MEREPARASI GAGASAN

repair brainSaya, memang tidak terlalu menyukai pelajaran sejarah, bagi saya dulu sewaktu sekolah, pelajaran sejarah sungguh membosankan karena harus menghapal sedemikian banyak tanggal dan nama-nama tempat. Saya rasa itu tak ada kaitannya dengan kepentingan kehidupan saya dalam dunia praktis sehari-hari. Tetapi belakangan saya baru mengerti, bahwa sejarah jika dipelajari dalam porsi yang tepat dan cara pandang yang benar adalah cermin kita untuk belajar tentang dialektika masa kini.

Saya termasuk orang yang menyalah-pahami R.A. Kartini, kenapakah Kartini menjadi ikon perempuan Indonesia? Dulu, saya termasuk satu dari sekian orang yang tak tahu apa track recordnya Kartini. Apakah tak ada pejuang perempuan lain yang Rekam heroiknya jelas? Ternyata, saya baru menemukan jawabannya setelah membaca pengantar dalam buku syarah Al Hikam yang ditulis K.H. Sholeh Darat.

K.H. Sholeh Darat, adalah seorang ulama besar Nusantara, sang maestro yang pernah mendidik K.H. Ahmad Dahlan, K.H. Hasyim Asyari yang dari merekalah dua pergerakan besar islam nusantara ini berdiri dan berpacu hingga sekarang. K.H Sholeh Darat adalah juga anak dari seorang ulama besar yang jadi kepercayaan Pangeran Diponegoro yang legendaris itu.

Nah…. R.A. Kartini, adalah seorang pembelajar yang pernah belajar pada K.H. Sholeh Darat. Seorang bangsawan yang haus ilmu kala itu. Dia belajar, dan mengkaji islam. Dalam perjalanannya dia merasakan suatu keganjilan saat orang-orang semua belajar Al – Qur’an tetapi tidak mengetahui artinya. Sempat suatu kali Kartini bertanya pada seorang gurunya tentang makna Al Fatihah, tetapi malah dimarahi.

Dahaga spiritualitas Kartini kemudian menemukan muaranya saat dia mendengarkan kajian yang indah dari K.H. Sholeh Darat kala menjabarkan tafsir Al Fatihah. Seusai itulah, maka kartini meminta ditemani untuk berkunjung ke kediaman K.H. Sholeh Darat dan meyakinkan K.H. Sholeh Darat untuk menuliskan tafsir Qur’an dalam bahasa jawa agar dimengerti khalayak. Mulanya K.H. Sholeh Darat ragu, tetapi kemudian tak urung teryakinkan juga dengan diplomasi Kartini.

Tafsir Faid ar-Rahman, yang ditulis dalam aksara arab gundul, tetapi memakai bahasa jawa (pegon) adalah karya K.H. Sholeh Darat atas diplomasinya Kartini. Dihadiahkan pada Kartini pada tasyakuran pernikahannya dengan R.M. Joyodiningrat Bupati Rembang kala itu.

Dan selepas itulah K.H. Sholeh Darat banyak menuliskan karyanya dalam bahasa jawa sebagai sumbangsihnya pada masyarakat. karena “terilhami” dengan diplomasinya Kartini.

Jadi apa sebenarnya yang sudah dilakukan Kartini? Dia menyebarkan gagasan. Seperti juga dengan korespondensinya pada kalangan terpejalar Belanda. Dia menyebar gagasan.

Dari sinilah saya baru mengerti, bahwa menyebarkan gagasan, dan mencerahkan seseorang dari segi paradigma dia berfikir, tidaklah bisa dianggap hal yang enteng.

Seseorang bisa saja mati, tetapi gagasan akan mengabadi dan turun temurun ke anak cucu, selagi ada orang yang mengerti gagasan itu, dan menyebarkan gagasan itu.

Serupa dengan cerita Kartini, meskipun tak terlalu mirip-mirip, barangkali ceritanya Socrates dari Yunani. Seorang filosof besar pada masanya. Tak ada yang dilakukan Socrates, selain dari mengajak orang-orang berfikir tentang definisi sesuatu, tentang mengapa mereka melakukan hal-hal yang mereka lakukan. Dia mengajak orang-orang berfikir pada suatu hal yang mendasar. Socrates, juga menyebarkan gagasan.

Menarik analogi dengan premis bahwa menebar gagasan sangatlah penting, saya rasa itulah juga domain-nya para arifin yang menyebarkan gagasan yang sangat fundamen. Mengenal Tuhan.

Dunia pergerakan islam yang marak sekarang, saya rasa adalah dunia aksi, dunia karya, dunia ‘berlomba-lomba dalam kebaikan’. Akan tetapi, seringkali pada dunia yang begitu riuh dan cepat semacam itu tidak ditemukan penjelasan paling mendasar dalam hidup. Siapa kita? Kemana kita menuju? Siapa sebenarnya Tuhan itu? Ada penjelasan itu, tetapi tidak mendalam.

Dan sepanjang pengamatan saya yang terbatas, jawaban paling mendasar akan hal-hal seperti itu hanyalah akan kita temukan pada orang-orang arif yang fungsinya dalam hidup memanglah menyusun ulang dan mereparasi gagasan-gagasan paling dasar yang ada pada manusia.

Dari gagasan-gagasan itulah, mereka menjadi guru bagi banyak orang-orang menyejarah yang kemudian bergelut dalam dunia aksi.

Berbuat hal yang nyata penting. Tetapi tanpa dilandasi gagasan dan pengertian-pengertian yang tepat, akan membuat aksi nyata menjadi kering makna.

Amal tanpa niat akan gagal tercatat sebagai kebaikan.

Seumpama bangunan keberagamaan tanpa pondasi makrifat keTuhanan akan tidak kukuh.

Dan kesemua awalan itu berawal dari dunia gagasan. Jika gagasan benar, maka pungkasan benar. Barangkali semakna juga dengan ungkapan “tanda kesuksesan di ujung perjalanan, adalah bersandar pada Allah sejak dari permulaan.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s