MEMBUANG SEMBILU

bleeding palmPagi tadi, saat saya hendak memutari jalan di dekat perempatan fatmawati, laju mobil saya tertahan oleh sebuah grand livina yang berbelok tajam ke kanan. Antrian mobil pada jalan memutar itu memang luar biasa padat seperti lumrahnya pagi-pagi jakarta yang biasa. Tetapi, hal yang tak biasa pagi itu adalah sinyal tangan dari penumpang livina itu.

Sudah menjadi semacam kesepakatan umum, jika seseorang ingin berbelok secara drastis ke kanan atau ke kiri, maka biasanya tangan digunakan sebagai kode tambahan. Umpama sebuah motor ingin berbelok tajam ke kiri, maka selain dari sen kiri dinyalakan, kita sering melihat sang pengendara motor merentangkan tangannya ke kiri dan memberikan gerakan  pelan mengibas. Tanpa perlu kamus, terjemahnya saya rasa jelas, “permisi pak….saya mau belok ke kiri segera”.

Dan isyarat itu yang dilakukan penumpang mobil livina itu. Tangannya keluar dari jendela kanan, tetapi alih-alih memberi isyarat mengibas pelan dengan terjemah tunggal “Permisi pak, saya mau lewat”, dia malah menggerakkan tangannya dengan gesture yang susah untuk saya tidak tafsirkan sebagai “MINGGIR….MINGGIR!!!” itu bukan isyarat permisi, melainkan saya baca sebagai isyarat mengusir.

Saya memelankan kendaraan. Dan mengamati mobil itu memotong lajur semakin ke kanan dan melintasi mobil-mobil lainnya dengan isyarat yang sama. Isyarat mengusir.

Tetapi sepanjang perjalanan, saya mengamati mobil itu dari kejauhan dan tidak menangkap adanya pergerakan yang terburu-buru. Artinya, barangkali mobil itu memang hendak memutar, tetapi tidak dalam situasi emergency, melainkan sang penumpang di dalam mobil itulah yang secara keliru telah memberikan sinyal yang tak tepat.

Boleh jadi dia tidak memahami itu, sehingga saya merasakan sinyal itu sebagai offensive, dan mungkin beberapa pengendara mobil di sebrang saya merasakan hal yang sama. Tetapi apakah benar-benar pengendara itu offensive? Barangkali tidak…. Dan barangkali mungkin dia tak pernah benar-benar tahu bahwa dia sudah mengirim sinyal yang bisa ditafsirkan secara keliru.

Berkaitan dengan hal ini. Saya jadi teringat dulu saya pernah mendengar penjelasan mengenai surat An-Nasr.

Rasulullah menaklukkan Makkah dengan sedikit sekali darah tertumpah (pada Fathu Makkah). Kontras sekali dengan saya bayangkan moment dimana Jepang takluk pada sekutu harus dengan hancurnya Hiroshima dan Nagasaki oleh bom atom, tetapi potret penaklukkan Makkah sepanjang yang saya baca di Shiroh berjalan dengan begitu halus. Dan Rasulullah, sang pemimpin besar itu menaiki untanya seraya memasuki Makkah dengan kepala menunduk dan terus menerus beristighfar.

An-Nasr, seperti yang bisa kita lihat pada kitab-kitab tafsir, turun berkenaan dengan hal itu. [1] Penaklukan Makkah.

Pertanyaannya kenapa penaklukkan kota tidak lantas dengan gegap gempita, melainkan tasbih, pujian, dan disuruh memohon ampun? Salah satunya barangkali karena itu tadi, terkadang ada orang-orang yang tersakiti oleh kita, meski kita tidak berniat menyakiti mereka. Tetapi itu terjadi begitu saja, karena cara mereka memandang.

Saya teringat dengan sebuah perumpamaan. Jika telapak tangan kita tertelusup duri sembilu, selama duri itu belum kita cabut; ada orang yang hendak menjabat tangan kita pun akan terasa seperti menyakiti.

Dan dalam literatur orang-orang arif, saya akhirnya mengerti bahwa salah satu cara menghindarkan diri dari rasa sakit atau tersakiti oleh orang lain adalah dengan merubah paradigma. Paradigma yang keliru, adalah semisal duri sembilu yang menancap. Dia akan merubah cara pandang kita kepada orang-orang yang bahkan berniat baik terhadap kita.

Untuk itu paradigma yang benar harus kita miliki. Dan dalam literatur para arifin, paradigma paling mendasar itu, paling fundamen itu adalah pengenalan terhadap Tuhan, dan pengenalan akan kaitannya antara Tuhan dan alam, dan bagaimana Tuhan mengatur alam semesta.

Bahwa semua yang terjadi tidak akan lepas dari takdir, dan kita juga bisa memandang bahwa segala yang terjadi sebenarnya cara DIA bercerita tentang diriNYA sendiri dalam berbagai citra sifat-sifat. Pagelaran sifat-sifat, alias pagelaran asma-asma. Jika konteks hidup sudah dipandang sebagai tentang Tuhan bercerita, maka konteks diri kita sendiri lama-lama hilang. Tak terasa, diri akan semakin sulit tersakiti. Karena dirinya sendiri hilang dari konteks cerita, dalam tanda kutip.

Aku sebagaimana prasangka hambaKu, kata sebuah hadits. Belakangan saya baru mengerti bahwa maksudnya bukanlah Tuhan disetir oleh prasangka kita, melainkan, prasangka atau paradigma kita dalam memandang hiduplah yang menentukan sejauh mana tirai hikmah dibukakan pada kita.

Itu dari sisi kita memandang kehidupan. Tetapi, tak ayal, meskipun kita sudah memandang kehidupan dengan cara seperti itu, kita tetap tidak akan bisa membuat semua orang memandang hidup sebagaimana kita memandang hidup. Artinya, akan selalu ada potensi bahwa orang lain merasa tersakiti –karena cara mereka memandang- padahal kita sendiri tidak pernah ada niat untuk menyakiti.

Lewat mereka, kita belajar penerimaan. Dan salah satu bentuk penerimaan itu adalah mengakui bahwa potensi keliru masih boleh jadi ada pada kita. Dan dalam surat An Nashr itu, saya mengamati cara memandang kehidupan satu lagi, yang diajarkan pada kita oleh Nabi. Yaitu penerimaan akan segala pernik kehidupan lewat istighfar.

Karena kemenangan boleh jadi ada pada kita, tetapi kita tetap memandang-NYA lewat pintu permintaan ampunan, karena dalam kemenangan kita, ada orang-orang yang merasa kalah.

Note:

[1] “1. apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, 2. dan kamu Lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, 3. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.”(surat an-Nashr: 1-3)

Image Source

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s