MENAJAMKAN GERAK

gerakTeringat dulu sewaktu saya masih menekuni beladiri sewaktu kuliah, seorang guru pernah mewejang bahwasannya tanpa “penjiwaan” yang benar, maka gerakan jurus tak akan ada bedanya dengan menari.

Apa yang membedakan berjurus dan menari? Yang membedakan ternyata adalah penjiwaan. Sepaket kepahaman bahwa serangkaian gerak yang kita lakukan adalah gerak dengan fungsi begini begini dan tujuannya begini begini. Tanpa kepahaman itu, maka berjurus hanya akan memberikan letih, sehingga beladiri hanya menjadi tarian.

Belakangan, saya menyadari bahwa kajian itu ternyata sejalan dengan kajian spiritual, bahwa kepahaman yang kita punyalah yang memberikan makna bagi sebuah gerak yang kita lakukan.

Idiom ini dikenal dengan istilah “ilmu sebelum amal”.

Kita bisa memandang istilah ‘ilmu sebelum amal’ ini dalam konteks sederhana semisal: kita tahu dulu bagaimana cara melakukan sholat, bagaimana gerakannya (ilmu), lalu barulah setelah itu kita bisa beramal. Maka ilmu sebelum amal.

Tetapi, kita bisa memandang hal tersebut dalam konteks yang lebih dalam lagi, yaitu bahwa setelah beramal, maka kepahaman yang lebih dalam akan makna dari sesuatu yang kita kerjakan itulah yang membuat amal akan menjadi makin tajam.

Dalam konteks menajamkan makna amal inilah, maka kita tahu ternyata bentuk luaran ibadah, atau bentuk luaran gerak itu bisa saja sangat sederhana, tetapi dia menjadi bernilai tinggi karena kepahaman yang melambarinya; dalam.

Kita tentu sering mendengar istilah bahwa segala sesuatu tergantung niat. Jika ‘segala sesuatu’ adalah maksudnya gerak ibadah luar kita, dan ‘niat’ adalah maksudnya kepahaman yang batin mengenai kenapa kita lakukan sesuatu itu, maka itu juga sebangun dengan istilah ilmu sebelum amal.

Ada kisah. Saya tak paham benar ini kisah betulankah atau Cuma ceritra,yang jelas pelajarannya menarik.

Suatu ketika, seorang sunan dengan seorang muridnya sedang makan siang dari bekal yang mereka bawa. Mereka berhenti pada sebuah tapak jalan dan memakan bekal makan siang yang sudah mereka siapkan sebelum perjalanan. Selepas makan, sang sunan melihat pada sisi mulut muridnya itu ada sebutir nasi yang tertempel, lalu sang sunan menegur.

Muridnya, karena menyadari ada sebutir nasi di mulutnya, maka lantas membuangnya ke jalan.

Gurunya kemudian menjadi marah.

Muridnya bingung, kenapa marah? Apakah bisa disebut mubazir membuang sebutir nasi ke jalan?

Sang sunan menjelaskan. Bahwa ini bukan perkara mubazir atau tidak. Karena toh sebutir nasi itu kelak bisa menjadi makanan burung, atau makanan semut yang melintas. Tetapi ini perkara kepahaman. Apakah sang murid sudah membuang sebutir nasi itu didasari sepaket kepahaman itu? Bahwa dia membuang sebutir nasi karena kelak nasi bisa menjadi rizki untuk hewan dan binatang kecil?

Sang murid pun terdiam.

Semakna itulah bahasan kita tadi. Tanpa kepahaman batin, maka gerak hanya akan menjadi gerak. Gerak akan gagal memiliki nilai-nilai.

Tetapi dengan kepahaman yang benar, dengan pemaknaan yang benar, gerak sederhanapun akan menjadi tajam. Dan begitulah para arifin membahasakan tasawuf. Bahwa tasawuf adalah berbicara tentang memberi makna pada gerak (syariat) yang sudah ada pakemnya. Tatanan gerak luar, tidak usah dirubah lagi. Tetapi cara kita memaknainyalah yang menentukan akan menjadi tajamkah atau tidak gerak-gerak itu.

Dan ternyata, semesta inipun dibangun dalam kerangka logika itu. Bahwa gerak dalam semesta ini tidak mungkin semata gerak. Gerak dalam semesta, adalah imbas dari makna-makna yang hendak disampaikan.

99 Asma’ Allah adalah nama yang mewakili makna-makna dalam keseluruhan gerak di alam. Topan, Badai, Tsunami, bayi lahir, orang mati, burung menjaga anaknya, dan banyak lagi. Adalah gerak yang kita lihat di alam. Tetapi, gerak di alam tak hanya semata gerak.

Burung terbang di pagi hari dan kembali membawa makanan menghidupi anaknya, adalah kenyataan dari asma’Nya Ar Razzaaq (Yang Maha Pemberi Rezeki). Kematian dan kehidupan adalah gerak yang keluar dari makna Al Hayyu, Al Mumiitu. Dan seterusnya.

DIA ingin dikenali. Itu sebab DIA menciptakan makhluq, agar mengenali-Nya.

Tetapi makhluq, pandangannya acap tertambat pada gerak. Itulah kita sering melupakan makna-makna. Bahwa gerak, tak mungkin hanya gerak. Gerak adalah perwujudan makna.

Dalam suatu hadits, Rasulullah mengatakan:

“Sesunguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu, siapa yang menjaganya maka dia masuk surga.” (HR. Bukhari, no.2736, Muslim, no.2677 dan Ahmad, no.7493).

Pengetahuan akan makna-makna itulah yang pada gilirannya juga menajamkan amal.

Ada orang melihat sesuatu, tertambat pada geraknya. Tetapi ada yang melihat sesuatu, lalu mengerti makna di sebaliknya.

Barangkali inilah penjelasan mengapa kita seringkali berdo’a, tetapi semakin berdo’a dan beribadah kita semakin gelisah. Karena, dalam beribadah dan mengadukan kesulitan yang kita hadapi, kita mungkin bukan “mengingat” Tuhan. Tetapi kita mengingat masalah-masalah kita.

Masalah-masalah yang kita temui dalam hidup ini, jika dianalogikan dengan bahasan di atas tadi, adalah “gerak”. Yang tertambat pada “gerak” akan gagal menangkap makna.

Untuk mengerti makna, maka lintasilah gerak itu. Maka Asmaul Husna (yang sebenarnya adalah nama-nama yang mewakili sifat-sifat fi’liyah (perbuatan)) adalah semacam pintu. Pintu untuk mengingati DIA.

DIA itu, adalah Sang Empunya. Empunya gerak. Bahkan empunya makna-makna itu. DIA-lah yang dituju.

 

~~~

Saya pinjam gambar ilustrasi dari sini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s