TENTANG PENA DAN DUNIA KEHENDAK (2)

goresan-pena-tanganSaya ada pertanyaan, kenapa orang-orang mau berbagi? Pertanyaan ini timbul sewaktu saya pergi ke Bandung berapa hari yang lalu, saya menggunakan aplikasi peta online yaitu “waze”. Sebelumnya saya lebih akrab dengan google maps, tetapi ternyata waze memiliki fitur yang cukup menarik juga yaitu berbagi info sesama pengguna peta online, sehingga kesan “realtime” lebih bisa didapatkan pada aplikasi tersebut. Berita mengenai jalanan yang rusak, kecelakaan, bahkan mobil yang sedang berhenti di bahu jalan bisa didapatkan berkat sharing sesama pengguna.

Pertanyaan saya kembali lagi, kenapa orang mau berbagi?

Pada kasus diatas, jelas sang pengguna yang berbagi info mengenai lalu-lintas tak mendapatkan “banyak” keuntungan saat dia berbagi info, selain dari satu dua orang yang mengklik tombol terimakasih, atas info yang diberikan olehnya. Tetapi toh tetap saja, banyak sekali orang berbagi info. Ternyata ada dorongan untuk berbagi pengetahuan.

Saya katakan “berbagi pengetahuan” karena berbagi pengetahuan ini belakangan saya sadari merupakan salah satu kebaikan yang lebih spesifik dan spiritual sekali.

Cobalah tengok sepanjang sejarah, banyak sekali orang-orang yang membagikan ilmunya. Para ilmuwan, cendikiawan, alim ulama, yang menulis buku-buku yang sampai pada kita. Sejatinya mereka semua sebenarnya membagikan sesuatu. Ada sebuah dorongan, agar orang lain juga mengetahui sesuatu yang kita ketahui.

Tentu kita bisa saja mengatakan para ulama berbagi karena menganggap hal itu ibadah. Tetapi bagaimana dengan yang bukan ulama? bagaimana yang awam? bagaimana orang yang berbagi bahkan untuk hal-hal remeh?

Orang yang berbagi, menjadi jalan untuk orang lain mendapatkan suatu ilmu. Jika kita menjadi jalan kepahaman bagi orang lain, dalam istilah para arifin berarti kita menjadi “kalam”. Perantara bagi ilmu mengalir.

Karena ada dorongan untuk mengalirkan kepahaman pada orang lain, maka mau tak mau manusia akan tergerak untuk menjadi jalan kepahaman bagi orang lainnya. Tanpa kita sadari, sebenarnya kita menunaikan tugas menjadi kalam.

“Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS Al-‘Alaq : 4-5)”

Karena ternyata memang DIA hendak mengajar manusia.  

DIA ingin dikenali. Itu sebab DIA menciptakan makhluq. Dan kepada manusialah DIA memerintahkan agar kita “membaca” kehidupan ini. Setelah kita membaca kehidupan ini, maka akan ada dorongan yang begitu besar pada diri kita agar orang lain juga mengetahui apa yang kita ketahui. Ada hasrat berbagi.

Dalam tataran yang halus, kalau kita perhatikan betul, barulah ternyata kita mengerti bahwa aktivitas kita saling berbagi, berbagi apa saja tak mesti ilmu agama, itu semua adalah ejawantah dari DIA mengajari manusia.

Tersebab DIA ingin mengajari manusia, maka akan selalu ada orang-orang yang menunaikan tugas menjadi kalamNYA, membagikan apa yang mereka ketahui kepada manusia lainnya, agar ilmu berkembang, dan kenyataan tentang diriNya diketahui oleh makhluq.

Barangkali, kebijakan tentang IQRA’ ini sudah banyak dipahami orang-orang, tetapi satu hal yang belakangan baru saya mengerti adalah bahwa bagaimanapun “duniawi”nya suatu ilmu, sebenarnya itu adalah juga tentang DIA.

Kita kembali kepada sebuah wacana klasik. Bisakah DIA diindera? Tentu tidak bisa. DIA pada martabatNya Yang Maha Rahasia itu tidak akan bisa diindera oleh manusia.

Karena DIA tidak bisa diindera, maka pertanyaan berikutnya adalah bisakah DIA “dibaca?”

Tentu DIA tak bisa dibaca, karena manusia tidak bisa “membaca” atau mengenali sesuatu yang berada diluar ukuran kuantitas dan kualitas, begitu kata Imam Ghazali.

Walhasil, segala sesuatu yang manusia baca, sebenarnya adalah segala hal dalam ruang lingkup sifat-sifat. Dzat-Nya akan selalu rahasia, yang bahkan tak tersentuh oleh derajat para Nabi. Tetapi sifat-sifat, pengaturanNya di alam ini, adalah sesuatu yang manusia bisa baca dan mengerti.

99 Asmaul Husna adalah Nama-nama yang setiap nama mewakili makna yang disembunyikan dalam af’al / perbuatan / kreasi-Nya di alam raya.

Oleh karena itu, sebenarnya apapun yang kita pelajari, biologi, kimia, statistik, akuntansi, ekonomi, bahkan hal sederhana semisal cara menggoreng tahu, semua adalah kita “membaca” af’al DIA di alam semesta. Begitu jelas, bukan? Kita berada dalam lautan af’al. Setiap af’al mengandung makna-makna dalam asmaNya yang husna.

Jadi sebenarnya setiap hari kita berkelindan dengan sesuatu yang sangat spiritual. Dan kita didalam lautan lakonanNya.

Setelah memahami itu, lalu cobalah kita berhenti sejenak, dan merenungi kebelakang, mengenai segala hal yang sudah kita lakukan dalam konteks berbagi.

Coba tengok, apapun saja yang sudah pernah kita ajarkan, sharing, beritahu, sebarkan pada orang lain selama ini, seremeh-temeh apapun itu. Yang kita sadari atau yang tak kita sadari.

Dan coba amati kenapa dorongan untuk berbagi itu bisa ada?

Karena DIA ingin dikenali. Karena DIA mengajari lewat perantaraan kalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s