HIDUP DALAM KONTEKS MEMBERI

maruf_sedekah

Dari penjara Banceuy-lah lahir sebuah pledoi “Indonesia menggugat”.  Pledoi yang ditulis di atas kaleng yang berbau tak sedap, kaleng tempat buang hajat, satu-satunya perkakas yang bisa difungsikan sebagai meja di dalam penjara itu. Disitulah Soekarno ditahan pada awal-awal masa perjuangan, dan kemudian di atas kaleng yang setelah dibersihkan dialasi dengan tumpukan-tumpukan koran itulah Soekarno menuliskan pembelaan yang meninggalkan jejak hingga sekarang.

Mengenai kaitannya pledoi itu dalam kajian sejarah indonesia, biarlah dikaji para sejarawan. Yang saya hendak tuliskan adalah satu fakta sederhana itu saja, bahwa saat seseorang hidup dalam konteksnya yang besar, yaitu konteks untuk memberi, maka orang itu akan bisa melampaui sensasi kedirian yang sempit.

Kita bisa menyepi ke gunung, melakukan tirakat spiritual yang ketat. Kita bisa puasa begitu dawam dan sholat dengan upaya yang keras untuk mencapai level yang menipiskan ruang ego, tetapi capaian ruhani yang membuat kita menjadi hilang keakuannya, saya baru sadari, ternyata ada pada kunci rahasia yang sederhana itu. Yaitu membiasakan hidup dalam konteks memberi.

Saat seseorang membiasakan hidup dalam konteks memberi, maka ruang ego di dalam dirinya menjadi mengecil, karena dia hidup dalam upaya membaikkan sekelilingnya. Saat keseluruhan hidupnya dipatri dalam cita-cita berkebaikan yang besar itu, maka ruang keakuan akan lama-lama hilang.

Dahulu saya bertanya-tanya, bukankah dalam skala tertentu berkebaikan untuk orang lain malah semakin menimbulkan keakuan diri? Belakangan barulah terjawab bahwa sesiapa yang dalam berkebaikan malah menimbulkan keakuan diri, berarti sebenarnya dia tidak hidup dalam konteks memberi.

Zahirnya dua orang boleh terlihat sama-sama berkebaikan, tetapi orang yang tidak dalam konteks memberi sejatinya dia menadahkan hatinya untuk meminta sumbangsih pengakuan dari orang lain. Maka orang itu sebenarnya meminta, bukan memberi.

Jika tak tumbuh dalam diri saya sendiri selain dari rasa sempit dan luka saat membantu orang lain, maka jangan-jangan saya sedang tidak memberi.

Sedangkan yang benar-benar memberi, dia akan melampaui ruang rasanya kerdil. Soekarno dalam penjara tidak memaki dirinya sendiri. Karena dia hidup dalam konteks wacana yang besar. Memberi.

Panglima Soedirman, misalnya. Dalam sakitnya tetap memimpin perang. Dia memberi.

Sayidina utsman bin Affan misalnya, membebaskan sumur Raumah untuk penduduk yang kesusahan air.

Dan sederet cerita orang-orang yang hidup dalam konteks memberi. Mereka melampaui ruang rasanya sendiri. Pencapaian yang mungkin didapatkan lewat tirakat berat dan panjang para spiritualis, rupanya dirangkum dalam sabda Sang Nabi bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.

Dalam kaitannya dengan menipiskan ruang ego, memburamkan keakuan; inilah saya baru mengerti apa yang disebutkan para arifin.

Hidup dalam konteks memberi, itu hanya akan dipahami jika kita mengerti bahwa yang berkebaikan adalah bukan kita sendiri. Karena kita hanya keran kebaikan, air yang mengalir itu bukan milik kita.

Dan hidup dalam konteks memberi, itu hanya akan dipahami jika kita sadari bahwa sejatinya yang kita bantu adalah makhluq-Nya juga, yang dalam tanda kutip; lewat mata merekalah Tuhan inginkan agar diri-Nya dipandang. [1]

Jadi, cara yang cukup membantu menipiskan ruang ego adalah dengan berkebaikan pada orang lain. Cara yang ampuh, jika kita merasa sudah banyak tirakat tetapi masih merasa besar egonya. Lalu disitulah kita akan mengerti maksud orang-orang arif…..sesungguhnya siapa yang dibantu? Siapa yang membantu?

 

 

~~~

references

[1] Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., beliau berkata, telah bersabda Rasulullah saw, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla kelak dihari kiamat akan berfirman, “Wahai anak cucu Adam, aku sakit dan kamu tidak menjengukku”, ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam”, Allah berfirman, “Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya hambaku yang bernama Fulan sakit, dan kamu tidak menjenguknya? Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya jika kamu menjenguknya, engkau akan mendapatiku didekatnya. Wahai anak cucu adam, aku meminta makanan kepadamu, namun kamu tidak memberiku makanan kepada-Ku”, ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami dapat memberi makan kepada-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya hambaku fulan meminta makanan, dan kemudian kalian tidak memberinya makanan? Tidakkah engkau tahu, seandainya engkau memberinya makanan, benar-benar akan kau dapati perbuatan itu di sisi-Ku. Wahai anak cucu adam, Aku meminta minum kepadamu, namun engkau tidak memberi-Ku minum” , ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami memberi minum kepada-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Seorang hambaku yang bernama fulan meminta minum kepadamu, namun tidak engkau beri minum, tidakkah engkau tahu, seandainya engkau memberi minum kepadanya, benar – benar akan kau dapati (pahala) amal itu di sisi-Ku” (Hadist diriwayatkan oleh Muslim.)

ilustrasi gambar dipinjam dari link ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s