MENGAJI DIRI (1)

MINDProf. Michio Kaku, dalam sebuah narasi pernah mencetuskan ide bahwa menurut dia, tingkat kesadaran seseorang, “level of consciusness”, itu bisa diukur dalam sebuah unit tertentu.

Sebagai contoh, sebuah thermometer, bisa kita katakan memiliki satu unit kesadaran, yaitu kesadaran akan “suhu”. Sebuah thermometer hanya bisa menyadari sebuah fakta akan suhu.

Kemudian ada hal yang lebih kompleks dari sekedar thermometer, barangkali misalnya sebuah tumbuhan, katakanlah sebuah bunga bisa memiliki tingkat kesadaran 100. Karna banyak hal yang lebih bisa dicerap dan “dimengerti” sebuah bunga, barangkali pengertian-pengertian tentang suhu, tentang cahaya, tentang nutrisi, dst.

Sampai, menurut Michio Kaku, manusialah yang memiliki level kesadaran paling kompleks. Berdasarkan apa yang bisa manusia cerap dan mengerti.

Masih menurut beliau, para ilmuwan selama ini mengira bahwa kesadaran manusia, adalah semacam OS (atau operating system) yang diinstal pada sebuah hardware bernama otak. Belakangan, ilmuwan menyadari bahwa ternyata kesadaran manusia bisa bertempat di luar tubuhnya sendiri.

Hal ini menarik, kalau kita pernah melihat film superman, dimana sebuah ‘kesadaran’ / mind milik bapaknya superman ditanam di dalam sebuah pesawat canggih, yang kemudian pesawat itu menampilkan sebuah hologram yang bisa bercakap-cakap dengan superman, dari sana clark kent alias superman bisa mencari tahu siapa bapaknya sebenarnya. Tentu itu khayalan filem Holywood saja.

Tetapi, sesungguhnya ada yang mendekati dengan itu.

Stephen_Hawking_Based_OnMisalnya jika kita melihat Prof. Stephen Hawkings. Beliau lumpuh total, sehingga yang tersisa pada dirinya hanyalah otaknya yang masih aktif, dan sedikit kemampuan menggerakkan mata dan pipi.

Tetapi kemudian para ilmuwan meletakkan sebuah chip di kepala Stephen Hawkings, jadi beliau masih bisa bercakap-cakap pada kita dengan sebuah komputer yang mengeluarkan suara, persis dengan apa-apa saja yang Stephen Hawkings pikirkan.

Badannya lumpuh total, tapi masih ada sebuah “kesadaran” yang hidup disana. Kesadaran yang bisa terus bercakap-cakap.

Inilah pertanyaan besar umat manusia. What are we? Siapa -atau apa?- kita ini sebenarnya?

Apakah kita ini jangan-jangan hanya sekumpulan informasi atau data? Bukankah kesadaran, consciusness, itu mirip-mirip dengan sekumpulan paket informasi?

Saya tentu bukan ilmuwan. Tapi tak urung saya berdecak kagum juga mengamati sebuah fakta bahwa saya yakin sekali lambat laun antara ilmuwan dan arifin akan saling menguatkan satu sama lain.

Saya hendak kutipkan satu orang cerdas lainnya, yaitu Prof. Naquib Al Attas. Beliau menjelaskan dalam bahasa yang apik, tentang sebuah substansi spiritual dalam diri manusia, yang menurut Imam Ghazali bahwa substansi spiritual dalam diri manusia itulah yang dimaksud seseorang, saat dia mengatakan “saya” atau “aku”.

Substansi spiritual inilah yang disebut dengan Lathifah Ruhiyah Rabbaniyah, secara sederhananya disebut juga aql. Alias kesadaran diri kita sendiri.

Kita kembali lagi pada contoh Stephen Hawkings. Lumpuh total, tetapi kesadarannya masih ada. “dia” masih ada.

Sekarang kita berandai-andai, seandainya semua tubuh yang lumpuh pada Stephen Hawkings ditiadakan, dia masih bisa berkata “saya ada” meskipun tak ada tangan tak ada kaki, tak ada badan. Karena buktinya masih ada sebuah kesadaran, yang mengerti, berarti dia masih ada.

Nah….kalau kemudian otaknya juga dihilangkan, bagaimana? Sampai disinilah secara empiris belum ada kejelasan, tetapi hikmah dalam spiritualitas islam, dan umumnya dunia timur, mengetahui, bahwa bahkan setelah keseluruhan jasad mati, kesadaran manusia tetap hidup.

Kesadaran manusia inilah, yang sampai sekarang disebut ilmuwan dengan consciusness,atau ruhani manusia.

Kita kembali pada ilustrasi yang lebih awaaaaal sekali tadi, tentang ide dari Michio Kaku untuk menghitung level kesadaran, berdasarkan jumlah persepsi yang bisa diserap.

Umpamanya thermometer, bisa mengerti tentang satu data, yaitu “suhu”. Maka dianggap 1 unit kesadaran. Tetapi yang menarik bagi saya bukan ide tentang pengukurannya itu, yang menarik bagi saya adalah sebuah fakta tentang sebenarnya apakah data itu merupakan bagian dari kesadaran itu sendiri ataukah bukan?

Jika thermometer, bisa mengerti sebuah data tentang suhu. Berarti ada data-nya, -yaitu nilai-nilai tertentu sebuah suhu- dan ada ‘yang mengerti-nya’.

Begitulah juga pada manusia. Ada kesadarannya itu sendiri, lalu ada sebuah data yang dimengerti. Ada fikiran, ada yang mengerti fikiran. Ada rasa, ada yang mengerti tentang rasa. Yang mengertinya inilah yang mencerap data. Yang paham.

Jadi, segala persepsi yang selama ini kita serap sepanjang kita hidup. Ilmu, rasa, rekam jejak kehidupan dan segala macamnya, itu hanyalah data. Data yang dimengerti oleh substansi yang ruhani dan yang sadar. Substansi yang ruhani dan yang sadar inilah yang sejatinya manusia. Orang jawa menyebut sebuah pengamat yang selalu sadar, di dalam diri manusia ini sebagai ‘ingsun’ alias ‘aku’. Bahasa Imam Ghazali menyebutnya “Lathifah Ruhiyah Rabbaniyah”, Spiritual Substance.

Sepanjang hidup. Ruhani manusia ini mencerap dan memahami begitu banyak data. Data-data di dalam kehidupan itulah yang membentuk lapis diri yang kita kenal dengan karakter ego kita. Bagaimana kita bertindak dalam hidup, dipengaruhi sosial budaya, ilmu, pengalaman, dan lain-lain yang sejatinya data yang dimengerti oleh sang ruhani. Semua kumpulan data itulah yang membentuk karakter kita sebagai kita. Budi sebagai Budi. Melati sebagai melati. Joko sebagai joko. Baik Budi, Melati, Joko, semuanya adalah imbas dari kumpulan pengalaman atau data yang dicerap oleh yang ruhani di dalam sini. Kalau mengutip bahasanya Suryo Mentaram, Putra Sri Sultan HB X, ego luar manusia inilah disebut Kramadangsa.

Keterikatan yang begitu kuat dengan data-data yang dipelajari sepanjang hidup, membuat manusia menjadi gelisah, karena mengira bahwa dirinya adalah data-data itu, padahal dirinya adalah substansi ruhani yang mengoleksi semua data itu. Oleh sebab itu, banyak tipe-tipe jiwa manusia diceritakan para alim, amarah, lawwamah, dst…. Yang kesemuanya adalah menjelaskan tentang kondisi keterikatan batin manusia dengan data yang dia koleksi sepanjang dia hidup. Lihatlah bahwa mereka semua membahasakan hal yang sama dengan istilah yang berbeda-beda.

Saya ingin menulis ini lebih jauh, tetapi kali ini rasanya cukup sampai disini saja. Saya ingin pungkasi dengan mengajak merenungi kenapa Rasulullah mengatakan bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi kita?

Dulu saya mengira bahwa ilmu itu hanya perkara agar kita bisa kerja saja, dan mendapat uang. Sekarang saya baru mengerti lebih jauh, bahwa jika sejatinya manusia itu adalah ruhaninya. Dan ruhani itu menjadi memiliki karakter dan cara pandang terhadap hidup dengan ilmu yang dia miliki, maka dengan mencari ilmu –yang bermanfaat- kita sebenarnya seperti mengupgrade ulang diri kita menjadi lebih baik.

Karena diri kita sebenarnya adalah sang pengamat, yang ruhani itu, tetapi lapis luar diri kita adalah apa-apa yang dibentuk oleh persepsi yang kita mengerti.

Maka masuk akal sekali bahwa wahyu yang pertama turun adalah “BACALAH”, karena dengan menuntut ilmu –yang benar dan manfaat- adalah juga berarti menjadi the better we, menjadi diri kita yang lebih baik lagi.

Mengertilah kita, tentang ungkapan seorang arif yang mengatakan bahwa perbedaan antara manusia dan hewan dan tumbuhan bukanlah karena kita berakal dan mereka tidak. Karena, dalam konteks ini, dimana akal = kesadaran, maka semua unsur dalam kehidupan ini berkesadaran. Tetapi yang membedakan adalah ilmu.

Allah mengajari manusia ilmu-ilmu, sehingga kesadaran mereka mencerap lebih banyak pengetahuan, dan menjadi pribadi-pribadi yang lebih berwarna. Sedangkan hewan dan tumbuhan, tak diajari ilmu sebanyak manusia. Disitulah Jin dan Malaikat tidak bisa menyamai Adam, karena adam diajari pengetahuan tentang asma-asma’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s