HIDUP DI DALAM ASUHANNYA

Baby-Birds-Dinner-Time-3Suatu hari, ki Ageng Suryo Mentaram, putra kelima dari Sri Sultan Hamengkubuwono VII yang dikenal karena meninggalkan kedudukan Kraton untuk memilih hidup menjadi petani itu; pendopo rumahnya roboh.

Sebelumnya, pendopo itu memang sudah miring dan doyong ke arah timur. Untuk mencegah pendopo itu doyong maka pendopo itupun ditopang dengan bambu dari arah timur. Tak urung pendopo itu kemudian doyong ke barat, maka ditopang pula dari arah barat. Begitu seterusnya dari arah utara dan selatan ditopang juga. Hingga kemudian tak lama pendopo itu roboh.

Anehnya setelah pendopo itu roboh, beliau malah merasakan kebahagiaan. Karena akhirnya menyadari bahwa pendopo itu hanyalah barang yang kelebihan. Dan sekarang malah beliau merasa nyaman untuk tinggal di rumah belakang, tanpa perlu pusing memikirkan menopang pendopo. Dan satu lagi…. Beliau malah merasa kaya, karena memiliki banyak stock kayu bakar untuk beberapa bulan kedepan, dari pendopo yang roboh itu.

Mendulang kebahagiaan, dari situasi yang lumrahnya orang merasakan kesedihan, adalah sebuah seni. Dalam hal ini, ternyata seni ini dimulai dari paradigma. Cara memandang.

Salah satu cara memandang, adalah cara memandang seperti yang diajukan Suryo Mentaram. Melihat sesuatu secara objektif, dan melepaskan diri dari kemelekatan terhadap benda. Dari sana, semuanya akan kelak terlihat netral saja.

Memandang segala sesuatu dengan objektif, serta belajar melepaskan diri dari kemelekatan terhadap benda-benda, itu salah satu cara pandang. Dengan hilangnya kemelekatan, dan kemampuan diri untuk selalu objektif, maka diri akan terbebas dari rasa sakit yang tak perlu.

Ada cara pandang lainnya, yaitu menyadari keterkaitan bahwa segala sesuatu yang tergulir, adalah digoreskan oleh Tuhan untuk sebuah hikmah di masa depan. Dan Tuhan tidak bermain dadu, kata einstein. Berarti segala sesuatu terjadi dan pasti sepaket dengan hikmahnya.

Yusuf a.s mengalami kedengkian saudara-saudaranya dan dicemplungkan ke dalam sumur tua. Dipungut menjadi budak. Kemudian difitnah dan masuk penjara. Dari penjara kemudian berujung pada diangkatnya beliau menjadi menteri keuangan. sengsara membawa nikmat.

Sebuah peribahasa yang sangat masyhur, bahwa untuk menjadi emas murni harus dibakar, dilebur, ditempa.

Intan tak menyeruak tanpa tekanan tinggi dan panas menyengat.

Dan yang semisalnya….itu juga cara pandang. Pada sesuatu yang terlihat buruk, boleh jadi ada kebaikan yang kita tak tahu.

Di kemudiannya lagi, ada juga cara pandang lainnya. Yaitu menyadari bahwa semua yang terjadi, selain telah tertulis dan berhikmah, adalah sebenarnya caraNya untuk menceritakan diriNya sendiri.

Sebuah kisah yang tak pernah lepas dari ingatan saya adalah fragmen dimana Rasulullah baru ditinggal wafat Khadijah dan juga pamannya, lalu beliau terasing di kampungnya sendiri dan mencari peruntungan untuk mengajarkan islam di kota sebrang di Thaif. Dalam kesendirian dan harapan menemukan sahabat dan orang-orang yang akan menerima itu, malah beliau dilempari batu sampai berdarah-darah dan beliau berlari-lari sambil diteriaki sebagai orang gila.

Yang membuat saya sangat teringat fragmen itu adalah doa beliau[1] yang secara bebas intinya adalah beliau menerima  dengan apa saja yang hendak diperbuat Tuhan, asalkan Tuhan tidak marah padanya. Asalkan Tuhan ridho.

Bukan tentang penduduk Thaif, bukan tentang kejahatan orang-orang, tetapi tentang beliau ridho diperjalankan seperti apapun saja, asalkan bertemu dengan keridhoan Tuhan.

Saya kembali teringat pada hal ini, dan mengingat ulang wejangan salah seorang guru, bahwa cara untuk terhindar dari segala “sakit” adalah dengan menjadi “tiada”. “Mensirnakan” diri sendiri, dan memandang hidup dalam konteks Tuhan bercerita tentang diriNya sendiri, lewat segala drama dalam hidup ini. Bukan tentang kita.

Orang-orang yang memandang dengan cara seperti ini, menjadi paham benar bahwa kita semua sejatinya hidup dalam asuhan-Nya.

Sebagaimana DIA mengurus memberi makan anak-anak burung yang sayapnya masih memerah jarum, sebegitu pula DIA mengurus hidup kita semuanya.

Akan tetapi, tanpa membenarkan paradigma, kita akan keliru memprasangkai Tuhan.

Untuk itu kita perlu belajar kembali menyadari bahwa kita hidup didalam penjagaan-Nya.

Macam-macam cara orang untuk mempertahankan kesadaran bahwa mereka hidup dalam naungan rahmatNya. Ada yang melalui pendekatan ilmu jiwa seperti pertama tadi, ada yang memandang pada kebaikan-kebaikan yang mungkin terjadi pada sesuatu yang terzahir buruk, dan ada juga pada akhirnya menghilangkan konteks diri mereka sendiri dari pagelaran, dan menonton dramaNya Tuhan.

Tetapi ternyata ada satu cara simple yang baru sekarang saya sadar padahal sejak kecil sudah kita terapkan. Yaitu dengan “memasuki” basmalah.

Bismillahirrahmanirrahiim. Awali hari, mulailah hari dengan menyadari bahwa kita masuk ke dalam jaminan asuhanNya. Dalam jaminan Rahmaan dan Rahiim-Nya.

Dengan menyadari betul hal ini, maka kita akan mengerti bahwa Tuhan yang menjamin kita itu adalah Tuhan yang juga mengajari para kafir Quraisy untuk mengucap basmalah, karena mereka keliru memaknai sifat welas-asih Tuhan, dan memandang Tuhan melulu perkara siksa dan siksa.

Yang menjamin hidup kita itu, adalah juga Tuhan yang sama yang menyelamatkan yusuf dari sumur dan dari penjara.

Adalah juga Tuhan yang sama yang menyelamatkan Musa dan Yunus

Juga Tuhan yang sama yang menceritakan diriNya lewat drama pedih dan pilu, atau lewat drama suka dan gempita orang-orang sepanjang sejarah manusia.

Kepada DIA-lah kita pasrahkan hidup, dan memasuki cerita-Nya dalam balutan Rahmaan dan Rahiim-Nya.

Memasuki hidup dengan cara seperti ini, membuat kita “memandangNya” pada cerita kehidupan kita. Masalah hidup boleh jadi belum terurai, tetapi hikmah dan kebijakan akan menggelontor dan gampang untuk terbaca.

Orang arif mengatakan, itulah sirr-nya basmalah. Rahasianya basmalah.

note:

[1] Saya baca, do’a beliau ini sebenarnya tak tertulis dalam kitab hadits, menurut para alim. Tetapi tercatat masyhur dalam kitab-kitab shiroh. Wallahu’alam.

Image source

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s