SAAT HIDUP MENJADI BEGITU SPIRITUAL

REVEAL

Mungkin barangkali memang benar bahwa laki-laki cenderung tidak punya perasaan, hehehe…. Maksudnya adalah bahwa laki-laki terlalu mengedepankan logika. Dan dalam urusan ini saya merasakan bahwa saya pun termasuk orang yang sering tidak perasa, dalam tanda kutip.

Suatu hari saya pulang kantor. Biasanya sepulang kantor saya temukan anak saya tertidur di sofa depan. Atau kalau dia sedang tak tidur biasanya dia akan dengan heboh membuka pintu depan rumah dan kemudian menodong saya minta oleh-oleh permen kapas. Tetapi hari itu dia tak ada, dan saya tak memperhatikan bahwa dia bersembunyi di balik dinding tangga. Sewaktu itulah istri saya memberikan kode bahwa saya harus pura-pura mencari dimana anak saya bersembunyi. Saya lalu acting mencari-cari, dan lalu dikagetkan dari balik tangga.

Hal-hal kecil semacam itu yang sering luput dari saya. Sehingga saya acapkali harus diingatkan pada momen dimana saya seharusnya memasang muka kaget dan kagum memuji, misalnya saat anak saya datang dan muter-muter di depan saya, ternyata dia memakai bando atau baju yang baru. Nah….tanpa diberitahu, saya tidak akan memerhatikan bahwa ada sesuatu yang beda pada anak saya. Saya terlalu lelaki.

Setelah saya renungkan, memang saya hidup dalam keluarga yang dominan lelaki, sehingga database pengalaman dimana saya bersinggungan dengan emosi-emosi perempuan sangatlah jarang. Dan anak saya seorang perempuan, maka saya harus belajar memasukkan database cara pandang emosional seorang perempuan kedalam ruang fikir saya.

Dan untuk ini, menurut ukuran saya, saya harus berupaya lebih keras.

Seseorang cenderung akan bertindak dan merespon hidup sesuai dengan database pengalamannya.  Permasalahannya adalah, seseorang seringkali tidak mau merubah cara pandangnya. Karena mengira, bahwa dirinya adalah database pengalaman hidup itu sendiri.

Telah pernah kita obrolkan, bahwa yang membentuk karakter manusia itu adalah rekaman pengalaman sepanjang hidupnya. Atau databasenya. Dan seringkali seseorang itu terhambat untuk belajar (IQRO) pada kehidupan tersebab terlalu mencintai database pengalamannya sebagai bagian dirinya. Dirinya adalah database itu sendiri, sehingga dia enggan berubah sekalipun untuk menuju kebaikan.

Ya contoh sederhananya seperti di atas tadi. Jika saya resistant dan enggan belajar, maka saya mengidentifikasi diri saya sebatas pada database masa lalu dimana saya berpandangan terlalu logis dan rasional. Saya kira itulah saya. Padahal, itu bukan saya. Sikap terlalu logis dan rasional itu hanyalah citra dari rekam jejak pengalaman hidup saya.

Dalam logika yang sama, ternyata itulah yang sering kita lakukan. Kita mengidentifikasi diri kita sebagai harta kita. Mengidentifikasi diri kita sebagai perasaan-perasaan kita. Atau mengidentifikasi diri kita sebagai fikiran-fikiran atau ilmu yang telah kita serap. Padahal kita bukan itu semua.

Baru-baru ini, saya berbincang dengan seorang teman lama. Teman saya kuliah dulu. Sayup-sayup saya pernah dengar, bahwa rekan satu ini berubah sekali cara pandangnya terhadap hidup. Sekarang jadi lebih religius dan spiritualis. 180 derajat dari dirinya yang dulu.

Penasaran, maka saya tanyakan apa gerangan penyebabnya.

Ternyata penyebabnya adalah ujian. Ujian yang membanting-banting hingga sampai pada puncaknya dia sudah kehabisan ego. Dipecat dari pekerjaan. Istrinya sakit keras. Hidup tak jelas. Tetapi pada puncak hancurnya ego itu, dia jadi melihat hidup dengan cara yang berbeda. Dia mulai menerima kehidupan ini seperti apa adanya. Dan dari sana dia menjadi seseorang yang sama sekali baru. Dan alhamdulillah kehidupan membaik setelah dia menjadi pribadi baru. Istrinya sembuh…dan setahu saya sekarang dia sudah ada pekerjaan lagi.

Kembali saya teringat wejangan seorang guru, bahwa jika Allah hendak mengajari, membuat seseorang menjadi naik derajat dan kenal pada-Nya, kadang-kadang caranya adalah dengan menghancurkan tempayan ego orang tersebut. Sehancur-hancurnya. Setelah hancur, maka seseorang ini diisi dengan “pribadi yang baru”.

Dan saya akhirnya menyadari bahwa dengan dibanting oleh ujian hidup sampai titik paling nadir-lah, seseorang baru bersedia melepas ego-nya.

Kembali lagi, apakah itu “ego”? Tak lain tak bukan adalah kumpulan pengalaman. Kumpulan database. Dan ternyata kita menghargai database seringkali lebih dari segalanya, padahal boleh jadi database kita keliru. Maka itu cara Tuhan seringkali dengan membanting kita sampai database itu hancur berantakan dan kita dipaksa untuk melihat dari sudut yang sama sekali lain.

Jika kita terlalu lekat dengan sesuatu, dan mengidentifikasi sesuatu itu sebagai “kita” itu sendiri, maka kita akan hidup dalam personifikasi yang terlalu sempit.

Barulah saya mengerti, hikmah kita disuruh sedekah. Barangkali, satu hikmahnya adalah kita mencoba melepaskan sebagian harta dari pengidentifikasian bahwa kita sama dengan harta itu. Kalau sudah terlalu lekat antara kita dan harta, coba kita lepas kelekatan itu dengan sedekah. Maka sedekah menjadi sangat spiritual sekali.

Demikian juga puasa, dengan puasa bukankah kita jika benar-benar jeli dan merasakan, akan bisa mengerti bahwa ternyata kita bukanlah tubuh fisikal ini. Puasa salah satu hikmahnya yang bisa kita rasakan adalah melepaskan keterikatan yang terlalu kuat antara ruhani dengan tubuh casing jasad ini. Kita pemarah, emosian, dan terlalu “bergolak” dan terikat antara ruhani dan piranti fisik tubuh, maka dengan puasa menjadi sedikit renggang. Puasa menjadi begitu spiritual.

Dan dengan belajar (IQRO BISMIRABBIKA), baik belajar sendiri atau “dipaksa” oleh hidup lewat ujian yang membanting-banting, kita juga akan melepaskan keterikatan. Antara sejatinya diri kita, dengan kumpulan ilmu-ilmu. Dengan belajar, kita akan melepaskan database lama, dan memandang dalam kerangka database keilmuan baru yang lebih komprehensif. Jika komprehensif, biasanya akan lebih menerima kepada kehidupan. Maka Belajar, menjadi begitu spiritual.

Atau juga, jika kelekatan antara kita dan ilmu sudah terlalu erat, dan menyempitkan. Untuk meluaskannya adalah dengan berbagi. Berbagi, akan melepaskan kecintaan kita pada ilmu yang “dikekepi” sendiri. Maka berbagi, menjadi sangat spiritual.

Dengan menyadari bahwa sejatinya diri kita adalah substansi ruhani, yang merekam database pengalaman hidup, yang mengendalikan piranti jasad, yang menampung anasir-anasir perasaan dalam jagad kecil tubuh kita ini; yang sejatinya mengibadahi-Nya; maka apapun yang kita lakukan dalam hidup bisa menjadi begitu spiritual[1].

Note:

[1] Dalam tulisan ini, makna “Spiritualitas” yang dimaksudkan adalah dimensi batin (esoteric) atau jiwa agama dalam kehidupan manusia. (mengutip dari Tafsir Al-Qur’an tematik, Spiritualitas Dan Akhlaq, Kementrian Agama RI.

Gambar ilustrasi dipinjam dari sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s