TUJUAN BESAR KEHIDUPAN

earthSuatu hari, anak saya main di rumah dengan teman-temannya satu komplek, dan membawa aneka macam dedaunan, tanah, dan batu-batu. Rumah jadi kotor sekali tak karuan. Dan tentunya seperti khas-nya anak-anak, selesai main pastilah tidak dibereskan.

Setelah berapa kali kejadian begitu, akhirnya saya dan istri katakan pada anak saya kalau mau main dengan teman-temannya di luar saja, supaya yang berantakan di teras depan saja tidak sampai ke dalam rumah. Tetapi namanya anak-anak, pastilah tetap dilanggar, hahaha….

Tetapi intinya bukan itu, intinya saya ingin cerita mengenai “motif”. Mengenai alasan dari sebuah pelarangan. Dan apa bedanya dengan “hikmah”. Ada motif, ada hikmah, dan dua hal itu berbeda.

Alasan saya menyuruh anak-anak main di luar adalah agar tidak memberantaki rumah saat mereka main masak-masakan.

Tetapi dari sisi sang anak, dia bisa membaca faedah-faedah dari pelarangan itu. Nah…faedah-faedah yang dibaca sang anak, setelah pelarangan itu terjadi disebut sebagai hikmah.  Misalnya….kebetulan saat main di luar, anak saya menjadi kenal dengan teman-teman yang lain lagi, eh….temannya malah tambah banyak. Itu hikmah.

Tapi adakah hikmah yang dibaca anak saya itu adalah sejatinya motif saya dalam melarangnya? bukan, alasan saya sebenarnya bukan untuk itu. Alasan saya adalah agar rumah tidak diberantaki.

Jadi ada motif sebenarnya dari sebuah perintah atau larangan, ada hikmah yang dibaca atas penerapan perintah atau larangan itu. Alasan atau motif sebenarnya, bisa jadi diketahui, bisa jadi juga tidak diketahui.

Saya teringat kembali dengan hal ini, karena akhir-akhir ini saya terfikirkan bahwa logika “mengenali motif / alasan sebenarnya” dalam ilustrasi tentang motif pelarangan agar anak saya tak main masak-masakan di dalam rumah tadi, sebenarnya mirip dengan logika mengenali “alasan” penerapan suatu hukum dalam dunia premis-premis fikih islam (‘illat), dan bedanya dengan “hikmah”. Dan disinilah saya baru sadar bahwa hal ini ternyata sangat spiritual.

Kembali ke contoh sederhana tadi. Alasan sebenarnya saya melarang anak main di dalam rumah adalah agar rumah tidak diberantaki dengan masak-masakan anak saya. Tetapi anak saya bisa melihatnya dari sisi lain, dari sisi faedah-faedah pelarangan itu. Atau disebut “hikmah”. Yang menarik adalah, baik hikmah itu “kelihatan” ataupun tidak kelihatan, hal itu tidak mengugurkan pelarangan. Karena pelarangan itu bukan disebabkan oleh hikmah, tetapi disebabkan oleh alasan yang mendasari pertama kali.

Hehe…mudah-mudahan tidak pusing. Kalau pusing silakan bertanya pada ahli fikih.

Inilah hal yang  ternyata menurut orang-orang alim, lumayan pelik. Karena tidak selalunya “motif” atau alasan sebenarnya dari perintah dan larangan Allah SWT itu diketahui. Kadang-kadang motifnya tidak diketahui, tetapi hikmahnya bisa kita ketahui.

Contoh….Contohnya adalah hal yang sangat familiar yaitu orang muslim tidak boleh memakan babi. Motifnya, alasan sebenarnya tidak diketahui. Karena tidak dijelaskan di dalam nash. Tetapi, kata orang-orang alim, hikmahnya bisa dibaca. Salah satu hikmahnya menurut penelitian sains modern adalah ternyata banyak cacing pita di tubuh babi. Nah…dengan tidak makan babi, maka kita terhindar dari penyakit. Itu disebut hikmah.

Tapi apakah itu sejatinya motif Tuhan memberlakukan larangan? Wah…kita ndak tahu. Jadi, alasan yang mengatakan bahwa misalnya kita sudah menemukan cara menghilangkan cacing pita dari tubuh babi, tidak lantas babi menjadi halal buat muslim. Karena masalah cacing pita itu adalah perkara faedah, perkara hikmah, bukan “the real concerns” mengenai kenapa Tuhan memberikan larangan itu.

Sekali lagi, kalau bingung silakan baca buku-buku fikih, saya tak punya otoritas menjelaskan lebih jauh.

Saya hanya hendak mengaitkan hal ini dari sisi spiritual, bahwa kekeliruan saya pribadi selama ini adalah menebak-nebak “tujuan” Allah memberlakukan suatu takdir.

Dan saya baru tahu hal yang saya lakukan itu keliru, setelah seorang arif dalam sebuah wejangannya memberi tahu bahwa seringkali motif sebenarnya dari takdir itu Tuhan sendiri yang tahu.

Misalnya, seseorang diberhentikan dari pekerjaannya. Saya mengira bahwa hal itu adalah karena Tuhan ingin memberikan orang itu pekerjaan yang lebih ringan tetapi lebih menghasilkan. Tetapi saya tak sadar, ternyata orang tersebut diberhentikan dari pekerjaannya itu rupanya imbas keterpurukan ekonomi skala global. Dan keterpurukan ekonomi skala global itu barangkali juga cara Tuhan untuk menggeser hegemoni salah satu negara dengan negara lain. Dan riuh rendah dalam level dunia kita (bumi) itu barangkali juga Cuma setitik saja dari pergerakan galaksi, dan begitu seterusnya.

Jadi apa sebenarnya tujuan Tuhan memberlakukan sesuatu? Kita tidak pernah tahu. Kecuali Tuhan memberitahukan sendiri lewat nash-nash-nya. Akan tetapi, polanya ternyata begini. Sebuah takdir akan tetap bergulir tak perduli tujuan sebenarnya dari takdir itu diketahui atau tidak oleh hambaNya. Tetapi dari kacamata hamba, sebenarnya hikmah bisa terpandang.

Barulah saya mengerti bahwa yang manusia bisa lakukan dari sudut pandang manusia hanyalah membaca hikmah. Terus-terusan membaca hikmah. Dan berbaik sangka kepada Tuhan, dalam baik sangka itulah hikmah terbaca.

Dan untuk membantu bisa membaca hikmah ini, yang perlu kita lakukan adalah menyadari bahwa kesemua takdir ini rupanya bukanlah untuk hal-hal remeh temeh sempit kita sendiri, tapi merupakan sebuah gerak yang besar dan massive, untuk DIA menceritakan diriNYA.

Barangkali itulah bingkai tujuan skala besar yang Tuhan bocorkan pada kita seperti dalam hadits qudsiNya.

“Aku adalah perbendaharaan tersembunyi, Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan makhluk supaya mereka mengenal Aku”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s