KAITAN MENDENGAR DAN SPIRITUALITAS

listenBanyak orang yang diberi talenta berbicara. Pembicara hebat, orator ulung, guru-guru yang menggugah dan menyejarah, kita hapal nama-nama mereka. Sampai kita kadang-kadang lupa bahwa ada juga orang yang diberi talenta “mendengar”.

Sebuah quote yang sangat terkenal dari Stephen Covey, “Most people do not listen with the intent to understand; they listen with the intent to reply.” Kebanyakan orang tidak mendengar dengan niatan untuk memahami apa yang disampaikan lawan bicara; melainkan mereka mendengar dengan niatan untuk balik berbicara.

Mendengar potongan kutipan Stephen Covey ini saya kemudian teringat bahwa kemampuan “mendengar” ini adalah salah satu PR besar saya.

Saya teringat, sebuah hadits dimana setiap orang yang berbicara pada Rasulullah SAW akan merasa bahwa mereka adalah orang yang paling diperhatikan oleh Rasulullah SAW, tersebab talenta “mendengar” yang ada pada beliau. Beliau benar-benar mendengar.

Saya teringat dengan seorang rekan SMA saya yang menjadi magnet dimana-mana. Setiap yang bersama dia akan kesulitan mengalahkan karismanya. Dulu saya mengira karena dia seorang pembicara nan ulung. Belakangan saya baru sadar bahwa dia adalah seorang “pendengar” nan ulung.

Masih dari Stephen Covey, sebuah penelitian mengatakan bahwa hanya 18% saja dari responden yang ingin bercerita pada seorang pembicara yang ulung, 82% sisanya memilih untuk berbicara pada seseorang yang memiliki talenta mendengar.

Betapa kemampuan mendengar ini salah satu seni yang harus dikuasai juga. Bukan untuk menjadi magnet bagi khalayak, tetapi bagi tujuan yang ternyata bisa lebih “spiritual”.

Tetapi sekali lagi saya hendak mengutip cerita, kali ini sewaktu saya masih kuliah dan bersama rombongan rekan-rekan saya yang lain kami pergi ke hulu Sungai Mahakam di Kalimantan mengikuti sebuah proyek kecil-kecilan eksplorasi batubara.

Dan objek “penelitian” saya dan seorang rekan waktu itu, selain dari batubara, adalah seorang rekan lainnya yang kami candai sebagai seorang dengan “pelet” kharisma….hahaha… apa pasal? Pasalnya rekan saya ini memiliki begitu banyak teman dari berbagai kalangan. Dan bahkan hanya dalam hitungan hari dia menjadi dekat dengan orang-orang lokal dari dayak dan kutai, dan menjadi dekat pula dengan orang-orang pemboran dari Sulawesi.

Setiap hari, saya dan rekan saya yang lain mengamati sang kharismatik ini, dan tak kami temukan hal-hal aneh semisal keramahan yang artifisial. Semisal kesupelan bergaul yang begini-begitu. Dan kami menghitung sapaan yang diberikannya pada orang-orang, dan segala tindak-tanduk sosialnya, tak kami temukan jawabannya kenapa dia menjadi magnet bagi orang-orang.

Jawabannya baru saya temukan sekarang. Bahwa rekan saya ini memiliki talenta “mendengar”.

Nah…tak ingin membahas mengenai teori mendengar atau teori bicara, saya ingin menceritakan bahwa sekarang saya mengerti kaitan antara “mendengar” dan spiritualitas.

Hikmah jarang kita dapatkan dalam keseharian kita, karena kita tidak mengasah talenta mendengar.

Dalam keseharian dan dalam ibadah kita, saya perhatikan diri saya sendiri, ternyata acap kali dipenuhi dengan keinginan bicara, tanpa ada proporsi mendengar. Padahal, untuk mendapatkan petunjuk dan hikmah haruslah “mendengar”.

Pada “mendengar” ada porsi adab.

Jika “berbicara” memenuhi hak-hak-nya ilmu untuk tidak disembunyikan dan disampaikan pada orang lain agar penuh kemanfaatan. Maka pada “mendengar” kita memenuhi adabnya dalam konteks pergaulan sesama makhluq, dan pada gilirannya merendah kepada Tuhan. Karena “mendengar” berarti mengakui bahwa hikmah dari luar diri memiliki kesempatan yang sangat banyak untuk mengalir kepada kita.

Ambillah beberapa contoh sikap “mendengar” dalam peribadatan. Di dalam sholat ada tuma’ninah. Diam sejenak pada setiap gerakan sholat. Sebuah fase kontemplatif.

Selama ini saya memenuhi fase kontemplatif itu dengan sibuk pada bacaannya, tanpa menyadari bahwa fase kontemplatif itu bisa pula diisi dengan “sibuk” pada sikapnya. Misalnya sujud, maka fase tuma’ninah yang kontemplatif itu bisa dipenuhi dengan sikap merendah. Dalam merendah memang kita bisa berdo’a, tetapi di ujung do’a kita akan “mendengar”.  Disitu kita tidak sibuk pada diri sendiri, melainkan menjadi receiver, menjadi cangkir yang kosong.

Pada Ramadhan ada I’tikaf….berdiam…. pada haji ada wukuf….berdiam. semuanya fase kontemplatif.

Kita sudah pandai mengisi fase kontemplatif dengan “bicara”, tetapi kita seringkali gagal mengisi fase kontemplatif itu dengan adab “mendengar”. Bagaimana mungkin meminta petunjuk tetapi tidak ada adab “mendengar”?

Dan masih berkaitan dengan adab mendengar inilah, saya baru mengetahui sebuah kebijakan klasik yang rada lucu tetapi meaningfull.

Kenapa kita tidak selalu berdo’a pada Tuhan untuk semua lini kehidupan kita? Kenapa kita tidak berdo’a pada Tuhan meminta pilihan apakah berbuka pakai pisang goreng atau bakwan? Kenapa kita tidak berdo’a pada Tuhan meminta pilihan apakah pakai baju koko hijau atau krem untuk sholat tarawih? Kenapa tidak berdo’a untuk semua detail hidup?

Jawaban pertama barangkali memang karena tidak praktis. Hal semacam itu, dalam tanda kutip, masa tak bisa difikirkan sendiri? Masa “ngerepoti” Tuhan untuk urusan menu berbuka?

Tetapi petuah seorang guru barulah membuat saya paham. Bahwa defaultnya seorang muslim itu adalah memenuhi hatinya dengan ingatan pada Allah. Sebisa-bisanya hatinya penuh dengan ingatan pada Allah.

Jika dalam kehidupannya, kemudian ada hal-hal berat yang mengganggu ingatannya pada Allah. Semisal guncangan hidup, ujian dan sebagainya, maka salah satu cara agar hatinya tidak dipenuhi oleh hal-hal itu; adalah dengan berdo’a. Maka untuk hal-hal yang semacam itulah dia berdo’a. Pada berdo’a itu, dia menunaikan sesi “bicara”.

Selepas sesi “bicara” itu, masalah sudah tidak lagi memenuhi hatinya karena dipasrahkan kepada Tuhan, kini hatinya kembali dipenuhi pada ingatan kepada Allah. Dalam situasi seperti itulah dia melanjutkan hidup. Dalam hati yang penuh dengan ingatan kepada Allah. Dalam adab diri yang siap “mendengar” pelajaran dari keseluruhan hidup.

Dengan adab mendengar itulah maka hikmah akan terdengar (atau terbaca).

Baru saya mengerti, selama ini do’a saya hanya penuh dengan bicara, tetapi tidak ada adab “mendengar” di dalamnya.

Maka “mendengar” perlu dipelajari. Agar hikmah sampai pada kita. “mendengar” yang tanpa suara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s