JANGAN LUPA PADA JAMALNYA

Salah satu hal yang saya amati pada diri saya sendiri, adalah seringkali lupa bahwa Allah SWT memiliki sifat Jamal.

Sederhananya, para guru mengatakan sifat Jamal adalah sifat-sifat yang indah dan welas-asih.

Apa sebab saya melupakan sifat Jamal-Nya? Barangkali salah satu sebabnya adalah karena digelontor kesibukan pekerjaan.

Rekan-rekan tentu pernah mengalami, dalam ritme hidup yang cepat, semua akan terlihat begitu monoton dan serius. Dan jika saya sudah terlalu serius, maka saya mengamati cara saya memandang kehidupan sudah agak kurang berwarna. Karena kehidupan dipandang dalam kacamata yang kurang indah. Seakan-akan hidup hanyalah dalam citra kemacetan jalan, tumpukan kertas, monitor laptop, dan krang-kring telepon client. Ini tidak elok.

Saya teringat pada kisah Isra’ Mi’raj-nya Nabi, dimana sewaktu beliau sedang mengalami tumpukan duka lara, beliau di-isra’-kan lalu di-mi’raj-kan ke langit.

Lepas dari konteks bahwa hal itu jadi sebab musabab perintah shalat, saya baru paham bahwa saat beliau diangkat ke langit, dan melihat semesta ini dalam konteks yang sangat bessssaaaaaar dan luaaaaasss, maka kepedihan hidup -dalam skalanya yang kalah luas di banding semesta raya ini-; akan semakin terasa kecil.

Dulu, saat saya masih kuliah, saya mengira skripsi saya sudah demikian pelik. Setelah saya ada di dunia kerja, baru saya paham bahwa semestinya skripsi dulu itu tak pelik. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Jadi, kalau kita hidup dalam konteks yang besar, maka kesulitan hidup -paling tidak- akan berasa kecil.

Sama juga dengan ceritra sifat Jamal tadi.

Dalam kitab Futuhul Ghaib, Syaikh Abdul Qadir Al Jailani pernah mengatakan bahwa Rasulullah menggelegak dadanya terdengar gemuruh, saking takutnya pada Tuhan. Karena, yang terpandang pada Rasulullah kala itu adalah citra JALAL-Nya Tuhan. Sifat-sifat keagungan, kebesaran, digdaya.

Tapi tidak selalu pada sisi itu beliau memandang. Sehingga, masih dalam Futuh Al Ghaib, dikatakan bahwa Rasulullah mengatakan pada bilal “istirahatkan kami dengan sholat”. Rasulullah menyuruh bilal adzan, dan beliau hendak “istirahat” dengan melaksanakan sholat.

Menurut sang Syaikh, “istirahat dengan sholat” itu maknanya adalah bahwa Rasulullah memasuki sholat dengan mencecap sifat JAMAL-Nya Tuhan. Keindahan dan welas asih.

Dan itulah tema besar yang diusung Rasulullah. Mengenalkan kembali Tuhan, dalam citranya yang utuh.

Mengajarkan orang-orang untuk memulakan segala aktivitas dengan basmalah.

Bismillahirrahmanirrahim. Dengan nama-Nya yang Rahmaan Rahiim. Agar hidup kita masuki dengan mencecap welas asih-Nya.

Dan itu juga yang dimaksud suatu hadits yang mengatakan bahwa Allah berfirman rahmat-Nya mengalahkan murkaNya. Itu juga tentang sifat JAMAL-Nya.

Jadi jika hidup terasa begitu membebani, barangkali konteks saya memandang hidup perlu di mi’rajkan dulu. Agar lebih komprehensif. Dan  kembalimengingat  bahwa saya hidup dalam sebuah dunia dimana Sang Pencipta dunia ini ingin dipandang sebagai “yang Rahmat-Nya mengalahkan murkaNya”, dan DIA juga yang menyuruh agar apa-apa dimula dengan namanya yang welas asih. JAMAL-Nya.

HIDUP DALAM KONTEKS MEMBERI

maruf_sedekah

Dari penjara Banceuy-lah lahir sebuah pledoi “Indonesia menggugat”.  Pledoi yang ditulis di atas kaleng yang berbau tak sedap, kaleng tempat buang hajat, satu-satunya perkakas yang bisa difungsikan sebagai meja di dalam penjara itu. Disitulah Soekarno ditahan pada awal-awal masa perjuangan, dan kemudian di atas kaleng yang setelah dibersihkan dialasi dengan tumpukan-tumpukan koran itulah Soekarno menuliskan pembelaan yang meninggalkan jejak hingga sekarang.

Mengenai kaitannya pledoi itu dalam kajian sejarah indonesia, biarlah dikaji para sejarawan. Yang saya hendak tuliskan adalah satu fakta sederhana itu saja, bahwa saat seseorang hidup dalam konteksnya yang besar, yaitu konteks untuk memberi, maka orang itu akan bisa melampaui sensasi kedirian yang sempit.

Kita bisa menyepi ke gunung, melakukan tirakat spiritual yang ketat. Kita bisa puasa begitu dawam dan sholat dengan upaya yang keras untuk mencapai level yang menipiskan ruang ego, tetapi capaian ruhani yang membuat kita menjadi hilang keakuannya, saya baru sadari, ternyata ada pada kunci rahasia yang sederhana itu. Yaitu membiasakan hidup dalam konteks memberi.

Saat seseorang membiasakan hidup dalam konteks memberi, maka ruang ego di dalam dirinya menjadi mengecil, karena dia hidup dalam upaya membaikkan sekelilingnya. Saat keseluruhan hidupnya dipatri dalam cita-cita berkebaikan yang besar itu, maka ruang keakuan akan lama-lama hilang.

Dahulu saya bertanya-tanya, bukankah dalam skala tertentu berkebaikan untuk orang lain malah semakin menimbulkan keakuan diri? Belakangan barulah terjawab bahwa sesiapa yang dalam berkebaikan malah menimbulkan keakuan diri, berarti sebenarnya dia tidak hidup dalam konteks memberi.

Zahirnya dua orang boleh terlihat sama-sama berkebaikan, tetapi orang yang tidak dalam konteks memberi sejatinya dia menadahkan hatinya untuk meminta sumbangsih pengakuan dari orang lain. Maka orang itu sebenarnya meminta, bukan memberi.

Jika tak tumbuh dalam diri saya sendiri selain dari rasa sempit dan luka saat membantu orang lain, maka jangan-jangan saya sedang tidak memberi.

Sedangkan yang benar-benar memberi, dia akan melampaui ruang rasanya kerdil. Soekarno dalam penjara tidak memaki dirinya sendiri. Karena dia hidup dalam konteks wacana yang besar. Memberi.

Panglima Soedirman, misalnya. Dalam sakitnya tetap memimpin perang. Dia memberi.

Sayidina utsman bin Affan misalnya, membebaskan sumur Raumah untuk penduduk yang kesusahan air.

Dan sederet cerita orang-orang yang hidup dalam konteks memberi. Mereka melampaui ruang rasanya sendiri. Pencapaian yang mungkin didapatkan lewat tirakat berat dan panjang para spiritualis, rupanya dirangkum dalam sabda Sang Nabi bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.

Dalam kaitannya dengan menipiskan ruang ego, memburamkan keakuan; inilah saya baru mengerti apa yang disebutkan para arifin.

Hidup dalam konteks memberi, itu hanya akan dipahami jika kita mengerti bahwa yang berkebaikan adalah bukan kita sendiri. Karena kita hanya keran kebaikan, air yang mengalir itu bukan milik kita.

Dan hidup dalam konteks memberi, itu hanya akan dipahami jika kita sadari bahwa sejatinya yang kita bantu adalah makhluq-Nya juga, yang dalam tanda kutip; lewat mata merekalah Tuhan inginkan agar diri-Nya dipandang. [1]

Jadi, cara yang cukup membantu menipiskan ruang ego adalah dengan berkebaikan pada orang lain. Cara yang ampuh, jika kita merasa sudah banyak tirakat tetapi masih merasa besar egonya. Lalu disitulah kita akan mengerti maksud orang-orang arif…..sesungguhnya siapa yang dibantu? Siapa yang membantu?

 

 

~~~

references

[1] Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., beliau berkata, telah bersabda Rasulullah saw, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla kelak dihari kiamat akan berfirman, “Wahai anak cucu Adam, aku sakit dan kamu tidak menjengukku”, ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam”, Allah berfirman, “Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya hambaku yang bernama Fulan sakit, dan kamu tidak menjenguknya? Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya jika kamu menjenguknya, engkau akan mendapatiku didekatnya. Wahai anak cucu adam, aku meminta makanan kepadamu, namun kamu tidak memberiku makanan kepada-Ku”, ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami dapat memberi makan kepada-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya hambaku fulan meminta makanan, dan kemudian kalian tidak memberinya makanan? Tidakkah engkau tahu, seandainya engkau memberinya makanan, benar-benar akan kau dapati perbuatan itu di sisi-Ku. Wahai anak cucu adam, Aku meminta minum kepadamu, namun engkau tidak memberi-Ku minum” , ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami memberi minum kepada-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Seorang hambaku yang bernama fulan meminta minum kepadamu, namun tidak engkau beri minum, tidakkah engkau tahu, seandainya engkau memberi minum kepadanya, benar – benar akan kau dapati (pahala) amal itu di sisi-Ku” (Hadist diriwayatkan oleh Muslim.)

ilustrasi gambar dipinjam dari link ini

CINTA YANG MENYAMUDERA

SAMUDERABarangkali, gerbangnya cinta itu adalah penerimaan. Satu kesalahan yang jamak dipahami orang adalah mengira bahwa penerimaan sejati itu meniadakan pembaikan. Misalnya pada kalimat “aku mencintaimu apa adanya.” Seolah penerimaan cinta itu meniadakan proses perbaikan. Padahal, penerimaan apa adanya tidaklah menghalangi seseorang untuk kemudian melangkah menjadi pribadi yang lebih baik. Tetapi pointnya memang benar, proses melangkah menjadi lebih baik itu harus dimulai dari penerimaan dulu. Dan penerimaan itulah sejatinya gerbang cinta, saya rasa.

Belum lama berselang, di facebook saya lihat seliweran komentar terhadap sebuah gambar dimana seorang santri mengelus seekor anjing yang terluka. Banyak komentar baik, tapi tak urung membanjir juga komentar negatif. Bukankah anjing itu najis? Anjing itu seharusnya dijauhi. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Saya merenungi dan kemudian semakin menyadari bahwa sebenarnya fragmen dimana seorang santri mengelus anjing yang terluka; itulah cinta. Cinta itu yang gagal ditangkap orang-orang yang masih melihat pada fisikal semata.

Karena cinta adalah penerimaan. Jika cinta sudah tertanam, maka penerimaan akan mengejawantah. Jika penerimaan sudah tergelar, tinggal menunggu saja cinta menjadi membaikkan sekelilingnya. Saya sendiri belum sampai pada taraf itu, dimana seekor anjing tidak lagi terlihat secara fisikal, tetapi yang terlihat pada pandangannya adalah makhluq-Nya yang butuh pertolongan. Urusan najis, bisa disucikan kemudian, dengan cara dibasuh tujuh kali dan dicampur debu.

Memang, penerimaan yang model seperti ini, akan sulit dipraktekkan bagi yang tidak memiliki cukup cinta di hatinya.

Dan saya sendiri menjadi menafakuri diri. Ada cara memang, untuk melihat ke dalam batin dan memilah-milah cara pandang kita sendiri, dan menilai diri, lapangkah tidak samudera kita? Tetapi ada cara yang gampang dan bisa dipraktikkan orang awam sekalipun, yaitu dengan melihat pada tataran yang empiris itu. Jika kita belum sanggup untuk menerima dengan lapang pada keragaman, berarti cinta kita dalam hati belum menyamudera.

Terlalu banyak fragmen pada diri saya sendiri yang mesti dibenahi. Fragmen merasa kesal pada pengemis, pada pengamen, pada orang yang suka berdebat, pada tetangga, pada pekerjaan, pada cuaca, dan pada apapun saja yang bisa diserang dengan rasa benci saya, itu membuktikan bahwa ada yang belum menyamudera. Ya cinta itu tadi. Cinta yang sempit, membuat penerimaan menjadi tidak utuh.

Seperti Asmaul Husna. Asmaul Husna, adalah nama-nama Tuhan. Tuhannya satu, tetapi sifat-sifat-Nya diejawantahkan dan diceritakan dalam berbagai takdir kehidupan yang setiap potongan takdir mencitrakan asma-asmaNya itu. Walhasil, keragaman adalah hal tak terelakkan dari nama-namaNya yang Husna.

Pantas saja, semakin arif seseorang, dia semakin bisa menerima dunia ini apa adanya.

Dan seperti di awal tadi, mencintai apa adanya tidak berarti bahwa kita mengorbankan iktikad untuk melakukan perbaikan pada porsi-porsi yang bisa kita lakukan.

Akan tetapi, perbaikan yang sejati hanya bisa dilakukan dengan hati yang menerima. Hati yang menyamudera.

Barangkali, itulah bedanya kita dan Rasulullah. Beliau memulai segalanya bil hikmah. Suatu pendapat mengatakan bahwa hikmah itu adalah sebuah kerja nyata atau bantuan yang bisa dirasakan manfaatnya. Kurang lebih begitu, saya lupa redaksi persisnya.

Tetapi tidak mungkin, bukan, hal itu bisa terlaksana tanpa penerimaan yang lebih dulu menjadi gerbangnya?

Saya baru mengerti, kenapa Rasulullah mengatakan sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat untuk manusia lainnya. Ternyata ini soal penerimaan. Orang yang menerima, dia akan membaikkan. itu konsekuensi logis.

Semakin menyamudera hatinya, semakin dia akan menerima keragaman, dan dia akan membaikkan dalam paradigmanya yang “cinta”. Karna aku dan kamu sejatinya sama, maka penerimaan itulah yang membedakan perbaikan karna ketidak sukaan atau perbaikan karena benci, dan perbaikan karena kasih dan sayang.

Dan dalam konteks penerimaan ini jugalah saya baru mengerti makna taubat. Taubat berarti kembali. Kembali kepada Tuhan. Dalam kembali ini, kita juga menerima. Menerima diri sendiri, bahwa dalam khilaf itu berarti kita diminta kembali pada Tuhan lewat jalur pertaubatan. Bukan lewat jalur kesempurnaan amal (dan siapa sih yang sempurna selain NabiNya?)

Orang yang tidak menerima, maka dia kehilangan taubat. Karena sejatinya, kebaikan dan peribadatan yang dia lakukan itu dilandasi rasa benci. Barangkali benci pada dirinya sendiri. Memaki diri sendiri. Atau memaki kegagalannya yang urung menjadi seseorang yang tanpa cela.

Padahal, untuk kembali lewat jalur pertaubatan, seseorang mestilah menemukan cinta dahulu. Dengan cintalah dia akan menyadari penerimaan. Dengan menerimalah dia akan berjalan pada perbaikan, bukan dengan benci.

Jika semakin kita beribadah, tak tumbuh pada diri kita selain benci pada orang lain, selain kesal pada ketidak sempurnaan amal kita sendiri, mungkin sejenak sudah saatnya berhenti dan menilai ulang.

Karena hati yang menyamudera akan pasti menerima. Karena penerimaan yang lapang itulah yang nantinya menjadi bahan bakar pembaikan. Dalam semangat seperti itulah saya rasa baru teraplikasikan bahwa sebaik-baik kita adalah yang paling bermanfaat untuk orang lainnya.

~~~

ilustrasi gambar dipinjam dari sini

ADA GERIMIS DI JALAN KOTA

ADA GERIMIS DI JALAN KOTA

image

Ada gerimis di jalan  kota. Menabuhi jendela mobil dengan ritmisnya yang magis. “Waktu tinggal sebentar, tuan,” katanya, “tapi adakah tuan tahu kemana tujuan?”

Ada gerimis di jalan  kota. Membasahi irisan hari yang terlampau tua.

Barangkali  juga gerimis dikirim TUHAN, untuk tuan supaya ada kesempatan, merenungi arah kemana berjalan?

Aku berhenti, gerimis….

Menyesapi lembab-mu yang menjeda-i gemuruh manusia.

Tapi kudengar orang-orang membunyikan klakson. “Tumakninah sudah mati!!” teriak mereka.

Lalu kulihat gerimis rebah. Berpulang dia di jalan-jalan. Dilindas tandas oleh ban-ban.

Lalu Maghrib semburat dalam merahnya yang biasa. Orang-orang membusung dalam sibuknya yang jumawa.

Kudengar tipis-tipis pesanan gerimis.
“Waktu tinggal sebentar, tuan,” katanya, “tapi adakah tuan tahu kemana tujuan?”

MELEPASKAN ID-BADGE

company-badge (1)Sekitar berapa minggu lalu, saya ingat saya hendak sholat Ashar di musholla kantor, tetapi terhenti sejenak ketika saya hendak takbir. Pasalnya adalah saya tiba-tiba teringat bahwa id-badge atau kartu tanda pengenal kantor masih tersemat berjuntai-juntai di saku baju. Maka saya urung takbir, dan melepas id-badge karena rasa-rasanya agak ndak pantes kalau saya menghadap Tuhan membawa identitas kekaryawanan saya.

Memang secara fikih tidak ada keharusan melepas id-badge saat sholat, tapi waktu itu saya merasa kok ya sepertinya kurang sopan ya, saya menghadap Tuhan dan menunjukkan identitas kekaryawanan. Maka tak urung id-badge itu saya lepas, dan saya masukkan ke kantong.

Seusai sholat, saya hendak kembali mengenakan id-badge, tetapi kemudian saya baru menyadari sebuah fakta bahwa inilah maksud dari pesan para arifin, bahwa saat beribadah, yang sejatinya “menghadap” itu adalah “sejatinya diri kita” bukan atribut-atribut ego kita.

Contoh sederhana adalah saat kita kecil. Kita sholat, tetapi kita menganggap bahwa sholat yang kita lakukan hanyalah semata gerak fisikal. Tanpa melibatkan unsur perasaan yang lebih dalam. Maka otomatis, sholat yang demikian itu bisa juga dinamakan bahwa yang “menghadap” sebenarnya adalah atribut ragawi, yaitu jasad kita.

Seiring kita mendewasa, kita mulai terbentur dengan banyak ujian hidup, maka kita mulai mengerti bahwa sebenarnya sholat itu lebih dari sekedar aktivitas ragawi.

Mulailah kita masuk lagi selangkah lebih dalam, dan menyadari bahwa sewaktu kita sholat, mesti ada konteksnya, mestilah lebih dari sekedar atribut ragawi yang “menghadap”.

Konteksnya itu ada dua kemungkinan, bisa jadi kita sholat dengan melibatkan seluruh segenap perasaan dan meminta pertolongan Allah atas kesulitan-kesulitan yang kita cecap dalam hidup, atau sebaliknya dengan segenap kekaguman atas segala kemudahan dalam hidup; kita sholat bertemakan pujian pada Allah. Tetapi intinya pasti dua itu, kalau tidak doa permintaan mesti dia berupa pujian.

Saat kita telah menyadari fakta itu, berarti kita sebenarnya sudah melepaskan sebuah “id-badge” yaitu atribut fisikal, dan masuk lebih dalam dan melibatkan segenap rasa. Jadi sebenarnya ini masalah “kita menghadap dengan tingkat kesadaran yang mana”.

Nah…. Dengan logika inilah, saya baru paham, sebuah pesanan yang lebih halus lagi dari para arifin, ketika mereka-mereka mengatakan bahwa yang sejatinya beribadah adalah bukan unsur ego terluar kita, melainkan sejatinya diri kita.

Maksudnya, kalaulah boleh mengelaborasikan, kurang lebih begini….

Telah nyata, bahwa identitas kita sebagai manajer, dan identitas kita sebagai karyawan, tidaklah berbeda di mata Tuhan. Kita makhluq/ hambaNya dan DIA pemilik dunia, tentu itu konteks yang sejati, yang melampaui atribut-atribut kepangkatan.  Jadi identitas pangkat tidak usah kita bawa.

Tidak dibawa ini, maksudnya secara mental. Saat beribadah, tidak ada rasa mental kita yang bahwa seorang manajer-lah atau seorang karyawan-lah yang menghadap. Semua kita lepaskan.

Nah…. Kalau analogi manajer dan karyawan biasa; masih gampang kita mengerti; kemudian para arifin membawa kita kembali kepada analogi yang lebih dalam dan halus, bahwa lepas dari urusan kepangkatan, sebenarnya kita masih bisa lebih dalam lagi menghadapNya, yaitu dengan melepaskan bahkan atribut mental / ego diri kita, id-badge mental kita yang begitu halus.

Sudah pernah kita bahas, bahwa “kita sebagai kita”; atau umpama “Budi sebagai Budi”; “Melati sebagai Melati”, itu adalah karena sekumpulan pengalaman hidup yang dicerap oleh substansi ruhaninya diri kita.

Alias, ada sebuah kesadaran yang ruhani, yang mencerap sekumpulan pengalaman hidup dan mengidentifikasi diri sebagai si A, si B, si C. kalau kita jeli, kita akan menyadari bahwa itupun adalah sebuah atribut mental. Dan tanpa kita sadari, selama ini yang menghadap kepada Tuhan adalah kita dalam kesadaran kita sebagai atribut mental yang kita sandang itu. Tidak pernah sebagai sejatinya diri kita yang hamba dan hanya penyaksi pagelaran hidup.

Saya beri contoh. Misalnya kita menghadap Tuhan, dan mengadukan sebuah kesulitan hidup bahwa kita mengalami ujian karena kita disakiti oleh seseorang, ditipu oleh orang yang lainnya dst…. Hal itu sudah bagus, karena kita sudah berada pada level “dalam”, yaitu peribadatan yang tak semata ritual fisik.

Tetapi, ternyata itu masih bisa ditingkatkan lagi, karena saat kita mengadukan kesulitan hidup kita itu, tanpa sadar kita menghadap dengan membawa atribut mental. Kita menghadap sebagai si A yang sedang disakiti oleh si B, sedang ditipu oleh si C. berarti yang menghadap adalah si A. atau Atribut mental kita. Itulah maksudnya bahwa kita menghadap, tetapi yang beribadah sebenarnya masih ego terluar kita. Belum sejatinya diri kita.

Jadi bagaimana?

Ternyata, itulah pesanan para arifin, jika kita bisa melepaskan keterikatan dan selalu mengingatiNya, lambat laun tanpa kita sadari, kita akan bisa shifting paradigm, berubah paradigma, dan menyadari bahwa seharusnya yang menghadap itu adalah sejatinya diri, bukan atribut-atribut mental terluar kita.

Oh…. rupanya kita ini hanya penyaksi dalam kehidupan, dan penyaksi inilah yang sejatinya mengibadahiNya. Bukan ego diri kita.

Barangkali, inilah maksudnya Inni wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samaawaati wal-ardha,

Kita hadapkan “wajah” kita kepada Pencipta langit dan bumi.

Pertanyaannya adalah, “wajah” yang mana yang selama ini kita “hadapkan” pada Nya?

apakah yang menghadap adalah sejatinya diri kita sebagai hamba, yang penyaksi pagelaran, ataukah “atribut mental terluar kita, alias ego kita, yang merasa wujud”???

 

~~~

Image taken from here

JANGAN MELANKOLIS DI JAKARTA, KISANAK

JAKARTA KISANAK

JANGAN MELANKOLIS DI JAKARTA, KISANAK.

Jakarta barangkali akan cepat menua, terlalu banyak kendaraan yang dipacu di atas jalannya, tapi orang lupa membaca cinta disebaliknya.

Barangkali, di Jakarta cinta menjelma terlalu pragmatis. Saat kasih dan sayang pada keluarga tak memekarkan bunga-bunga puisi di jalan-jalan, seperti yang kita kira.

Jadi jangan terlalu melankolis, kisanak.

Kalau menganggap hanya denting senar gitar atau gesekan biola mengiringi sajak; sebagai satu-satunya wajah cinta; kau akan kehilangan makna.

Jangan kau lupa, bahwa desak-desak dijalanan, keringat dan asap yang kau lihat di pagi hingga malam di Jakarta itu….juga cinta, dalam wajahnya yang berbeda.

Dari para pekerja, yang menyayangi keluarga dengan caranya yang “Jakarta”

Hanya jika kau temukan itu di sebalik hiruk pikuk dunia, barulah barangkali Jakarta bisa awet muda.

MENGAJI DIRI (2)

see the worldSeorang rekan saya, yang berkewarganegaraan asing, saya temukan begitu memukau rasa sosialnya. Dia mengajari anak-anaknya berkebaikan pada orang lain. Satu contoh yang menarik saya rasa adalah suatu kali dia datang ke rumah seorang tua, dan menawari memotong rumput halamannya. Orang tua itu tak tahu, bahwa yang datang kepadanya itu adalah seorang yang cukup berada. Dikiranya tukang potong rumput. Dan tentu orang tua itu mengatakan tak punya uang.

Rekan saya itu mengatakan dia tak memungut bayaran.

Orang tua tadi setuju dan mempersilakan. Usai rumput halamannya yang tak terurus itu dibersihkan, kemudian orang tua itu berterimakasih dan merasa begitu senang. “Maukah kau datang lagi lain kali?” Tanya orang tua itu pada rekan saya.

“Tentu… saya akan datang lagi nanti di lain waktu.” Jawab rekan saya itu.

Kebaikan yang begitu “timur” itu, menjadi terasa sangat unik dan khas ketika saya amati bahwa rasa kebaikan yang timur, juga terpatri pada orang yang tinggal di barat.

Tapi bukan itu yang hendak saya bahas. Kenapa rekan saya itu bisa begitu pedulinya pada lingkungan dan orang-orang lain yang kesusahan? Itu yang mengherankan saya.

Ternyata jawabannya sederhana, karena rekan saya pernah juga mengalami situasi itu. Dia berangkat dari seorang yang sulit dan bahkan begitu marjinal, sampai kemudian roda takdir berputar dan memberikan dia cerita yang baru dan dijejali kemelimpahan.

Ternyata, sebuah kenyataan dimana dia pernah mengalami lapang-sempitnya hidup inilah, yang membuat dia lebih “kaya” dalam memandang kehidupan.

Tentang “lebih kaya dalam memandang kehidupan” inilah yang menarik bagi saya dan ingin saya bahas.

Karena saya baru mengerti satu hal, bahwa semakin kita “kaya” dengan cerita hidup, maka semakinlah seseorang itu punya paradigma yang lebih tinggi dalam memandang kaitan antara Tuhan dan kehidupan ini.

Tentu dalam tanda kutip jika seseorang itu dianugerahi keindahan penyaksian pengaturan Tuhan.

Mari kita ambil satu contoh tentang pengalaman yang “kaya”.

Tengoklah Adam a.s, kisah awalan manusia di bumi ini, dalam banyak sekali literatur, kita ketahui kisah Adam dimulai dengan kekeliruan memakan buah khuldi. Jadi, drama panjang kehidupan anak cucu manusia diawali dengan langkah yang “keliru”.

Tetapi apatah itu keliru dan benar? Jika baik keliru, maupun benar, dalam penyikapan yang tepat bisa sama-sama menghantarkan pada Tuhan.

Barulah saya mengerti pandangan para arifin yang mengatakan bahwa dalam konteks yang lebih dalam, sebenarnya bukan masalah keliru ataupun benar, tetapi yang lebih penting adalah jika setiap kondisi apapun yang kita alami dalam kehidupan sekarang ini membuat kita mengerti tentang Tuhan dan kaitannya dengan kehidupan.

Adam a.s mengerti tentang kebaikan dan welas asih Tuhan dalam citra sifat-sifat Jamal-Nya yang indah, sewaktu beliau berada di syurga.

Tetapi, pengertian akan keTuhanan yang lebih kompleks hanya bisa didapati Adam a.s setelah beliau “keliru” dan hidup di bumi, lalu dalam kekeliruan itu beliau lebih kaya memandang akan perintah dan larangan, dan mengerti tentang sifat pengampunnya Tuhan.

Dalam bahasa sufistik, dengan menyadari diri sebagai pendosa, maka Adam a.s menemukan Tuhannya sebagai yang Maha Pengampun. Dan pengenalan itu, tak akan ditemukan jika cerita hidupnya tidak “kaya”.

Pengertian yang dalam tentang ketuhanan, tidak akan ditemukan jika pengalaman kehidupan yang diberikan pada Adam a.s biasa-biasa saja.

Maka “kekayaan” pada pengalaman hidup sebenarnya adalah juga cara Tuhan mengajarkan citra sifat-sifatNya pada manusia.

Barulah kita mengerti maksud dari para arifin. Sebutlah sebagai misal, Syaikh Abdul Qadir Al Jilani yang suatu ketika pernah mengatakan bahwa sejatinya tidak ada buruk, tidak ada baik, tidak ada faedah, tidak ada sebab, kecuali semuanya karena Allah.

Beliau berkata dalam konteks itu. Bukan berarti secara serampangan menafikan tatanan syariat luaran yang diharuskan. Tetapi, maksud beliau adalah bahwa manusia harus terus melangkah dan mengenali Tuhan dalam apapun cerita kehidupan yang mereka alami saat ini. Semua memiliki kans mengenal Tuhan lewat jalan hidupnya. Pendosa mengenali Tuhan lewat pertaubatannya. Dan ahli ibadah mengenali Tuhan lewat kebersyukuran atas amalnya.

Jika melihatnya seperti itu, barulah kita mengerti bahwa baik dan buruk itu sebenarnya relatif sekali.

Ini satu ilustrasi.

Bolehkah harimau membunuh kijang? Kita katakan tentu boleh. Meskipun berdarah-darah pada luarannya, dan kejam, kita tidak mengatakan bahwa harimau itu keji.

Kenapa tidak kita katakan keji? Karena harimau tak melanggar norma apapun. Tidak ada norma “tidak boleh membunuh” dalam kehidupan harimau-kijang.

Tetapi manusia, jika membunuh manusia lainnya tanpa sebab yang dibenarkan, maka kita katakan hal itu keji. Kenapa keji? Karena melanggar norma.

Pertanyaannya kemudian adalah begini. Siapa yang membuat norma?

Yang membuat norma adalah Tuhan. Tuhan membuat norma, dan mengajari manusia memandang lewat kacamata manusia yang mendefinisikan kebaikan dan kekejian lewat norma yang sudah Tuhan ajari.

Maka….sejatinya bukan perbuatan itu yang keji. Tetapi yang keji adalah pelanggaran terhadap norma.

Misal… Kaumnya Nabi Musa dianggap melanggar perintah Tuhan, jika bekerja di hari Sabtu. Pada konteks zaman dulu, maka bekerja di hari sabtu adalah “keji.”

Jika kita tengok pada zaman sekarang, tentu sulit kita mengerti, bagaimana mungkin orang bisa berdosa dan keji, hanya karena bekerja di hari sabtu?

Tetapi kemudian kita sadar, bahwa ternyata bukan masalah bekerjanya, tetapi masalah pelanggaran terhadap tatanan yang Tuhan suruh. Itulah letaknya.

Dengan pandangan seperti ini, kita akhirnya mengerti bahwa sejatinya memang semua ini relatif. Benar dan salah, dan juga takdir baik dan buruk itu adalah dalam kacamata manusia yang terbatas.

Sedangkan pada sisi Tuhan, semua ini hanyalah fa’al (perbuatan) yang DIA goreskan untuk mengajari manusia citra atau sifat-sifatNya yang Husna. DIA menggelar semua cerita hidup agar lewat keseluruhan cerita hidup itu tertampil pengajarannya akan sifat-sifatNya yang Husna. Asmaul Husna.

Jadi, apapun kondisi kita sekarang, kita kembali saja kepada Tuhan lewat cerita yang sekarang ini. Sesuaikan dengan norma yang sudah diajari.

Dan dengan memahami konteks inilah, akan membantu kita terlepas dari kungkungan ceritra hidup. Baik dan buruk yang telah terjadi, semuanya adalah pintu untuk kembali. Semuanya adalah pengajaran yang menjadikan kita lebih “kaya” dalam memandang hidup.

BACA….BACA….BACA…..IQRO…. Dengan namaNya.

Yang bisa dibaca, adalah kejadian hidup ini. Setiap kejadian hidup, baik dan buruknya sifat-sifat yang tertampil di luar, adalah jendela memandang DIA sang penggores cerita.

Jadi, semakin “kaya” cerita hidup kita, sebenarnya semakin detail Tuhan mengajari kita. Dan semestinya kita membaca.

Yang “didalam sini” yang membaca.

Satu hal yang ternyata sering menghalangi kita dari melihat konteks bahwa cerita hidup ini sebenarnya menceritakanNya, adalah karena kita terlalu terjebak pada diri sendiri.

Dalam bahasa sigmund freud, barangkali kita terlalu terbalut ego. Dalam bahasa Suryo Mentaram seorang ahli ilmu jiwa dari tanah jawa, ego itu disebut Kramadangsa.

Seorang arifin sederhananya, mengatakan bahwa selagi ego atau Kramadangsa itu masih begitu kental, berarti kita masih mengira bahwa kita “wujud”. Kita mengira keseluruhan konteks cerita hidup adalah tentang diri kita. Padahal, konteks kehidupan adalah tentang DIA menceritakan diriNYA.

Satu “tirakat” sederhana untuk mengalami realita itu, baru saya mengerti, adalah ternyata dengan meringankan tangan dan bersedia hidup untuk memberi kebaikan bagi orang lain.

Agar fokus pada “kewujudan diri” menjadi sirna. Dan hidup dalam konteks tidak lagi untuk diri kita, melainkan untuk kebaikan sesama.

“Khoirunnas Anfa ‘uhum linnas”, HR. Bukhari Muslim: yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Memandang diriNya mengatur kehidupan ini lewat berbagai-bagai cerita.

Hai anak Adam, Aku telah sakit, tetapi engkau tidak menjenguk-Ku. Orang itu bertanya: Wahai Tuhan, bagaimana cara saya menjenguk-Mu, sedangkan Engkau Tuhan penguasa alam semesta? Allah menjawab: Apakah engkau tidak mengetahui bahwa seorang hamba-Ku bernama Fulan sedang sakit tetapi engkau tidak mau menjenguknya. Sekiranya engkau mau menjenguknya, pasti engkau dapati Aku di sisinya.

Wahai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tetapi engkau tidak mau memberikan makan kepada-Ku. Orang itu bertanya: Wahai Tuhan, bagaimana caranya saya memberi makan kepada-Mu, sedang Engkau Tuhan penguasa alam semesta? Allah berfirman: Ketahuilah, apakah engkau tidak peduli adanya seorang hamba-Ku, si Fulan, telah datang meminta makan kepadamu, tetapi engkau tidak memberinya makan. Ketahuilah, sekiranya engkau mau memberinya makan, pasti engkau akan menemukan balasannya di sisi-Ku.

Wahai anak Adam, Aku minta minum kepadamu, tetapi engkau tidak mau memberi-Ku minum. Orang itu bertanya: Wahai Tuhan, bagaimana caranya aku memberi-Mu minum, padahal Engkau Tuhan penguasa semesta alam? Allah berfirman: hamba-Ku, si Fulan, minta minum kepadamu tetapi engkau tidak mau memberinya minum. Ketahuilah, sekiranya engkau memberinya minum, pasti engkau akan menemui balasannya di sisi-Ku. [HR. Muslim]