CINTA YANG MENYAMUDERA

SAMUDERABarangkali, gerbangnya cinta itu adalah penerimaan. Satu kesalahan yang jamak dipahami orang adalah mengira bahwa penerimaan sejati itu meniadakan pembaikan. Misalnya pada kalimat “aku mencintaimu apa adanya.” Seolah penerimaan cinta itu meniadakan proses perbaikan. Padahal, penerimaan apa adanya tidaklah menghalangi seseorang untuk kemudian melangkah menjadi pribadi yang lebih baik. Tetapi pointnya memang benar, proses melangkah menjadi lebih baik itu harus dimulai dari penerimaan dulu. Dan penerimaan itulah sejatinya gerbang cinta, saya rasa.

Belum lama berselang, di facebook saya lihat seliweran komentar terhadap sebuah gambar dimana seorang santri mengelus seekor anjing yang terluka. Banyak komentar baik, tapi tak urung membanjir juga komentar negatif. Bukankah anjing itu najis? Anjing itu seharusnya dijauhi. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Saya merenungi dan kemudian semakin menyadari bahwa sebenarnya fragmen dimana seorang santri mengelus anjing yang terluka; itulah cinta. Cinta itu yang gagal ditangkap orang-orang yang masih melihat pada fisikal semata.

Karena cinta adalah penerimaan. Jika cinta sudah tertanam, maka penerimaan akan mengejawantah. Jika penerimaan sudah tergelar, tinggal menunggu saja cinta menjadi membaikkan sekelilingnya. Saya sendiri belum sampai pada taraf itu, dimana seekor anjing tidak lagi terlihat secara fisikal, tetapi yang terlihat pada pandangannya adalah makhluq-Nya yang butuh pertolongan. Urusan najis, bisa disucikan kemudian, dengan cara dibasuh tujuh kali dan dicampur debu.

Memang, penerimaan yang model seperti ini, akan sulit dipraktekkan bagi yang tidak memiliki cukup cinta di hatinya.

Dan saya sendiri menjadi menafakuri diri. Ada cara memang, untuk melihat ke dalam batin dan memilah-milah cara pandang kita sendiri, dan menilai diri, lapangkah tidak samudera kita? Tetapi ada cara yang gampang dan bisa dipraktikkan orang awam sekalipun, yaitu dengan melihat pada tataran yang empiris itu. Jika kita belum sanggup untuk menerima dengan lapang pada keragaman, berarti cinta kita dalam hati belum menyamudera.

Terlalu banyak fragmen pada diri saya sendiri yang mesti dibenahi. Fragmen merasa kesal pada pengemis, pada pengamen, pada orang yang suka berdebat, pada tetangga, pada pekerjaan, pada cuaca, dan pada apapun saja yang bisa diserang dengan rasa benci saya, itu membuktikan bahwa ada yang belum menyamudera. Ya cinta itu tadi. Cinta yang sempit, membuat penerimaan menjadi tidak utuh.

Seperti Asmaul Husna. Asmaul Husna, adalah nama-nama Tuhan. Tuhannya satu, tetapi sifat-sifat-Nya diejawantahkan dan diceritakan dalam berbagai takdir kehidupan yang setiap potongan takdir mencitrakan asma-asmaNya itu. Walhasil, keragaman adalah hal tak terelakkan dari nama-namaNya yang Husna.

Pantas saja, semakin arif seseorang, dia semakin bisa menerima dunia ini apa adanya.

Dan seperti di awal tadi, mencintai apa adanya tidak berarti bahwa kita mengorbankan iktikad untuk melakukan perbaikan pada porsi-porsi yang bisa kita lakukan.

Akan tetapi, perbaikan yang sejati hanya bisa dilakukan dengan hati yang menerima. Hati yang menyamudera.

Barangkali, itulah bedanya kita dan Rasulullah. Beliau memulai segalanya bil hikmah. Suatu pendapat mengatakan bahwa hikmah itu adalah sebuah kerja nyata atau bantuan yang bisa dirasakan manfaatnya. Kurang lebih begitu, saya lupa redaksi persisnya.

Tetapi tidak mungkin, bukan, hal itu bisa terlaksana tanpa penerimaan yang lebih dulu menjadi gerbangnya?

Saya baru mengerti, kenapa Rasulullah mengatakan sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat untuk manusia lainnya. Ternyata ini soal penerimaan. Orang yang menerima, dia akan membaikkan. itu konsekuensi logis.

Semakin menyamudera hatinya, semakin dia akan menerima keragaman, dan dia akan membaikkan dalam paradigmanya yang “cinta”. Karna aku dan kamu sejatinya sama, maka penerimaan itulah yang membedakan perbaikan karna ketidak sukaan atau perbaikan karena benci, dan perbaikan karena kasih dan sayang.

Dan dalam konteks penerimaan ini jugalah saya baru mengerti makna taubat. Taubat berarti kembali. Kembali kepada Tuhan. Dalam kembali ini, kita juga menerima. Menerima diri sendiri, bahwa dalam khilaf itu berarti kita diminta kembali pada Tuhan lewat jalur pertaubatan. Bukan lewat jalur kesempurnaan amal (dan siapa sih yang sempurna selain NabiNya?)

Orang yang tidak menerima, maka dia kehilangan taubat. Karena sejatinya, kebaikan dan peribadatan yang dia lakukan itu dilandasi rasa benci. Barangkali benci pada dirinya sendiri. Memaki diri sendiri. Atau memaki kegagalannya yang urung menjadi seseorang yang tanpa cela.

Padahal, untuk kembali lewat jalur pertaubatan, seseorang mestilah menemukan cinta dahulu. Dengan cintalah dia akan menyadari penerimaan. Dengan menerimalah dia akan berjalan pada perbaikan, bukan dengan benci.

Jika semakin kita beribadah, tak tumbuh pada diri kita selain benci pada orang lain, selain kesal pada ketidak sempurnaan amal kita sendiri, mungkin sejenak sudah saatnya berhenti dan menilai ulang.

Karena hati yang menyamudera akan pasti menerima. Karena penerimaan yang lapang itulah yang nantinya menjadi bahan bakar pembaikan. Dalam semangat seperti itulah saya rasa baru teraplikasikan bahwa sebaik-baik kita adalah yang paling bermanfaat untuk orang lainnya.

~~~

ilustrasi gambar dipinjam dari sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s