JANGAN LUPA PADA JAMALNYA

Salah satu hal yang saya amati pada diri saya sendiri, adalah seringkali lupa bahwa Allah SWT memiliki sifat Jamal.

Sederhananya, para guru mengatakan sifat Jamal adalah sifat-sifat yang indah dan welas-asih.

Apa sebab saya melupakan sifat Jamal-Nya? Barangkali salah satu sebabnya adalah karena digelontor kesibukan pekerjaan.

Rekan-rekan tentu pernah mengalami, dalam ritme hidup yang cepat, semua akan terlihat begitu monoton dan serius. Dan jika saya sudah terlalu serius, maka saya mengamati cara saya memandang kehidupan sudah agak kurang berwarna. Karena kehidupan dipandang dalam kacamata yang kurang indah. Seakan-akan hidup hanyalah dalam citra kemacetan jalan, tumpukan kertas, monitor laptop, dan krang-kring telepon client. Ini tidak elok.

Saya teringat pada kisah Isra’ Mi’raj-nya Nabi, dimana sewaktu beliau sedang mengalami tumpukan duka lara, beliau di-isra’-kan lalu di-mi’raj-kan ke langit.

Lepas dari konteks bahwa hal itu jadi sebab musabab perintah shalat, saya baru paham bahwa saat beliau diangkat ke langit, dan melihat semesta ini dalam konteks yang sangat bessssaaaaaar dan luaaaaasss, maka kepedihan hidup -dalam skalanya yang kalah luas di banding semesta raya ini-; akan semakin terasa kecil.

Dulu, saat saya masih kuliah, saya mengira skripsi saya sudah demikian pelik. Setelah saya ada di dunia kerja, baru saya paham bahwa semestinya skripsi dulu itu tak pelik. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Jadi, kalau kita hidup dalam konteks yang besar, maka kesulitan hidup -paling tidak- akan berasa kecil.

Sama juga dengan ceritra sifat Jamal tadi.

Dalam kitab Futuhul Ghaib, Syaikh Abdul Qadir Al Jailani pernah mengatakan bahwa Rasulullah menggelegak dadanya terdengar gemuruh, saking takutnya pada Tuhan. Karena, yang terpandang pada Rasulullah kala itu adalah citra JALAL-Nya Tuhan. Sifat-sifat keagungan, kebesaran, digdaya.

Tapi tidak selalu pada sisi itu beliau memandang. Sehingga, masih dalam Futuh Al Ghaib, dikatakan bahwa Rasulullah mengatakan pada bilal “istirahatkan kami dengan sholat”. Rasulullah menyuruh bilal adzan, dan beliau hendak “istirahat” dengan melaksanakan sholat.

Menurut sang Syaikh, “istirahat dengan sholat” itu maknanya adalah bahwa Rasulullah memasuki sholat dengan mencecap sifat JAMAL-Nya Tuhan. Keindahan dan welas asih.

Dan itulah tema besar yang diusung Rasulullah. Mengenalkan kembali Tuhan, dalam citranya yang utuh.

Mengajarkan orang-orang untuk memulakan segala aktivitas dengan basmalah.

Bismillahirrahmanirrahim. Dengan nama-Nya yang Rahmaan Rahiim. Agar hidup kita masuki dengan mencecap welas asih-Nya.

Dan itu juga yang dimaksud suatu hadits yang mengatakan bahwa Allah berfirman rahmat-Nya mengalahkan murkaNya. Itu juga tentang sifat JAMAL-Nya.

Jadi jika hidup terasa begitu membebani, barangkali konteks saya memandang hidup perlu di mi’rajkan dulu. Agar lebih komprehensif. Dan  kembalimengingat  bahwa saya hidup dalam sebuah dunia dimana Sang Pencipta dunia ini ingin dipandang sebagai “yang Rahmat-Nya mengalahkan murkaNya”, dan DIA juga yang menyuruh agar apa-apa dimula dengan namanya yang welas asih. JAMAL-Nya.

3 thoughts on “JANGAN LUPA PADA JAMALNYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s