MENGISI LALU MELEPAS

mindmapSalah satu hal yang saya lakukan disaat saya merasa overload dengan pekerjaan yang begitu banyak dan saya tak tahu darimana harus memulai, adalah saya menggunakan metoda “mind-mapping.”

Ini metoda yang biasa saja sebenarnya, tetapi karena saya bukan tipe orang yang terbiasa menghapal dan bermain siasat dalam fikiran, maka saya harus menuangkan segalanya dalam bentuk visual yang membantu saya berfikir lebih terstruktur.

Saya tahu rekan-rekan semua sudah familiar dengan mind-mapping, tetapi tidak mengapa saya ceritakan sedikit saja. Jadi sederhananya saya menuliskan point-point dari apapun saja yang melintas di fikiran saya saat itu. Apa saja yang melintas, saya “tangkap” dan tulis.

Serandom apapun fikiran yang muncul saya tulis semua. Lalu baru saya susun satu persatu sesuai dengan tema yang sama. Setelah disusun dengan tema yang sama, biasanya baru akan terlihat apa-apa saja yang menggelayuti fikiran saya. Dan dari sana maka saya dapat mengabaikan sebagian diantaranya, dan lalu fokus untuk mengerjakan yang saya prioritaskan dulu. Yang tidak saya prioritaskan, tidak lagi saya fikirkan. Karena buat apa saya fikirkan, wong dia sudah saya catat, jadi benak saya cukuplah saya isi dengan mengingatNYA saja, bukan mengingat hal-hal kebendaan. Begitu pesan pak guru.

Saya kemudian jadi teringat dengan sebuah ungkapan yang bisa kita kaitkan dengan konteks tidak memikirkan hal-hal kebendaan; bahwa dengan kita berdo’a itu semisal kita memasrahkan / melepas masalah kita kepada Tuhan. Saya mengamati pola tentang do’a, dan mengamati metoda mind-map ini, saya jadi menemukan sebuah fakta bahwa ternyata keseluruhan jenak hidup kita ini sebenarnya untuk “melepas.”

Ambillah contoh kita sholat 5 waktu. Dalam sholat, ada unsur do’a, menyeru dan meminta. Dulu saya memahami meminta itu sebagai “mengisi.” Tapi belakangan saya baru menyadari bahwa meminta dalam bentuk do’a itu juga bisa dimaknai sebagai “melepas.”

Hal-hal apa yang menggelayuti fikiran kita, dan membuat kita jadi merasakan berat, maka kita lepas lewat do’a. Apa-apa yang sudah dilepas lewat do’a, maka jangan lagi menggelayuti ruang fikir. Dia harus menjelma dalam bentuk kerja nyata.

Nah…kerja nyata dalam keseharian kita inilah yang ternyata malah menjadi jalan untuk sedemikian banyak hikmah mengalir. Dengan syarat, kerja kita berada dalam konteks melepas. Kita “baca,” lalu kita mendapat hikmah, lalu kita melepaskan diri dari hal-hal kebendaan yang kita baca, lalu menjadikan apa-apa yang kita baca itu hanya sebagai pintu untuk mengingatNYA.

Orang yang tidak punya konteks “melepas,” maka dia akan kelebihan beban.

Misalnya, dia belajar dan lalu mendapatkan sedemikian banyak ilmu, lalu dia menjadi banyak tahu dengan ilmunya itu, tetapi ilmunya hanya ada di ruang fikir, tidak pernah diajarkan pada orang lain, dan tidak juga pernah diwujudkan dalam sebuah amalan makbulan yang manfaat untuk sekeliling, maka sebenarnya orang ini kelebihan beban.

Bebannya bisa dalam bentuk keruwetan fikiran, atau penyakit merasa paling tahu sendiri. Dengan mengajarkan dan berbagi pada orang lain, maka yang “tahu” menjadi tak hanya kita sendiri, dengan itu kita sudah melepas. Kita membaca kehidupan, lalu lewat kejadian hidup kita menemukan makna-makna, lalu makna-makna itu harus kemudian dilepas dalam artian makna-makna pun kita anggap sebagai bagian dari “perjalanan.”

Ada masalah hidup, maka masalahnya dilepas dalam bentuk do’a lalu dalam bentuk kerja nyata. Pokoknya sederhananya, masalah dan hal-hal kebendaan sebisa mungkin tidak ada dalam ruang ingatan. Dia harus menjelma kerja, atau menjelma do’a. Yang berada dalam ruang ingatan hanya DIA saja.

Dengan melakukan itu, biasanya kita akan mendapatkan makna-makna. Karena kita sedang dalam konteks bekerja, beramal ibadah secara lahiriah, dan dalam konteks do’a, maka semua usaha kita “melepas” itu nanti biasanya malah akan mendapatkan makna-makna. Makna-makna itu biasanya berupa pengertian akan pengaturan Tuhan. Pengertian-pengertian akan pengaturan Tuhan di alam ini, itulah sejatinya pengertian tentang sifat-sifat fi’liyah-NYA. Sifat-sifatNYA yang dirangkum dalam 99 Asma’ul husna itu biasanya malah kita dapat dalam keseharian kita. Dengan begitu kita menjadi semakin kenal padaNYA. syaratnya, kita melepas itu tadi. hal-hal kebendaan dilepas, dengan do’a dan dengan kerja.

Setelah mendapatkan makna-makna, kemudian kita menjadi trenyuh oleh karna terpandang sisi keindahan JAMALIYAH-Nya, dan atau menjadi gemetar karena terpandang sisi keagungan JALAL-Nya. Maka itupun dilepas.

Bagian yang satu ini memang agak abstrak. Maksudnya adalah, bahwa Allah SWT Sang Pemilik Sifat-sifat itu adalah berbeda dengan sifat-sifat itu sendiri. Dan disinilah saya baru paham maksud dari orang-orang arif, yang mengatakan bahwa benar-benar tidak ada yang kita bawa saat menghadapNya, karena bahkan yang disembah itu adalah DIA, bukan sifat-sifatNYA. Alias bukan citra dan segala lakuanNya di muka bumi ini, tetapi DIA sebagai DIA. Sang Empunya dunia. berarti Sang Empunya asma dan sekalian sifat-sifat yang kita lihat dalam af’alNya di hidup ini. DIAlah itu.

Mahasuci Allah dari segala persepsi manusia yang terbatas.

Wallahualam

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s