PUASA DAN PENERIMAAN DIRI

acceptance-peace-686x350Saya mengingat-ingat kembali citra diri saya pada saat kuliah dulu, seorang teman pernah menyebut saya sebagai seorang “koleris” sejati.

Kalau rekan-rekan masih ingat 4 tipe kepribadian manusia, maka seperti itulah barangkali perwatakan saya dulu, koleris yang cenderung terlalu mengatur, suka menunjuk, memerintah, inisiatif, dan yang senada dengan itu.

Tetapi selepas kuliah -dan saya baru menyadari sekarang bahwa- ternyata kecenderungan saya bergeser sedikit demi sedikit menjadi seorang yang lebih analitis dan kooperatif.

Dalam tipe pembagian berdasar warna, barangkali saya dulu itu adalah tipe warna dominan merah, tetapi sekarang saya melihat diri sendiri sebagai citra yang dominan hijau dan biru. Begitulah.

Poinnya yang ingin saya sampaikan adalah “people change”. Dan saya merenungi ini, apa yang bisa shifting, menggeser cara saya memandang kehidupan ini ya?

Ternyata saya temukan jawabannya adalah nilai-nilai dan hikmah yang merasuk sepanjang perjalanan kitalah yang merubah kita.

Hikmah yang kita cerap sepanjang perjalanan, bisa merubah kita menjadi seorang dengan cara pandang yang sama sekali baru. Yang dulunya keras dan memerintah, bisa bergeser menjadi kooperatif dan analis. Atau sebaliknya, yang terlalu melankoli menjadi lebih tegas.

Pada pokoknya, citra terluar diri kita itu bisa berubah seiring ilmu yang kita dapat.

Tetapi ada juga  orang yang  sepanjang hidupnya tidak berubah. Dalam konotasi yang negatif. Tentu maksudnya adalah ada sebagian orang yang sepanjang kehidupannya tidak bergeser menjadi the better him or her.

Saya rasa hambatan terbesarnya adalah karena dia merasa bahwa “inilah saya” dan itu sebab dia enggan berubah.

Dalam skala tertentu, mengatakan “inilah saya” adalah  wujud sikap  penerimaan yang baik.

Tetapi saya baru sadari belakangan bahwa tanpa sikap penerimaan yang baik, mengatakan “inilah saya” bisa bergeser konteks menjadi arogansi.

Arogansi itu adalah sikap tidak mau IQRO BISMIRABBIK kepada hidup.

Dengan membaca kehidupan, seseorang bisa menyadari kekeliruan pada dirinya dan menjadi pribadi yang mudah-mudahan lebih tertata dan lebih elok.

Tetapi, orang-orang yang enggan berubah adalah orang-orang yang sesungguhnya bukan “menerima diri” melainkan memaksakan dirinya untuk berada pada satu citra tertentu.

Saya beri contoh tentang menerima diri dan kaitannya dengan puasa.

Saya baru mengerti bahwa puasa mengajarkan  kita porsi-porsi penerimaan diri.

Jika kita bukan orang yang sabar, kita orang yang mudah marah, kita orang yang banyak gejolak, dan kita sudah mencoba sekuat yang kita bisa untuk merubah diri tetapi gagal, maka dalam kegagalan itu kita bisa kecewa dan membenci diri sendiri.

Padahal, kalau kita perhatikan saat kita berpuasa, semua elemen fisikal diri melemah. Barangkali waktu siang hari dan pagi hari masih ada energi untuk marah dan bergolak, tetapi saat menjelang sore kalau kita amati jujur, semua gejolak diri akan luruh, sudah tak ada energi untuk keras dan meledak.

Imbasnya kita akan bisa lebih tenang. Karena amarah, ketidak sabaran, dan gejolak itu ternyata bersumber dari tubuh yang fisikal ini. Dari piranti yang fisikal inilah gejolak itu tumbuh dan membesar.

Kesimpulannya apa? Artinya saya rasa bahwa seorang yang tidak sabaran dan gampang tersulut sekalipun seharusnya bisa memaafkan dirinya sendiri jika dia mengerti mekanisme ini.

Sesungguhnya dia bukan pemarah, melainkan ada piranti fisikal  pada dirinya  yang penuh gejolak dan tak mungkin teredam tanpa lelaku puasa. Pengertian terhadap piranti fisikalnya dan kaitannya dengan emosi diri.

Termasuk juga hal yang lain. Barangkali seseorang itu bukan marah, tetapi marah hanyalah konsekuensi logis dari rekam pengalaman hidupnya yang bertentangan dengan realita lapangan.

Pengertian akan piranti-piranti diri  inilah hal yang sepenuhnya logis.

Dan dalam tema besar penerimaan diri inilah kita mestinya melangkah.

Karena piranti diri kita itu banyak sekali. Ada piranti fisikal yang gejolak hormonalnya mempengaruhi kita. Ada piranti yang halus yaitu sekian banyak perasaan yang hilir mudik menyambangi hati kita. Sebagian perasaan barangkali terkait dengan gejolak fikiran kita, sebagian lainnya barangkali tidak.

Tetapi intinya sesederhana itu rupanya. Dengan puasa kita mengenal diri. Dengan mengenal diri dan segala pirantinya, akan tumbuh penerimaan yang utuh.

Penerimaan pada fisik. Pada gejolak rasa. Pada atribut-atribut pengalaman hidup kita. Dan akhirnya mengenal yang mana sih yang sebenar-benar diri kita.

Dan  pada tahapan itulah maka kekata “inilah saya” yang tumbuh dari sikap penerimaan itulah yang bisa IQRO BISMIRABBIK. Menampung ilmu. Entah apapun yang Tuhan ingin ajarkan sepanjang jalan kehidupan kita.

Yang sejatinya diri itulah yang belajar. Membaca alam dan membaca pirantinya sendiri. Tapi tak akan bisa tanpa penerimaan.


*) gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s