KACAMATA UNTUK DUNIA

glassSaya kenal dengan beberapa orang yang sangat sering membuat saya tertawa karena menyadari bahwa cara mereka memandang hidup asyik juga rupanya. Mengingati mereka, saya jadi teringat seorang tokoh di film 3 idiots. Cara pandangnya selalu tidak mainstream. Saat orang harusnya kesal karena antrian toilet untuk mandi, sang tokoh malah asyik menikmati mandi dari keran air di taman. Pokoknya asyik saja cara pandangnya.

Mengenai cara pandang ini memang krusial sekali. Sebuah kejadian hidup yang serupa, bisa dimaknai berbeda oleh dua orang tergantung cara pandangnya.

Contoh sederhana saja, misalnya anak saya mengacak-acak rumah. Pada persepsi saya, anak saya mengacak-acak rumah dengan sapu ijuk itu diterjemahkan sebagai bandel. Tetapi, bagi seseorang dengan cara pandang yang lebih “tinggi” dia tahu bahwa anak yang mengacak-acak rumah dengan sapu itu sebenarnya memiliki itikad untuk membantu membereskan rumah, tetapi karena sang anak masih kecil dia tidak tahu caranya, maka dia main sapu malah membuat berantakan. Orang yang tak tahu; maka marah kepada anak. Orang yang tahu; maka memuji anaknya.

Atau juga misalnya kalau anak saya lagi nangis-nangis ga karuan, saya akan begitu kesal. Tetapi, pada pandangan yang lebih “tinggi” ada orang tua yang tahu bahwa anak balita memang biasa suka tiba-tiba menangis dan marah-marah, secara psikologi itu disebut “tantrum”, maka orang tua yang mengetahui fakta itu akan tidak marah. Minimal marahnya tidak selevel orang yang tidak paham.

Dalam skala yang lebih umum lagi, akhirnya tahulah kita bahwa perasaan kita, respon kita terhadap hidup sangat ditentukan oleh cara pandang. Dan cara pandang kita terhadap hidup ini adalah ditentukan oleh kumpulan pengalaman hidup kita, ditentukan oleh ilmu dan nilai-nilai yang kita mengerti. Pantaslah belajar itu wajib bagi kita, karena “belajar” itu menentukan cara pandang, dan cara pandang menentukan perasaan kita, dan respon kita terhadap hidup.

Diri kita beserta sepaket pengalaman hidup dan nilai-nilai yang kita gunakan untuk memandang dunia ini; dalam literatur kebijaksanaan jawa dikenal dengan istilah Kramadangsa. Dalam literatur dunia psikologi disebut dengan EGO. Sederhananya ya itu tadi, kumpulan pengalaman hidup dan nilai-nilai yang kita jadikan kacamata memaknai apapun dalam kehidupan kita.

Celakanya, ternyata seringkali hal-hal dalam hidup ini sebenarnya baik, tetapi kacamata kita sendirilah yang membuat sesuatu itu menjadi tereduksi dalam makna yang negatif dan sempit.

Dalam urutan logika seperti itu, saya rasa kita akan sepakat bahwa hal yang paling penting untuk kita perbaiki pertama kali adalah cara pandang kita. Sebelum kita berbicara bagaimana cara kita merespon hidup dan sebelum bicara bagaimana cara mengelola perasaan, tentu lebih utama kita membenarkan cara pandang dulu. Karena muasal segalanya dari sana.

Tetapi, cara pandang yang bagaimana yang harus kita miliki? Ilmu yang seperti apa yang harus kita miliki?

Jika untuk benar memaknai hidup kita harus menguasai semua ilmu, maka alangkah banyaknya yang harus kita kuasai?

Coba kita hitung…untuk tidak marah-marah kepada anak; kita harus menguasai cara pandang psikologi anak-anak.

Untuk tak marah-marah kepada hujan, kita harus mengerti tentang pengetahuan alam.

Untuk tak marah-marah kepada situasi pekerjaan kita harus tahu ilmu mengendalikan bawahan dan ilmu menghadapi atasan.

Untuk tak menyalah pahami orang lain dalam interaksi sosial, kita harus memahami budaya.

Dan seterusnya….dan seterusnya…..Maka alangkah banyaknya yang harus kita mengerti dalam hidup ini? Kalau begitu kapan bahagianya? Keburu salah paham terus.

Tetapi, pada akhirnya saya tersadarkan, bahwa awal dari kesemua itu adalah pengertian tentang Tuhan. Karena, sebutlah segala ilmu apapun saja, pasti akan bermuara pada kesimpulan itu; disusunkan semuanya itu oleh Tuhan. Entah itu fenomena alam semesta yang dibaca lewat sains, ataupun juga fenomena perhubungan antar manusia dalam ilmu sosial. Jika kita memiliki kepahaman dalam hal yang paling fundamen ini, tentang Tuhan dan kaitannya dengan alam, ini sudah cukup menjadi kacamata kita untuk membaca hikmah dalam kehidupan.

Setidaknya ada beberapa approach dalam kaitannya memandang hubungan antara Tuhan dan alam semesta ini. Salah satu hubungan itu adalah Dzat dan sifat, tetapi saya tak memiliki cukup otoritas untuk membahas yang satu itu. Saya akan membahas kaitan antara af’al, sifat, dan asma’ saja.

Karena Tuhan ingin dikenali, maka DIA menjadikan makhluq dan menggoreskan takdirNya. Setiap potongan takdir pasti ada maknanya. Dan makna-makna itu dirangkum dalam sifat-sifatNya. Setiap sifat dirangkum dalam identifikasi sebuah nama yang kita kenal dengan asmaul Husna.

Jadi setiap kejadian hidup (yang digoreskan oleh Tuhan (af’al)), sebenarnya tidak pernah random. Setiap kejadian hidup mestilah ejawantah dari makna-makna itu. Hidup-Mati, Baik-buruk, lapang-sempit, miskin-kaya, semua cerita tentang DIA. Maka siapa saja yang memandang hidup dalam kaitannya dengan ejawantah cerita tentang DIA akan merespon hidup dengan cara yang berbeda.

Disinilah ternyata saya baru mengerti kekeliruan kita. Karena kebanyakan kita, terutama saya sendiri, tidak –atau telat- memahami cara pandang yang paling fundamental ini. Akibatnya, kita bertindak dan merespon hidup dalam sikap yang banyak kelirunya.

Kita mempelajari banyak hal, semisal apakah sebaiknya pendekatan keislaman itu secara kultural atau lewat jalur akademik? Apakah sebaiknya demokrasi atau di luar sistem demokrasi? Apakah sebaiknya memperjuangkan negara-bangsa atau imperium besar raksasa? Dan segala macam hal-hal lainnya, tetapi kita lupa mengerti sebuah nilai fundamental itu tadi. Bahwa segala hal dalam hidup ini sebenarnya cara Tuhan mengejawantahkan cerita tentang DIA. Awalauddin makrifatullah.

Kalau kita sudah mengerti tentang hal itu, maka kita akan terhindar dari perdebatan-perdebatan kecil yang tak perlu.

Karena, akhirnya kita sadar. Sedemikian banyak ilmu-ilmu cabang dan dialektika kita selama ini, adalah ternyata dalam ranah “cara” untuk “praktek berlomba-lomba dalam kebaikan”. Dan berlomba-lomba dalam kebaikan itu, boleh berbagai-bagai teknik dan dialektika. Silakan berdebat larat. Tapi kacamata yang kita pakai untuk membaca hikmah, mestilah satu itu saja. Bahwa keramaian yang berbagai-bagai ini adalah cara DIA bercerita tentang DIA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s