MENGAJI DIRI (2)

see the worldSeorang rekan saya, yang berkewarganegaraan asing, saya temukan begitu memukau rasa sosialnya. Dia mengajari anak-anaknya berkebaikan pada orang lain. Satu contoh yang menarik saya rasa adalah suatu kali dia datang ke rumah seorang tua, dan menawari memotong rumput halamannya. Orang tua itu tak tahu, bahwa yang datang kepadanya itu adalah seorang yang cukup berada. Dikiranya tukang potong rumput. Dan tentu orang tua itu mengatakan tak punya uang.

Rekan saya itu mengatakan dia tak memungut bayaran.

Orang tua tadi setuju dan mempersilakan. Usai rumput halamannya yang tak terurus itu dibersihkan, kemudian orang tua itu berterimakasih dan merasa begitu senang. “Maukah kau datang lagi lain kali?” Tanya orang tua itu pada rekan saya.

“Tentu… saya akan datang lagi nanti di lain waktu.” Jawab rekan saya itu.

Kebaikan yang begitu “timur” itu, menjadi terasa sangat unik dan khas ketika saya amati bahwa rasa kebaikan yang timur, juga terpatri pada orang yang tinggal di barat.

Tapi bukan itu yang hendak saya bahas. Kenapa rekan saya itu bisa begitu pedulinya pada lingkungan dan orang-orang lain yang kesusahan? Itu yang mengherankan saya.

Ternyata jawabannya sederhana, karena rekan saya pernah juga mengalami situasi itu. Dia berangkat dari seorang yang sulit dan bahkan begitu marjinal, sampai kemudian roda takdir berputar dan memberikan dia cerita yang baru dan dijejali kemelimpahan.

Ternyata, sebuah kenyataan dimana dia pernah mengalami lapang-sempitnya hidup inilah, yang membuat dia lebih “kaya” dalam memandang kehidupan.

Tentang “lebih kaya dalam memandang kehidupan” inilah yang menarik bagi saya dan ingin saya bahas.

Karena saya baru mengerti satu hal, bahwa semakin kita “kaya” dengan cerita hidup, maka semakinlah seseorang itu punya paradigma yang lebih tinggi dalam memandang kaitan antara Tuhan dan kehidupan ini.

Tentu dalam tanda kutip jika seseorang itu dianugerahi keindahan penyaksian pengaturan Tuhan.

Mari kita ambil satu contoh tentang pengalaman yang “kaya”.

Tengoklah Adam a.s, kisah awalan manusia di bumi ini, dalam banyak sekali literatur, kita ketahui kisah Adam dimulai dengan kekeliruan memakan buah khuldi. Jadi, drama panjang kehidupan anak cucu manusia diawali dengan langkah yang “keliru”.

Tetapi apatah itu keliru dan benar? Jika baik keliru, maupun benar, dalam penyikapan yang tepat bisa sama-sama menghantarkan pada Tuhan.

Barulah saya mengerti pandangan para arifin yang mengatakan bahwa dalam konteks yang lebih dalam, sebenarnya bukan masalah keliru ataupun benar, tetapi yang lebih penting adalah jika setiap kondisi apapun yang kita alami dalam kehidupan sekarang ini membuat kita mengerti tentang Tuhan dan kaitannya dengan kehidupan.

Adam a.s mengerti tentang kebaikan dan welas asih Tuhan dalam citra sifat-sifat Jamal-Nya yang indah, sewaktu beliau berada di syurga.

Tetapi, pengertian akan keTuhanan yang lebih kompleks hanya bisa didapati Adam a.s setelah beliau “keliru” dan hidup di bumi, lalu dalam kekeliruan itu beliau lebih kaya memandang akan perintah dan larangan, dan mengerti tentang sifat pengampunnya Tuhan.

Dalam bahasa sufistik, dengan menyadari diri sebagai pendosa, maka Adam a.s menemukan Tuhannya sebagai yang Maha Pengampun. Dan pengenalan itu, tak akan ditemukan jika cerita hidupnya tidak “kaya”.

Pengertian yang dalam tentang ketuhanan, tidak akan ditemukan jika pengalaman kehidupan yang diberikan pada Adam a.s biasa-biasa saja.

Maka “kekayaan” pada pengalaman hidup sebenarnya adalah juga cara Tuhan mengajarkan citra sifat-sifatNya pada manusia.

Barulah kita mengerti maksud dari para arifin. Sebutlah sebagai misal, Syaikh Abdul Qadir Al Jilani yang suatu ketika pernah mengatakan bahwa sejatinya tidak ada buruk, tidak ada baik, tidak ada faedah, tidak ada sebab, kecuali semuanya karena Allah.

Beliau berkata dalam konteks itu. Bukan berarti secara serampangan menafikan tatanan syariat luaran yang diharuskan. Tetapi, maksud beliau adalah bahwa manusia harus terus melangkah dan mengenali Tuhan dalam apapun cerita kehidupan yang mereka alami saat ini. Semua memiliki kans mengenal Tuhan lewat jalan hidupnya. Pendosa mengenali Tuhan lewat pertaubatannya. Dan ahli ibadah mengenali Tuhan lewat kebersyukuran atas amalnya.

Jika melihatnya seperti itu, barulah kita mengerti bahwa baik dan buruk itu sebenarnya relatif sekali.

Ini satu ilustrasi.

Bolehkah harimau membunuh kijang? Kita katakan tentu boleh. Meskipun berdarah-darah pada luarannya, dan kejam, kita tidak mengatakan bahwa harimau itu keji.

Kenapa tidak kita katakan keji? Karena harimau tak melanggar norma apapun. Tidak ada norma “tidak boleh membunuh” dalam kehidupan harimau-kijang.

Tetapi manusia, jika membunuh manusia lainnya tanpa sebab yang dibenarkan, maka kita katakan hal itu keji. Kenapa keji? Karena melanggar norma.

Pertanyaannya kemudian adalah begini. Siapa yang membuat norma?

Yang membuat norma adalah Tuhan. Tuhan membuat norma, dan mengajari manusia memandang lewat kacamata manusia yang mendefinisikan kebaikan dan kekejian lewat norma yang sudah Tuhan ajari.

Maka….sejatinya bukan perbuatan itu yang keji. Tetapi yang keji adalah pelanggaran terhadap norma.

Misal… Kaumnya Nabi Musa dianggap melanggar perintah Tuhan, jika bekerja di hari Sabtu. Pada konteks zaman dulu, maka bekerja di hari sabtu adalah “keji.”

Jika kita tengok pada zaman sekarang, tentu sulit kita mengerti, bagaimana mungkin orang bisa berdosa dan keji, hanya karena bekerja di hari sabtu?

Tetapi kemudian kita sadar, bahwa ternyata bukan masalah bekerjanya, tetapi masalah pelanggaran terhadap tatanan yang Tuhan suruh. Itulah letaknya.

Dengan pandangan seperti ini, kita akhirnya mengerti bahwa sejatinya memang semua ini relatif. Benar dan salah, dan juga takdir baik dan buruk itu adalah dalam kacamata manusia yang terbatas.

Sedangkan pada sisi Tuhan, semua ini hanyalah fa’al (perbuatan) yang DIA goreskan untuk mengajari manusia citra atau sifat-sifatNya yang Husna. DIA menggelar semua cerita hidup agar lewat keseluruhan cerita hidup itu tertampil pengajarannya akan sifat-sifatNya yang Husna. Asmaul Husna.

Jadi, apapun kondisi kita sekarang, kita kembali saja kepada Tuhan lewat cerita yang sekarang ini. Sesuaikan dengan norma yang sudah diajari.

Dan dengan memahami konteks inilah, akan membantu kita terlepas dari kungkungan ceritra hidup. Baik dan buruk yang telah terjadi, semuanya adalah pintu untuk kembali. Semuanya adalah pengajaran yang menjadikan kita lebih “kaya” dalam memandang hidup.

BACA….BACA….BACA…..IQRO…. Dengan namaNya.

Yang bisa dibaca, adalah kejadian hidup ini. Setiap kejadian hidup, baik dan buruknya sifat-sifat yang tertampil di luar, adalah jendela memandang DIA sang penggores cerita.

Jadi, semakin “kaya” cerita hidup kita, sebenarnya semakin detail Tuhan mengajari kita. Dan semestinya kita membaca.

Yang “didalam sini” yang membaca.

Satu hal yang ternyata sering menghalangi kita dari melihat konteks bahwa cerita hidup ini sebenarnya menceritakanNya, adalah karena kita terlalu terjebak pada diri sendiri.

Dalam bahasa sigmund freud, barangkali kita terlalu terbalut ego. Dalam bahasa Suryo Mentaram seorang ahli ilmu jiwa dari tanah jawa, ego itu disebut Kramadangsa.

Seorang arifin sederhananya, mengatakan bahwa selagi ego atau Kramadangsa itu masih begitu kental, berarti kita masih mengira bahwa kita “wujud”. Kita mengira keseluruhan konteks cerita hidup adalah tentang diri kita. Padahal, konteks kehidupan adalah tentang DIA menceritakan diriNYA.

Satu “tirakat” sederhana untuk mengalami realita itu, baru saya mengerti, adalah ternyata dengan meringankan tangan dan bersedia hidup untuk memberi kebaikan bagi orang lain.

Agar fokus pada “kewujudan diri” menjadi sirna. Dan hidup dalam konteks tidak lagi untuk diri kita, melainkan untuk kebaikan sesama.

“Khoirunnas Anfa ‘uhum linnas”, HR. Bukhari Muslim: yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Memandang diriNya mengatur kehidupan ini lewat berbagai-bagai cerita.

Hai anak Adam, Aku telah sakit, tetapi engkau tidak menjenguk-Ku. Orang itu bertanya: Wahai Tuhan, bagaimana cara saya menjenguk-Mu, sedangkan Engkau Tuhan penguasa alam semesta? Allah menjawab: Apakah engkau tidak mengetahui bahwa seorang hamba-Ku bernama Fulan sedang sakit tetapi engkau tidak mau menjenguknya. Sekiranya engkau mau menjenguknya, pasti engkau dapati Aku di sisinya.

Wahai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tetapi engkau tidak mau memberikan makan kepada-Ku. Orang itu bertanya: Wahai Tuhan, bagaimana caranya saya memberi makan kepada-Mu, sedang Engkau Tuhan penguasa alam semesta? Allah berfirman: Ketahuilah, apakah engkau tidak peduli adanya seorang hamba-Ku, si Fulan, telah datang meminta makan kepadamu, tetapi engkau tidak memberinya makan. Ketahuilah, sekiranya engkau mau memberinya makan, pasti engkau akan menemukan balasannya di sisi-Ku.

Wahai anak Adam, Aku minta minum kepadamu, tetapi engkau tidak mau memberi-Ku minum. Orang itu bertanya: Wahai Tuhan, bagaimana caranya aku memberi-Mu minum, padahal Engkau Tuhan penguasa semesta alam? Allah berfirman: hamba-Ku, si Fulan, minta minum kepadamu tetapi engkau tidak mau memberinya minum. Ketahuilah, sekiranya engkau memberinya minum, pasti engkau akan menemui balasannya di sisi-Ku. [HR. Muslim]

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s