MENAJAMKAN GERAK (2)

imagesManusia, mengenali lingkungan sekitarnya lewat indera mereka. Sebuah dunia yang kita kenal ini, barangkali dalam mata seeokor kucing akan sama sekali berbeda. Pun begitu juga lewat mata seekor serangga, yang dalam satu mata memiliki beratus pasang mata (mata majemuk). Bagi serangga, dunia yang kita diami ini tidak seperti apa yang manusia bayangkan.

Begitulah, kita tinggal dalam sebuah dunia yang kita persepsikan sesuai dengan apa yang dicerap oleh indera kita yang terbatas.

Pertanyaannya. Apakah benar dunia ini seperti yang kita persepsikan ini? Barangkali sama sekali bukan seperti ini. Hanya saja, persepsi kita yang tidak bisa menampung semua realita sebenarnya.

Itu baru tentang dunia. Kita hidup dalam dunia yang kita bisa mengerti sebatas persepsi kita yang inderawi. Suara yang kita dengar adalah spektrum suara 20 hingga 20,000 hz. Cahaya yang bisa dilihat manusia adalah spektrum cahaya 400 sampai 700 nm.

Itu baru tentang dunia. Apalagi tentang Tuhan?

Islam dengan tegas mengatakan bahwa DIA, tak serupa, tak seumpama.

Dalam Kimiatus Sa’adah Imam Ghazali menjelaskan bahwa manusia tak dapat mengerti tentang sesuatu diluar batasan kuantitas dan kualitas (inderawi). Sedangkan untuk mendeskripsikan bagaimana bentuknya “marah” saja, manusia kesulitan.

Bagaimana bentuknya “marah”?

Misal kita jawab, “Bentuknya adalah mata melotot dan menatap nanar.”

Keliru, itu bukan bentuk “marah”, itu adalah imbas dari suasana “marah” yang di dalam batin, berimbas pada dunia empiris di level jasad. Jadi yang kita baca itu imbas dari marah pada tataran empirik, itu bukan esensi sejatinya “marah”. Itu imbas.

Sedangkan mendeskripsikan tentang esensi sejati dari “marah” saja manusia sudah tak bisa, bagaimana manusia mendeskripsikan Dzat Tuhan, yang diluar batasan-batasan yang dimengerti manusia?

Ruang dan waktu, adalah sesuatu yang manusia mengerti secara persepsi inderawi yang terbatas. Sedang Tuhan tak dibatasi dengan ciptaannya itu.

Maka itu, sebuah hadits yang sering sekali dikutip adalah hadits untuk tidak memikirkan Dzat Tuhan. Karena DIA tak akan serupa dengan apapun persepsi manusia yang terbatas.

“Berfikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-kali engkau berfikir tentang Dzat Allah.” (Hadits Hasan, Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah [1788]).

Kemudian pertanyaannya adalah, kenapa kita disuruh merenungkan Asmaul Husna jika Dzat-Nya jangan difikirkan?

Disinilah kemudian para arifin menjelaskan sebuah perkara yang sangat fundamen, tetapi memang sedikit pelik. Yaitu bahwa Asmaul Husna, adalah nama-nama yang menjelaskan makna-makna yang terkandung pada af’al (perbuatan) Allah di muka bumi ini.

Jadi Asmaul Husna adalah nama, yang sebenarnya menjelaskan tentang sifat. Tetapi sifat itu adalah sebenarnya makna yang terkandung dalam perbuatan.

Semisal, kita katakan si Budi ‘baik hati’. Maka Sudah ada dua ‘nama’. Budi, dan ‘baik hati’.

Nama ‘Budi’ merujuk pada Dzat-Nya. Dalam hal ini dirinya atau jasadnya. Seperti apa orangnya, tinggi, besar, sawo matang, dst.

Tetapi julukan ‘Baik hati’, itu bukan merujuk pada diri atau jasadnya Budi. ‘Baik hati’ itu menjelaskan tentang perbuatan. Istilahnya adalah sifat fi’liyah. Sifat yang menunjukkan perbuatan.

Bagaimana mungkin kita tahu bahwa Budi ‘baik hati’ sebelum nyata perbuatan si Budi? Setelah terlihat nyata bahwa Si Budi menolong kucing yang tercebur di selokan, misalnya, barulah kita katakan Budi ‘baik hati’.

Begitulah Asmaul Husna. Keseluruhan Asmaul Husna, yang berjumlah 99 (sebagian ulama mengatakan lebih dari itu), sebenarnya adalah nama yang mewakili makna-makna yang dikandung pada setiap gerak-Nya (af’al).

Yang Mana itu af’al-Nya?

Af’al-Nya mewujud dalam keseluruhan kejadian apapun saja dalam hidup ini. Semua kejadian hidup pasti berhikmah dan pastilah terangkum dalam Asma-Nya yang Husna.

Jadi, asmaul Husna itu adalah nama-nama, yang setiap nama mewakili makna-makna tertentu, dari perbuatan yang DIA gelar di alam semesta ini.[1]

Kita disuruh membaca, “Iqro bismirabbika…”, yang dibaca adalah ciptaan. sedang Tuhan tidak mungkin bisa dibaca, diindera, dibayangkan, diteliti, atau sebutlah apapun istilahnya.

Dengan melihat dan memaknai segala yang terjadi di alam ini sebagai pagelaran makna-makna olehNya, maka kita akan diajari apa-apa yang tak kita ketahui.

Jadi, betapa menariknya penjelasan para arifin mengenai Asmaul Husna ini. Bahwa Asmaul Husna ini mewakili makna-makna dari kejadian-kejadian hidup yang ada di sekitar kita ini. Sifat fi’liyah. Sifat-sifat atau makna-makna yang berkaitan dengan perbuatan.

Tetapi, kita tak bisa mengatakan Asmaul Husna itulah DIA. (sekedar mempermudah kepahaman. Seperti contoh di atas tadi. Budi baik hati. Kita tidak bisa mengatakan bahwa Budi adalah ‘kebaikan’. Karena sebenarnya Budi itu adalah sebuah jasad yang tinggi, besar, berkulit sawo matang. Dan ‘kebaikan’ itu sebenarnya tidak menjelaskan dirinya Budi, melainkan menjelaskan perbuatan yang dilakukan Budi)

Karena, kita kutip dari Imam Ghazali, setiap nama (Asmaul Husna) itu mewakili satu makna saja. Maka, semisal kita kutip Asmaul Husna as Sabur, Ash Shakuur, Al Jabbar, Al Malik, setiap satu nama mewakili makna-makna tertentu dari perbuatanNya. Tetapi kita tidak bisa mengatakan bahwa Asmaul Husna itulah DIA. Karena setiap satu Asmaul Husna hanya mewakili satu makna saja. Dan itu pun, menjelaskan perbuatan. Bukan menjelaskan tentang Dzat-Nya atau diriNya.[2]

Agar tak terlalu abstrak. Sebenarnya hal ini sangat lekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Barangkali, rekan-rekan pun sering mengalami seperti yang saya alami. Disaat ada masalah, dan kita berdo’a kepada Allah lewat sholat ataupun berdo’a selepas sholat dan mengadukan masalah kita. Bukannya merasa tenang dan lega tapi kok kita tambah gelisah. Apa yang salah?

Yang salah adalah ternyata saat berdo’a saya tidak menghadap / mengingati Allah. Yang saya ingat adalah ‘masalahnya’ itu. Padahal, masalah itu adalah kenyataan hidup. Kejadian hidup. Alias ciptaan. Kalau berdo’a tetapi fokusnya pada ciptaan atau pada masalah, berarti saya belum mengingati Allah. Namanya adalah mengingati ‘masalah’, hanya saja secara zahir terlihat berdo’a, padahal batinnya mengingati masalah.

Naik sedikit dari tingkatan itu, adalah orang-orang yang sudah mengerti dan menemukan makna Asmaul Husna pada kehidupannya. Semisal, dalam kesulitan keuangan, dia malah menemukan kenyataan dari Asma AR-RAZZAQ atau Maha Pemberi Rizki. Orang tersebut jadi menyadari bahwa kesulitan dan kemudahan yang bergonta-ganti dalam hidupnya adalah sebenarnya hanya ejawantah dari makna-makna yang terkandung dalam Nama Tuhan itu. Jadi, dia sudah setingkat naik lagi. Tidak tertambat pada hal yang semata fisikal dan tampak mata.

Tetapi ternyata, para arifin memberitahu pada kita sesuatu yang di atasnya lagi. Yaitu bahwa kesemua Asmaul Husna itu adalah makna-makna yang terkandung dalam takdir di dunia ini. Makna-makna itu bisa beratus-ratus. Kita tahu pemiliknya satu jua. Dan yang disembah adalah Sang Pemilik takdir itu. Pemilik Nama. Pemilik sifat-sifat.

Maka saat mereka beribadah, mereka tidak lagi terpandang pada dualitas : menyempitkan-melapangkan, susah-senang, tinggi-rendah, tetapi mereka fokus pada Sang Empunya. Yaitu Allah.

Seperti apa DIA?

Tidak akan ada persepsi, atau gambaran seperti apapun yang bisa menggapaiNya. Tidak serupa ciptaanNya. Dan bahkan DIA bukanlah sifat-sifatNya.

Laisa Kamitslihi syaiun ‘tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia’.

Tetapi kita tidak usah pusing-pusing dan berharap terlampau tinggi. Cukup kita jadikan segala hal yang kita temui dalam kehidupan kita sebagai sarana pembacaan bahwa pengaturannya berkelindan dalam segala lini kehidupan kita. Dan lewat segala takdir yang naik turun itulah kita kembali padaNya.

“Dan bagi Allah itu nama-nama yang Indah/Baik, berdoalah dengannya (dengan menyebut nama-nama yang baik itu – Asma ul-Husna).”   Surah al-A’raf 7:180

Jika telah terlihat jelas kenyataan pengaturannya dalam hidup kita, maka berdoalah padaNya dengan menyeruNya lewat makna yang tersaksikan oleh kita itu.

Penyaksian penuh akan makna-makna dalam hidup yang merupakan ejawantah dari sifat-sifat dalam Asma-Nya yang husna itulah, saya rasa yang dimaksudkan oleh hadits Nabi bahwa siapa memerhatikan Asmaul Husna, maka baginya syurga.[3]

 

references:

[1] [1] Allah SWT memiliki Asmaa’ul-Husnaa (nama-nama yang indah). Di antaranya adalah al-Ghafuur, ar-Rahiim, al-‘Afuww, al-Haliim, al-Khaafid, ar-Raafi’, al-Mu’izz, al-Mudzill, al-Muhyi, al-Mumiit, al-Waarits, dan ash-Shabuur. Dan, pengaruh dari Asmaa’ul-Husnaa tersebut pasti tampak.Maka dengan kebijaksanaan-Nya, Adam dan keturunannya Dia turunkan ke alam ini, di mana pengaruh Asmaa ‘ul-Husnaa tersebut menjadi nyata.

Di alam inilah Allah SWT mengampuni, mengasihi, mengangkat, memuliakan, menghinakan, menyiksa, memberi, tak memberi, melapangkan dan sebagainya bagi siapa saja yang Dia kehendaki sebagai manifestasi dari asma dan sifat yang Dia miliki. (Ibnu Qayyim dalam buku “kunci kebahagiaan”)

[2] Terjemah bebas dari buku Imam Ghazali, “99 Names of God in islam, Translation of al-Maqshad al-Asna fi Syarhi Asma’ Allah al-Husna. Imam Ghazali. Chapter introduction)

[3] “Sesunguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu, siapa yang menjaganya maka dia masuk surga.” (HR. Bukhari, no.2736, Muslim, no.2677 dan Ahmad, no.7493).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s