MENYELAMI LAUTAN PENGAMPUNAN

SAMUDERASebuah cerita dari Lathaiful Minan, dimana seorang sufi besar yaitu Ibnu Athoillah (ulama mazhab Maliki) merasakan kenikmatan untuk selalu dekat pada Tuhan dan oleh karenanya dia ingin berhenti saja dari pekerjaannya dan menghabiskan waktu untuk berkhidmat pada gurunya dan belajar.

Tetapi oleh sang guru, beliau dilarang. “Bukan begitu caranya….”

Dikatakan dalam Lathaiful Minan, bahwa Ibnu Athoillah dipesani untuk tetap berada dalam kondisinya sekarang. Tetap bekerja, tetap mengajar. Apa-apa yang menjadi bagian Ibnu Athoillah dari sang guru, akan tetap sampai padanya.

Maksudnya adalah, beliau akan tetap bisa mendapatkan bagian dari mutiara ilmu hakikat, tanpa meninggalkan apa yang sedang beliau lakoni secara duniawi.

Sebuah cerita yang mirip, masih terngiang di dalam ingatan saya, sebuah cerita dari hadits dimana Hanzhalah seorang sahabat Rasulullah mendaku dirinya sebagai seorang munafik.[1] Pasalnya dia merasakan fluktuasi keimanan, suatu kali dia merasakan dirinya begitu khusyu’ saat bersama Rasulullah, tetapi di kali lainnya saat beliau berpisah dari Rasulullah dan berada bersama keluarga, beliau larut dalam kehidupannya lagi, sibuk bekerja dan mengurusi keluarga.

Cerita selanjutnya kita sudah hafal. Hanzhalah bertemu dengan Abu Bakar yang merasakan hal serupa, lalu kemudian bersama-sama menghadap kepada Rasulullah SAW.

Pesanan Rasulullah SAW kepada mereka adalah “sa’atan-sa’atan”, yang arti harfiahnya kurang lebih adalah sesa’at-sesa’at. Ada waktunya begini….dan ada waktunya begitu. Ada waktunya tenggelam dalam ukhrawi, tapi ada juga waktunya hidup dalam realita yang duniawi.

Seandainya mereka tetap berada dalam kondisi seperti mereka bertemu Rasulullah, dan stabil pada kondisi itu terus menerus, maka mereka akan disalami para malaikat. Alias tirai hijab terbuka, karena dengan begitu mereka sudah berada pada frekuensinya para malaikat.

Tetapi, nyatanya islam tidak mengenal kerahiban. Karena untuk segala sesuatunya ada porsi yang semestinya.

Cara pandang ini, juga kembali terngiang di benak saya saat Ust. Hussien Bin Abdul Latiff mengutip pesanan dari Syaikh Abdul Qadir Jailani, bahwa –dalam urusan spiritualitas islam ini- kita mestilah berpuas diri atas apa yang ada pada kita sekarang. Karena, bukan amalan secara lahiriah yang akan meningkatkan spiritualitas kita, tetapi sejatinya Allah sendiri yang menempatkan.

Tentu saya percaya rekan-rekan tidak akan begitu dangkal mengartikan hal itu dengan “kalau begitu tidak usah beramal”, tetapi kalau boleh saya mengelaborasikan apa yang akhirnya saya mengerti dari wejangan para arifin tersebut adalah bahwa cara Allah mengajarkan dan memahamkan kita adalah tidak melulu lewat jalan mulus peribadatan. Melainkan seringkali zig-zag dan naik turun. Bahkan pelajaran-pelajaran itu terkadang muncul lewat dosa, lewat kekhilafan, lewat keteledoran yang ditaubati.

Sudah sangat sering saya melihat orang yang berubah 180 derajat cara pandangnya terhadap hidup, dan setelah diteliti, ternyata justru dia mendapatkan banyak sekali hikmah hidup pada fase dimana dia berdosa dan keliru. Artinya, dalam tanda kutip, dosalah yang menyampaikan mereka pada Tuhan.

Gampangnya begini, nabi Adam atau Nabi Yunus sebagai contoh. Mereka pun mendapatkan pelajaran hidup pada saat mereka meniti pertaubatan. Pertaubatan, berarti ada kekeliruan yang terlanjur.

Dan dalam skala yang ringan, memang naik-turun itu tak mesti menjadi nadir dan benar-benar pembangkang, tetapi boleh jadi naik-turun itu adalah “sa’atan-sa’atan” seperti dalam kisah Handzalah dan Abu Bakar.

Menariknya adalah, orang yang dirahmati Tuhan, ternyata dalam naik-turunnya pun ada pelajaran yang bisa dipetik.

Saya teringat pada sebuah ceramah yang saya dengar, dari K.H. Imron Djamil Tambak Beras Jombang. Dikatakan oleh beliau bahwa ciri seorang ahli ibadah yang dirahmati, adalah dalam beribadah dia tidak mendaku ibadah itu sebagai amalnya, melainkan menyadari ibadah itu sebagai rahmatNya. Ibadah, dianggap sebagai bentuk karunia, sehingga tidak ada pengakuan yang sombong disana.

Ciri kedua, adalah saat seseorang terlanjur khilaf dan berdosa, maka dosanya justru menghantarkan dia mendekat pada Allah lewat jalur pertaubatan.

Jadi cirinya dua itu. Jika dia baik, dia tidak menganggap kebaikan itu karena dirinya pribadi. Sebagaimana kalau dia salah dan khilaf, dia tidak putus asa terhadap rahmat dan malah menjadi jalan pulang kepada Tuhan lewat jalur taubat.

Rahasianya disini. Seringkali dengan terjatuh pada kekhilafan, seseorang malah akan memahami realita dari la hawla wa la quwwata illa billah. Akan sulit dia memahami bahwa segalanya adalah kuasa Allah. Tanpa mengalami realita khilaf dan dosa yang menggagalkan dirinya menjadi orang tanpa cela.

Kalau dia paham, maka justru pada jenak kekeliruan itulah dia mendapatkan pelajaran. Dan menjadi sadar bahwa tanpa pertolongan Tuhan, maka dia tidak bisa meniti jalan kebaikan.

Atau, dengan kekeliruan itulah dia menemukan kekerdilan diri, dan akhirnya memandang Tuhan sebagai Pemilik lautan ampunan.

Tetapi bagi yang tidak paham, maka saat beribadah dia akan menjadi jumawa atas amal yang dia daku sendiri. Saat dia keliru dan khilaf maka dia akan frustasi karena gagal menjadi pribadi yang tanpa cela. Pusat tata suryanya adalah dirinya sendiri. Beribadah menghadap kepada dirinya sendiri. Dan dalam keliru dia juga memaki dirinya sendiri.

Pada akhirnya, yang penting ternyata adalah bagaimana agar hikmah tetap merasuk, dalam kondisi yang bagaimanapun saja. Dan untuk itu kita harus belajar “sa’atan-sa’atan”. Menghargai setiap fase hidup sebagai pelajaran.

Memandang kebaikan dan peribadatan adalah sesuatu yang given alias anugerah, sehingga saat berkebaikan kita merasa bersyukur untuk telah tertakdir menjadi baik, dan saat grafik kebaikan sedang menurun kita menjadi semakin meminta tolong pada Tuhan untuk dimampukan kembali baik. Bukan malah sekuat tenaga berkebaikan tetapi hanya melihat diri sendiri, tanpa menyadari bahwa kebaikan itu adalah apa-apa yang kita dimampukan untuk melakukannya.

Apa ejawantah dari sifat pengampun Tuhan? Yaitu kenyataan adanya seorang pendosa, yang melihat-Nya dengan penuh harapan akan lautan pengampunan. Begitulah….

Note:

[1] Hanzhalah Al-Asadi r.a. , salah seorang shahabat yang termasuk juru tulis Rasulullah SAW bertutur: “Suatu ketika, aku berjumpa dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. “Ada apa denganmu, wahai Hanzhalah?” tanyanya (dalam hadits riwayat Turmidzi disebutkan bahwa Hanzhalah dalam keadaan menangis). “Hanzhalah ini telah berbuat nifaq”, jawabku. “Subhanallah, apa yang engkau ucapkan?”, tanya Abu Bakar. “Bila kita berada di sisi Rasulullah SAW, beliau mengingatkan kita tentang neraka dan surga hingga seakan-akan kita bisa melihatnya dengan mata kepala kita. Namun bila kita keluar meninggalkan majelis Rasulullah SAW, istri, anak dan harta kita (sawah ladang ataupun pekerjaan) menyibukkan kita (karena kita harus memperbaiki penghidupan/ mata pencaharian kita dan mengurusi mereka), hingga kita banyak lupa/ lalai”, kataku. “Demi Allah, kami juga menjumpai yang semisal itu”, Abu Bakar menanggapi perasaan Hanzhalah (dalam riwayat lain, Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. berkata, “Aku juga melakukan seperti apa yang engkau sebutkan”)

Aku pun pergi bersama Abu Bakar menemui Rasulullah SAW hingga kami dapat masuk ke tempat beliau. “Hanzhalah ini telah berbuat nifaq, wahai Rasulullah”, kataku. “Apa yang engkau katakan? Mengapa engkau bicara seperti itu?”, tanya beliau. “Wahai Rasulullah, bila kami berada di sisimu, engkau mengingatkan kami tentang neraka dan surga hingga seakan-akan kami dapat melihatnya dengan mata kepala kami. Namun bila kami keluar meninggalkan majelismu, istri, anak dan harta kami melalaikan kami, hingga kami banyak lupa/ lalai (seakan-akan kami belum pernah mendengar sesuatu pun darimu)”, jawabku. Mendengar penuturan yang demikian itu, Rasulullah SAW bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tetap berada dalam perasaan sebagaimana yang kalian rasakan ketika berada di sisiku dan selalu ingat demikian, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian (hingga mereka mengucapkan salam kepada kalian) di atas tempat tidur kalian dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi wahai Hanzhalah, ada saatnya begini dan ada saatnya begitu”. Rasulullah SAW mengucapkannya tiga kali. (HR. Muslim)

image source

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s