ILMU LAKU (2)

High-Def-Speaking-Big-Picture11Berapa hari yang lalu saya berpapasan dengan seorang buta yang menggendong dagangan kerupuk. Sebenarnya sudah sempat saya lihat beliau sejak dari tiga hari sebelumnya. Dan sejak tiga hari sebelumnya itulah saya sudah terbersit di hati bahwa saya harus membantu beliau dengan cara membeli dagangannya.

Tetapi ya itu, terlalu banyak mikir. Hari pertama saya bukannya langsung membantu melainkan saya malah mikir bagaimana bisa seorang buta berjalan begitu jauh dan memasuki gang-gang kecil? Hari kedua saya sudah ingin membeli saat saya berpapasan dengan beliau waktu pulang kantor, tetapi jalanan sempit dan untuk parkir kendaraan agak sulit, sedangkan beliau terus berjalan dan saya susah memanggilnya. Hari ketiga juga begitu.

Hari keempat saya cari-cari beliau sepanjang jalan dekat perumahan tetapi tak ketemu, hingga kemarin saya cari tetap saya belum menemukan beliau. Walhasil hingga kini niat baik belum terlaksana juga.

Saya pikir-pikir, inilah salah satu kekeliruan saya, yaitu menunda amal. Tetapi, hal lainnya yang saya akhirnya mengerti adalah bahwa sikap menunda amal atau dalam bahasa yang lebih khusus yaitu sikap untuk tidak menjujuri insight kebaikan yang turun kepada kita, lambat laun malah akan menutupi kejernihan insigt itu sendiri. Yang menutupi kejernihan insight itu seringkali ya sikap kita sendiri.

Ada satu cerita yang barangkali tepat mewakili contoh ini. Adik tertua saya sendiri, suatu ketika mengalami kesulitan sebab HP Androidnya rusak. HP Android rusak, berarti komunikasi terhambat, sedangkan dia sedang menyelesaikan skripsi dan hampir setiap saat butuh data internet untuk cari info, komunikasi dengan dosen, dan lain-lain.

Singkat cerita, saya bilang padanya, kenapa tidak berdoa saja kepada Tuhan?

Saya katakan, bahwa justru keengganan untuk berdo’a kepada Tuhan itu boleh jadi karena salah persepsi. Kita mengira, sesuatu yang kita minta itu terlalu tinggi dan mengalahkan ketinggian Tuhan.

Dalam tataran yang halus, sikap tidak berdo’a sama sekali boleh jadi adalah sikap nrimo tingkat wahid, semisal Nabi Ibrahim. Tapi tanpa perlu kewaskitaan tinggi, kita sudah bisa mengukurlah kapasitas diri sendiri, tak mungkin kita ini level para Nabi. Level semacam kita adalah level hamba yang menemukan realita keTuhanan lewat kenyataan-kenyataan hidup yang kita alami. Maka keperluan-keperluan duniawi kita, justru harusnya menjadi pintu pengenalan pada Tuhan.

Maka saya sarankan dia berdo’a kepada Tuhan. Tetapi jangan sekali dua, melainkan terus menerus, setiap habis sholat, minta pada Allah, minta dengan totalitas. Dengan meyakini bahwa Tuhan Semesta Raya adalah yang mengejawantahkan seluruh alam ini, maka sebenarnya permintaan kita sama sekali tidak akan mengurangi kekayaan Tuhan. Sedikit maupun banyak, sama saja bagi Tuhan, tak punya arti. Sebenarnya yang penting justru kita menemukan realita dari sifat-sifat (fi’liyah) Nya dalam Asmaul Husna lewat do’a, itu yang lebih penting.[1]

Singkat cerita, adik saya itu berdo’a. Saya sebenarnya agak tidak yakin juga, apakah benar adik saya ini akan berdo’a dengan totalitas. Saya mengharapkan dia berdo’a terus menerus mengadukan kesulitannya pada Tuhan, sekurangnya satu bulan full. Karena saya teringat salah satu pesan seorang guru, jika benar bahwa keinginan berdo’a itu selalu muncul terus menerus dan begitu kuat, maka itu tandanya Allah ingin memberi. Bukan do’a kita menyetir Tuhan, melainkan jika Tuhan ingin memberi dikirimnyalah selalu pada hati kita sebuah keinginan yang begitu halus, yang mau tak mau meluber dalam bentuk do’a yang menghamba.

Ternyata, syukur pada Allah, hari ketiga do’a adik saya diijabah. Dan tanpa disangka seorang temannya pagi-pagi sekali datang ke kosan dan memberikan sebuah handphone android, tanpa ada angin tanpa ada hujan ujug-ujug datang dan memberikan handphone android. Karena dia punya dua handphone maka satunya diberikan pada adik saya. Kontan saja adik saya terkaget-kaget dan bersyukur.

Saya tanyakan pada adik saya, sebenarnya apa yang terjadi saat dia berdo’a? apakah do’anya yang menyetir Tuhan sehingga Tuhan menjadi manut dan mengabulkan? Tentu bukan begitu.

Dan adik saya mengatakan bahwa saat keinginan untuk memiliki sebuah handphone yang akan menunjang keperluan kuliah itu begitu besar, dan menguat, maka akhirnya dia pahami bahwa dirinya hanya menjadi jalan, menjadi semacam keran saja, untuk mengalirkan apa yang terbersit di dalam hati.

Itulah maksud Umar r.a, “aku tidak membawa hasrat pengabulan, melainkan aku membawa hasrat do’a. Jika aku tergerak berdo’a, maka aku tahu pengabulan bersamanya.”

Kita akan bisa memahami hal ini, jika kita kembali menilik dari awal, kenapa Tuhan menciptakan alam raya, menciptakan makhluq? Tak lain tak bukan karena Allah ingin DIA dikenali.

Maka -dalam tanda kutip ya- pada konteks “Tuhan ingin diriNYA dikenali” inilah maknanya sebenarnya Tuhan melihat diriNYA sendiri lewat mata makhluqNYA.

Kenyataan-kenyataan dalam hidup kita, sebenarnya adalah pintu-pintu untuk kita menemukan realita keTuhanan. Alias jalan pulang itu sudah terhampar dalam kenyataan hidup kita masing-masing.

Maka saat ada kebutuhan, berarti itu pintu pengenalan padaNya lewat do’a. Yang mengirimkan kebutuhan-kebutuhan (insight untuk menghamba) adalah DIA juga, lalu pada ujungnya DIA sendiri juga yang menuliskan pengabulannya.

Maka kalau kita balik, apakah do’a kita menyetir pengabulanNYA? Jauh panggang dari api.

Sesungguhnya yang terjadi adalah karena DIA ingin melihat diriNYA sendiri, maka akan dizahirkanNYA-lah kebutuhan dalam hati manusia, maka diujungnya sudah disiapkan pengabulan.

Apa hubungannya hal ini dengan perbincangan kita di awal tadi? Hubungannya adalah bahwa insight-insight kebaikan dalam diri kita, mestilah dizahirkan menjadi amal yang tidak kita tunda-tunda. Ada kebutuhan yang menghunjamkan insight penghambaan, maka zahirkan menjadi do’a dan peribadatan. Ada insight kebaikan dalam kehendak menolong orang, maka zahirkan menjadi sedekah yang tulus.

Jangan terbiasa menutupi insightmu sendiri.

Jika kita sudah mengerti bahwa segalanya ini sebenarnya adalah tentang DIA semata, maka kalau kita terlalu sering menutupi insight terdalam kita, -seperti yang saya lakukan dengan menunda-nunda insight kebaikan membeli kerupuk seorang buta tadi-; maka kita sebenarnya sudah membuat diri kita sendiri menjadi buram. Dan lama-lama bingung apakah dorongan dari dalam ini insight kah atau kehendak diri. Karena terlalu sering tidak menjujuri dorongan kebaikan yang muncul.

Yang paling benar mimpinya adalah yang paling benar ucapannya, kata sebuah hadits[2]. Kalau kita kaitkan dengan konteks menjujuri insight yang turun, maka yang paling benar mimpinya (yang paling benar petunjuk yang terbaca) adalah orang yang terbiasa jujur antara yang terbersit di hati dan apa yang mengejawantah dalam laku.

Terlalu sering tidak jujur pada apa-apa kebaikan yang terbersit di hati, lama-lama memburamkan insight itu sendiri.

~~~

References:

[1] Janganlah kamu berdoa: “Ya Allah ampunilah aku jika Engkau mau, rahmatilah aku jika Engkau mau,” hendaknya dia mantapkan hati atas doanya itu karena sesungguhnya Allah tidaklah dipaksa oleh doanya itu.” (HR. Bukhari No. 6339, 7477, Muslim No. 2679).

[2] Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin ‘Amru bin As Sarh Al Mishri] telah menceritakan kepada kami [Bisyr bin Bakr] telah menceritakan kepada kami [Al Auza’i] dari [Ibnu Sirin] dari [Abu Hurairah] dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila zaman telah mendekati (hari Kiamat), hampir-hampir mimpinya seorang mukmin tidak bohong, maka orang yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling jujur pembicaraannya. Dan mimpi seorang mukmin merupakan satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian.” (H.R Ibnu Majah. No 3907)

Gambar ilustrasi saya pinjam dari link ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s