MENJAGA ADAB DAN MENJARING INSIGHT

insightAda sebuah ungkapan bijak, hidup ini terlalu singkat untuk belajar dari kesalahan diri sendiri, maka belajarlah dari kesalahan orang lain.

Dalam skala tertentu, kebijakan itu tadi bisa juga kita pandang secara lebih lebar, bahwa kesempatan belajar pada banyak orang itu terbuka luas, tanpa harus segala sesuatunya kita pelajari dari hasil olah batin dan dialektika kita sendiri.

Kadang-kadang, ilmu itu sudah disusunkan oleh orang-orang terdahulu, dan kita hanya tinggal membacanya dan meneruskan agar keilmuan itu berkembang.

Sederhananya barangkali pada contoh berikut.

Untuk menemukan gravitasi, kita tahu bahwa Newton melewati perenungan dan tercerahkan saat melihat apel jatuh. Dari sana dia kemudian menemukan hukum gravitasi. Pertanyaannya adalah apakah semua orang setelah era Newton harus merenung dulu di bawah pohon apel untuk kemudian memahami gravitasi?

Tentu tidak… anak-anak SD pun sekarang sudah mengerti tentang gravitasi. Karena, kebijakan yang Newton temukan itu sudah disebarluaskan lewat banyak pengajaran. Giliran masa orang-orang sekarang adalah membuka hikmah yang lebih besar lagi.

Orang-orang pun bisa mengikuti skema Newton, tetapi seribu satu. Karena setiap orang sudah ada peruntukan sendiri-sendiri. Tak semua orang harus merenung dulu, baru kemudian menemukan kebijakan gravitasi.

Kenapa saya menulis ini? Karena belakangan saya menyadari bahwa pendapat yang mengatakan bahwa seseorang belum dianggap spiritualis sejati selagi dia masih menuliskan sesuatu yang berasal dari buku; bukan dari perenungan terdalamnya sendiri; adalah tak selalunya tepat.

Penghargaan terhadap rekam sejarah kebijakan dan ilmu orang-orang terdahulu-pun adalah sebentuk adab.

Sebuah hadits masyhur dari Rasulullah SAW mengatakan bahwa tak dikatakan berterimakasih pada Allah bagi sesiapa yang tak berterimakasih pada manusia.[1]

Artinya tentu bahwa berterimakasih pada manusia-pun adalah bentuk syukur dan adab kepada Tuhan.

Dan dalam konteks menerima karya dan sumbangsih orang-orang silam, itu pun bentuk terimakasih.

Kita bisa bayangkan, Newton sudah susah-susah menemukan teori gravitasi, eh…tetapi akan sangat lucu jika alih-alih mengajarkan teori gravitasi yang sudah dirangkum Newton kita malah meminta semua orang merenung di bawah pohon dan memikirkan tentang gravitasi itu sendiri sampai ketemu. Wasting time.

Lebih mending mereka diajari teori gravitasi dan kemudian tugas mereka adalah untuk merenungkan hal yang lebih besar semisal pemanfaatan gravitasi untuk kepentingan kehidupan manusia. Supaya kehidupan bergulir dan berkembang.

Dulunya, saya sangat merasa senang jika saya menemukan satu hikmah dalam kehidupan saya. Dan nilai-nilai yang saya temukan itu kemudian saya catat sendiri, dan barangkali juga saya tulis.

Belakangan, saya baru menyadari, bahwa tidak mungkin hikmah dan nilai-nilai ini saya sendiri yang menemukan? Pastilah jutaan orang sudah menemukan hikmah yang serupa.

Maka saya baca satu dua buku, dan ketemulah hal yang sama yang sudah dituliskan oleh orang-orang arif masa silam.

Dari sanalah saya baru menyadari, bahwa akan tidak beradab jika saya bukannya memajukan tulisan dan rangkuman yang mereka telah buat malah mengajukan pendapat saya sendiri.

Toh…betapapun juga, akan tetap terlihat. Mana yang sekedar mengutip, mana yang menampilkan sumber kebijakan dan lalu menyajikan hasil internalisasinya. Tetap tidak akan sama.

Walhasil, mengutip pendapat orang-orang arif, para alim, ilmuwan baik silam maupun sekarang, tidaklah menjadikan kita sebagai seorang yang tidak orisinil. Melainkan, itu justru sebentuk adab. Untuk lebih memajukan pendapat orang yang diakui otoritasnya, dan lalu kemudian kita menampilkan hasil internalisasi kita terhadap kutipan itu.

Tetapi bagaimanapun juga, ada memang dalam ranah spiritualitas islam, hal-hal pelik yang memang tak bisa dimengerti jika tidak mengalami (internalisasi) sendiri. Sesuatu itu, adalah yang oleh para arifin disebut dengan ahwal, atau situasi-situasi batin tertentu.

Gampangnya, saya rasa. Cara mendapatkan ilmu bisa lewat buku, bisa lewat insight. Ini yang membedakan antara pandangan islam dan barat. Islam mengakui insight sebagai satu cara ilmu untuk terhantar pada manusia.

Tetapi hemat saya, saat kita ingin membagikan insight yang kita dapatkan itu, coba tengok, apakah itu bersesuaian dengan hikmah yang telah dirangkum arifin dan ulama masa silam? Jika ya, ajukanlah pendapat mereka di depan pendapat kita, sebagai bentuk adab.

Ada insight, dan ada adab.

Yang menjaga adab, lebih gampang bertemu insight.

Dan jangan salah juga lho, seringkali insight yang kita dapatkan malah menjelaskan apa-apa yang telah tertulis dalam tekstual orang-orang alim dan arif masa silam.

Saya kutipkan dari Al Munqidz Min Adh Dhalal, sebuah buku Karya Imam Ghazali. Dimana beliau menceritakan bahwa orang yang berharap petunjuk pada Allah, akan dituntun untuk:

  • Pertama dianugerahi kemampuan memperoleh dalil yang menunjang
  • Kedua diantarkan menuju kelompok yang benar dibawah petunjukNya

Jadi bisa juga ada insight, yang membuat kita menjadi mengerti maksud dari tekstual dalil-dalil.

Tapi ocehan panjang ini semua intinya adab saya rasa. Untuk mendapatkan insight yang jernih haruslah menjaga adab.

Menjaga adab kepada Tuhan dalam kaitannya dengan “mengutamakan meminta petunjuk kepada Tuhan bahkan saat kita mengakrabi tekstual buku-buku”. Fisik mengakrabi buku, batin meminta petunjuk kepada Yang Memiliki Ilmu, bukan kepada buku.

Dan sebaliknya, saat dalam sikap berbagi, jemari atau lisan mengejawantahkan apa yang terpatri lewat insight dalam hati, tetapi kita sorongkan di depan orang-orang yang telah lebih dulu berjasa menghantarkan hikmah serupa sebagai bentuk adab.

references:

[1] “Barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada manusia maka dia tidak bersyukur kepada Allah” (HR. Ahmad)

Dalam hadits yang lain disebutkan : “Orang yang paling bersyukur kepada Allah adalah mereka yang paling bersyukur kepada manusia” (HR. Al Bayhaqy)

*) Gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s