“MENJENGUK TUHAN”

prayer_doaSaya banyak mengalami fragmen dimana saya diselamatkan oleh orang-orang yang sebagian tak saya kenal, atau sebagian lainnya saya kenal tetapi tak terlalu dekat.

Satu babak yang saya masih ingat sekali sampai sekarang adalah semasa kuliah delapan tahunan lalu, saya dan seorang rekan pergi ke daerah Banten untuk salah satu tugas kuliah. Pemetaan geologi.

Hari sudah menjelang maghrib, dan kami masih mencari-cari rumah pak kuwuh (kepala desa) setempat untuk numpang menginap.  Malangnya, orang yang dituju tak ada di rumah. Hanya ada seorang ibu-ibu yang perhatiannya terpecah, setengahnya menyambut saya dan rekan, setengahnya lagi sambil bingung-bingung sedang mendiamkan anak bayinya yang menangis meraung-raung. Situasi yang kikuk, dan kami tak tahu kemana sang Bapak dan kapan bisa kami temui, maka saya dan rekan saya pamit undur diri.

Menghibur hati, saya dan rekan hanya tertawa-tawa sambil meneruskan perjalanan pada lereng jalan berbatu yang menanjak. Setengah menghibur diri dan setengah cemas. Apakah kami harus tidur di kemah dari ponco di pinggir jalan hari itu?

Setelah berjalan cukup lama, kami berhenti pada sebuah persimpangan jalan kecil dan jalan lintas yang sepi dinaungi pepohonan pinus, ya….barangkali pohon pinus, saya tak ingat persis. Disana kami bertanya pada satu dua orang yang asing, dimana gerangan desa lainnya yang terdekat, jawabannya sama, bahwa desa terdekat harus ditempuh dengan naik kendaraan pickup yang melintas dulu. Itupun kalau ada.

Jadilah saya dan rekan hanya duduk-duduk menanti dengan tidak jelas. Hari hampir maghrib. Badan sudah letih. Tak tahu hendak kemana.

Menjelang maghrib yang merah jingga itu, seorang penduduk yang rumah gubuk bambunya sepelemparan batu dari tempat kami mengcangkung tak jelas; memanggil kami dan menawarkan kami menginap. Sesederhana itu. Tak banyak tanya. Tak ada ragu di mukanya dan keramahannya yang bening masih terpatri di memori saya sampai sekarang.

Waktu itu, saya mengingati kejadian itu dengan lekat, dan satu pemaknaan tunggal saja yang merasuk, bahwa Tuhan telah menolong kami lewat kebaikan penduduk, sore jelang malam itu.

Fragmen berikutnya adalah kejadian yang sekitar berapa bulan lalu berselang. Tahun kemarin, ketika saya berkesempatan untuk mengikuti salah satu training dari kantor yang diadakan di Kairo, Mesir.

Saya pergi sendiri waktu itu. Rutenya adalah Jakarta-Dubai-Kairo. Ke Dubai saya sudah pernah, dan lagi bahasa yang dipakai bahasa inggris, sedikit-sedikit saya menguasai dan tak terlalu khawatir. Tetapi connecting flight dari Dubai ke Kairo diisi dengan sensasi gundah. Kegundahan pertama adalah saya belum pernah ke Kairo, dan saya tak tahu hendak kemana setiba disana sedangkan saya betul-betul hanya mengandalkan penjemput. Jika tak ada penjemput, maka saya harus kemana? Kegundahan berikutnya adalah saya tak bisa bahasa arab, meski bahasa arab pasaran. Itu yang membuat kegundahan menjadi lebih tajam.

Dalam pada itu, saya merasakan dua sensasi. Pertama gelisah, tetapi di dalam sini, pada relung yang lebih dalam lagi, saya menangkap ada sebuah ketenangan.

Setelah  lama mengikuti wejangan orang-orang arif, dan terbiasa me-niten (mencermati) gerak fikiran dan perasaan sendiri, ternyata kita menjadi lebih awas dan bisa memisahkan; antara gejolak perasaan yang dipicu oleh fikiran yang semrawut, dan sebuah rasa yang muncul sendiri tetapi kita yakin itu bukan implikasi dari fikiran-fikiran yang seliweran di benak kita. Dan saya menangkap rasa tenang yang lembut itu.

Sebuah perasaan tenang yang entah apa itu, baru kemudian terjawab setiba saya di bandara Kairo. Keluar dari pesawat dan memasuki bus shuttle, saya dikagetkan dengan sapaan seseorang. Ternyata dia adalah rekan yang dulu sekali pernah sama-sama mengikuti training di Kuala Lumpur. Sebuah rasa lega yang begitu lapang. Saya bertemu dengan rekan yang saya kenal.

Sewaktu itu, pemaknaan pada peristiwa itu juga tunggal saja. Tuhan menyelamatkan saya.

Beberapa hal yang saya catat dari kejadian tersebut, dan berulang kali kejadian serupa adalah bahwa benar Tuhan mengabulkan doa orang-orang yang sedang safar.

Saya jadi berfikir, ada apa dengan orang yang safar? Ternyata, orang yang safar adalah orang-orang yang dipaksa untuk lepas dari hal-hal yang menabir antara dia dan Tuhannya.

Dalam kondisi biasa, saat kita mengalami kesusahan, seringkali dalam do’a kita masih ada dualisme. Meminta tolong kepada Tuhan, tapi dalam waktu yang sama otak memutar analisa untuk mencari bantuan teman. Atau meminta tolong kepada Tuhan, tetapi dalam waktu yang sama masih mengandalkan kolega dan penguasaan kita akan medan. Sesuatu yang tipis, tetapi hal-hal yang tipis itu seringkali membuat kita tidak bisa total.

Dengan safar, kita tercerabut dari segala hal yang menabir. Keluarga tak ada, teman tak ada, dan medan tidak kita kuasai. Maka orang-orang yang safar, saya rasa doanya melewati jalan toll.

Tetapi itu dari sisi kita, dari pandangan orang yang butuh. Saya sering membayangkan hal ini dari sisi orang yang membantu.

Misalnya, seorang penduduk yang membantu saya dan rekan di pedalaman Banten waktu maghrib-maghrib itu. Saya, sampai sekarang, rasanya belum memiliki sikap penerimaan yang seluas itu. Jika ada orang yang butuh, saya lebih sering mengedepankan syakwasangka. Repotnya, kalau orang yang ternyata sedang butuh itu adalah seseorang yang sedang –dalam tanda kutip- berada dalam jalan toll kepada Tuhan.

Jika dari sisi yang dibantu, mendapatkan bantuan pada waktu-waktu genting itu adalah seperti “melihat Tuhan” dalam citraNya yang Maha Mengabulkan do’a; maka tidakkah menjadi sangat bisa kita mengerti hadits-hadits Rasulullah yang menceritakan bahwa di akhirat kelat Tuhan bertanya: kenapa Tuhan sakit tetapi tak dijenguk? Tuhan lapar tetapi tak ada yang memberi makan? Sang hamba-pun lantas bertanya bagaimana mungkin Tuhan semesta alam bisa sakit dan bisa lapar? Ternyata; Tuhan ada di sisi orang-orang yang sakit dan lapar itu.[1]

Dari sisi orang yang begitu butuh, maka kebutuhan (rasa fakir) itulah yang akan menyingkapkan tirai penghalang, sehingga pada pengabulan do’a mereka; mereka melihat kuasa Tuhannya.

Dari sisi orang yang membantu, maka bantuan yang berlandaskan penerimaan terhadap orang lain itulah yang menyingkapkan tirai, sehingga saat melihat yang dibantu; dia melihat kuasa Tuhannya.

Itulah barangkali maksud para arifin. Siapa sebenarnya yang membantu? Siapa sebenarnya yang dibantu?

Dan belajar mengenai penerimaan dan cara pandang semacam inilah, saya rasa PR saya masih sangat banyak…..banyak…..banyak…..banyak sekali.

Note:

[1] Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., beliau berkata, telah bersabda Rasulullah saw, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla kelak dihari kiamat akan berfirman, “Wahai anak cucu Adam, aku sakit dan kamu tidak menjengukku”, ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam”, Allah berfirman, “Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya hambaku yang bernama Fulan sakit, dan kamu tidak menjenguknya? Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya jika kamu menjenguknya, engkau akan mendapatiku didekatnya. Wahai anak cucu adam, aku meminta makanan kepadamu, namun kamu tidak memberiku makanan kepada-Ku”, ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami dapat memberi makan kepada-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya hambaku fulan meminta makanan, dan kemudian kalian tidak memberinya makanan? Tidakkah engkau tahu, seandainya engkau memberinya makanan, benar-benar akan kau dapati perbuatan itu di sisi-Ku. Wahai anak cucu adam, Aku meminta minum kepadamu, namun engkau tidak memberi-Ku minum” , ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami memberi minum kepada-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Seorang hambaku yang bernama fulan meminta minum kepadamu, namun tidak engkau beri minum, tidakkah engkau tahu, seandainya engkau memberi minum kepadanya, benar – benar akan kau dapati (pahala) amal itu di sisi-Ku” (Hadist diriwayatkan oleh Muslim.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s