MELEPASKAN ID-BADGE

company-badge (1)Sekitar berapa minggu lalu, saya ingat saya hendak sholat Ashar di musholla kantor, tetapi terhenti sejenak ketika saya hendak takbir. Pasalnya adalah saya tiba-tiba teringat bahwa id-badge atau kartu tanda pengenal kantor masih tersemat berjuntai-juntai di saku baju. Maka saya urung takbir, dan melepas id-badge karena rasa-rasanya agak ndak pantes kalau saya menghadap Tuhan membawa identitas kekaryawanan saya.

Memang secara fikih tidak ada keharusan melepas id-badge saat sholat, tapi waktu itu saya merasa kok ya sepertinya kurang sopan ya, saya menghadap Tuhan dan menunjukkan identitas kekaryawanan. Maka tak urung id-badge itu saya lepas, dan saya masukkan ke kantong.

Seusai sholat, saya hendak kembali mengenakan id-badge, tetapi kemudian saya baru menyadari sebuah fakta bahwa inilah maksud dari pesan para arifin, bahwa saat beribadah, yang sejatinya “menghadap” itu adalah “sejatinya diri kita” bukan atribut-atribut ego kita.

Contoh sederhana adalah saat kita kecil. Kita sholat, tetapi kita menganggap bahwa sholat yang kita lakukan hanyalah semata gerak fisikal. Tanpa melibatkan unsur perasaan yang lebih dalam. Maka otomatis, sholat yang demikian itu bisa juga dinamakan bahwa yang “menghadap” sebenarnya adalah atribut ragawi, yaitu jasad kita.

Seiring kita mendewasa, kita mulai terbentur dengan banyak ujian hidup, maka kita mulai mengerti bahwa sebenarnya sholat itu lebih dari sekedar aktivitas ragawi.

Mulailah kita masuk lagi selangkah lebih dalam, dan menyadari bahwa sewaktu kita sholat, mesti ada konteksnya, mestilah lebih dari sekedar atribut ragawi yang “menghadap”.

Konteksnya itu ada dua kemungkinan, bisa jadi kita sholat dengan melibatkan seluruh segenap perasaan dan meminta pertolongan Allah atas kesulitan-kesulitan yang kita cecap dalam hidup, atau sebaliknya dengan segenap kekaguman atas segala kemudahan dalam hidup; kita sholat bertemakan pujian pada Allah. Tetapi intinya pasti dua itu, kalau tidak doa permintaan mesti dia berupa pujian.

Saat kita telah menyadari fakta itu, berarti kita sebenarnya sudah melepaskan sebuah “id-badge” yaitu atribut fisikal, dan masuk lebih dalam dan melibatkan segenap rasa. Jadi sebenarnya ini masalah “kita menghadap dengan tingkat kesadaran yang mana”.

Nah…. Dengan logika inilah, saya baru paham, sebuah pesanan yang lebih halus lagi dari para arifin, ketika mereka-mereka mengatakan bahwa yang sejatinya beribadah adalah bukan unsur ego terluar kita, melainkan sejatinya diri kita.

Maksudnya, kalaulah boleh mengelaborasikan, kurang lebih begini….

Telah nyata, bahwa identitas kita sebagai manajer, dan identitas kita sebagai karyawan, tidaklah berbeda di mata Tuhan. Kita makhluq/ hambaNya dan DIA pemilik dunia, tentu itu konteks yang sejati, yang melampaui atribut-atribut kepangkatan.  Jadi identitas pangkat tidak usah kita bawa.

Tidak dibawa ini, maksudnya secara mental. Saat beribadah, tidak ada rasa mental kita yang bahwa seorang manajer-lah atau seorang karyawan-lah yang menghadap. Semua kita lepaskan.

Nah…. Kalau analogi manajer dan karyawan biasa; masih gampang kita mengerti; kemudian para arifin membawa kita kembali kepada analogi yang lebih dalam dan halus, bahwa lepas dari urusan kepangkatan, sebenarnya kita masih bisa lebih dalam lagi menghadapNya, yaitu dengan melepaskan bahkan atribut mental / ego diri kita, id-badge mental kita yang begitu halus.

Sudah pernah kita bahas, bahwa “kita sebagai kita”; atau umpama “Budi sebagai Budi”; “Melati sebagai Melati”, itu adalah karena sekumpulan pengalaman hidup yang dicerap oleh substansi ruhaninya diri kita.

Alias, ada sebuah kesadaran yang ruhani, yang mencerap sekumpulan pengalaman hidup dan mengidentifikasi diri sebagai si A, si B, si C. kalau kita jeli, kita akan menyadari bahwa itupun adalah sebuah atribut mental. Dan tanpa kita sadari, selama ini yang menghadap kepada Tuhan adalah kita dalam kesadaran kita sebagai atribut mental yang kita sandang itu. Tidak pernah sebagai sejatinya diri kita yang hamba dan hanya penyaksi pagelaran hidup.

Saya beri contoh. Misalnya kita menghadap Tuhan, dan mengadukan sebuah kesulitan hidup bahwa kita mengalami ujian karena kita disakiti oleh seseorang, ditipu oleh orang yang lainnya dst…. Hal itu sudah bagus, karena kita sudah berada pada level “dalam”, yaitu peribadatan yang tak semata ritual fisik.

Tetapi, ternyata itu masih bisa ditingkatkan lagi, karena saat kita mengadukan kesulitan hidup kita itu, tanpa sadar kita menghadap dengan membawa atribut mental. Kita menghadap sebagai si A yang sedang disakiti oleh si B, sedang ditipu oleh si C. berarti yang menghadap adalah si A. atau Atribut mental kita. Itulah maksudnya bahwa kita menghadap, tetapi yang beribadah sebenarnya masih ego terluar kita. Belum sejatinya diri kita.

Jadi bagaimana?

Ternyata, itulah pesanan para arifin, jika kita bisa melepaskan keterikatan dan selalu mengingatiNya, lambat laun tanpa kita sadari, kita akan bisa shifting paradigm, berubah paradigma, dan menyadari bahwa seharusnya yang menghadap itu adalah sejatinya diri, bukan atribut-atribut mental terluar kita.

Oh…. rupanya kita ini hanya penyaksi dalam kehidupan, dan penyaksi inilah yang sejatinya mengibadahiNya. Bukan ego diri kita.

Barangkali, inilah maksudnya Inni wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samaawaati wal-ardha,

Kita hadapkan “wajah” kita kepada Pencipta langit dan bumi.

Pertanyaannya adalah, “wajah” yang mana yang selama ini kita “hadapkan” pada Nya?

apakah yang menghadap adalah sejatinya diri kita sebagai hamba, yang penyaksi pagelaran, ataukah “atribut mental terluar kita, alias ego kita, yang merasa wujud”???

 

~~~

Image taken from here

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s