SEPAKET LUKA DAN CAHAYA

wound

“I HATE YOUUU”, teriak wanita itu kepada Ben, si bule berusia sekira 50-an tahun. Ben adalah atasan dari sang wanita itu, dan wanita itu adalah karyawati yang bekerja dalam satu perusahaan yang sama dengan Ben. Mengapa dia begitu membenci Ben?

Namanya Ben. Saya lupa nama panjangnya, dan dia mungkin tak ingat saya sama sekali, tetapi saya mengingat persis potongan cerita yang dia bagikan pada kami sekelas sewaktu saya berkesempatan mengikuti training dari kantor, di Kairo.

Dalam penghujung sesi hari itu, disana Ben bercerita ngalor ngidul tentang manajerial dan entah bagaimana sampai pada cerita itu. Seorang karyawati di kantornya mengajukan surat Resign, pengunduran diri, kepada Ben.

Sebagai seorang pimpinan, Ben merasa ingin tahu apa alasan karyawati ini mengundurkan diri? Maka dipanggillah sang karyawati ke ruangannya sebagai bentuk penghormatan, untuk berbicara jujur apa alasannya mengundurkan diri?

Karyawati itu sebenarnya seorang pekerja yang ulet, tak pernah bermasalah. Pun, Ben adalah seorang pimpinan yang membaur, dan sepanjang pengamatan Ben, dirinya tak pernah dengan sengaja ingin membuat karyawan tak betah. Jadi tentang apa hal ini sebenarnya?

Awalnya, karyawati tadi tak hendak bercerita. Tetapi karena Ben mendesak terus akhirnya keluarlah pengakuan itu. “Because i hate you….” katanya. Dan Ben terdiam.

Saat mendengar cerita itu, saya, begitu ingin tahu kenapa wanita itu membenci Ben? Dan dengarlah alasannya ini.

Wanita itu membenci Ben karena dia kesal melihat Ben memiliki kehidupan yang nyaris sempurna di matanya. Dia kesal dengan Ben yang selalu ceria. Dia membenci Ben karena memajang foto dirinya beserta keluarganya dalam sebuah bingkai frame kecil yang dipajang di meja kantornya. Dia membenci Ben karena melihat Ben selalu bercerita tentang bagaimana dia menelepon keluarganya setiap hari saat sedang di kantor dan Ben selalu memberi surprise saat ulang tahun. Dan sebagainya.

Semua kehidupan Ben yang damai itu; membuat wanita itu muak. Karena ternyata wanita itu adalah orang yang “terluka”.

Pada akhirnya, Ben tak bisa menahan wanita itu dari keinginannya meninggalkan kantor. Kata Ben, ternyata wanita itu mengalami kehidupan yang penuh badai. Dan semua hal yang bermasalah dalam kehidupannya itu rupanya menyalakan rindu pada kedamaian, kedamaian yang tak bisa dia raih….akibatnya, wanita tadi membenci semua bentuk kedamaian yang dia lihat ada pada orang lain.

Mendengar cerita itu, saya menjadi teringat bahwa kebaikan kita bisa disalah arti oleh orang-orang yang masih memendam luka dalam batinnya. Tapi pelajaran belum usai rupanya. Yang lebih mengejutkan rupanya pengakuan Ben sendiri.

“Orang-orang mengira saya hidup dalam kedamaian yang nyaris sempurna, tetapi orang-orang itu keliru,” ujar Ben.

“Saya hidup dalam keluarga yang broken home. Rumah tangga yang kacau. Kekerasan masa kecil. Dan berakhir dalam adopsi.” Dengan status sebagai seorang yang diadopsi itulah Ben melanjutkan sisa hidupnya yang juga “Luka”.

Ben, dan wanita itu tadi, sama-sama luka. Pertanyaan di Benak saya adalah kenapa hasilnya berbeda. Ben menjalani kehidupan dengan kebahagiaan yang damai, sedang wanita itu menjadi pembenci yang menembak secara random entah siapapun saja sebagai pelampiasan.

Ternyata jawabannya adalah “acceptance”, penerimaan.

Di dalam lukanya itu, Ben menerima luka itu sebagai sesuatu yang mesti terjadi, dan luka itu sebagai hanya rekaman masa lalu. Masa lalu itu memori, ujarnya. Kita hidup di masa sekarang. Ben mengulang-ngulang kutipan guru oogway dalam kungfu panda. “Yesterday is a memory, future is a mystery, but today is a gift; that’s why we called it “present”.

Sedangkan wanita tadi, dia tidak memiliki sikap penerimaan. Ibarat lokomotif, dia terlalu banyak membawa gerbong. Gerbongnya adalah semua derita masa lalu. Maka jalannya menjadi berat dan payah.

Di dalam lukanya itu, Ben mencari “kebahagiaan” pada makna-makna, atau cara pandang dalam menilai hidup. Bagi Ben, kebahagiaan itu dari “dalam”, bukan dari “luar” Akibatnya Ben merasa bahagia meskipun tak sekali dua masalah tetap datang dan pergi. Sedangkan wanita tadi, menganggap kebahagiaan sebagai sebuah benda, atau kondisi di luar dirinya, sehingga saat kondisi itu tak dia capai, dia merasa jengah karena melihat semua orang selain dialah yang bahagia. Kebahagiaan selalu berada di luar dia.

Saya jadi teringat sebuah kutipan dari Rumi, “Luka adalah jalan masuk cahaya”.

Tetapi luka yang bagaimana yang bisa dimasuki “cahaya”?

Ternyata luka yang diterima. Hanya penerimaan-lah yang menjadikan luka bisa dimasuki cahaya.

Pantas saja, barangsiapa percaya kepada takdir, maka akan diberikan hikmah-hikmah. Jalan keluar. “Masalahnya” sendiri, boleh jadi belum terurai, tetapi cahaya hikmah sudah barang tentu sampai.

Dari beberapa guru-guru arif yang saya temui, semuanya mengatakan hal yang kurang lebih senada: tak mungkin perjalanan menuju Allah bisa dimulai tanpa menerima takdir. Acceptance.

Seumpama kita diterpa panas menyengat, maka kita berteduh. Baik “panas” dan “teduh”, adalah kondisi di luar diri kita. Seseorang yang mengerti bahwa kebahagiaan ada di “dalam” dirinya sendiri; dalam upayanya menuju teduh; dia tidak memaki panas.

Akan tetapi, seseorang yang menganggap bahagia adalah entitas di luar diri kita sendiri, baik teduh maupun panas dia akan selalu memaki hari.

Melihat ke luar diri untuk menggapai bahagia; adalah tangga paling rendah, dimana kita paling rentan untuk tersakiti. Di atasnya lagi adalah tangga pengertian dan makna-makna dari dalam diri kita sendiri, bahwa bahagia bisa kita temukan di dalam “sini” bukan di luar sana. Di atasnya lagi adalah tangga penerimaan yang dilandasi pengertian bahwa dualitas baik-buruk semuanya adalah ejawantah tentang DIA bercerita semata.

Kita harus berpindah dari tangga paling bawah itu. Dan berhenti menganggap kebahagiaan adalah benda atau kondisi, atau entitas di luar diri kita. Kita belajar merubah cara pandang itu, agar mulai membiarkan makna-makna hikmah masuk.

Karena setiap luka itu…. sepaket dengan cahaya.


*) gambar dipinjam dari link ini

TIPS MEMPERBANYAK REJEKI

Nah…mari kita bahas sebuah tips memperbanyak rejeki. Saya baru menyadari bahwa tips ini sangat berguna dan manjur, jadi sayang kalau tidak dibagikan.

Hal yang paling pertama kali harus dimiliki dalam tips ini adalah mengenai definisi. Apa itu rizki?

Setelah saya bertemu dengan sebuah hadits yang menjabarkan mengenai rizki manusia, maka saya baru paham dan mengambil satu kesimpulan mendasar tentang definisi rizki itu.

Kata Sang Nabi, yang disebut rizki itu adalah apa-apa yang kita makan sampai kenyang, apa-apa yang kita pakai hingga usang, dan apa-apa yang kita sedekahkan.[1]

Kalau kita tarik benang merahnya, kita bisa simpulkan bahwa ternyata yang disebut rizki ini adalah sesuatu yang kemanfaatannya bisa terserap secara nyata oleh kita, atau sesuatu yang kita bisa jadikan kemanfaatannya terserap secara nyata untuk orang lain, maka itu rizki.

Contohnya saya rasa ilustrasi klasik ini. Seorang kaya memiliki sebuah taman yang indah. Taman itu begitu indah dan luas sekali. Saking luasnya maka biaya perawatan taman itupun sangat mahal. Orang kaya ini tadi sibuk sekali bekerja dan mengumpulkan uang untuk perawatan taman, dan untuk hal-hal lainnya, hingga dalam kesibukannya itu dia tidak sempat menikmati taman yang indah itu.

Siapa yang menikmati taman indah itu? Yang menikmatinya adalah orang-orang yang lalu lalang hilir mudik dan asyik cuci mata dengan memandangi taman. Atau malah tukang kebunnya.

Maka dalam konteks “kemanfaatan yang terserap”, kita tahu bahwa taman itu ternyata bukan rizki si orang kaya itu. Meskipun secara legal formal taman itu dikatakan milik si orang kaya.

Tetapi disinilah definisi itu menjadi menarik, bahwa kepemilikan belum tentu berarti kemanfaatan atas benda itu bisa dinikmati.

Kepemelikan adalah berbicara mengenai “harta”, sedangkan rizki adalah berbicara mengenai “kemanfaatan yang terserap”.

Disinilah kelirunya saya, dan saya rasa juga kelirunya sebagian besar kita. Kita mengira bahwa harta itu adalah rizki. Padahal, harta kita belum tentu rizki kita, seperti contoh pemilik taman itu tadi. Harta itu berarti kita adalah tukang penjaga benda-benda itu.

Saya teringat dengan cerita yang saya dengar dari rekaman audio ceramah Buya Hamka. Tersebutlah seorang kaya yang sangat kikir. Saking kikirnya, kekayaan orang kaya itu bahkan tidak pernah dia nikmati, kerjanya hanya menumpuk numpuk harta saja. Dia simpan dalam lemari. Tetapi dia sendiri berbaju jelek, padahal dia punya uang untuk membeli baju.

Dulu, saya mengira sikap begitu itu disebut zuhud. Rupanya saya keliru. Zuhud itu adalah orang yang tidak “dimiliki” oleh dunia.

Bagaimana caranya agar kita tidak dimiliki oleh dunia? Rupanya caranya seperti definisi di atas itu tadi: pertama, kita “perbudak” dunia itu untuk melayani kebutuhan kita. Kedua, kita perbudak dunia itu untuk memberi kemanfaatan pada orang lain.

Dalam contoh yang disebutkan Buya Hamka, sang orang kaya yang kikir ini tadi bukanlah zuhud, karena sejatinya dia malah “dimiliki” dunia. Dia tidak bisa mengkonversi hartanya menjadi rizki yang kemanfaatannya terasa nyata oleh dirinya atau orang lain, tetapi dia malah sibuk menjaga hartanya. Ditumpuk, dijaga, ditumpuk, dijaga, tidak pernah dipakai. Artinya dia diperhamba harta. Kalau kita sibuk menjaga harta kita sendiri dan tidak pernah membuat harta itu melayani kita, jangan-jangan kita sudah keliru.

Saya teringat juga dengan kisah Ali bin Abi Thalib, dimana suatu ketika beliau menegur seorang businessman yang berpakaian lusuh padahal punya uang untuk beli pakaian. Businessman itu berkelit dengan mengatakan dia ingin meniru Ali dalam pola hidup Zuhud. Tetapi, Ali menjelaskan bahwa Ali hidup berpenampilan sederhana karena konteksnya sebagai pejabat negara, bermewah-mewah akan menyakiti hati rakyat. Tetapi kalau businessman beda kasusnya. Allah menyukai jika hamba-Nya menampakkan anugerah yang telah dia terima.

Barulah saya mengerti, bahwa hal tersebut ada kaitannya dengan dualisme harta-rizki. Agar hartamu menjadi rizkimu; maka manfaatkan semaksimal mungkin harta itu untuk melayanimu, jangan terbalik.

Wah….kalau begitu kita pakai saja harta kita sebanyak-banyaknya agar menjadi rizki kita?

Ternyata ga begitu juga. Jika definisinya adalah “kemanfaatan yang kita pribadi bisa serap”, maka sebenarnya rezeki setiap orang itu tidak akan bisa melebihi porsi yang dia bisa serap. Bahasa lainnya tergantung wadahnya.

Uang misalnya, kita belikan makanan juga tak akan melebihi ukurang lambung. Begitupun pakaian juga yang akan terpakai sampai usang tak akan bisa melebihi kebutuhan harian. Sisanya, mau tak mau akan menjadi harta yang mengharuskan kita menjadi pelayan mereka. Kita yang harus menjaga dan mencurahkan segenap perhatian pada harta-harta itu. Birokrasinya jadi terbalik, kita menjadi bukan tuan lagi.

Nah…karena tidak mungkin kita bisa “memakan” kemanfaatan melebihi porsi yang kita bisa serap, maka ada opsi satu lagi agar harta bisa dikonversi menjadi rezeki, yaitu dengan membagikan atau membuat harta itu menjadi jalan kemanfaatan buat orang lain. Entah dibagikan, sedekah, atau yang lain-lain, intinya berdaya guna. Dan opsi kedua ini, nantinya efeknya akan langgeng sampai alam berikutnya.

Satu tips terakhir memperbanyak rezeki adalah begini, saat kita sudah paham definisi rizki itu sejatinya soal kemanfaatan yang kita bisa serap, maka kita harus belajar menikmati keindahan yang banyak tersebar di keseharian kita. Misalnya keindahan dan kenyamanan pohon untuk kita berteduh, ruangan AC di mall, taman kota, danau, dan segala macam kemanfaatan yang tersebar-sebar di seantero alam ini, yang semuanya gratis. Itu semua bukan harta kita, tetapi apapun yang membuat kita bersyukur dan nyaman dan terlayani oleh harta itu, maka sejatinya itu rizki kita juga.

Begitulah cara Tuhan menjamin kita, dengan rizki, kemanfaatan yang sampai pada kita, tak mesti secara legal formal semua barang jadi punya kita.

Demikian tips memperbanyak rizki. Monggo dicoba.

[1] Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Muththarrif dari ayahnya, ia tiba di hadapan nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Bermegah-megahan telah melalaikanmu.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Anak Adam berkata: Hartaku, hartaku. Kau tidak memiliki harta selain yang kau sedekahkan lalu kau habiskan, yang kau makan lalu kau habiskan atau yang kau pakai hingga usang.” H.R. Tirmidhi

GAGAP PADA DUNIA EMPIRIS

readers-leaders

Pernah ada tempo-temponya dimana saya bosan sekali dengan rutinitas. Hal yang sama dan klise. Bangun pagi, berangkat ke kantor dan dijebak macet. Meeting dengan client. Dan menatap layar laptop seharian. Lalu pulang dan menembus kembali kemacetan. Rasanya benar-benar bosan.

Sempat saya mengira, “jangan-jangan saya sudah kurang syukur kepada Tuhan”.

Kemudian saya mencoba untuk menghilangkan bosan itu dengan rasa syukur. Rasa penat hilang lumayan, tetapi memang rasa bosan itu masih ada. Disitulah saya mendapatkan sebuah “hikmah”, bahwa kesalahan saya rupanya saya sering gagap pada dunia yang empiris.

Maksudnya begini…Seringkali saya jatuh dalam kesalahan over simplifikasi terhadap suatu masalah.

Jika saya bosan, saya langsung menganggap hal itu sebagai bentuk kurang syukur. Pemaknaan yang “dalam”, memang. Tetapi, pada dunia “luar” yang empiris, ternyata sebuah rasa bosan itu bisa ditinjau secara saintifik. Misalnya, otak manusia memang cenderung akan bosan jika diberikan stimulus yang sama terus menerus.

Ada cerita, dimana band terkenal “Kla Project” merasa sudah sangat jenuh dengan lagu mereka sendiri. Lagu apa itu? “Yogyakarta”.

Lagunya memang enak, saya pun sangat senang mendengar lagu itu. Tetapi bayangkan dari sisi Kla Project sendiri. Mereka menyanyikan lagu favorit banyak orang itu, dalam ribuan kali kesempatan. Tentulah akan membuat mereka mencapai titik jenuh.

Dan proses mencapai titik jenuh ini saintifik lho. Bisa dianalisa secara empiris. Dan sama sekali bukan bentuk dari tidak syukurnya Kla Project, misalnya. Tetapi efek lumrah biasa dari perulangan yang sama dan monoton. Bahasa kerennya, ini Sunnatullah.

Dalam upaya memahami Sunnatullah inilah saya baru menyadari bahwa saya sering gagap. Seni memahami dunia “luar”, dunia empiris. Karena rupanya saya sering menganggap segala sesuatu masalah pastilah solusinya ada pada dunia “dalam” melulu pada spiritualitas.

Padahal, tidak mungkin semua masalah dihadapi dengan hanya satu saja solusi. Ada masalah yang berkaitan dengan interaksi sosial budaya. Ada yang berkaitan dengan hal-hal psikologi. Ada yang berkaitan dengan politik. Ada yang berkaitan dengan ekonomi. Macam-macamlah….pendek kata setiap masalah di dunia empirik, haruslah menjadi jalan bagi kita untuk mempelajari sunnatullah-Nya. Mempelajari seperti apa DIA menyusunkan hukum-hukum alam.

Pada akhirnya, memang kita harus tahu mendudukkan suatu masalah. Mana hal yang termasuk gejala empiris dan kita butuh kemampuan di dunia “luar”, dan mana hal yang merupakan dunia “dalam” dan terkait dengan cara pandang spiritual.

Seperti tadi, saya bosan dengan rutinitas yang klise, mungkin saya butuh variasi. Barangkali sembari mendengarkan stand-up comedy sewaktu di kemacetan jalan. Atau sambil mendengarkan radio dan music. Hal-hal yang semacam itu.

Dan tindakan-tindakan semacam itu tidak membuat kita lantas menjadi tidak spiritual.

Selama penguasaan ilmu di dunia empiris dibingkai dalam sebuah frame besar untuk belajar mengerti tentang DIA, maka hal-hal empiris pun tetap bisa “spiritual” kok. Saya jadi teringat wejangan seorang guru yang mengatakan bahwa para ilmuwan yang jujur, seringkali lebih dekat pada Tuhan dibanding agamawan. Karena, para ilmuwan itu berkecimpung pada dunia empiris yang membuat mereka merasakan sekali pengaturan Tuhan.

Itulah saya rasa mengapa ilmuwan islam masa lalu bisa begitu sufistik sekaligus bisa begitu matang penguasaannya pada ilmu-ilmu duniawi. Karena mereka tidak gagap di dunia empiris. Mereka mengerti bahwa belajar sunnatullah di dunia “luar” juga merupakan upaya untuk mengerti pengaturannya Tuhan  (dunia dalam) pada alam semesta.

Jadi ya kembali lagi ke konteks besar itu. Tujuan manusia dan alam semesta diciptakan adalah agar DIA dikenali.

Sudah banyak orang-orang arif mengajari kita, bahwa DIA itu “tidak bisa dibaca”. Yang bisa dibaca adalah pada tataran sifat-sifat, bukan DIRINYA, bukan Dzat-Nya. Yang bisa dibaca adalah alam semesta yang DIA Zahirkan.

Maka, gagap pada dunia empiris sama saja dengan kita menyia-nyiakan pagelaran Akbar yang sudah DIA gelar. Justru….kalau mengerti konteks bahwa dunia empiris ini digelar untuk menyatakan DIRINYA semata, maka semakin belajar ilmu-ilmu empiris, semakin-makin spiritual.

Tidak bisa dipisahkan antara dunia dalam dan luar.

Image taken from here

CIRI-CIRI KURANG IQRO’

readingAda sebuah kutipan bijak dari dunia beladiri. Jika seseorang mengaku tak terkalahkan, maka hanya ada dua kemungkinan. Yang pertama dia tidak banyak bertarung, atau dia tak pernah bertarung sama sekali.

Saya lupa siapa yang mengucapkan itu, barangkali Mushashi. Tapi mungkin juga bukan, konon Mushashi tak pernah kalah dalam duel. Tapi itu dalam masa keemasannya, bukan? Rasanya dalam masa-masa berlatih pasti pernah mengalami kekalahan itu.

Tetapi intinya bukan cerita silat. Intinya adalah bahwa kebijakan di dunia cerita silat itu bisa diterapkan secara lebih spiritual, yaitu tentang bagaimana kita meng-internalisasi wacana “rendah hati” di dalam keilmuan.

Bagaimana caranya? Caranya dengan banyak-banyak “bertarung”. Bertarung adalah metafor dari memperluas wacana ilmu dengan belajar dari banyak hal.

Kembali kita kutip analogi di dalam sholat. Di dalam sholat, ada unsur pujian, ada unsur pengagungan kepada Tuhan, ada unsur permohonan dan do’a. Tanpa sebuah internalisasi, segala ucapan-ucapan hanya akan menjadi ritus semata. Dia tidak tajam, tidak punya bobot. Karena cita rasa memuji, mengagungkan, dan memohon itu barangkali tidak ada dalam diri kita.

Kenapa tidak ada? Karena kita tidak menemukan realita yang membuat kita mengagungkan, memuji, menyucikan dan memohon pada Tuhan; dalam keseharian kita. Sebenarnya bukan tidak menemukan, tetapi kita yang gagal meng-internalisasi-nya.

Rupa-rupanya, sebuah peribadatan tidak bisa untuk lepas konteks. Maksudnya, sebuah peribadatan mestilah sebuah media pengagungan, penyucian, pujian, dan permohonan atas realita-realita yang kita temukan pada hidup kita.

Mungkin, itu juga mengapa setelah sholat kita disuruh bertebaran di atas muka bumi. Jika dalam bertebaran di atas muka bumi itu kita mengerti konteks internalisasi tadi, maka sholat kita lebih punya rasa.

Dalam kaitan seperti itulah saya ingin membagi sebuah tirakat sederhana, jika kita sudah mulai kehilangan makna “rendah hati” dalam keilmuan kita.

Jika kita sudah mulai merasa besar dan “cukup” dengan ilmu yang kita miliki, itu artinya kita belum banyak “berjalan”.

Cobalah berjalan, melihat, mentafsir, dalam niatan belajar. Maka kita akan terkejut untuk melihat hampir seluruh orang di muka bumi ini memiliki keilmuan lebih tinggi dan lebih hebat daripada kita.

Ini tirakat sederhana. Jika kita sudah merasa “cukup” dengan ilmu yang kita miliki; segeralah “berjalan” dan banyak-banyak membaca kehidupan dari sana-sini, sampai kemudian kita akan disadarkan bahwa kita tak banyak tahu.

Berulang kali bertemu dengan fakta bahwa orang-orang lebih tinggi wacana keilmuannya daripada kita, maka kita tanpa sadar akan mengalami internalisasi itu. Tanpa sadar, sebuah bentuk “rendah hati” terhadap keilmuan, atau sebuah kesadaran bahwa ilmu kita “tidak cukup”; akan terpatri kukuh.

Saya ingat seorang guru mengajarkan tentang makna “Allah mengajar manusia dengan perantaraan kalam”[1]. Kalam disini, maksudnya bukan pena secara harfiah. Pena, adalah media yang mengalirkan tinta dari wadahnya menuju kertas. Pada tinta itulah segala kepahaman dititipkan dalam bentuk aksara.

Walhasil, “kalam” adalah apapun saja media yang menjadi jalan kepahaman mengalir. Dari sang Empunya ilmu, kepada receiver yaitu kita.

Maka dalam konteks begitu, semua orang adalah “kalam”Nya. Semua yang mengajari kita ilmu adalah “kalam”. Segala apapun saja ciptaan yang darinya kita mendapatkan hikmah dan pencerahan, adalah “kalam”.

Maka dalam konteks kita-pun sebagai “kalam”, mau tidak mau kita harus internalisasi sifat rendah hati kepada ilmu itu tadi. Merasa “tidak cukup” atas ilmu, karena kita cuma tempat ilmu numpang mengalir.

Ini saya ceritakan tentang Khalifah Umar Ibn Khattab, seorang yang sudah tentu lebih dahsyaat keimanannya dibanding kita, dan lebih “jernih” batinnya dalam menangkap pengajaran dari Tuhan; dibanding kita.

Suatu kali Umar sempat marah besar kepada sekretarisnya, yang menuliskan pada bagian bawah surat yang ditulis Umar, “inilah yang Allah ilhamkan kepada Umar”. Umar marah, dan menyuruh sekretarisnya mencoret itu, lalu diganti dengan tulisan “inilah yang dipahami oleh Umar”.  Sebuah bentuk adab.

Meskipun Umar adalah orang yang diakui kapasitas kejernihannya dalam mebaca insight-insight dari Tuhan (beliau muhaddatsun)[2].

Barangkali, kalau kembali pada analogi silat itu tadi, itu dia ciri orang yang banyak “bertarung”. Makin banyak bertarung, makin dia akan rendah hati.

Jadi, rekan-rekan, tirakatnya sederhana saja. Begitu kita sudah merasa cukup banyak tahu dan bangga dengan keilmuan kita, itu alarm, kita sudah kurang IQRO’.

[1] Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (QS AL-‘Alaq : 4)

[2] Sesungguhnya telah ada pada umat-umat sebelummu muhaddatsun, dan kalau ada pada umatku seorang darinya, maka Umar bin Al Khattab adalah orangnya.[HR.Muslim]

Makna muhaddatsun adalah mulhamun (orang yang mendapatkan ilham).

Gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

SENI MENYIBAK KEINDAHAN

sawahPersahabatan dengan rekan-rekan terdekat di SMA dulu, begitu membekas bagi saya. Sulit saya melupakan persahabatan kental itu. Setiap hari selalu sepulang sekolah menyempatkan diri “ngeriung” di rumah salah seorang sahabat dalam rangka belajar kelompok. Belajar kelompok itu hanya judulnya saja, tetapi intinya adalah menghabiskan nasi di rumah teman, lauk sambal, ngerumpi tentang segala hal dari yang remeh temeh sampai yang berat, dan mengumpulkan semangat untuk besoknya melakukan hal serupa kembali.

Tapi kalau masihlah ingin disebut belajar kelompok, saya rasa itu tetap bisa diterima. Karena setelah berbilang tahun barulah saya mengerti bahwa mencerap hikmah dari kehidupan keseharian itu juga tak bisa dilepaskan dari konteks belajar.

Memasuki masa kuliah, sebenarnya saya menyangsikan bahwa pertemanan sekental di masa SMA itu bisa saya temukan lagi. Tetapi ternyata teman-teman yang dekat dan menyemangati itu pun terserak-serak dimana-mana dengan warnanya yang berbeda pula. Sehingga cerita pertemanan yang klasik itu pun kembali tergelar. Tentang berjibaku dengan tugas-tugas kampus, tentang bersama-sama menyiapkan sebuah kepanitiaan, tentang disiksa bersama-sama rekan satu angkatan saat ospek, tentang senasib sepenanggungan dalam tugas kuliah di lapangan antah berantah yang dingin, ndeso, penuh terasering sawah, orang-orang yang sopan dan lugu, dan kami yang sibuk berberat-berat mengangkuti sampel-sampel batu di dalam tas carrier besar. Semuanya begitu membekas.

Dan ternyata setelah saya merenungkan ulang, banyak fragmen-fragmen persahabatan yang rupanya begitu membekas, bahkan sejak saya masih SD. Dan semuanya menorehkan pelajaran sendiri-sendiri yang seperti puzzle, acak, tetapi semakin dewasa semakin terbaca polanya.

Jika pengajaran, pembelajaran, hikmah-hikmah selalu diguyurkan pada kita semenjak kita kecil sampai kita besar tanpa pernah putus; tidakkah ada sesuatu yang menjadi jelas disana? Orang-orang boleh datang dan pergi. Suasana boleh berganti-ganti. Tempat boleh berbeda-beda. Tetapi satu itu yang selalu datang dan datang. Hikmah dan pelajaran. Siapa yang memberikan??

Barulah saya mengerti maksud dari orang-orang Arif, bahwa semuanya ini hanyalah tabir sifat-sifat. Yang mengajar adalah DIA sendiri, melalui ciptaan yang DIA zahirkan dan kemudian diberi selongsong sifat-sifat. Maka sepanjang hidup kita temukan pertemanan datang dan pergi, tetapi hikmahnya selalu datang lagi dan datang lagi meski orang yang kita temui berganti-ganti.

Jika dulu saya begitu tertambat kepada orang-orang, semakin kesini saya semakin mengerti bahwa sejatinya kita tak pernah terlepas dari asuhan-Nya. Selongsong bajunya saja yang diganti-ganti, tetapi yang “mengasuh” ya DIA juga.

Jika persahabatan, pertemanan, adalah mewakili sebuah keindahan. Maka tugas kita sebenarnya adalah memahami seni menyibak yang dibalik keindahan.

Kalau kita melihat keindahan di dunia ini, rasanya luar biasa banyak. Di sekeliling kita saja banyak sekali frame-frame keindahan sepanjang jalan, itu belum lagi dipadu padan dengan suasana yang beda-beda, ada keindahan pagi, ada keindahan senja, ada keindahan malam. Semua punya cita rasa sendiri.

Tetapi ternyata polanya adalah begini…biasanya kita tidak akan menyadari Yang Disebalik keindahan itu sebelum kita dibanting-banting oleh kehidupan.

Sebuah keindahan akan hanya nampak sebagai keindahan semata. Kita selalu tertambat pada apa yang nampak zahir, sampai Tuhan sendiri memaksa kita untuk melihat ke sebalik apa yang nampak. Jika tak bisa ditarik dengan keindahan, maka akan ditariklah kita lewat kepedihan.

Saya teringat dulu sewaktu kuliah, ada sebuah acara entah acara apa saya sudah lupa. Yang jelas ada sekelompok rekan senior saya yang menampilkan nyanyian senandung islami pada siang hari di panggung yang panas itu.

Hari panas…. Orang sudah tak karuan dan tak memerhatikan. Tetapi begitu beliau memegang microphone, maka suaranya yang jernih dan damai tanpa banyak akrobat olah vokal itu membius orang-orang untuk kembali berkumpul dan diam dalam kagum yang dalam dan haru. Betapa suaranya membuat saya membayangkan inilah suara Dawud a.s yang konon membuat alam ikut haru kalau mendengar suaranya.

Tapi ya itu dahulu. Dahulunya keindahan itu sebatas keindahan saja.

Suara seindah itu hanya membuat kagum berdecak saja. Pemandangan seindah sawah-sawah hijau di area kapling pemetaan geologi lapangan hanya membuat istirahat mata saja. Dan persahabatan-persahabat yang indah dan elok sepanjang pengalaman hidup hanya menggoreskan ingatan akan nama-nama yang bersahaja semata.

Barulah, setelah dibanting-banting oleh hidup, saya menyadari bahwa dibalik hidup yang terbanting-banting pun ada faedah. Ada hikmah-hikmah. Kemudian barulah mengerti bahwa dibalik sesuatu yang ternampak runyam pun ada DIA yang mengajari.

Dari sanalah baru mengerti, bahwa selama ini DIA sudah memanggil-manggil untuk kita lihat lewat pintu-pintu keindahan yang tersulam rapih dalam macam-macam cerita hidup kita.

Maka belajarlah seni untuk menyibak yang dibalik keindahan. Karena yang tak bisa melihat pada Yang Disebalik Keindahan, akan sangat mungkin untuk ditarik melihat dari balik kepedihan.[1]

Note:

[1] “Barangsiapa yang tidak suka menghadap kepada Allah dengan halusnya pemberian karunia Allah, maka akan diseret supaya ingat kepada Allah dengan rantai ujian” (Al-Hikam, Ibnu Athaillah As Sakandari)

SENI MEMAKNAI KETIDAKCUKUPAN

meminta-660x330Dalam banyak hal kita dianjurkan untuk selalu merasa cukup, atau Qanaah. Berpuas dengan apa yang ada. Tetapi ternyata belakangan saya baru mengerti bahwa ada seninya juga untuk “merasa tidak cukup”.

Salah satu hal yang kita harus memiliki mentalitas tidak cukup adalah mengenai ilmu. Satu-satunya yang Rasulullah disuruh meminta tambahan atasnya –alias merasa tidak cukup- adalah ilmu. :”Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. (QS Thâhâ: 114).

Kepada ilmu, harus memiliki mentalitas merasa tidak cukup. Mungkin makna ini sebangun dengan perintah pertama yaitu untuk IQRO BISMIRABBIKA.

Jika sepanjang kehidupan kita ini adalah menjalankan perintah IQRO BISMIRABBIKA, maka sepanjang hidup sebenarnya belajar.

Dan jika keseluruhan ciptaan yang tergelar di alam ini adalah cara Tuhan menceritakan diriNya, maka berarti juga bahwa proses belajar kita -belajar apa saja- di alam ini  tidak bisa dilepaskan dari makna yang spiritual itu.

Belajar apapun saja, berarti memahami bagaimana cara DIA menceritakan diriNya.

Karena DIA ingin dikenali, maka dia menciptakan alam. Berarti untuk “mengakrabi”Nya, kita harus belajar dan memahami alam dan segala isinya. Karena alam dan segala ilmu apapun yang menyingkap alam, tak lebih tak kurang adalah media DIA bercerita. Dan semakin-makin kita harus merasa tak cukup dan meminta tambahan ilmu yang bermanfaat.

Suatu kali saya bertemu dengan seorang rekan dari China, kami berbincang banyak hal. Sedikit saja kami berbincang tentang pekerjaan kantor, sisanya saya mendengarkan dia berbincang tentang sejarah.

Penguasaannya akan sejarah begitu memukau. Dan saya baru tersadar bahwa saya tak banyak tahu tentang itu. Bagaimana kaitannya antara history perang dunia-dunia, dan hubungannya dengan cara pandang masyarakat pada waktu itu. Tentang sistem pengaturan negara-negara.  Dan bagaimana orang-orang bijak sepanjang sejarah kerajaan-kerajaan telah menjadi juru tulis dan sekaligus guru bagi zamannya. Dan dari sana saya melihat plot besar bagaimana Tuhan memperjalankan manusia menjadi semakin tinggi pemahamannya dari waktu ke waktu sepanjang zaman. Dari ilmu sejarah yang dulu saya benci waktu SMA.

Ternyata, belajar apapun saja, jika diletakkan dalam konteks memahami dan menyaksikan pengaturanNya di alam semesta ini; menjadi menarik.

Dan ketertarikan yang besar itu menimbulkan sikap merasa tidak cukup. Karena yang di-tidakcukupi ini adalah info-info tentang bagaimana Tuhan mengatur alam semesta, maka rasa tidak cukup yang tepat ini pada ujungnya berubah menjadi adab.

Baru saya paham. Merasa tidak punya cukup ilmu, adalah adab kepada Tuhan.

Satu hal lainnya yang kita harus memiliki sikap merasa tak cukup adalah mengenai amal. Tetapi dalam hal ini ada satu pemaknaan baru yang menarik.

Dahulu, saya memaknai rasa tidak cukup terhadap amal ini dengan pemaknaan kuantitas. Amal saya tidak cukup banyak, maka marilah memperbanyak amal sebanyak-banyaknya.

Belakangan, setelah mencermati kajian para arifin, saya baru paham bahwa mereka memaknai rasa tidak cukup itu dengan pemaknaan kualitas. Bahwa amal mereka tidak pernah mencapai kualitas yang baik. Meski mereka lakukan sebanyak-banyaknya.

Semakin seseorang itu arif, semakin dia mencapai tingkat awareness yang tinggi terhadap gerak-gerik fikiran dan perasaannya sendiri, semakin dia menyadari bahwa amalnya tidak pernah cukup baik.

Puncak dari sikap menyadari bahwa amal yang diperbuat kita tidaklah pernah cukup baik, menimbulkan kesadaran bahwa selamanya dalam urusan amal ini manusia tidak akan mencapai kecukupan. Maka biarlah dicukupi oleh Tuhan.

Rupanya orang yang dicukupi oleh Tuhan inilah yang dimaksud dengan orang-orang yang Mukhlas. Diikhlaskan oleh Tuhan.

Pada tingkat pertama, kita akan berusaha belajar banyak dan beramal banyak. Tetapi dalam belajar dan beramal yang kita lakukan itu kita masih merasakan proses belajar dan beramal itu sebagai bentuk “mencukupi” Tuhan. Mengikhlaskan untuk Tuhan.

Pada tingkat berikutnya, seiring dengan pendewasaan kearifan seseorang dia akan menyadari seni “ketidakcukupan” itu. Bahwa ilmunya tak pernah cukup, dan amal yang diperbuatnya sebenarnya tak pernah mencukupi Tuhan. Penerimaan akan fakta ini, dan integrasi kesadaran akan fakta ketidakcukupan itu akan membentuk adab. Memang tak akan pernah cukup, maka marilah belajar dan beramal dalam mentalitas meminta agar dicukupi oleh Tuhan.

image sources taken from this link.

TUJUAN BESAR KEHIDUPAN

earthSuatu hari, anak saya main di rumah dengan teman-temannya satu komplek, dan membawa aneka macam dedaunan, tanah, dan batu-batu. Rumah jadi kotor sekali tak karuan. Dan tentunya seperti khas-nya anak-anak, selesai main pastilah tidak dibereskan.

Setelah berapa kali kejadian begitu, akhirnya saya dan istri katakan pada anak saya kalau mau main dengan teman-temannya di luar saja, supaya yang berantakan di teras depan saja tidak sampai ke dalam rumah. Tetapi namanya anak-anak, pastilah tetap dilanggar, hahaha….

Tetapi intinya bukan itu, intinya saya ingin cerita mengenai “motif”. Mengenai alasan dari sebuah pelarangan. Dan apa bedanya dengan “hikmah”. Ada motif, ada hikmah, dan dua hal itu berbeda.

Alasan saya menyuruh anak-anak main di luar adalah agar tidak memberantaki rumah saat mereka main masak-masakan.

Tetapi dari sisi sang anak, dia bisa membaca faedah-faedah dari pelarangan itu. Nah…faedah-faedah yang dibaca sang anak, setelah pelarangan itu terjadi disebut sebagai hikmah.  Misalnya….kebetulan saat main di luar, anak saya menjadi kenal dengan teman-teman yang lain lagi, eh….temannya malah tambah banyak. Itu hikmah.

Tapi adakah hikmah yang dibaca anak saya itu adalah sejatinya motif saya dalam melarangnya? bukan, alasan saya sebenarnya bukan untuk itu. Alasan saya adalah agar rumah tidak diberantaki.

Jadi ada motif sebenarnya dari sebuah perintah atau larangan, ada hikmah yang dibaca atas penerapan perintah atau larangan itu. Alasan atau motif sebenarnya, bisa jadi diketahui, bisa jadi juga tidak diketahui.

Saya teringat kembali dengan hal ini, karena akhir-akhir ini saya terfikirkan bahwa logika “mengenali motif / alasan sebenarnya” dalam ilustrasi tentang motif pelarangan agar anak saya tak main masak-masakan di dalam rumah tadi, sebenarnya mirip dengan logika mengenali “alasan” penerapan suatu hukum dalam dunia premis-premis fikih islam (‘illat), dan bedanya dengan “hikmah”. Dan disinilah saya baru sadar bahwa hal ini ternyata sangat spiritual.

Kembali ke contoh sederhana tadi. Alasan sebenarnya saya melarang anak main di dalam rumah adalah agar rumah tidak diberantaki dengan masak-masakan anak saya. Tetapi anak saya bisa melihatnya dari sisi lain, dari sisi faedah-faedah pelarangan itu. Atau disebut “hikmah”. Yang menarik adalah, baik hikmah itu “kelihatan” ataupun tidak kelihatan, hal itu tidak mengugurkan pelarangan. Karena pelarangan itu bukan disebabkan oleh hikmah, tetapi disebabkan oleh alasan yang mendasari pertama kali.

Hehe…mudah-mudahan tidak pusing. Kalau pusing silakan bertanya pada ahli fikih.

Inilah hal yang  ternyata menurut orang-orang alim, lumayan pelik. Karena tidak selalunya “motif” atau alasan sebenarnya dari perintah dan larangan Allah SWT itu diketahui. Kadang-kadang motifnya tidak diketahui, tetapi hikmahnya bisa kita ketahui.

Contoh….Contohnya adalah hal yang sangat familiar yaitu orang muslim tidak boleh memakan babi. Motifnya, alasan sebenarnya tidak diketahui. Karena tidak dijelaskan di dalam nash. Tetapi, kata orang-orang alim, hikmahnya bisa dibaca. Salah satu hikmahnya menurut penelitian sains modern adalah ternyata banyak cacing pita di tubuh babi. Nah…dengan tidak makan babi, maka kita terhindar dari penyakit. Itu disebut hikmah.

Tapi apakah itu sejatinya motif Tuhan memberlakukan larangan? Wah…kita ndak tahu. Jadi, alasan yang mengatakan bahwa misalnya kita sudah menemukan cara menghilangkan cacing pita dari tubuh babi, tidak lantas babi menjadi halal buat muslim. Karena masalah cacing pita itu adalah perkara faedah, perkara hikmah, bukan “the real concerns” mengenai kenapa Tuhan memberikan larangan itu.

Sekali lagi, kalau bingung silakan baca buku-buku fikih, saya tak punya otoritas menjelaskan lebih jauh.

Saya hanya hendak mengaitkan hal ini dari sisi spiritual, bahwa kekeliruan saya pribadi selama ini adalah menebak-nebak “tujuan” Allah memberlakukan suatu takdir.

Dan saya baru tahu hal yang saya lakukan itu keliru, setelah seorang arif dalam sebuah wejangannya memberi tahu bahwa seringkali motif sebenarnya dari takdir itu Tuhan sendiri yang tahu.

Misalnya, seseorang diberhentikan dari pekerjaannya. Saya mengira bahwa hal itu adalah karena Tuhan ingin memberikan orang itu pekerjaan yang lebih ringan tetapi lebih menghasilkan. Tetapi saya tak sadar, ternyata orang tersebut diberhentikan dari pekerjaannya itu rupanya imbas keterpurukan ekonomi skala global. Dan keterpurukan ekonomi skala global itu barangkali juga cara Tuhan untuk menggeser hegemoni salah satu negara dengan negara lain. Dan riuh rendah dalam level dunia kita (bumi) itu barangkali juga Cuma setitik saja dari pergerakan galaksi, dan begitu seterusnya.

Jadi apa sebenarnya tujuan Tuhan memberlakukan sesuatu? Kita tidak pernah tahu. Kecuali Tuhan memberitahukan sendiri lewat nash-nash-nya. Akan tetapi, polanya ternyata begini. Sebuah takdir akan tetap bergulir tak perduli tujuan sebenarnya dari takdir itu diketahui atau tidak oleh hambaNya. Tetapi dari kacamata hamba, sebenarnya hikmah bisa terpandang.

Barulah saya mengerti bahwa yang manusia bisa lakukan dari sudut pandang manusia hanyalah membaca hikmah. Terus-terusan membaca hikmah. Dan berbaik sangka kepada Tuhan, dalam baik sangka itulah hikmah terbaca.

Dan untuk membantu bisa membaca hikmah ini, yang perlu kita lakukan adalah menyadari bahwa kesemua takdir ini rupanya bukanlah untuk hal-hal remeh temeh sempit kita sendiri, tapi merupakan sebuah gerak yang besar dan massive, untuk DIA menceritakan diriNYA.

Barangkali itulah bingkai tujuan skala besar yang Tuhan bocorkan pada kita seperti dalam hadits qudsiNya.

“Aku adalah perbendaharaan tersembunyi, Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan makhluk supaya mereka mengenal Aku”.

KACAMATA UNTUK DUNIA

glassSaya kenal dengan beberapa orang yang sangat sering membuat saya tertawa karena menyadari bahwa cara mereka memandang hidup asyik juga rupanya. Mengingati mereka, saya jadi teringat seorang tokoh di film 3 idiots. Cara pandangnya selalu tidak mainstream. Saat orang harusnya kesal karena antrian toilet untuk mandi, sang tokoh malah asyik menikmati mandi dari keran air di taman. Pokoknya asyik saja cara pandangnya.

Mengenai cara pandang ini memang krusial sekali. Sebuah kejadian hidup yang serupa, bisa dimaknai berbeda oleh dua orang tergantung cara pandangnya.

Contoh sederhana saja, misalnya anak saya mengacak-acak rumah. Pada persepsi saya, anak saya mengacak-acak rumah dengan sapu ijuk itu diterjemahkan sebagai bandel. Tetapi, bagi seseorang dengan cara pandang yang lebih “tinggi” dia tahu bahwa anak yang mengacak-acak rumah dengan sapu itu sebenarnya memiliki itikad untuk membantu membereskan rumah, tetapi karena sang anak masih kecil dia tidak tahu caranya, maka dia main sapu malah membuat berantakan. Orang yang tak tahu; maka marah kepada anak. Orang yang tahu; maka memuji anaknya.

Atau juga misalnya kalau anak saya lagi nangis-nangis ga karuan, saya akan begitu kesal. Tetapi, pada pandangan yang lebih “tinggi” ada orang tua yang tahu bahwa anak balita memang biasa suka tiba-tiba menangis dan marah-marah, secara psikologi itu disebut “tantrum”, maka orang tua yang mengetahui fakta itu akan tidak marah. Minimal marahnya tidak selevel orang yang tidak paham.

Dalam skala yang lebih umum lagi, akhirnya tahulah kita bahwa perasaan kita, respon kita terhadap hidup sangat ditentukan oleh cara pandang. Dan cara pandang kita terhadap hidup ini adalah ditentukan oleh kumpulan pengalaman hidup kita, ditentukan oleh ilmu dan nilai-nilai yang kita mengerti. Pantaslah belajar itu wajib bagi kita, karena “belajar” itu menentukan cara pandang, dan cara pandang menentukan perasaan kita, dan respon kita terhadap hidup.

Diri kita beserta sepaket pengalaman hidup dan nilai-nilai yang kita gunakan untuk memandang dunia ini; dalam literatur kebijaksanaan jawa dikenal dengan istilah Kramadangsa. Dalam literatur dunia psikologi disebut dengan EGO. Sederhananya ya itu tadi, kumpulan pengalaman hidup dan nilai-nilai yang kita jadikan kacamata memaknai apapun dalam kehidupan kita.

Celakanya, ternyata seringkali hal-hal dalam hidup ini sebenarnya baik, tetapi kacamata kita sendirilah yang membuat sesuatu itu menjadi tereduksi dalam makna yang negatif dan sempit.

Dalam urutan logika seperti itu, saya rasa kita akan sepakat bahwa hal yang paling penting untuk kita perbaiki pertama kali adalah cara pandang kita. Sebelum kita berbicara bagaimana cara kita merespon hidup dan sebelum bicara bagaimana cara mengelola perasaan, tentu lebih utama kita membenarkan cara pandang dulu. Karena muasal segalanya dari sana.

Tetapi, cara pandang yang bagaimana yang harus kita miliki? Ilmu yang seperti apa yang harus kita miliki?

Jika untuk benar memaknai hidup kita harus menguasai semua ilmu, maka alangkah banyaknya yang harus kita kuasai?

Coba kita hitung…untuk tidak marah-marah kepada anak; kita harus menguasai cara pandang psikologi anak-anak.

Untuk tak marah-marah kepada hujan, kita harus mengerti tentang pengetahuan alam.

Untuk tak marah-marah kepada situasi pekerjaan kita harus tahu ilmu mengendalikan bawahan dan ilmu menghadapi atasan.

Untuk tak menyalah pahami orang lain dalam interaksi sosial, kita harus memahami budaya.

Dan seterusnya….dan seterusnya…..Maka alangkah banyaknya yang harus kita mengerti dalam hidup ini? Kalau begitu kapan bahagianya? Keburu salah paham terus.

Tetapi, pada akhirnya saya tersadarkan, bahwa awal dari kesemua itu adalah pengertian tentang Tuhan. Karena, sebutlah segala ilmu apapun saja, pasti akan bermuara pada kesimpulan itu; disusunkan semuanya itu oleh Tuhan. Entah itu fenomena alam semesta yang dibaca lewat sains, ataupun juga fenomena perhubungan antar manusia dalam ilmu sosial. Jika kita memiliki kepahaman dalam hal yang paling fundamen ini, tentang Tuhan dan kaitannya dengan alam, ini sudah cukup menjadi kacamata kita untuk membaca hikmah dalam kehidupan.

Setidaknya ada beberapa approach dalam kaitannya memandang hubungan antara Tuhan dan alam semesta ini. Salah satu hubungan itu adalah Dzat dan sifat, tetapi saya tak memiliki cukup otoritas untuk membahas yang satu itu. Saya akan membahas kaitan antara af’al, sifat, dan asma’ saja.

Karena Tuhan ingin dikenali, maka DIA menjadikan makhluq dan menggoreskan takdirNya. Setiap potongan takdir pasti ada maknanya. Dan makna-makna itu dirangkum dalam sifat-sifatNya. Setiap sifat dirangkum dalam identifikasi sebuah nama yang kita kenal dengan asmaul Husna.

Jadi setiap kejadian hidup (yang digoreskan oleh Tuhan (af’al)), sebenarnya tidak pernah random. Setiap kejadian hidup mestilah ejawantah dari makna-makna itu. Hidup-Mati, Baik-buruk, lapang-sempit, miskin-kaya, semua cerita tentang DIA. Maka siapa saja yang memandang hidup dalam kaitannya dengan ejawantah cerita tentang DIA akan merespon hidup dengan cara yang berbeda.

Disinilah ternyata saya baru mengerti kekeliruan kita. Karena kebanyakan kita, terutama saya sendiri, tidak –atau telat- memahami cara pandang yang paling fundamental ini. Akibatnya, kita bertindak dan merespon hidup dalam sikap yang banyak kelirunya.

Kita mempelajari banyak hal, semisal apakah sebaiknya pendekatan keislaman itu secara kultural atau lewat jalur akademik? Apakah sebaiknya demokrasi atau di luar sistem demokrasi? Apakah sebaiknya memperjuangkan negara-bangsa atau imperium besar raksasa? Dan segala macam hal-hal lainnya, tetapi kita lupa mengerti sebuah nilai fundamental itu tadi. Bahwa segala hal dalam hidup ini sebenarnya cara Tuhan mengejawantahkan cerita tentang DIA. Awalauddin makrifatullah.

Kalau kita sudah mengerti tentang hal itu, maka kita akan terhindar dari perdebatan-perdebatan kecil yang tak perlu.

Karena, akhirnya kita sadar. Sedemikian banyak ilmu-ilmu cabang dan dialektika kita selama ini, adalah ternyata dalam ranah “cara” untuk “praktek berlomba-lomba dalam kebaikan”. Dan berlomba-lomba dalam kebaikan itu, boleh berbagai-bagai teknik dan dialektika. Silakan berdebat larat. Tapi kacamata yang kita pakai untuk membaca hikmah, mestilah satu itu saja. Bahwa keramaian yang berbagai-bagai ini adalah cara DIA bercerita tentang DIA.

KAITAN MENDENGAR DAN SPIRITUALITAS

listenBanyak orang yang diberi talenta berbicara. Pembicara hebat, orator ulung, guru-guru yang menggugah dan menyejarah, kita hapal nama-nama mereka. Sampai kita kadang-kadang lupa bahwa ada juga orang yang diberi talenta “mendengar”.

Sebuah quote yang sangat terkenal dari Stephen Covey, “Most people do not listen with the intent to understand; they listen with the intent to reply.” Kebanyakan orang tidak mendengar dengan niatan untuk memahami apa yang disampaikan lawan bicara; melainkan mereka mendengar dengan niatan untuk balik berbicara.

Mendengar potongan kutipan Stephen Covey ini saya kemudian teringat bahwa kemampuan “mendengar” ini adalah salah satu PR besar saya.

Saya teringat, sebuah hadits dimana setiap orang yang berbicara pada Rasulullah SAW akan merasa bahwa mereka adalah orang yang paling diperhatikan oleh Rasulullah SAW, tersebab talenta “mendengar” yang ada pada beliau. Beliau benar-benar mendengar.

Saya teringat dengan seorang rekan SMA saya yang menjadi magnet dimana-mana. Setiap yang bersama dia akan kesulitan mengalahkan karismanya. Dulu saya mengira karena dia seorang pembicara nan ulung. Belakangan saya baru sadar bahwa dia adalah seorang “pendengar” nan ulung.

Masih dari Stephen Covey, sebuah penelitian mengatakan bahwa hanya 18% saja dari responden yang ingin bercerita pada seorang pembicara yang ulung, 82% sisanya memilih untuk berbicara pada seseorang yang memiliki talenta mendengar.

Betapa kemampuan mendengar ini salah satu seni yang harus dikuasai juga. Bukan untuk menjadi magnet bagi khalayak, tetapi bagi tujuan yang ternyata bisa lebih “spiritual”.

Tetapi sekali lagi saya hendak mengutip cerita, kali ini sewaktu saya masih kuliah dan bersama rombongan rekan-rekan saya yang lain kami pergi ke hulu Sungai Mahakam di Kalimantan mengikuti sebuah proyek kecil-kecilan eksplorasi batubara.

Dan objek “penelitian” saya dan seorang rekan waktu itu, selain dari batubara, adalah seorang rekan lainnya yang kami candai sebagai seorang dengan “pelet” kharisma….hahaha… apa pasal? Pasalnya rekan saya ini memiliki begitu banyak teman dari berbagai kalangan. Dan bahkan hanya dalam hitungan hari dia menjadi dekat dengan orang-orang lokal dari dayak dan kutai, dan menjadi dekat pula dengan orang-orang pemboran dari Sulawesi.

Setiap hari, saya dan rekan saya yang lain mengamati sang kharismatik ini, dan tak kami temukan hal-hal aneh semisal keramahan yang artifisial. Semisal kesupelan bergaul yang begini-begitu. Dan kami menghitung sapaan yang diberikannya pada orang-orang, dan segala tindak-tanduk sosialnya, tak kami temukan jawabannya kenapa dia menjadi magnet bagi orang-orang.

Jawabannya baru saya temukan sekarang. Bahwa rekan saya ini memiliki talenta “mendengar”.

Nah…tak ingin membahas mengenai teori mendengar atau teori bicara, saya ingin menceritakan bahwa sekarang saya mengerti kaitan antara “mendengar” dan spiritualitas.

Hikmah jarang kita dapatkan dalam keseharian kita, karena kita tidak mengasah talenta mendengar.

Dalam keseharian dan dalam ibadah kita, saya perhatikan diri saya sendiri, ternyata acap kali dipenuhi dengan keinginan bicara, tanpa ada proporsi mendengar. Padahal, untuk mendapatkan petunjuk dan hikmah haruslah “mendengar”.

Pada “mendengar” ada porsi adab.

Jika “berbicara” memenuhi hak-hak-nya ilmu untuk tidak disembunyikan dan disampaikan pada orang lain agar penuh kemanfaatan. Maka pada “mendengar” kita memenuhi adabnya dalam konteks pergaulan sesama makhluq, dan pada gilirannya merendah kepada Tuhan. Karena “mendengar” berarti mengakui bahwa hikmah dari luar diri memiliki kesempatan yang sangat banyak untuk mengalir kepada kita.

Ambillah beberapa contoh sikap “mendengar” dalam peribadatan. Di dalam sholat ada tuma’ninah. Diam sejenak pada setiap gerakan sholat. Sebuah fase kontemplatif.

Selama ini saya memenuhi fase kontemplatif itu dengan sibuk pada bacaannya, tanpa menyadari bahwa fase kontemplatif itu bisa pula diisi dengan “sibuk” pada sikapnya. Misalnya sujud, maka fase tuma’ninah yang kontemplatif itu bisa dipenuhi dengan sikap merendah. Dalam merendah memang kita bisa berdo’a, tetapi di ujung do’a kita akan “mendengar”.  Disitu kita tidak sibuk pada diri sendiri, melainkan menjadi receiver, menjadi cangkir yang kosong.

Pada Ramadhan ada I’tikaf….berdiam…. pada haji ada wukuf….berdiam. semuanya fase kontemplatif.

Kita sudah pandai mengisi fase kontemplatif dengan “bicara”, tetapi kita seringkali gagal mengisi fase kontemplatif itu dengan adab “mendengar”. Bagaimana mungkin meminta petunjuk tetapi tidak ada adab “mendengar”?

Dan masih berkaitan dengan adab mendengar inilah, saya baru mengetahui sebuah kebijakan klasik yang rada lucu tetapi meaningfull.

Kenapa kita tidak selalu berdo’a pada Tuhan untuk semua lini kehidupan kita? Kenapa kita tidak berdo’a pada Tuhan meminta pilihan apakah berbuka pakai pisang goreng atau bakwan? Kenapa kita tidak berdo’a pada Tuhan meminta pilihan apakah pakai baju koko hijau atau krem untuk sholat tarawih? Kenapa tidak berdo’a untuk semua detail hidup?

Jawaban pertama barangkali memang karena tidak praktis. Hal semacam itu, dalam tanda kutip, masa tak bisa difikirkan sendiri? Masa “ngerepoti” Tuhan untuk urusan menu berbuka?

Tetapi petuah seorang guru barulah membuat saya paham. Bahwa defaultnya seorang muslim itu adalah memenuhi hatinya dengan ingatan pada Allah. Sebisa-bisanya hatinya penuh dengan ingatan pada Allah.

Jika dalam kehidupannya, kemudian ada hal-hal berat yang mengganggu ingatannya pada Allah. Semisal guncangan hidup, ujian dan sebagainya, maka salah satu cara agar hatinya tidak dipenuhi oleh hal-hal itu; adalah dengan berdo’a. Maka untuk hal-hal yang semacam itulah dia berdo’a. Pada berdo’a itu, dia menunaikan sesi “bicara”.

Selepas sesi “bicara” itu, masalah sudah tidak lagi memenuhi hatinya karena dipasrahkan kepada Tuhan, kini hatinya kembali dipenuhi pada ingatan kepada Allah. Dalam situasi seperti itulah dia melanjutkan hidup. Dalam hati yang penuh dengan ingatan kepada Allah. Dalam adab diri yang siap “mendengar” pelajaran dari keseluruhan hidup.

Dengan adab mendengar itulah maka hikmah akan terdengar (atau terbaca).

Baru saya mengerti, selama ini do’a saya hanya penuh dengan bicara, tetapi tidak ada adab “mendengar” di dalamnya.

Maka “mendengar” perlu dipelajari. Agar hikmah sampai pada kita. “mendengar” yang tanpa suara.

HIDUP DI DALAM ASUHANNYA

Baby-Birds-Dinner-Time-3Suatu hari, ki Ageng Suryo Mentaram, putra kelima dari Sri Sultan Hamengkubuwono VII yang dikenal karena meninggalkan kedudukan Kraton untuk memilih hidup menjadi petani itu; pendopo rumahnya roboh.

Sebelumnya, pendopo itu memang sudah miring dan doyong ke arah timur. Untuk mencegah pendopo itu doyong maka pendopo itupun ditopang dengan bambu dari arah timur. Tak urung pendopo itu kemudian doyong ke barat, maka ditopang pula dari arah barat. Begitu seterusnya dari arah utara dan selatan ditopang juga. Hingga kemudian tak lama pendopo itu roboh.

Anehnya setelah pendopo itu roboh, beliau malah merasakan kebahagiaan. Karena akhirnya menyadari bahwa pendopo itu hanyalah barang yang kelebihan. Dan sekarang malah beliau merasa nyaman untuk tinggal di rumah belakang, tanpa perlu pusing memikirkan menopang pendopo. Dan satu lagi…. Beliau malah merasa kaya, karena memiliki banyak stock kayu bakar untuk beberapa bulan kedepan, dari pendopo yang roboh itu.

Mendulang kebahagiaan, dari situasi yang lumrahnya orang merasakan kesedihan, adalah sebuah seni. Dalam hal ini, ternyata seni ini dimulai dari paradigma. Cara memandang.

Salah satu cara memandang, adalah cara memandang seperti yang diajukan Suryo Mentaram. Melihat sesuatu secara objektif, dan melepaskan diri dari kemelekatan terhadap benda. Dari sana, semuanya akan kelak terlihat netral saja.

Memandang segala sesuatu dengan objektif, serta belajar melepaskan diri dari kemelekatan terhadap benda-benda, itu salah satu cara pandang. Dengan hilangnya kemelekatan, dan kemampuan diri untuk selalu objektif, maka diri akan terbebas dari rasa sakit yang tak perlu.

Ada cara pandang lainnya, yaitu menyadari keterkaitan bahwa segala sesuatu yang tergulir, adalah digoreskan oleh Tuhan untuk sebuah hikmah di masa depan. Dan Tuhan tidak bermain dadu, kata einstein. Berarti segala sesuatu terjadi dan pasti sepaket dengan hikmahnya.

Yusuf a.s mengalami kedengkian saudara-saudaranya dan dicemplungkan ke dalam sumur tua. Dipungut menjadi budak. Kemudian difitnah dan masuk penjara. Dari penjara kemudian berujung pada diangkatnya beliau menjadi menteri keuangan. sengsara membawa nikmat.

Sebuah peribahasa yang sangat masyhur, bahwa untuk menjadi emas murni harus dibakar, dilebur, ditempa.

Intan tak menyeruak tanpa tekanan tinggi dan panas menyengat.

Dan yang semisalnya….itu juga cara pandang. Pada sesuatu yang terlihat buruk, boleh jadi ada kebaikan yang kita tak tahu.

Di kemudiannya lagi, ada juga cara pandang lainnya. Yaitu menyadari bahwa semua yang terjadi, selain telah tertulis dan berhikmah, adalah sebenarnya caraNya untuk menceritakan diriNya sendiri.

Sebuah kisah yang tak pernah lepas dari ingatan saya adalah fragmen dimana Rasulullah baru ditinggal wafat Khadijah dan juga pamannya, lalu beliau terasing di kampungnya sendiri dan mencari peruntungan untuk mengajarkan islam di kota sebrang di Thaif. Dalam kesendirian dan harapan menemukan sahabat dan orang-orang yang akan menerima itu, malah beliau dilempari batu sampai berdarah-darah dan beliau berlari-lari sambil diteriaki sebagai orang gila.

Yang membuat saya sangat teringat fragmen itu adalah doa beliau[1] yang secara bebas intinya adalah beliau menerima  dengan apa saja yang hendak diperbuat Tuhan, asalkan Tuhan tidak marah padanya. Asalkan Tuhan ridho.

Bukan tentang penduduk Thaif, bukan tentang kejahatan orang-orang, tetapi tentang beliau ridho diperjalankan seperti apapun saja, asalkan bertemu dengan keridhoan Tuhan.

Saya kembali teringat pada hal ini, dan mengingat ulang wejangan salah seorang guru, bahwa cara untuk terhindar dari segala “sakit” adalah dengan menjadi “tiada”. “Mensirnakan” diri sendiri, dan memandang hidup dalam konteks Tuhan bercerita tentang diriNya sendiri, lewat segala drama dalam hidup ini. Bukan tentang kita.

Orang-orang yang memandang dengan cara seperti ini, menjadi paham benar bahwa kita semua sejatinya hidup dalam asuhan-Nya.

Sebagaimana DIA mengurus memberi makan anak-anak burung yang sayapnya masih memerah jarum, sebegitu pula DIA mengurus hidup kita semuanya.

Akan tetapi, tanpa membenarkan paradigma, kita akan keliru memprasangkai Tuhan.

Untuk itu kita perlu belajar kembali menyadari bahwa kita hidup didalam penjagaan-Nya.

Macam-macam cara orang untuk mempertahankan kesadaran bahwa mereka hidup dalam naungan rahmatNya. Ada yang melalui pendekatan ilmu jiwa seperti pertama tadi, ada yang memandang pada kebaikan-kebaikan yang mungkin terjadi pada sesuatu yang terzahir buruk, dan ada juga pada akhirnya menghilangkan konteks diri mereka sendiri dari pagelaran, dan menonton dramaNya Tuhan.

Tetapi ternyata ada satu cara simple yang baru sekarang saya sadar padahal sejak kecil sudah kita terapkan. Yaitu dengan “memasuki” basmalah.

Bismillahirrahmanirrahiim. Awali hari, mulailah hari dengan menyadari bahwa kita masuk ke dalam jaminan asuhanNya. Dalam jaminan Rahmaan dan Rahiim-Nya.

Dengan menyadari betul hal ini, maka kita akan mengerti bahwa Tuhan yang menjamin kita itu adalah Tuhan yang juga mengajari para kafir Quraisy untuk mengucap basmalah, karena mereka keliru memaknai sifat welas-asih Tuhan, dan memandang Tuhan melulu perkara siksa dan siksa.

Yang menjamin hidup kita itu, adalah juga Tuhan yang sama yang menyelamatkan yusuf dari sumur dan dari penjara.

Adalah juga Tuhan yang sama yang menyelamatkan Musa dan Yunus

Juga Tuhan yang sama yang menceritakan diriNya lewat drama pedih dan pilu, atau lewat drama suka dan gempita orang-orang sepanjang sejarah manusia.

Kepada DIA-lah kita pasrahkan hidup, dan memasuki cerita-Nya dalam balutan Rahmaan dan Rahiim-Nya.

Memasuki hidup dengan cara seperti ini, membuat kita “memandangNya” pada cerita kehidupan kita. Masalah hidup boleh jadi belum terurai, tetapi hikmah dan kebijakan akan menggelontor dan gampang untuk terbaca.

Orang arif mengatakan, itulah sirr-nya basmalah. Rahasianya basmalah.

note:

[1] Saya baca, do’a beliau ini sebenarnya tak tertulis dalam kitab hadits, menurut para alim. Tetapi tercatat masyhur dalam kitab-kitab shiroh. Wallahu’alam.

Image source

MENYERAP KESEDERHANAAN

Saya betul-betul harus belajar menyerap kesederhanaan. Belakangan saya baru menyadari bahwa kesederhanaan itu sebenarnya seni. Tetapi seni yang dibiasakan dan menjadi bagian dari karakter.

Dulu, awal-awal suka menulis, saya teringat bahwa terlalu banyak akrobat kata-kata dalam tulisan saya. Lambat laun saya menyadari, bahwa yang penting bukanlah manuver kata-kata, tetapi kesederhanaan yang jujur. Sebuah tulisan yang lahir dari rahim kesederhanaan dan kejujuran akan bisa menyentuh, dan yang lebih penting adalah kejujuran yang tidak menggurui akan bisa membagikan nilai-nilai dan hikmah, tanpa perlu bertinggi-tinggi istilah.

Dalam hal kesederhanaan ini, saya teringat rumah seorang teman tempat saya numpang menginap waktu mengerjakan skripsi pada sebuah perusahaan MiGas di Jakarta sekitar delapan tahun lalu. Kepala rumah tangga yang sederhana.

Pergi bekerja pagi menjelang siang, dan pulang setelah malam larut. Tetapi selalu berwajah ceria. Saya sering sekali mendengarkan dia bersenandung lagu-lagu lama dengan gitar di rumah itu. Setiap kali menyapa dan iseng menanyakan skripsi saya, dia selalu berpesan “tenang aje, ntar juga waktunya kelar; kelar tu skripsi”. Hehehe….sebuah kalimat penyemangat yang sederhana. Meski pulang saat malam telah larut, tetapi dia selalu bangun pagi-pagi sekali sekedar untuk melihat anaknya berangkat sekolah.

Berada di sana membuat saya tahu bahwa mereka adalah keluarga yang lumayan berada, tetapi bagaimanapun juga akhirnya saya mengerti bahwa kesederhanaan itu rupanya tidak berkait dengan jumlah harta. Kesederhanaan itu inner beauty, yang akan memancar dan bisa dibaca dari keseluruhan gerak tubuh, sikap hidup, dan kata-kata yang mengggugah dan mengubah, meski biasa.

Oleh itu sebab, kita sering melihat seseorang meskipun sedikit hartanya, tetapi tidak memancar sikap sederhana dari dirinya. Ada saja yang kurang pas rasanya. Barangkali, itu karena tidak ada nilai-nilai kesederhanaan itu di dalam dirinya, sehingga meski sedikit hartanya; tetapi citra yang keluar dan tertampil adalah sifat arogan yang rumit.

Kebalikannya betapa sering kita melihat orang yang berpunya, tetapi karena ada nilai-nilai kesederhanaan itu, kita tetap akan menangkap gesture yang enak dan biasa dari gerak-geriknya, meskipun dia naik BMW.

Mungkin itu juga yang menjadi jawaban akan polemik apakah Rasulullah itu kaya? Sebagian berdebat dengan mengatakan bahwa Rasulullah itu kaya lho…. Kita harus menjadi kaya!!

Sebagian lain mengatakan bahwa Rasulullah itu miskin, dan mengajukan hitungan kalkulasi yang membantah konversi nilai mas kawin Rasulullah kedalam nilai mata uang sekarang.

Ternyata saya baru paham. Yang benar adalah bahwa Rasulullah itu sederhana.

Kesederhanaan itu adalah inner beauty. Pada luarannya, mungkin saja Rasulullah SAW kaya, dalam artian bahwa segala tata kelola keuangan itu mestilah ada persinggungan dengan kekuasaan kepala negara. Maka dalam konteks kekuasaannya akan pengelolaan uang; Rasulullah kaya sekali akan kemampuan itu.

Tetapi dalam konteks harta sebagai kepemilikan pribadi, barangkali tak banyak. Karena pernah kita dengar bahwa Rasulullah selalu memberi kepada orang miskin. Dalam suatu hadits, Rasulullah pernah ditarik selendangnya oleh seorang badui yang meminta-minta, dan selendang itu langsung diberikan begitu saja.[1]

Saya rasa itu karena kesederhaan beliau.

Dalam kesederhanaan, segala sesuatu menjadi simple, harta menjadi sekedar tools untuk berbuat dan berbagi. Masalah-masalah hidup menjadi sekedar wahana pembelajaran dan pengenalan akan takdir Tuhan.

Pada kesederhanaan orang-orang seperti itu; apakah kemudian dia berharta banyak atau tidak, berkedudukan tinggi atau tidak, sudah tidak relevan.

Kesederhanaan seperti itulah yang saya harus belajar banyak menyerapnya. Dan belajar banyak memraktekkannya.

note:

[1] Anas bin Malik berkata, “Saya pernah berjalan bersama Nabi. Ketika itu beliau memakai sebuah selendang Najran yang sisinya kasar. Tiba-tiba beliau berpapasan dengan seorang badui dan menarik selendang itu dengan keras. Sampai aku melihat ada bekas di leher Nabi saw karena kerasnya tarikan itu. Badui itu berkata, “Berikanlah kepadaku harta Allah yang ada padamu.” Rasulullah memandang kepadanya. Beliau tertawa dan memerintahkan untuk memberinya.” HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Hakim, dan Baihaqi.

MEMBUANG SEMBILU

bleeding palmPagi tadi, saat saya hendak memutari jalan di dekat perempatan fatmawati, laju mobil saya tertahan oleh sebuah grand livina yang berbelok tajam ke kanan. Antrian mobil pada jalan memutar itu memang luar biasa padat seperti lumrahnya pagi-pagi jakarta yang biasa. Tetapi, hal yang tak biasa pagi itu adalah sinyal tangan dari penumpang livina itu.

Sudah menjadi semacam kesepakatan umum, jika seseorang ingin berbelok secara drastis ke kanan atau ke kiri, maka biasanya tangan digunakan sebagai kode tambahan. Umpama sebuah motor ingin berbelok tajam ke kiri, maka selain dari sen kiri dinyalakan, kita sering melihat sang pengendara motor merentangkan tangannya ke kiri dan memberikan gerakan  pelan mengibas. Tanpa perlu kamus, terjemahnya saya rasa jelas, “permisi pak….saya mau belok ke kiri segera”.

Dan isyarat itu yang dilakukan penumpang mobil livina itu. Tangannya keluar dari jendela kanan, tetapi alih-alih memberi isyarat mengibas pelan dengan terjemah tunggal “Permisi pak, saya mau lewat”, dia malah menggerakkan tangannya dengan gesture yang susah untuk saya tidak tafsirkan sebagai “MINGGIR….MINGGIR!!!” itu bukan isyarat permisi, melainkan saya baca sebagai isyarat mengusir.

Saya memelankan kendaraan. Dan mengamati mobil itu memotong lajur semakin ke kanan dan melintasi mobil-mobil lainnya dengan isyarat yang sama. Isyarat mengusir.

Tetapi sepanjang perjalanan, saya mengamati mobil itu dari kejauhan dan tidak menangkap adanya pergerakan yang terburu-buru. Artinya, barangkali mobil itu memang hendak memutar, tetapi tidak dalam situasi emergency, melainkan sang penumpang di dalam mobil itulah yang secara keliru telah memberikan sinyal yang tak tepat.

Boleh jadi dia tidak memahami itu, sehingga saya merasakan sinyal itu sebagai offensive, dan mungkin beberapa pengendara mobil di sebrang saya merasakan hal yang sama. Tetapi apakah benar-benar pengendara itu offensive? Barangkali tidak…. Dan barangkali mungkin dia tak pernah benar-benar tahu bahwa dia sudah mengirim sinyal yang bisa ditafsirkan secara keliru.

Berkaitan dengan hal ini. Saya jadi teringat dulu saya pernah mendengar penjelasan mengenai surat An-Nasr.

Rasulullah menaklukkan Makkah dengan sedikit sekali darah tertumpah (pada Fathu Makkah). Kontras sekali dengan saya bayangkan moment dimana Jepang takluk pada sekutu harus dengan hancurnya Hiroshima dan Nagasaki oleh bom atom, tetapi potret penaklukkan Makkah sepanjang yang saya baca di Shiroh berjalan dengan begitu halus. Dan Rasulullah, sang pemimpin besar itu menaiki untanya seraya memasuki Makkah dengan kepala menunduk dan terus menerus beristighfar.

An-Nasr, seperti yang bisa kita lihat pada kitab-kitab tafsir, turun berkenaan dengan hal itu. [1] Penaklukan Makkah.

Pertanyaannya kenapa penaklukkan kota tidak lantas dengan gegap gempita, melainkan tasbih, pujian, dan disuruh memohon ampun? Salah satunya barangkali karena itu tadi, terkadang ada orang-orang yang tersakiti oleh kita, meski kita tidak berniat menyakiti mereka. Tetapi itu terjadi begitu saja, karena cara mereka memandang.

Saya teringat dengan sebuah perumpamaan. Jika telapak tangan kita tertelusup duri sembilu, selama duri itu belum kita cabut; ada orang yang hendak menjabat tangan kita pun akan terasa seperti menyakiti.

Dan dalam literatur orang-orang arif, saya akhirnya mengerti bahwa salah satu cara menghindarkan diri dari rasa sakit atau tersakiti oleh orang lain adalah dengan merubah paradigma. Paradigma yang keliru, adalah semisal duri sembilu yang menancap. Dia akan merubah cara pandang kita kepada orang-orang yang bahkan berniat baik terhadap kita.

Untuk itu paradigma yang benar harus kita miliki. Dan dalam literatur para arifin, paradigma paling mendasar itu, paling fundamen itu adalah pengenalan terhadap Tuhan, dan pengenalan akan kaitannya antara Tuhan dan alam, dan bagaimana Tuhan mengatur alam semesta.

Bahwa semua yang terjadi tidak akan lepas dari takdir, dan kita juga bisa memandang bahwa segala yang terjadi sebenarnya cara DIA bercerita tentang diriNYA sendiri dalam berbagai citra sifat-sifat. Pagelaran sifat-sifat, alias pagelaran asma-asma. Jika konteks hidup sudah dipandang sebagai tentang Tuhan bercerita, maka konteks diri kita sendiri lama-lama hilang. Tak terasa, diri akan semakin sulit tersakiti. Karena dirinya sendiri hilang dari konteks cerita, dalam tanda kutip.

Aku sebagaimana prasangka hambaKu, kata sebuah hadits. Belakangan saya baru mengerti bahwa maksudnya bukanlah Tuhan disetir oleh prasangka kita, melainkan, prasangka atau paradigma kita dalam memandang hiduplah yang menentukan sejauh mana tirai hikmah dibukakan pada kita.

Itu dari sisi kita memandang kehidupan. Tetapi, tak ayal, meskipun kita sudah memandang kehidupan dengan cara seperti itu, kita tetap tidak akan bisa membuat semua orang memandang hidup sebagaimana kita memandang hidup. Artinya, akan selalu ada potensi bahwa orang lain merasa tersakiti –karena cara mereka memandang- padahal kita sendiri tidak pernah ada niat untuk menyakiti.

Lewat mereka, kita belajar penerimaan. Dan salah satu bentuk penerimaan itu adalah mengakui bahwa potensi keliru masih boleh jadi ada pada kita. Dan dalam surat An Nashr itu, saya mengamati cara memandang kehidupan satu lagi, yang diajarkan pada kita oleh Nabi. Yaitu penerimaan akan segala pernik kehidupan lewat istighfar.

Karena kemenangan boleh jadi ada pada kita, tetapi kita tetap memandang-NYA lewat pintu permintaan ampunan, karena dalam kemenangan kita, ada orang-orang yang merasa kalah.

Note:

[1] “1. apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, 2. dan kamu Lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, 3. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.”(surat an-Nashr: 1-3)

Image Source

“MENJENGUK TUHAN”

prayer_doaSaya banyak mengalami fragmen dimana saya diselamatkan oleh orang-orang yang sebagian tak saya kenal, atau sebagian lainnya saya kenal tetapi tak terlalu dekat.

Satu babak yang saya masih ingat sekali sampai sekarang adalah semasa kuliah delapan tahunan lalu, saya dan seorang rekan pergi ke daerah Banten untuk salah satu tugas kuliah. Pemetaan geologi.

Hari sudah menjelang maghrib, dan kami masih mencari-cari rumah pak kuwuh (kepala desa) setempat untuk numpang menginap.  Malangnya, orang yang dituju tak ada di rumah. Hanya ada seorang ibu-ibu yang perhatiannya terpecah, setengahnya menyambut saya dan rekan, setengahnya lagi sambil bingung-bingung sedang mendiamkan anak bayinya yang menangis meraung-raung. Situasi yang kikuk, dan kami tak tahu kemana sang Bapak dan kapan bisa kami temui, maka saya dan rekan saya pamit undur diri.

Menghibur hati, saya dan rekan hanya tertawa-tawa sambil meneruskan perjalanan pada lereng jalan berbatu yang menanjak. Setengah menghibur diri dan setengah cemas. Apakah kami harus tidur di kemah dari ponco di pinggir jalan hari itu?

Setelah berjalan cukup lama, kami berhenti pada sebuah persimpangan jalan kecil dan jalan lintas yang sepi dinaungi pepohonan pinus, ya….barangkali pohon pinus, saya tak ingat persis. Disana kami bertanya pada satu dua orang yang asing, dimana gerangan desa lainnya yang terdekat, jawabannya sama, bahwa desa terdekat harus ditempuh dengan naik kendaraan pickup yang melintas dulu. Itupun kalau ada.

Jadilah saya dan rekan hanya duduk-duduk menanti dengan tidak jelas. Hari hampir maghrib. Badan sudah letih. Tak tahu hendak kemana.

Menjelang maghrib yang merah jingga itu, seorang penduduk yang rumah gubuk bambunya sepelemparan batu dari tempat kami mengcangkung tak jelas; memanggil kami dan menawarkan kami menginap. Sesederhana itu. Tak banyak tanya. Tak ada ragu di mukanya dan keramahannya yang bening masih terpatri di memori saya sampai sekarang.

Waktu itu, saya mengingati kejadian itu dengan lekat, dan satu pemaknaan tunggal saja yang merasuk, bahwa Tuhan telah menolong kami lewat kebaikan penduduk, sore jelang malam itu.

Fragmen berikutnya adalah kejadian yang sekitar berapa bulan lalu berselang. Tahun kemarin, ketika saya berkesempatan untuk mengikuti salah satu training dari kantor yang diadakan di Kairo, Mesir.

Saya pergi sendiri waktu itu. Rutenya adalah Jakarta-Dubai-Kairo. Ke Dubai saya sudah pernah, dan lagi bahasa yang dipakai bahasa inggris, sedikit-sedikit saya menguasai dan tak terlalu khawatir. Tetapi connecting flight dari Dubai ke Kairo diisi dengan sensasi gundah. Kegundahan pertama adalah saya belum pernah ke Kairo, dan saya tak tahu hendak kemana setiba disana sedangkan saya betul-betul hanya mengandalkan penjemput. Jika tak ada penjemput, maka saya harus kemana? Kegundahan berikutnya adalah saya tak bisa bahasa arab, meski bahasa arab pasaran. Itu yang membuat kegundahan menjadi lebih tajam.

Dalam pada itu, saya merasakan dua sensasi. Pertama gelisah, tetapi di dalam sini, pada relung yang lebih dalam lagi, saya menangkap ada sebuah ketenangan.

Setelah  lama mengikuti wejangan orang-orang arif, dan terbiasa me-niten (mencermati) gerak fikiran dan perasaan sendiri, ternyata kita menjadi lebih awas dan bisa memisahkan; antara gejolak perasaan yang dipicu oleh fikiran yang semrawut, dan sebuah rasa yang muncul sendiri tetapi kita yakin itu bukan implikasi dari fikiran-fikiran yang seliweran di benak kita. Dan saya menangkap rasa tenang yang lembut itu.

Sebuah perasaan tenang yang entah apa itu, baru kemudian terjawab setiba saya di bandara Kairo. Keluar dari pesawat dan memasuki bus shuttle, saya dikagetkan dengan sapaan seseorang. Ternyata dia adalah rekan yang dulu sekali pernah sama-sama mengikuti training di Kuala Lumpur. Sebuah rasa lega yang begitu lapang. Saya bertemu dengan rekan yang saya kenal.

Sewaktu itu, pemaknaan pada peristiwa itu juga tunggal saja. Tuhan menyelamatkan saya.

Beberapa hal yang saya catat dari kejadian tersebut, dan berulang kali kejadian serupa adalah bahwa benar Tuhan mengabulkan doa orang-orang yang sedang safar.

Saya jadi berfikir, ada apa dengan orang yang safar? Ternyata, orang yang safar adalah orang-orang yang dipaksa untuk lepas dari hal-hal yang menabir antara dia dan Tuhannya.

Dalam kondisi biasa, saat kita mengalami kesusahan, seringkali dalam do’a kita masih ada dualisme. Meminta tolong kepada Tuhan, tapi dalam waktu yang sama otak memutar analisa untuk mencari bantuan teman. Atau meminta tolong kepada Tuhan, tetapi dalam waktu yang sama masih mengandalkan kolega dan penguasaan kita akan medan. Sesuatu yang tipis, tetapi hal-hal yang tipis itu seringkali membuat kita tidak bisa total.

Dengan safar, kita tercerabut dari segala hal yang menabir. Keluarga tak ada, teman tak ada, dan medan tidak kita kuasai. Maka orang-orang yang safar, saya rasa doanya melewati jalan toll.

Tetapi itu dari sisi kita, dari pandangan orang yang butuh. Saya sering membayangkan hal ini dari sisi orang yang membantu.

Misalnya, seorang penduduk yang membantu saya dan rekan di pedalaman Banten waktu maghrib-maghrib itu. Saya, sampai sekarang, rasanya belum memiliki sikap penerimaan yang seluas itu. Jika ada orang yang butuh, saya lebih sering mengedepankan syakwasangka. Repotnya, kalau orang yang ternyata sedang butuh itu adalah seseorang yang sedang –dalam tanda kutip- berada dalam jalan toll kepada Tuhan.

Jika dari sisi yang dibantu, mendapatkan bantuan pada waktu-waktu genting itu adalah seperti “melihat Tuhan” dalam citraNya yang Maha Mengabulkan do’a; maka tidakkah menjadi sangat bisa kita mengerti hadits-hadits Rasulullah yang menceritakan bahwa di akhirat kelat Tuhan bertanya: kenapa Tuhan sakit tetapi tak dijenguk? Tuhan lapar tetapi tak ada yang memberi makan? Sang hamba-pun lantas bertanya bagaimana mungkin Tuhan semesta alam bisa sakit dan bisa lapar? Ternyata; Tuhan ada di sisi orang-orang yang sakit dan lapar itu.[1]

Dari sisi orang yang begitu butuh, maka kebutuhan (rasa fakir) itulah yang akan menyingkapkan tirai penghalang, sehingga pada pengabulan do’a mereka; mereka melihat kuasa Tuhannya.

Dari sisi orang yang membantu, maka bantuan yang berlandaskan penerimaan terhadap orang lain itulah yang menyingkapkan tirai, sehingga saat melihat yang dibantu; dia melihat kuasa Tuhannya.

Itulah barangkali maksud para arifin. Siapa sebenarnya yang membantu? Siapa sebenarnya yang dibantu?

Dan belajar mengenai penerimaan dan cara pandang semacam inilah, saya rasa PR saya masih sangat banyak…..banyak…..banyak…..banyak sekali.

Note:

[1] Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., beliau berkata, telah bersabda Rasulullah saw, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla kelak dihari kiamat akan berfirman, “Wahai anak cucu Adam, aku sakit dan kamu tidak menjengukku”, ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam”, Allah berfirman, “Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya hambaku yang bernama Fulan sakit, dan kamu tidak menjenguknya? Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya jika kamu menjenguknya, engkau akan mendapatiku didekatnya. Wahai anak cucu adam, aku meminta makanan kepadamu, namun kamu tidak memberiku makanan kepada-Ku”, ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami dapat memberi makan kepada-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya hambaku fulan meminta makanan, dan kemudian kalian tidak memberinya makanan? Tidakkah engkau tahu, seandainya engkau memberinya makanan, benar-benar akan kau dapati perbuatan itu di sisi-Ku. Wahai anak cucu adam, Aku meminta minum kepadamu, namun engkau tidak memberi-Ku minum” , ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami memberi minum kepada-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Seorang hambaku yang bernama fulan meminta minum kepadamu, namun tidak engkau beri minum, tidakkah engkau tahu, seandainya engkau memberi minum kepadanya, benar – benar akan kau dapati (pahala) amal itu di sisi-Ku” (Hadist diriwayatkan oleh Muslim.)

MENYELAMI LAUTAN PENGAMPUNAN

SAMUDERASebuah cerita dari Lathaiful Minan, dimana seorang sufi besar yaitu Ibnu Athoillah (ulama mazhab Maliki) merasakan kenikmatan untuk selalu dekat pada Tuhan dan oleh karenanya dia ingin berhenti saja dari pekerjaannya dan menghabiskan waktu untuk berkhidmat pada gurunya dan belajar.

Tetapi oleh sang guru, beliau dilarang. “Bukan begitu caranya….”

Dikatakan dalam Lathaiful Minan, bahwa Ibnu Athoillah dipesani untuk tetap berada dalam kondisinya sekarang. Tetap bekerja, tetap mengajar. Apa-apa yang menjadi bagian Ibnu Athoillah dari sang guru, akan tetap sampai padanya.

Maksudnya adalah, beliau akan tetap bisa mendapatkan bagian dari mutiara ilmu hakikat, tanpa meninggalkan apa yang sedang beliau lakoni secara duniawi.

Sebuah cerita yang mirip, masih terngiang di dalam ingatan saya, sebuah cerita dari hadits dimana Hanzhalah seorang sahabat Rasulullah mendaku dirinya sebagai seorang munafik.[1] Pasalnya dia merasakan fluktuasi keimanan, suatu kali dia merasakan dirinya begitu khusyu’ saat bersama Rasulullah, tetapi di kali lainnya saat beliau berpisah dari Rasulullah dan berada bersama keluarga, beliau larut dalam kehidupannya lagi, sibuk bekerja dan mengurusi keluarga.

Cerita selanjutnya kita sudah hafal. Hanzhalah bertemu dengan Abu Bakar yang merasakan hal serupa, lalu kemudian bersama-sama menghadap kepada Rasulullah SAW.

Pesanan Rasulullah SAW kepada mereka adalah “sa’atan-sa’atan”, yang arti harfiahnya kurang lebih adalah sesa’at-sesa’at. Ada waktunya begini….dan ada waktunya begitu. Ada waktunya tenggelam dalam ukhrawi, tapi ada juga waktunya hidup dalam realita yang duniawi.

Seandainya mereka tetap berada dalam kondisi seperti mereka bertemu Rasulullah, dan stabil pada kondisi itu terus menerus, maka mereka akan disalami para malaikat. Alias tirai hijab terbuka, karena dengan begitu mereka sudah berada pada frekuensinya para malaikat.

Tetapi, nyatanya islam tidak mengenal kerahiban. Karena untuk segala sesuatunya ada porsi yang semestinya.

Cara pandang ini, juga kembali terngiang di benak saya saat Ust. Hussien Bin Abdul Latiff mengutip pesanan dari Syaikh Abdul Qadir Jailani, bahwa –dalam urusan spiritualitas islam ini- kita mestilah berpuas diri atas apa yang ada pada kita sekarang. Karena, bukan amalan secara lahiriah yang akan meningkatkan spiritualitas kita, tetapi sejatinya Allah sendiri yang menempatkan.

Tentu saya percaya rekan-rekan tidak akan begitu dangkal mengartikan hal itu dengan “kalau begitu tidak usah beramal”, tetapi kalau boleh saya mengelaborasikan apa yang akhirnya saya mengerti dari wejangan para arifin tersebut adalah bahwa cara Allah mengajarkan dan memahamkan kita adalah tidak melulu lewat jalan mulus peribadatan. Melainkan seringkali zig-zag dan naik turun. Bahkan pelajaran-pelajaran itu terkadang muncul lewat dosa, lewat kekhilafan, lewat keteledoran yang ditaubati.

Sudah sangat sering saya melihat orang yang berubah 180 derajat cara pandangnya terhadap hidup, dan setelah diteliti, ternyata justru dia mendapatkan banyak sekali hikmah hidup pada fase dimana dia berdosa dan keliru. Artinya, dalam tanda kutip, dosalah yang menyampaikan mereka pada Tuhan.

Gampangnya begini, nabi Adam atau Nabi Yunus sebagai contoh. Mereka pun mendapatkan pelajaran hidup pada saat mereka meniti pertaubatan. Pertaubatan, berarti ada kekeliruan yang terlanjur.

Dan dalam skala yang ringan, memang naik-turun itu tak mesti menjadi nadir dan benar-benar pembangkang, tetapi boleh jadi naik-turun itu adalah “sa’atan-sa’atan” seperti dalam kisah Handzalah dan Abu Bakar.

Menariknya adalah, orang yang dirahmati Tuhan, ternyata dalam naik-turunnya pun ada pelajaran yang bisa dipetik.

Saya teringat pada sebuah ceramah yang saya dengar, dari K.H. Imron Djamil Tambak Beras Jombang. Dikatakan oleh beliau bahwa ciri seorang ahli ibadah yang dirahmati, adalah dalam beribadah dia tidak mendaku ibadah itu sebagai amalnya, melainkan menyadari ibadah itu sebagai rahmatNya. Ibadah, dianggap sebagai bentuk karunia, sehingga tidak ada pengakuan yang sombong disana.

Ciri kedua, adalah saat seseorang terlanjur khilaf dan berdosa, maka dosanya justru menghantarkan dia mendekat pada Allah lewat jalur pertaubatan.

Jadi cirinya dua itu. Jika dia baik, dia tidak menganggap kebaikan itu karena dirinya pribadi. Sebagaimana kalau dia salah dan khilaf, dia tidak putus asa terhadap rahmat dan malah menjadi jalan pulang kepada Tuhan lewat jalur taubat.

Rahasianya disini. Seringkali dengan terjatuh pada kekhilafan, seseorang malah akan memahami realita dari la hawla wa la quwwata illa billah. Akan sulit dia memahami bahwa segalanya adalah kuasa Allah. Tanpa mengalami realita khilaf dan dosa yang menggagalkan dirinya menjadi orang tanpa cela.

Kalau dia paham, maka justru pada jenak kekeliruan itulah dia mendapatkan pelajaran. Dan menjadi sadar bahwa tanpa pertolongan Tuhan, maka dia tidak bisa meniti jalan kebaikan.

Atau, dengan kekeliruan itulah dia menemukan kekerdilan diri, dan akhirnya memandang Tuhan sebagai Pemilik lautan ampunan.

Tetapi bagi yang tidak paham, maka saat beribadah dia akan menjadi jumawa atas amal yang dia daku sendiri. Saat dia keliru dan khilaf maka dia akan frustasi karena gagal menjadi pribadi yang tanpa cela. Pusat tata suryanya adalah dirinya sendiri. Beribadah menghadap kepada dirinya sendiri. Dan dalam keliru dia juga memaki dirinya sendiri.

Pada akhirnya, yang penting ternyata adalah bagaimana agar hikmah tetap merasuk, dalam kondisi yang bagaimanapun saja. Dan untuk itu kita harus belajar “sa’atan-sa’atan”. Menghargai setiap fase hidup sebagai pelajaran.

Memandang kebaikan dan peribadatan adalah sesuatu yang given alias anugerah, sehingga saat berkebaikan kita merasa bersyukur untuk telah tertakdir menjadi baik, dan saat grafik kebaikan sedang menurun kita menjadi semakin meminta tolong pada Tuhan untuk dimampukan kembali baik. Bukan malah sekuat tenaga berkebaikan tetapi hanya melihat diri sendiri, tanpa menyadari bahwa kebaikan itu adalah apa-apa yang kita dimampukan untuk melakukannya.

Apa ejawantah dari sifat pengampun Tuhan? Yaitu kenyataan adanya seorang pendosa, yang melihat-Nya dengan penuh harapan akan lautan pengampunan. Begitulah….

Note:

[1] Hanzhalah Al-Asadi r.a. , salah seorang shahabat yang termasuk juru tulis Rasulullah SAW bertutur: “Suatu ketika, aku berjumpa dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. “Ada apa denganmu, wahai Hanzhalah?” tanyanya (dalam hadits riwayat Turmidzi disebutkan bahwa Hanzhalah dalam keadaan menangis). “Hanzhalah ini telah berbuat nifaq”, jawabku. “Subhanallah, apa yang engkau ucapkan?”, tanya Abu Bakar. “Bila kita berada di sisi Rasulullah SAW, beliau mengingatkan kita tentang neraka dan surga hingga seakan-akan kita bisa melihatnya dengan mata kepala kita. Namun bila kita keluar meninggalkan majelis Rasulullah SAW, istri, anak dan harta kita (sawah ladang ataupun pekerjaan) menyibukkan kita (karena kita harus memperbaiki penghidupan/ mata pencaharian kita dan mengurusi mereka), hingga kita banyak lupa/ lalai”, kataku. “Demi Allah, kami juga menjumpai yang semisal itu”, Abu Bakar menanggapi perasaan Hanzhalah (dalam riwayat lain, Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. berkata, “Aku juga melakukan seperti apa yang engkau sebutkan”)

Aku pun pergi bersama Abu Bakar menemui Rasulullah SAW hingga kami dapat masuk ke tempat beliau. “Hanzhalah ini telah berbuat nifaq, wahai Rasulullah”, kataku. “Apa yang engkau katakan? Mengapa engkau bicara seperti itu?”, tanya beliau. “Wahai Rasulullah, bila kami berada di sisimu, engkau mengingatkan kami tentang neraka dan surga hingga seakan-akan kami dapat melihatnya dengan mata kepala kami. Namun bila kami keluar meninggalkan majelismu, istri, anak dan harta kami melalaikan kami, hingga kami banyak lupa/ lalai (seakan-akan kami belum pernah mendengar sesuatu pun darimu)”, jawabku. Mendengar penuturan yang demikian itu, Rasulullah SAW bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tetap berada dalam perasaan sebagaimana yang kalian rasakan ketika berada di sisiku dan selalu ingat demikian, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian (hingga mereka mengucapkan salam kepada kalian) di atas tempat tidur kalian dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi wahai Hanzhalah, ada saatnya begini dan ada saatnya begitu”. Rasulullah SAW mengucapkannya tiga kali. (HR. Muslim)

image source