada diri kita agar orang lain juga mengetahui apa yang kita ketahui. Ada hasrat berbagi.

Dalam tataran yang halus, kalau kita perhatikan betul, barulah ternyata kita mengerti bahwa aktivitas kita saling berbagi, berbagi apa saja tak mesti ilmu agama, itu semua adalah ejawantah dari DIA mengajari manusia.

Tersebab DIA ingin mengajari manusia, maka akan selalu ada orang-orang yang menunaikan tugas menjadi kalamNYA, membagikan apa yang mereka ketahui kepada manusia lainnya, agar ilmu berkembang, dan kenyataan tentang diriNya diketahui oleh makhluq.

Barangkali, kebijakan tentang IQRA’ ini sudah banyak dipahami orang-orang, tetapi satu hal yang belakangan baru saya mengerti adalah bahwa bagaimanapun “duniawi”nya suatu ilmu, sebenarnya itu adalah juga tentang DIA.

Kita kembali kepada sebuah wacana klasik. Bisakah DIA diindera? Tentu tidak bisa. DIA pada martabatNya Yang Maha Rahasia itu tidak akan bisa diindera oleh manusia.

Karena DIA tidak bisa diindera, maka pertanyaan berikutnya adalah bisakah DIA “dibaca?”

Tentu DIA tak bisa dibaca, karena manusia tidak bisa “membaca” atau mengenali sesuatu yang berada diluar ukuran kuantitas dan kualitas, begitu kata Imam Ghazali.

Walhasil, segala sesuatu yang manusia baca, sebenarnya adalah segala hal dalam ruang lingkup sifat-sifat. Dzat-Nya akan selalu rahasia, yang bahkan tak tersentuh oleh derajat para Nabi. Tetapi sifat-sifat, pengaturanNya di alam ini, adalah sesuatu yang manusia bisa baca dan mengerti.

99 Asmaul Husna adalah Nama-nama yang setiap nama mewakili makna yang disembunyikan dalam af’al / perbuatan / kreasi-Nya di alam raya.

Oleh karena itu, sebenarnya apapun yang kita pelajari, biologi, kimia, statistik, akuntansi, ekonomi, bahkan hal sederhana semisal cara menggoreng tahu, semua adalah kita “membaca” af’al DIA di alam semesta. Begitu jelas, bukan? Kita berada dalam lautan af’al. Setiap af’al mengandung makna-makna dalam asmaNya yang husna.

Jadi sebenarnya setiap hari kita berkelindan dengan sesuatu yang sangat spiritual. Dan kita didalam lautan lakonanNya.

Setelah memahami itu, lalu cobalah kita berhenti sejenak, dan merenungi kebelakang, mengenai segala hal yang sudah kita lakukan dalam konteks berbagi.

Coba tengok, apapun saja yang sudah pernah kita ajarkan, sharing, beritahu, sebarkan pada orang lain selama ini, seremeh-temeh apapun itu. Yang kita sadari atau yang tak kita sadari.

Dan coba amati kenapa dorongan untuk berbagi itu bisa ada?

Karena DIA ingin dikenali. Karena DIA mengajari lewat perantaraan kalam.

ILMU LAKU

Ada satu falsafah sederhana yang belakangan kembali terngiang di benak saya, yaitu “think globally act locally.”

Maksud dari falsafah sederhana ini adalah kita harus mengerti porsi kita. Boleh saja kita berfikir mengenai hal-hal besar, global, semisal politik dunia, imperium besar islam, dan hal-hal global dan besar lain-lain, tetapi cukuplah itu menjadi hal di ruang belantara ilmiah kita, tetapi hidup kita mesti melakukan hal-hal kecil yang terjangkau. Karena setiap orang ada porsinya masing-masing.

Belakangan, saya menyadari kembali point ini saat mengkaji bahasan para arifin. Bolehlah kita mengikuti kajian mendalam para arifin bahwa Allah SWT tidak hanya transenden, tetapi juga begitu dekat dengan kita, dan bahkan kita berada di dalam keMaha-Besarannya. Atau satu hal lagi semisal bahwa diri-Nya adalah berbeda dengan sifatNya. Kajian tentang takdir dan kaitannya dengan diri-Nya memandang diri-Nya sendiri lewat makhluqNya.

Semuanya adalah bahasan yang tinggi. Tetapi, dalam kaitannya dengan gerak dalam kehidupan, maka kajian tinggi haruslah mengejawantah dalam gerak sederhana yang sesuai dengan porsi kita. Ya Sholat, puasa, sedekah, bantu orang-orang. Hal-hal yang sederhana.

Dengan kesimpelan seperti itu, akan menjauhkan kita dari sikap thulul amal. Sedikit kerja, panjang angan-angan.

Panjang angan-angan inilah yang ternyata berbahaya. Saat kita hidup dalam wacana yang terlampau tinggi, tetapi tidak mengejawantah menjadi gerak yang sederhana.

Wacana mesti mengiringi gerak. Ilmu harus menjelma amal.

Dan yang menarik ternyata dengan kesederhanaan gerak, maka ilmu mendatang dengan sendirinya. Memberi makna yang lebih dalam pada gerak yang sederhana itu. Dan barangkali, ilmu yang mendatang, yang turun mengiringi gerak yang sederhana itulah yang disebut ilmu “laku”.

MENGISI LALU MELEPAS

mindmapSalah satu hal yang saya lakukan disaat saya merasa overload dengan pekerjaan yang begitu banyak dan saya tak tahu darimana harus memulai, adalah saya menggunakan metoda “mind-mapping.”

Ini metoda yang biasa saja sebenarnya, tetapi karena saya bukan tipe orang yang terbiasa menghapal dan bermain siasat dalam fikiran, maka saya harus menuangkan segalanya dalam bentuk visual yang membantu saya berfikir lebih terstruktur.

Saya tahu rekan-rekan semua sudah familiar dengan mind-mapping, tetapi tidak mengapa saya ceritakan sedikit saja. Jadi sederhananya saya menuliskan point-point dari apapun saja yang melintas di fikiran saya saat itu. Apa saja yang melintas, saya “tangkap” dan tulis.

Serandom apapun fikiran yang muncul saya tulis semua. Lalu baru saya susun satu persatu sesuai dengan tema yang sama. Setelah disusun dengan tema yang sama, biasanya baru akan terlihat apa-apa saja yang menggelayuti fikiran saya. Dan dari sana maka saya dapat mengabaikan sebagian diantaranya, dan lalu fokus untuk mengerjakan yang saya prioritaskan dulu. Yang tidak saya prioritaskan, tidak lagi saya fikirkan. Karena buat apa saya fikirkan, wong dia sudah saya catat, jadi benak saya cukuplah saya isi dengan mengingatNYA saja, bukan mengingat hal-hal kebendaan. Begitu pesan pak guru.

Saya kemudian jadi teringat dengan sebuah ungkapan yang bisa kita kaitkan dengan konteks tidak memikirkan hal-hal kebendaan; bahwa dengan kita berdo’a itu semisal kita memasrahkan / melepas masalah kita kepada Tuhan. Saya mengamati pola tentang do’a, dan mengamati metoda mind-map ini, saya jadi menemukan sebuah fakta bahwa ternyata keseluruhan jenak hidup kita ini sebenarnya untuk “melepas.”

Ambillah contoh kita sholat 5 waktu. Dalam sholat, ada unsur do’a, menyeru dan meminta. Dulu saya memahami meminta itu sebagai “mengisi.” Tapi belakangan saya baru menyadari bahwa meminta dalam bentuk do’a itu juga bisa dimaknai sebagai “melepas.”

Hal-hal apa yang menggelayuti fikiran kita, dan membuat kita jadi merasakan berat, maka kita lepas lewat do’a. Apa-apa yang sudah dilepas lewat do’a, maka jangan lagi menggelayuti ruang fikir. Dia harus menjelma dalam bentuk kerja nyata.

Nah…kerja nyata dalam keseharian kita inilah yang ternyata malah menjadi jalan untuk sedemikian banyak hikmah mengalir. Dengan syarat, kerja kita berada dalam konteks melepas. Kita “baca,” lalu kita mendapat hikmah, lalu kita melepaskan diri dari hal-hal kebendaan yang kita baca, lalu menjadikan apa-apa yang kita baca itu hanya sebagai pintu untuk mengingatNYA.

Orang yang tidak punya konteks “melepas,” maka dia akan kelebihan beban.

Misalnya, dia belajar dan lalu mendapatkan sedemikian banyak ilmu, lalu dia menjadi banyak tahu dengan ilmunya itu, tetapi ilmunya hanya ada di ruang fikir, tidak pernah diajarkan pada orang lain, dan tidak juga pernah diwujudkan dalam sebuah amalan makbulan yang manfaat untuk sekeliling, maka sebenarnya orang ini kelebihan beban.

Bebannya bisa dalam bentuk keruwetan fikiran, atau penyakit merasa paling tahu sendiri. Dengan mengajarkan dan berbagi pada orang lain, maka yang “tahu” menjadi tak hanya kita sendiri, dengan itu kita sudah melepas. Kita membaca kehidupan, lalu lewat kejadian hidup kita menemukan makna-makna, lalu makna-makna itu harus kemudian dilepas dalam artian makna-makna pun kita anggap sebagai bagian dari “perjalanan.”

Ada masalah hidup, maka masalahnya dilepas dalam bentuk do’a lalu dalam bentuk kerja nyata. Pokoknya sederhananya, masalah dan hal-hal kebendaan sebisa mungkin tidak ada dalam ruang ingatan. Dia harus menjelma kerja, atau menjelma do’a. Yang berada dalam ruang ingatan hanya DIA saja.

Dengan melakukan itu, biasanya kita akan mendapatkan makna-makna. Karena kita sedang dalam konteks bekerja, beramal ibadah secara lahiriah, dan dalam konteks do’a, maka semua usaha kita “melepas” itu nanti biasanya malah akan mendapatkan makna-makna. Makna-makna itu biasanya berupa pengertian akan pengaturan Tuhan. Pengertian-pengertian akan pengaturan Tuhan di alam ini, itulah sejatinya pengertian tentang sifat-sifat fi’liyah-NYA. Sifat-sifatNYA yang dirangkum dalam 99 Asma’ul husna itu biasanya malah kita dapat dalam keseharian kita. Dengan begitu kita menjadi semakin kenal padaNYA. syaratnya, kita melepas itu tadi. hal-hal kebendaan dilepas, dengan do’a dan dengan kerja.

Setelah mendapatkan makna-makna, kemudian kita menjadi trenyuh oleh karna terpandang sisi keindahan JAMALIYAH-Nya, dan atau menjadi gemetar karena terpandang sisi keagungan JALAL-Nya. Maka itupun dilepas.

Bagian yang satu ini memang agak abstrak. Maksudnya adalah, bahwa Allah SWT Sang Pemilik Sifat-sifat itu adalah berbeda dengan sifat-sifat itu sendiri. Dan disinilah saya baru paham maksud dari orang-orang arif, yang mengatakan bahwa benar-benar tidak ada yang kita bawa saat menghadapNya, karena bahkan yang disembah itu adalah DIA, bukan sifat-sifatNYA. Alias bukan citra dan segala lakuanNya di muka bumi ini, tetapi DIA sebagai DIA. Sang Empunya dunia. berarti Sang Empunya asma dan sekalian sifat-sifat yang kita lihat dalam af’alNya di hidup ini. DIAlah itu.

Mahasuci Allah dari segala persepsi manusia yang terbatas.

Wallahualam